
Huang Zhong mencari semua informasi tentang Tuan Muda Qenny melalui secretaris pribadinya, Lulu. Benar saja, kabar yang dia terima sangat mengejutkan untuk dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin Tuan Besar Hary dengan tega mengusir dan memblokir semua akses Tuan Muda Qenny.
["Apa penyebabnya, Lu ...?"]
Huang masih berbisik-bisik melalui panggilan sambungan telepon seluler yang dia lakukan diruangan tertutup miliknya.
["Hmm ... Tuan Akuang membatalkan pertunangan Tuan Muda Qenny dan putri tunggal mereka yang bernama Cleo, Tuan."]
Huang mencoba mengingat siapa Cleo.
["Hmm ... Baiklah, aku minta kamu membuka account Tuan Muda Qenny dari akses keuangan pribadinya. Aku akan mengatur semua fasilitas dia selama di Tokyo. Dengar Lulu, jangan ada seorangpun yang mengetahui tentang keberadaan Tuan Muda! Apa kamu mengerti? Ini perintah!"]
["Baik Tuan, sebentar lagi saya akan membuka account pribadi Tuan Muda. Terimakasih ..."]
Mereka mengakhiri teleponnya, Huang duduk di kursi kebanggaannya.
'Tuan Muda Qen ... Aku yakin kamu sedang merencanakan sesuatu. Mungkin saja kamu sudah mengetahui bagaimana Altezza Sun sebenarnya. Pengkhianat dan penjilat ...'
Huang melanjutkan pekerjaannya, menyelesaikan permintaan Tuan Besar Hary agar segera mengirimkan semua gambar sesuai permintaan perusahaan rekanan mereka.
.
'Ting ...'
Nada notifikasi masuk kedalam handphone milik Qenny yang tengah mengendarai kendaraannya bersama Altezza dan Ara.
Sesekali kedua bola mata Qenny melihat wanita itu sedang asyik di sentuh bagian paha mulusnya oleh Altezza Sun. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang, seperti terbakar cemburu dan penuh dengan amarah yang mampu membuatnya membunuh pria disamping Ara.
'Brengsek ... Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa cemburu bahkan marah saat melihat pria itu menyentuh pahanya Ara? Tidak pernah sekalipun aku merasakan hal seperti ini. Apakah aku diam-diam jatuh hati padanya? Aaagh ... Sejak kapan aku mulai main hati pada seorang gadis. Selama hidupku, hanya di sibukkan dengan berbagai macam jenis anu yang bermacam-macam bentuk. Ada yang tembem, padat, namun semua sensasinya berbeda-beda,' tawa Qenny dalam hati.
Kembali Qenny di kejutkan dengan panggilan telepon seluler yang ada di dalam saku celananya.
'Aaagh ... Sial ...! Siapa lagi ini? Bukankah sudah aku katakan pada Lulu, menghubungi saat malam saja? Kenapa dia malah berani-beraninya menghubungi aku pada jam kerja ...'
Altezza tertawa remeh, saat mendengar suara berisik dari arah depan yang sangat memekakkan gendang telinganya, "Angkat saja Qen ... Mana tahu Ibu mu sedang sekarat dan semenit lagi akan mati ...!"
Qenny menghentikan mobil di ruas kanan jalan, melirik Ara dari spion tengah, "Sebentar Tuan."
Dengan sangat berwibawa walau dibalut pakaian dinas seorang driver, Qenny masih tampak gagah dimata Ara wanita yang mulai jatuh hati padanya dalam diam.
Qenny melihat layar handphone, 'Mama ...' sahutnya dalam hati.
__ADS_1
["Ya Ma ..."]
["Kamu dimana, sayang? Mama sangat khawatir. Mama tanya Lulu secretaris kamu, dia tidak mengetahui keberadaan mu, nak. Qen, pulang lah sayang ... Agar kita dapat berkumpul seperti dulu lagi. Jangan buat Mama sakit seperti ini."]
Isak tangis Mama Cantika diseberang sana dapat meluluh lantakkan perasaan Qenny sebagai seorang anak laki-laki yang baik.
["Ma ... Aku akan pulang, jika Daddy yang memintaku untuk kembali. Saat ini ... Biarkan aku disini. Bye ..."]
["Qen ...!!"]
Masih terdengar suara tangis Cantika, namun Qenny menutup telfonnya, menoleh kearah samping ternyata Ara telah berdiri di dekatnya.
Qenny tampak gugup, sedikit salah tingkah melihat gadis itu menatapnya.
"Hai ..." ucap Qenny melambaikan tangan, melayangkan senyuman lebar, mempertontonkan gigi yang tampak putih dan bersih.
Ara tampak sumringah, menaikkan satu alisnya, "Siapa yang menelpon mu? Apakah benar itu dari Ibu mu?" tanyanya sedikit penasaran.
Qenny menggeleng kemudian mengangguk, "Sudahlah ... Tidak penting, hanya say halo biasa. Yuuk ..."
