Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode 29. Benz menaruh curiga


__ADS_3

Rapat direksi dengan para penulis untuk pertama kalinya dapat di laksanakan siang itu. Qenny merangkul pinggul Lulu yang berdiri di hadapannya untuk memberikan beberapa berkas agar dapat di baca oleh Tuan Muda.


"Silahkan kamu duduk, dan mulai rapat siang ini. Kita tidak bisa lama, karena aku akan melanjutkan rapat dengan Tuan Besar Hary!" tegasnya.


Qen tersenyum sumringah, dia menoleh kearah Benz yang tengah sibuk menjelaskan tentang bagaimana kelanjutan produksi untuk para penulis terkenal mereka.


"Tuan Benz, silahkan pimpin rapat kita siang ini! Saya cukup mendengarkan kalian saja, agar saya dapat mengenal penulis handal kita selama ini!" perintahnya.


Benz memulai rapat mereka, dengan matanya tertuju pada Ara sang tunangan.


Entah mengapa, semenjak perusahaan di ambil alih oleh Qenny, hubungan Ara dan Benz, sedikit memburuk.


Benz menaruh curiga pada Ara, karena telah meninggalkan apartemen yang dia sewakan untuk gadis itu.


Ara hanya menunduk saat kedua mata pria yang ada di hadapannya terus menatap kearah gadis cantik alami itu.


Saat rapat tengah berlangsung, tiba-tiba kehadiran Nyonya Besar Cantika mengejutkan mereka yang ada di ruangan.


"Ma ..." batin Qen menunduk hormat.


Sementara Benz mengehentikan pembicaraannya, menoleh kearah Nyonya Besar Cantika, yang berlenggak-lenggok bak model catwalk.


Cantika memilih duduk di samping putranya, sementara Lulu mempersiapkan semua yang di butuhkan Nyonya Besar.


"Bagaimana Qen? Ara? Mama dengar gadis ini sudah tinggal di apartemen kamu? Kenapa kamu tidak membawa cucu ku ke mansion. Mama sudah tidak sabar ingin bertemu pangeran pewaris tahta Keluarga Subagio," ucapnya lembut menatap para penulis yang tampak kebingungan.


Qenny menghela nafasnya dalam, 'Bagaimana mungkin Mama bisa datang kesini ...!' Dia menoleh kearah Cantika, meminta agar tidak membahas masalah putra kesayangannya di depan forum.


"Ma, hentikan! Ini rapat, aku tidak ingin mereka memandang gadis ku buruk ...!" geram Qen menundukkan wajahnya, menoleh kearah Cantika.


Cantika mendengus dingin, dia tidak ingin melihat putranya seperti di sia-siakan oleh seorang gadis yang tidak memiliki perasaan kasihan, "Baiklah ...!"


Ara menunduk pasrah, wajahnya merah padam, saat beradu tatap dengan Benz yang sinis memandangnya. Dia meremas kuat kertas yang ada di hadapannya, karena ucapan Nyonya Besar Cantika barusan, membuat semua akan terbongkar dan Benz akan meninggalkan nya.


'Aaaagh sial! Kenapa Nyonya Besar Cantika tidak menghargai perasaan tunangan ku ...!?'


Ara menelan ludah sendiri dengan sangat cepat, ingin sekali dia meninggalkan ruang rapat, tanpa harus memikirkan perasaan orang-orang yang ada di dalam sana.


Benz secara profesional melanjutkan rapat mereka, dengan pengenalan beberapa penulis yang telah lama mengabdikan diri pada perusahaan mereka. Pergantian nama dan kepemilikan penerbit, membuat para penulis sedikit berbisik ...


"Bagaimana pembagian royalti kita Tuan Benz? Apakah masih sama? Karena kita masih ada kontrak beberapa bulan kedepan," ujar salah seorang pemuda bertuliskan nama Moon.


Qenny tersenyum, dia hanya menjawab, "Semua kontrak lama masih sama, tapi saya menambahkan reward untuk best seller. Bisa berupa apartemen, mobil, atau apa yang kalian butuhkan, tinggal katakan pada secretaris ku, Lulu. Dia akan memberi jawaban, setelah mendapatkan keputusan dari ku!" jelasnya.


Moon dan Kido saling menatap penuh arti. Tentu ini menjadi satu peluang besar bagi mereka untuk meningkatkan kualitas dalam berkarya.


Mereka menunduk hormat pada Qen, "Setidaknya kami merasa di perhatikan saat ini Tuan Muda Qen."


