Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode 16. 'Apakah Qen, seorang simpanan ...?'


__ADS_3

Beberapa kali Qenny mengusap wajahnya kasar, "Aku minta lupakan kejadian kita tadi malam, karena aku tidak memiliki perasaan apapun pada mu!" ucapnya tanpa berpikir ulang.


"Apa!? Apa maksudnya melupakan ini, Qen?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.


Qenny menundukkan kepalanya, mencari alasan yang tepat sebagai alasan agar lepas dari dua kalimat 'tanggung jawab'.


Qenny menarik nafas dalam-dalam, menatap Ara yang menangis tanpa suara, air mata gadis itu mengalir deras membasahi wajah cantik Ara yang tampak tidak bisa menerima kenyataan.


Ara menatap nanar kearah Qenny, bertanya dengan suara serak, "Apa salah ku, Qen? Kenapa kamu tega sama aku?"


"Aku hanya seorang driver! Bukankah kamu tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang supir? Aku hanya orang gagal yang terbuang dari keluarga! Sulit bagi aku untuk melanjutkan hubungan kita. Maafkan aku, Ara!"


Qenny beranjak dari duduknya, memberikan beberapa uang pada Ara.


Dengan dada bergemuruh, bahkan terasa sesak Ara berdiri dihadapan Qenny, menghalangi pria itu, agar tidak meninggalkan nya.


Ara melayangkan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Qenny, "Uang? Apa maksudnya dengan uang ini, Qen? Kenapa kamu memperlakukan aku seperti wanita murahan? Bukankah kita melakukannya dengan perasaan?"


Qenny mengangguk membenarkan perkataan Ara, namun dia menepis tentang perasaan, "Aku tidak pernah memiliki perasaan padamu. Dengar Ara, kita hanya sebatas teman bahkan aku tidak menyangka ini akan terjadi. Aku permisi!"


Qenny membalikkan badannya, namun Ara kembali mengejar pria bajingan itu.


"Bagaimana jika aku hamil, Qen!" teriak Ara.


Qenny menoleh kearah Ara, "Berikan anak itu pada ku! Aku akan merawatnya!"


PLAAAAK ...!


Ara melayangkan tamparan pada wajah Qenny, dengan perasaan benci dan marah.


"Hmm ... Ternyata kamu tidak lebih dari seorang pecundang! Sopir murahan, laki-laki brengsek! Tinggalkan apartemen ku! Dan bawa semua barang-barang mu! Aku tidak ingin bertemu dengan mu!" ucap Ara lebih dulu meninggalkan kamar hotel, tanpa mau menerima sepersen pun uang pemberian Qenny.


Air mata penyesalan Ara mengalir deras, meninggalkan Qenny yang masih terdiam membisu di kamar tersebut.


Qenny merasa seperti pria brengsek yang telah merusak masa depan seorang gadis. Dia terduduk di pinggir ranjang, melihat pintu kamar yang masih terbuka. Mengusap wajahnya kasar, menggeram bahkan memukul wajahnya sendiri.


'Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menyakiti nya?'


Qenny berlari kencang mengejar Ara, yang seketika menghilang dari koridor sehingga loby hotel, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


Wajah tampannya dengan kemeja terbuka dua kancing diatas tanpa memasukkan pakaiannya, Qenny berkeliling mencari keberadaan Ara.

__ADS_1


"Apartemen ..."


Dengan langkah cepat Qenny berlari kencang mencari keberadaan Ara, seketika ...


BRAAAK ...!


BHUUUUG ...!


Dua insan itu terjerembab di lantai loby hotel setelah bertabrakan dengan seorang gadis.


"Qen ...?" pekik wanita yang mengenali Qenny.


"Cle ... What are you doing here ...?" tanya Qenny berteriak tanpa suara.


Cleo menatap wajah tampan Qenny yang masih tampak gagah seperti dia di usir oleh Tuan Besar Hary.


"Aku menemani Mama untuk menandatangani sebuah projek baru disini. Apa kamu tidak mengetahui tentang kerja sama perusahaan kita?" tanya Cleo membantu Qenny untuk berdiri.


Qenny seperti memikirkan sesuatu, Ara ... Hanya itu yang ada di kepalanya saat ini. Bagaimana mungkin dia akan meminta maaf pada gadis itu, sementara sudah menyakiti hati wanita cantik tersebut, dengan memberikan nya beberapa lembar uang tapi di tolak dengan sangat garang dan air mata kekecewaan.


Bukankah itu seperti mencampakkan wanita sebaik Ara, hanya karena tidak ingin melanjutkan hubungan yang tidak akan tahu akan dibawa kemana.