Qenny menyentuh punggung Ara agar segera memasuki mobil, namun gadis itu membalikan tubuhnya sehingga membuat kedua mata itu saling bertemu dan menatap.
"Qen ..."
Ara tampak salah tingkah, begitu juga Qenny. Keduanya tampak gugup dan menjadi pusat perhatian dari balik kaca oleh Altezza yang kurang menyukai sopir pribadinya sejak awal.
Qenny membukakan pintu mobil untuk Ara, melindungi kepala gadis itu agar tidak terbentur badan mobil.
Entahlah ... Saat ini keduanya sama-sama nyaman dan hanya bisa saling memberi support antara satu dan lainnya untuk tetap fokus pada pekerjaan mereka yang berbeda.
Qenny memasuki mobil, melirik Ara kembali hanya untuk memastikan gadis itu tetap aman.
Akan tetapi, Altezza tidak tinggal diam. Pria itu semakin gencar untuk menggangu Ara yang duduk di sampingnya dengan sengaja kembali mengusap lembut paha mulus itu.
Tentu Qenny hanya bisa menggeram, karena melihat Ara enggan mengelak ataupun menghindari tangan pria hidung belang tersebut, dengan alasan menyukai laki-laki brengsek seperti Altezza.
'Pasti alasannya adalah menyukai Tuannya. Padahal dia tidak tahu siapa Tuan yang sebenarnya. Dasar wanita naif, terlalu percaya dengan jabatan yang sementara ...' geram Qenny.
Mobil tiba disalah satu gedung pencakar langit, yang memiliki nuansa indah bak di Timur Tengah. Suasana tampak riuh namun teratur, yang merupakan pusat bisnis di kota Tokyo Jepang.
Altezza yang ditemani Ara, melenggang memasuki loby gedung tersebut, meninggalkan Qenny yang menunggu diparkiran.
Tentu ini menjadi kesempatan untuk Qenny menyalakan handphone pintarnya, dengan menyambungkan ke perusahaan raksasa milik keluarganya 'Agung Tanoe Podomoro'.
__ADS_1
Namun, telah dua kali Qenny mencoba semua sama 'blockir'. Hanya itu laporan yang tertera dilayar handphone miliknya membuat dia berinisiatif kembali untuk menghubungi Lulu sang secretaris dan teman kencannya saat berada di kantor mewahnya.
["Kenapa semua akses ku di blokir? Apakah Tuan Besar Hary yang melakukannya?"]
Qenny bertanya seolah-olah sang Daddy tidak profesional, karena bagaimanapun dia berhak pada anak perusahaan yang selama ini dia kelola.
["Semua di nonaktifkan oleh Tuan Besar Hary, Tuan Muda ... Saat ini saya hanya bisa mengikuti perintah Tuan Besar Hary. Tapi, tadi Tuan Huang memberi kabar kepada saya, agar mengaktifkan salah satu card yang Anda miliki untuk hidup di Tokyo. Semua sudah saya lakukan, Tuan. Nanti malam, Anda bisa tidur dengan nyenyak di apartemen pribadi yang sudah disiapkan. Ada lagi, Tuan Muda?"]
["Jika kamu tidak ada pekerjaan di Seoul, datanglah ke Tokyo. Tapi jangan beritahu siapapun tentang keberadaan ku disini. Daddy terlalu ceroboh!"]
["Hmm ... Apakah Tuan Muda Qen, membutuhkan saya?"]
Qenny menghela nafas panjang, jika di ikutkan hati, ingin sekali dia terbang ke Seoul hanya untuk menikmati segelas sampanye diatas tubuh Lulu yang sangat indah.
["Tentu aku membutuhkan mu, sayang ... Sudah hampir satu minggu aku tidak menikmati keindahan lembah surga milik mu yang sangat menggigit itu. Nanti malam kita melakukannya by phone, yah?"]
["Baik Tuan, aku juga sangat menginginkan dirimu ..."]
Mereka menutup sambungan telepon, dengan wajah memerah Qenny mesti di hadapkan kehadiran Ara yang tiba-tiba muncul seperti hantu.
Wajah Qenny tampak semakin gugup, 'Kenapa dia muncul tiba-tiba seperti hantu? Apakah dia mendengarkan semua pembicaraan ku dengan Lulu ...?'
Ara tersenyum sumringah, wajah cantiknya menyiratkan rona merah yang sangat bahagia. Entahlah ... Saat ini gadis cantik itu hanya memberi sinyal bahwa dia juga menginginkan Qenny.
Qenny memberanikan diri untuk bertanya, agar menghindari rasa gugupnya, "Hmm ... Kenapa kamu ada disini? Bukankah kamu ada didalam bersama Altezza Sun?"
"Ck ... Aku lebih suka berada didekat mu dari pada Tuan. Dia selalu menyentuh pahaku," sesal Ara.
Qenny mengangguk gugup, 'Aku yakin, gadis ini sedang memata-matai ku. Jika benar itu terjadi, akan aku hancurkan kalian berdua!' geramnya mengepalkan tangan.
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
Pesona Perawan
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pelakor Pilihan
__ADS_1