
Kini mereka telah tiba di kediaman Keluarga Subagio. Tuan Besar Hary dan Nyonya Besar Cantika menyambut kedatangan Yodi di kediaman mereka.
Melihat penampilan Ara yang sangat cantik menggunakan gaun malam dengan punggung terbuka, sedikit mengenang Hary pada sosok Atmaja salah satu rekan bisnisnya yang telah tiada beberapa tahun silam.
Hary berbisik ketelinga Cantika, "Ma, apakah dia putri Atmaja yang selama ini kita cari ...? Wajahnya sangat berbeda saat kita bertemu pertama kali di penerbit ..."
Cantika menoleh kearah Hary, sesekali melihat Ara yang semakin mendekat, membawa Yodi dalam gendongan Qen putranya.
"Ooogh Qen! Dia mirip sekali dengan mu!" sambut Cantika saat melihat Yodi sangat persis Qenny semasa kecilnya.
"Ma-ma-mama ..."
"Ini Mama sayang! Ayo kita masuk, putra mahkota pewaris Keluarga Subagio tiba ..." teriak Cantika, agar para pelayan menyambut kedatangan cucunya, dengan sambutan permainan anak laki-laki di ruang tamu.
Robot, mobil balap, bahkan motor sport mini ada dihadapan Yodi.
Melihat permainan yang menyala, membuat Yodi terlengah dengan semua permainan yang menyala ...
Bib-bib-bib ...
Tet-tet-te- ...
Ndus-ndus-ndus ....
Ninot ... Ninot ... Ninot ...
Suara suara itu sangat menyenangkan bagi Yodi putra Qen dan Ara.
Cantika memberi ruang pada Yodi untuk bermain-main, membesarkan kedua bola matanya, untuk mengawasi cucu kesayangan.
Cantika menoleh kearah Ara, yang masih menunduk hormat dan tampak kikuk saat akan melangkah kan kaki masuk ke mansion mewah Keluarga Subagio.
"Ooogh, selamat datang Nona Muda!" sambut Cantika memeluk ramah tubuh ramping gadis cantik itu.
Ara sedikit gugup, melirik sungkan kearah Hary, sesekali menarik lengan jas milik Qen.
__ADS_1
"Terimakasih Nyonya Besar, telah bersedia mempersiapkan semua mainan untuk Yodi. Sekali lagi terimakasih ..." tunduknya sopan.
Cantika yang ramah, merangkul lengan Ara, "Ayo, jangan panggil Nyonya Besar, panggil saja Mama. Sama seperti Qen. Dan Tuan Besar Hary, Daddy! Benarkan sayang ..." iya mengedipkan matanya pada Hary.
Hary mengangguk membenarkan, "Iya sayang ... Saat ini kami adalah keluarga mu! Mungkin lusa kita akan melaksanakan pemberkatan untuk pernikahan kalian. Mulai saat ini kamu bisa tinggal di sini, Ara ..."
Ara menoleh kearah Qen, dia menggigit bibir bawahnya, menggelengkan kepalanya, sebagai tanda bahwa gadis ini belum siap untuk tinggal di mansion mewah itu.
Para pelayan semua menunduk, saat Ara melewati mereka, termasuk para gadis yang pernah tidur satu ranjang dengan Tuan Muda Qen.
"Akhirnya Tuan Muda Qenny membawa seorang gadis kesini, berarti kita aman, dan Tuan Muda sudah berubah semenjak memiliki anak ..." bisik-bisik pelayan saat mengikuti langkah sang pewaris tahta.
Semua mata tertuju pada Shania Sahara Atmaja, gadis anggun nan cantik, sebagai penulis terbaik saat ini.
Karena kecantikan nya, mampu membuat Qenny tergila-gila, bahkan hampir gila hanya untuk mencari keberadaan gadis itu selama tiga tahun lamanya.
Jika di tanyakan tidak ada perjuangan yang sia-sia, mungkin itu lebih tepat di nobatkan pada Tuan Muda Qenny, di bandingkan dia harus menyewa kupu-kupu malam, atau bahkan membawa para pelayan ke ranjang kamar pribadinya.
Kini Qen telah menemukan Ara, Shania Sahara Atmaja. Namun, keduanya masih terikat pertunangan dengan pasangan masing-masing.
"Bagaimana keadaan keluarga mu, Nona Muda Ara?"
Ara tersedak, dia tidak terbiasa disapa Nona Muda, apalagi yang menyebut itu merupakan orang yang dia kagumi sejak dulu.
