Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode 33. Cinta CEO Pesakitan


__ADS_3

Tuan Besar Hary menegaskan pada Qenny juga Cantika di hadapan Ara ...


"Mulai malam ini, Shania Sahara Atmaja tinggal di sini. Karena aku tidak ingin jauh dari cucu ku. Besok aku akan mengurus semua nya. Semoga tidak ada kendala!"


Ara tampak kebingungan, begitu juga Qenny ...


"Apa maksud Daddy ...?"


Tuan Besar Hary hanya mengangguk dengan tenang, tak ingin putra kesayangannya kembali mengalami kesedihan yang mendalam seperti beberapa waktu lalu.


"Aku akan mempercepat pernikahan kalian berdua. Bagaimanapun, ini semua demi Yodi pewaris tahta Keluarga Subagio!"


Hary mengangguk menatap Cantika sang istri yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ta-ta-tapi Tuan Besar ... Hmm saya, eee, sa-sa-saya tidak bisa melakukan hal ini. Karena saya, masih bertunangan dengan Benz ...! Saya tidak ingin pria itu menyakiti atau mengatakan hmm, saya memanfaatkannya ..." tunduknya.


Seketika Yodi mendekati keluarga itu yang tengah berbincang, "Ma-ma-mama ... Pa-pa-papa ..." sapanya terbata-bata.


Qenny yang sangat menyayangi putranya, seketika menyambut sang putra membawa dalam pangkuannya.


Ara menatap penuh haru. Selama ini dia memendam sendiri bagaimana merawat dan menjaga Yodi sendirian, kini putra kesayangannya telah bertemu dengan Papa kandungnya.


Tanpa banyak bicara, beberapa pelayan telah mempersiapkan semua kebutuhan Yodi juga Ara, untuk tetap tinggal di sana setelah mendapat perintah dari Tuan Besar. Dua baby sitter akan melayani Tuan Muda Yodi.


Ara tertegun sejenak, menoleh kearah Qenny yang masih menyuapkan makanan pada sang putra, menikmati hidangan yang sangat lezat masakan khas Asia.


Sop buntut, yang menjadi hidangan makan malam Tuan Besar Hary, hanya untuk mengingat keindahan Jakarta.


"Tuan ..."

__ADS_1


"Papa!"


Ara tertunduk, tersenyum tipis kembali menoleh kearah Hary, "Pa ... Bisakah menceritakan pada ku, apa yang terjadi pada kedua orangtuaku?"


Cantika melirik menatap suaminya, dia tidak ingin membahas tentang kematian sahabat sekaligus partner bisnis mereka malam ini. Karena akan berdampak pada kebahagiaan mereka, yang baru mereguk keindahan mendapatkan cucu baru.


Hary tersenyum sumringah, "Mungkin besok kita akan bercerita panjang tentang keluarga kamu. Sepertinya malam ini aku lebih memilih bermain dengan Yodi ..."


Dengan sigap Hary mengambil Yodi dari pangkuan putranya, membawa cucu tampannya, kekamar yang luas.


Yodi tipe anak yang sulit untuk dekat dengan orang asing, namun saat pertama kali masuk ke mansion Keluarga Subagio, dengan senyuman lebar dia bermain sesuka hatinya. 


Pemandangan itu membuat Ara semakin kebingungan, karena dia tidak akan tahu apa yang akan dilakukan nya lagi setelah berada di Keluarga Subagio.


.


Qenny membawa gadis yang kini menjadi candunya itu, masuk kedalam kamar mewahnya. Tentu setelah mendapatkan persetujuan dari Tuan Besar Hary begitu juga Nyonya Besar Cantika.


Sontak Ara semakin kebingungan, saat sapu tangan yang sudah di gulung Qen, menutup mata indahnya.


"Qen ... Jangan lakukan ini. Aku malu!" teriak manjanya keluar dari bibir tipis berwarna kemerahan itu.


Perlahan Qen menyibak rambut panjang gadisnya yang hitam berkilau dari belakang, mengecup lembut leher Ara, membuat tubuh gadis itu meremang ...


"Qen ... Jangan lakukan itu lagi ... Aku hanya ingin beristirahat," sesalnya masih terdengar manja.


Qen bukanlah tipe pria yang romantis, dia tak mampu merangkai kata yang indah, seperti Ara juga penulis ternama lainnya. Namun, malam ini dia ingin memberi kejutan untuk wanita yang ternyata merupakan sahabatnya yang telah berubah tumbuh dewasa.


Perlahan kedua-nya melangkah menuju kamar, tentu dengan beberapa hadiah mewah yang Qen persembahkan untuk wanitanya.

__ADS_1


Tentu dengan jantung yang berdetak kencang, bahkan membuat kedua tangan Ara dingin sangking gugupnya, saat hidungnya mencium aroma terapi dari dalam kamar pria berwajah tampan itu.


Qen melepaskan penutup mata Ara, saat tiba didepan pintu kamar yang telah terbuka lebar ...


Betapa terkejutnya Ara, saat melihat satu buah laptop mewah lengkap dengan buku pertama wanita itu saat pertama kali bertemu.


Ara menutup bibirnya, melihat laptop yang dia impikan ada di hadapannya. Lengkap dengan semua yang wanita itu butuhkan saat mencari inspirasi sebagai penulis.


"Qen ... Apa yang kamu lakukan? Aku tidak sehebat penulis Moonmarvel ataupun Jus kelapa. Aku hanya pemula, dan karya ku masih satu 'Cinta Gadis Pesakitan' itu ..." jelasnya pada Qen.


Qenny memeluk tubuh ramping Ara dari belakang, sedikit berbisik, hanya bisa berkata, "Kini, aku yang meminta pada mu, buat kan satu karya, 'Cinta CEO Pesakitan' yang kehilangan kekasih hatinya selama tiga tahun ... Aku lah pria pesakitan itu, Ra. Pria yang selalu menangisi kepergian mu kala itu ..."


"Qen ..."


Ara mengusap lembut wajah pria yang memeluk tubuhnya dari belakang. Perlahan dia membalikkan tubuhnya, mengalungkan tangannya keleher tegap Qen.


Untuk pertama kali Ara memberanikan diri mengecup lembut bibir pria, yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.


Bibir keduanya saling mengecup lembut, tanpa ada perasaan sungkan ataupun malu.


Kebahagiaan Ara dan Qen kali ini semakin terasa manis, setelah mengetahui identitas kedua-nya yang selama ini saling mengenal.


Qenny enggan melakukan hal itu malam ini, karena dia tidak ingin merusak suasana hati Ara yang bersedia membuatkan satu karya tulis untuk dirinya.


Ara melepaskan kecupan mereka, setelah cukup lama mereka saling mellumat.


"Kenapa kamu meminta aku membuatkan satu karya seperti itu? Bukankah penulis handal mu lebih banyak yang baik dari pada aku?"


Ara bertanya pelan, dengan tangan masih merangkul leher Qen.

__ADS_1


Qen yang tersenyum bahagia menatap wajah cantik gadis di hadapannya yang tersipu-sipu malu, hingga membuat wajah itu merona ...


__ADS_2