"Ya. Jika sudah selesai, tidak ada yang mau di tanyakan lagi, saya permisi!" ucap Qen segera berdiri, menundukkan kepalanya sopan.


Qenny berlalu meninggalkan ruang rapat.


Saat Qen tengah melangkah menuju ruangannya, saat itu pula Ara menahan lengannya.


Ya, Ara meninggalkan ruang rapat, setelah di beri izin oleh Nyonya Besar Cantika, namun tidak dengan Benz.


Qenny menatap lembut kedua bola mata Ara, "Masuklah, kita perlu bicara ..."


Qen membukakan pintu ruangannya, membiarkan gadis itu masuk ke dalam, dengan dada berdebar-debar. Ingin sekali dia berteriak senang, karena akhirnya gadis itu menyerah.


"Duduklah ...!" perintahnya.


Qenny mengambil beberapa kaleng minuman segar dari dalam kulkas, kemudian meletakkan di atas meja.

__ADS_1


Ara masih menunduk di hadapan Qen, yang memilih duduk sedikit jauh darinya.


"Maaf Tuan Muda Qen, apa maksud Nyonya Besar Cantika mengatakan itu di depan umum? Jujur jangan pernah membahas tentang Yodi pada siapapun. Aku tahu, aku sadar, Anda telah terlalu baik pada kami selama beberapa bulan ini. Tapi aku mohon, jangan pernah membicarakan tentang Yodi, karena pihak perusahaan sama sekali tidak mengetahui termasuk Benz. Aku tidak ingin karena masalah ini, tunangan ku meninggalkan aku," ungkapnya pelan dengan suara sedikit bergetar karena menahan tangis.


Qenny mengusap lembut wajahnya, "Bisakah malam ini aku bertemu dengan putra ku? Aku ingin membawanya ke mansion Keluarga ku. Agar Mama dan Daddy tidak merasa sedih. Aku mohon padamu Ara. Apakah kamu menerima ajakan ku untuk makan malam bersama? Kita bisa menginap di sana! Aku tidak akan menyakiti mu! Walau sejujurnya aku sangat merindukan mu. Aku mohon, kini aku yang memohon Ara. Cukup aku tersiksa selama ini. Selama tiga tahun aku mencari keberadaan mu! Berharap kamu akan kembali pada ku. Bagaimana A-r-a ...?"


Ara *******-***** kedua tangannya, kali ini dia ingin sekali memeluk Qen, karena telah merasa bersalah selama ini. Tapi dia takut akan kecewa untuk kedua kalinya, jika berharap pada pria yang tak asing baginya.


Ara mendongakkan kepalanya, seketika mata mereka saling menyapa, dia tersenyum tipis, "Ya ... tapi-ta-tapi, jangan pernah rebut Yodi dari aku, Qen! Dia putra ku, yang telah aku perjuangkan selama ini!" ucapnya pelan dengan suara terbata-bata, namun dapat di dengar oleh Qenny.


Qenny beringsut mendekat pada Ara, menggenggam erat jemari gadis itu, "Jam berapa aku bisa menjemput mu? Aku akan meminta pelayan menyediakan masakan yang lezat, dan memberitahu pada Daddy dan Mama tentang kedatangan mu! Aku sangat berharap Ara, karena sampai saat ini aku masih mencintaimu ..."


Entah mengapa, mendengar ucapan cinta dari Qenny, membuat Ara berani memeluk erat tubuh yang ada di hadapannya. Pria yang selama ini mengejarnya, namun dia tolak hanya karena Benz.


Kali ini Benz yang selalu curiga padanya, membuat dia semakin takut dan ragu untuk melanjutkan pertunangan mereka ke jenjang pernikahan.


"Aku merindukan mu, Qen ..." isak Ara masih mendekap erat tubuh hangat Qen.


Qenny mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit ruangannya, menahan air mata yang tak terbendung.


Perlahan Qen mengusap lembut kepala gadis itu, mengecup lembut kepalanya.


"Kembalilah pada ku, Ara! Aku akan memperjuangkan cinta ini!" ucapnya.


Ara menggeleng, "Aku takut Qen, Benz akan menyakiti aku. Aku bingung, aku tidak mampu untuk memutuskan pertunangan saat ini. Karena selama ini, Benz sangat baik pada ku ..." jelasnya.


Qen mengangguk mengerti, "Kita jalani dulu. Aku yakin, kita akan terus bersama, aku mencintaimu Ara ..."


Peluk Qen erat pada tubuh ramping Ara ...


Namun saat keduanya saling berpelukan, seseorang masuk ke ruangan Qen tanpa mengetuk.