Qenny berlari kencang menuju apartemen tanpa mengenal lelah. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya, untuk mencari Ara.


Benar saja, saat Qenny tiba di apartemen Ara, yang di sewakan perusahaan untuk gadis yang berprofesi sebagai secretaris Altezza, sudah tidak ada di sana.


Qenny melihat semua baju-baju gadis itu tidak ada di dalam lemari.


"Ara! Shania!" teriak Qenny lantang menggema di sisi ruangan apartemen yang tidak begitu besar.


"Kemana dia? Apakah dia menghilang atau menghindari aku?" tanyanya lagi dalam hati.


Qenny terus mencari wanita yang telah menghabiskan malam bersama dengannya. Dia tampak seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga dengan perasaan berdosa, karena telah merusak seorang wanita bernama Shania Sahara Atmaja.


"Aaaagh ...! Kemana dia? Kenapa begitu cepat gadis itu menghilang?" geram Qenny dalam hati.


Qenny beranjak dari apartemen, mencari keberadaan Ara menuju kantor. Namun, hal yang sama dia temukan. Ara menghilang tak tahu kemana, tanpa memberi kabar pada siapapun termasuk Altezza.


BRAAAK ...!


Qenny mendobrak pintu ruangan Altezza saat tenaganya telah habis mencari keberadaan gadis itu.

__ADS_1


Gadis baik yang dia campakkan, namun dengan penuh perasaan bersalah Qenny harus mendapatkan Ara kembali untuk meminta maaf.


"Dimana Ara! Brengsek!" tanya Qenny tanpa melihat siapa yang tengah berada di ruangan tersebut.


"Qen ...!?" terdengar suara wanita yang sangat khas di telinga Qenny sedari dulu.


Mata Qenny melihat seisi ruangan Altezza yang tengah mengadakan rapat penting untuk melanjutkan perkembangan bisnis Keluarga Subagio.


"Ma ..." ucap Qenny pelan, dan menundukkan kepalanya.


Altezza yang tidak menyukai pria muda itu, memintanya untuk meninggalkan ruangan yang baru saja mengadakan meeting di ruangan direktur tersebut.


"Keluar kau! Sopir brengsek! Tidak bisakah kau mengetuk pintu ruangan dahulu? Dasar orang tidak tahu sopan santun, seenaknya masuk tanpa izin ku!" teriak Altezza dihadapan Cantika dan Huang.


Cantika yang mendengar makian dari mulut Altezza berdiri tegap dari duduknya untuk melindungi putra kesayangan.


"Jaga ucapan mu!" bentak Cantika seraya melangkah mendekati putra kesayangannya.


Altezza menundukkan kepalanya, "Maaf Nyonya Besar Cantika, dia ini hanya seorang supir pribadi ku! Yang baru bekerja lebih kurang satu bulan di perusahaan ini! Biarkan dia pergi melakukan tugasnya, untuk membersihkan kendaraan yang berada di basemen!" ucapnya menegaskan.


PLAAAAK ...!


Tangan Cantika bergetar hebat, menahan amarahnya menantang Altezza yang telah menghina putra pewaris tahta.


"Huang Sun! Tutup akses keluar dan pintu utama! Ini perintah! Akan aku beri tahu pada direktur yang tidak memiliki perasaan ini, bagaimana caranya memanusiakan manusia!" tegas Cantika.


Altezza yang tidak mengerti maksud Cantika bergidik ngeri, tak mampu berkata-kata ataupun melawan. Karena dia hanya orang yang di percayakan sebagai direktur untuk perusahaan Keluarga Subagio.


"Baik Nyonya!" tunduk Huang meninggalkan ruangan Altezza, melakukan semua perintah Nyonya Besar Cantika.


Tinggallah Qenny yang masih memikirkan Ara, tanpa meninggalkan ruangan luas tersebut dihadapan Cantika dan Altezza.


"Qen ...!" terdengar suara serak Cantika memanggil nama putra kesayangannya.


Qenny menoleh kearah Cantika, menunduk hormat pada sang Mama, melirik kearah Altezza yang tampak kebingungan dengan semua drama yang ada di hadapannya.


"Nyonya Besar Cantika, apa Anda mengenal dekat sopir pribadi saya?" tanya Altezza semakin penasaran.


Cantika menjawab angkuh pertanyaan Altezza, dan kembali menatap kearah Qen, "Tentu ... Aku mengenalnya sangat baik!"


Altezza mengerenyitkan keningnya, 'Bagaimana mungkin seorang sopir bisa mengenal orang ternama sekelas Nyonya Besar Cantika? Apakah Qen merupakan simpanan, Nyonya Besar?'

__ADS_1


__ADS_2