Ara hanya tersenyum tipis, "Saya hanya seorang diri di kota ini Tuan Besar. Lagi pula saya besar di panti asuhan, semenjak Papa dan Mama meninggal dunia ..." jelasnya dengan nada lembut.
Cantika yang tidak mampu menahan selama ini, memberanikan diri untuk bertanya siapa nama belakang keluarga Ara.
"Apakah benar nama belakang keluarga mu Atmaja, sayang?"
Ara mengangguk meng'iya'kan, sesekali matanya melirik kearah Qen yang sejak tadi memandangi wajahnya.
"Ooogh Dad, apakah kamu ingat siapa gadis ini? Mungkin dia yang selama ini kita cari, dia anak dari pasangan Atmaja Wijaya Kusuma juga Selina, yang meninggal karena kecelakaan tragis itu," kenang Cantika.
Ara mengerenyit keningnya, menoleh kearah Cantika yang duduk di sebelahnya, balik bertanya, "Ehm ... Maaf. Apakah kalian mengenal dekat Keluarga Atmaja?"
__ADS_1
Cantika menghadapkan tubuhnya ke arah Ara, memutar kursi agar dapat berbicara dengan putri sahabat lamanya, dengan mata berkaca-kaca ...
"Dengar sayang. Kami semua mencari mu, saat kecelakaan tragis itu. Kami benar-benar mencari keberadaan mu! Papa dan Mama mu meninggal, dan kamu terlempar, bahkan kami sama sekali tidak pernah mendapatkan kabar lagi tentang mu! Dengar, jawab Mama jujur. Apa benar kamu putri kesayangan sahabat Mama yang hilang itu?"
Ara mengangguk, seketika dadanya terasa sesak, dia kembali terisak saat mengenang kedua orang tuanya.
"Ya Ma, aku putri mereka. Tapi aku tidak pernah tahu kenapa aku bisa ada di panti asuhan, dan yang aku ingat, aku memiliki teman kecil. Sampai saat ini aku juga tidak pernah menemukan nya," tangisnya pecah seketika di pelukan Cantika.
Qenny dan Harry saling menatap, bagaimana mungkin gadis yang dia cintai serta mampu merubah kehidupan nya hingga seperti saat sekarang merupakan sahabat kecilnya.
Cantika mengusap lembut kepala gadis cantik itu, "Kamu berada di tangan Keluarga yang tepat, nak! Qenny lah sahabat mu itu, yang pernah di benamkan oleh Papa mu di sungai, saat membuat mu menangis ..." kenangnya.
Ara semakin menangis sejadi-jadinya, dia tidak tahu mau berkata apa. Ternyata saat ini dia jatuh hati pada sahabatnya kecilnya.
"Tapi bagaimana dengan Benz. Sampai saat ini dia tidak tahu tentang aku dan Qen. Aku tidak mungkin memutuskan hubungan pertunangan kami secepat ini. Karena aku masih memiliki hu-- ..."
Ara terdiam. Dia tidak ingin melanjutkan pembicaraannya saat ini.
Akan tetapi, ketiga orang yang tengah memperhatikan Ara sejak tadi dapat mendengar pembicaraan Ara dengan kata 'hutang'.
"Hutang? Apa kamu memiliki hutang dengan Benz? Apakah kalian berhubungan sangat perhitungan? Bagaimana bisa seorang pemimpin, bisa perhitungan dengan tunangannya? Aaagh ..." geram Qen.
Ara mengayun kedua tangannya, sedikit membela Benz, agar tidak terlihat jika selama ini tunangannya sendiri yang memanfaatkan semua karya-karya nya untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. Tentu dengan jaminan kehidupan yang layak, demi buah hatinya Yodi.
"Bukan! Bukan begitu maksud ku. Benz merupakan pria yang baik dan bertanggung jawab. Selama kami dekat dia sangat sopan, juga sangat menjaga hubungan kami hingga waktunya tiba ..." jelasnya.
Namun tidak untuk pikiran Qenny dan Hary. Mereka tahu apa yang akan di perbuat demi merebut Ara dari Benz, dan membesarkan Yodi di mansion.
Tuan Besar Hary menegaskan pada Qenny juga Cantika di hadapan Ara ...
"Mulai malam ini, Shania Sahara Atmaja tinggal di sini. Karena aku tidak ingin jauh dari cucu ku. Besok aku akan mengurus semua nya. Semoga tidak ada kendala!"
Ara tampak kebingungan, begitu juga Qenny ...
"Apa maksud Daddy ...?"
__ADS_1