"Qen ...!?"


Rapat direksi dengan para penulis untuk pertama kalinya dapat di laksanakan siang itu. Qenny merangkul pinggul Lulu yang berdiri di hadapannya untuk memberikan beberapa berkas agar dapat di baca oleh Tuan Muda.


"Silahkan kamu duduk, dan mulai rapat siang ini. Kita tidak bisa lama, karena aku akan melanjutkan rapat dengan Tuan Besar Hary!" tegasnya.


Qen tersenyum sumringah, dia menoleh kearah Benz yang tengah sibuk menjelaskan tentang bagaimana kelanjutan produksi untuk para penulis terkenal mereka.


"Tuan Benz, silahkan pimpin rapat kita siang ini! Saya cukup mendengarkan kalian saja, agar saya dapat mengenal penulis handal kita selama ini!" perintahnya.


Benz memulai rapat mereka, dengan matanya tertuju pada Ara sang tunangan.


Entah mengapa, semenjak perusahaan di ambil alih oleh Qenny, hubungan Ara dan Benz, sedikit memburuk.


Benz menaruh curiga pada Ara, karena telah meninggalkan apartemen yang dia sewakan untuk gadis itu.


Ara hanya menunduk saat kedua mata pria yang ada di hadapannya terus menatap kearah gadis cantik alami itu.


Saat rapat tengah berlangsung, tiba-tiba kehadiran Nyonya Besar Cantika mengejutkan mereka yang ada di ruangan.


"Ma ..." batin Qen menunduk hormat.


Sementara Benz mengehentikan pembicaraannya, menoleh kearah Nyonya Besar Cantika, yang berlenggak-lenggok bak model catwalk.


Cantika memilih duduk di samping putranya, sementara Lulu mempersiapkan semua yang di butuhkan Nyonya Besar.


"Bagaimana Qen? Ara? Mama dengar gadis ini sudah tinggal di apartemen kamu? Kenapa kamu tidak membawa cucu ku ke mansion. Mama sudah tidak sabar ingin bertemu pangeran pewaris tahta Keluarga Subagio," ucapnya lembut menatap para penulis yang tampak kebingungan.


Qenny menghela nafasnya dalam, 'Bagaimana mungkin Mama bisa datang kesini ...!' Dia menoleh kearah Cantika, meminta agar tidak membahas masalah putra kesayangannya di depan forum.


"Ma, hentikan! Ini rapat, aku tidak ingin mereka memandang gadis ku buruk ...!" geram Qen menundukkan wajahnya, menoleh kearah Cantika.

__ADS_1


Cantika mendengus dingin, dia tidak ingin melihat putranya seperti di sia-siakan oleh seorang gadis yang tidak memiliki perasaan kasihan, "Baiklah ...!"


Ara menunduk pasrah, wajahnya merah padam, saat beradu tatap dengan Benz yang sinis memandangnya. Dia meremas kuat kertas yang ada di hadapannya, karena ucapan Nyonya Besar Cantika barusan, membuat semua akan terbongkar dan Benz akan meninggalkan nya.


'Aaaagh sial! Kenapa Nyonya Besar Cantika tidak menghargai perasaan tunangan ku ...!?'


Ara menelan ludah sendiri dengan sangat cepat, ingin sekali dia meninggalkan ruang rapat, tanpa harus memikirkan perasaan orang-orang yang ada di dalam sana.


Benz secara profesional melanjutkan rapat mereka, dengan pengenalan beberapa penulis yang telah lama mengabdikan diri pada perusahaan mereka. Pergantian nama dan kepemilikan penerbit, membuat para penulis sedikit berbisik ...


"Bagaimana pembagian royalti kita Tuan Benz? Apakah masih sama? Karena kita masih ada kontrak beberapa bulan kedepan," ujar salah seorang pemuda bertuliskan nama Moon.


Qenny tersenyum, dia hanya menjawab, "Semua kontrak lama masih sama, tapi saya menambahkan reward untuk best seller. Bisa berupa apartemen, mobil, atau apa yang kalian butuhkan, tinggal katakan pada secretaris ku, Lulu. Dia akan memberi jawaban, setelah mendapatkan keputusan dari ku!" jelasnya.


Moon dan Kido saling menatap penuh arti. Tentu ini menjadi satu peluang besar bagi mereka untuk meningkatkan kualitas dalam berkarya.


Mereka menunduk hormat pada Qen, "Setidaknya kami merasa di perhatikan saat ini Tuan Muda Qen."


"Ya. Jika sudah selesai, tidak ada yang mau di tanyakan lagi, saya permisi!" ucap Qen segera berdiri, menundukkan kepalanya sopan.


Qenny berlalu meninggalkan ruang rapat.


Saat Qen tengah melangkah menuju ruangannya, saat itu pula Ara menahan lengannya.


Ya, Ara meninggalkan ruang rapat, setelah di beri izin oleh Nyonya Besar Cantika, namun tidak dengan Benz.


Qenny menatap lembut kedua bola mata Ara, "Masuklah, kita perlu bicara ..."


Qen membukakan pintu ruangannya, membiarkan gadis itu masuk ke dalam, dengan dada berdebar-debar. Ingin sekali dia berteriak senang, karena akhirnya gadis itu menyerah.


"Duduklah ...!" perintahnya.


Qenny mengambil beberapa kaleng minuman segar dari dalam kulkas, kemudian meletakkan di atas meja.


Ara masih menunduk di hadapan Qen, yang memilih duduk sedikit jauh darinya.


"Maaf Tuan Muda Qen, apa maksud Nyonya Besar Cantika mengatakan itu di depan umum? Jujur jangan pernah membahas tentang Yodi pada siapapun. Aku tahu, aku sadar, Anda telah terlalu baik pada kami selama beberapa bulan ini. Tapi aku mohon, jangan pernah membicarakan tentang Yodi, karena pihak perusahaan sama sekali tidak mengetahui termasuk Benz. Aku tidak ingin karena masalah ini, tunangan ku meninggalkan aku," ungkapnya pelan dengan suara sedikit bergetar karena menahan tangis.


Qenny mengusap lembut wajahnya, "Bisakah malam ini aku bertemu dengan putra ku? Aku ingin membawanya ke mansion Keluarga ku. Agar Mama dan Daddy tidak merasa sedih. Aku mohon padamu Ara. Apakah kamu menerima ajakan ku untuk makan malam bersama? Kita bisa menginap di sana! Aku tidak akan menyakiti mu! Walau sejujurnya aku sangat merindukan mu. Aku mohon, kini aku yang memohon Ara. Cukup aku tersiksa selama ini. Selama tiga tahun aku mencari keberadaan mu! Berharap kamu akan kembali pada ku. Bagaimana A-r-a ...?"


Ara *******-***** kedua tangannya, kali ini dia ingin sekali memeluk Qen, karena telah merasa bersalah selama ini. Tapi dia takut akan kecewa untuk kedua kalinya, jika berharap pada pria yang tak asing baginya.


Ara mendongakkan kepalanya, seketika mata mereka saling menyapa, dia tersenyum tipis, "Ya ... tapi-ta-tapi, jangan pernah rebut Yodi dari aku, Qen! Dia putra ku, yang telah aku perjuangkan selama ini!" ucapnya pelan dengan suara terbata-bata, namun dapat di dengar oleh Qenny.


Qenny beringsut mendekat pada Ara, menggenggam erat jemari gadis itu, "Jam berapa aku bisa menjemput mu? Aku akan meminta pelayan menyediakan masakan yang lezat, dan memberitahu pada Daddy dan Mama tentang kedatangan mu! Aku sangat berharap Ara, karena sampai saat ini aku masih mencintaimu ..."


Entah mengapa, mendengar ucapan cinta dari Qenny, membuat Ara berani memeluk erat tubuh yang ada di hadapannya. Pria yang selama ini mengejarnya, namun dia tolak hanya karena Benz.


Kali ini Benz yang selalu curiga padanya, membuat dia semakin takut dan ragu untuk melanjutkan pertunangan mereka ke jenjang pernikahan.


"Aku merindukan mu, Qen ..." isak Ara masih mendekap erat tubuh hangat Qen.


Qenny mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit ruangannya, menahan air mata yang tak terbendung.


Perlahan Qen mengusap lembut kepala gadis itu, mengecup lembut kepalanya.


"Kembalilah pada ku, Ara! Aku akan memperjuangkan cinta ini!" ucapnya.


Ara menggeleng, "Aku takut Qen, Benz akan menyakiti aku. Aku bingung, aku tidak mampu untuk memutuskan pertunangan saat ini. Karena selama ini, Benz sangat baik pada ku ..." jelasnya.


Qen mengangguk mengerti, "Kita jalani dulu. Aku yakin, kita akan terus bersama, aku mencintaimu Ara ..."


Peluk Qen erat pada tubuh ramping Ara ...

__ADS_1


Namun saat keduanya saling berpelukan, seseorang masuk ke ruangan Qen tanpa mengetuk.


"Qen ...!?"


__ADS_2