Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode. 9. Penyamaran


__ADS_3

Jantungnya Qenny berdebar dengan kencang, saat kakinya akan melangkah membuka pintu kamar apartemen Ara. Pria tampan itu hanya menggunakan baju kemeja hitam dipadu dengan celana jeans yang sangat memukau pandangan wanita yang sesaat lagi akan melihatnya.


Tangannya membuka pintu kamar, menunduk kearah Ara yang sejak tadi sudah menggedor pintu kamar pria tampan tersebut.


"Woooowh ..." gumamnya dengan mulut mungilnya yang membentuk huruf o.


Ara mengagumi ketampanan Qenny yang berdiri di hadapannya. Wajah tampan, memberi isyarat bahwa pria yang ada di hadapannya bukan orang biasa dari kualitas busana yang dia kenakan.


"Apakah semua pakaian mu, bermerek semua? Berapa besar gajimu selama di Seoul hingga mampu membeli pakaian semahal ini?" Ara sedikit menarik baju yang dipakai Qenny sembari ia memperhatikan merk ternama yang menempel sedikit dengan kualitas bahan yang benar-benar menunjukkan bahan yang Qenny kenakan.


Qenny terlihat bingung, karena harus menjawab pertanyaan gadis itu dengan kembali berbohong, "Kita jalan sekarang?" tanyanya menghindari segala pertanyaan yang akan muncul nantinya.


Ara menaikkan satu alisnya, "Hmm ... Ini sarapan kamu. Kita nanti sarapan di pantry saja. Semoga kamu diterima kerja di perusahaan besar itu. Kan, lumayan walau hanya bergaji sebagai seorang driver ..."


Qenny tersenyum. Jujur jika diikutkan hatinya, dia tidak ingin melakukan penyamaran ini hanya untuk mengetahui perusahaan keluarga yang menempatkan orang yang salah. Akan tetapi, dia harus melakukannya demi untuk mendapatkan kepercayaan Tuan Besar Hary kembali padanya.


'Apa sesulit ini untuk aku kembali pada menjadi CEO? Apakah semua akan berjalan sesuai rencana ku? Berdasarkan pembicaraan ku dengan Lulu tadi malam, Altezza belum pernah mengetahui tentang putra pewaris perusahaan Agung Tanoe Podomoro. Dan dia tengah berusaha membantu Qenny untuk menemukan identitas Altezza dan Shania Sahara Atmaja yang sengaja disembunyikan oleh Tuan Besar Hary selama ini darinya. Apakah Daddy memiliki wanita lain dibelakang Mama?'


Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu menari-nari dibenaknya sejak tadi malam. Qenny yakin, Ara bukan wanita sembarangan karena memiliki kepintaran luar biasa setelah melihat cara kerjanya. Juga melihat kulit dan nama belakang Keluarga Atmaja yang pernah dia dengar dari bibir sang Daddy, Tuan Besar Hary.


'Ini akan menjadi peluang bagiku untuk membalas sakit hati ku pada semua orang yang telah menghina ku kala itu. Termasuk Daddy Cleo. Wanita yang hanya menginginkan bisnis dan keuntungan saham. Aku lebih baik menjalin hubungan dengan orang biasa dan tidak gila akan harta. Lebih baik aku bertahan dalam pesakitan ini. Aaaagh ...' geramnya.


.


Mereka tiba di gedung perkantoran pencakar langit yang tinggi menjulang. Gedung yang di desain sangat apik juga kokoh dari gempa dan tsunami.

__ADS_1


Ara menarik tangan Qenny agar lebih cepat melewati tangga darurat karena lift menuju lantai 30 sangat ramai.


Pria bertubuh atletis yang terbiasa manja, merasa sesak nafas untuk tiba dilantai 30 tersebut. Wajah pucat, keringat bercucuran membuat nafas tersengal-sengal menaiki anak tangga.


Ara yang melihat wajah Qenny sudah tidak sanggup untuk menaiki anak tangga, bergegas menarik tangan pria muda itu untuk menaiki lift pengangkut barang.


Qenny melepaskan tangan Ara yang terus menggenggamnya, "Aku lelah ... Jangan paksa aku untuk terus berjuang seperti ini. Aku sudah tidak sanggup lagi. Kenapa kita tidak menggunakan lift karyawan saja?" ucapnya membungkuk menarik nafas dalam-dalam.


Ara melihat bahwa lift karyawan sudah berhenti. "Ayo cepat ... Kita akan memasuki lift yang disana!" tunjuknya pada lift yang tengah terbuka.


Qenny mengikuti langkah kaki Ara, untuk bergegas memasuki lift, "Tahan!"


Seketika mata Qenny melihat seorang gadis yang sangat cantik bahkan sangat seksi. Wajah cantik alami, menggunakan baju seragam biru dan bertubuh tinggi sangat menarik perhatiannya. Wajahnya seketika berubah saat menatap wajah gadis cantik tersebut. Gadis sederhana dan sangat muda ... Bibir merah merona alami tanpa menggunakan lipstik yang biasa digunakan gadis seusianya.


Mendengar penuturan Ara, Qenny sedikit terdiam. Dia tampak seperti memikirkan sesuatu. 'Bagaimana mungkin wanita secantik ini dijadikan sebagai office girl disini? Bukankah seorang direktur harus menjadikan dia seorang secretaris seperti Lulu? Aaaagh ... Kenapa anuku terasa sangat sesak ...?'


Qenny hanya melirik gadis yang berdiri disampingnya, juga menatapnya.


Tibalah mereka dilantai 30. Beberapa ruangan karyawan yang tampak sibuk dengan pekerjaan mereka dipagi hari seperti yang dilakukan seluruh pekerjaan yang berada di Seoul.


Ara meminta Qenny untuk menunggu panggilan dari Altezza Sun. Direktur yang menjadi orang kepercayaan Tuan Besar Hary di Tokyo. Matanya tampak liar saat duduk di sofa depan pintu ruang direktur. Hiruk pikuk aktifitas seluruh wanita dan pria yang bekerja disana, sungguh terlihat bergerak cepat seperti sedang diatur oleh sebuah sistem otomatis. Tanpa suara dan hanya terdengar berisiknya mesin fotocopy dan printer.


Tak selang berapa lama, Ara keluar memanggil Qenny untuk bertemu dengan atasannya.


Jantung Qenny semakin tak beraturan, seumur hidupnya hanya mendengar cerita dari sang Daddy tentang Altezza yang sangat cerdas dan bersahaja.

__ADS_1


Akan tetapi, apa yang diucapkan Tuan Besar Hary, berbanding terbalik dengan Altezza yang ada di hadapannya saat ini. Dia terlalu ramah pada Ara. Tangannya sangat melambai kearah paha mulus gadis itu tanpa perasaan sungkan dihadapan Qenny.


'Aaaagh ... Ternyata seorang direktur yang sangat dielukan Daddy, kelakuannya 11 12 sama aku. Brengsek sekali dia dapat menyentuh paha Ara sepuasnya, hingga tidak menghargai aku yang duduk di hadapannya ...'


Qenny menunduk hormat, walau berat dia lakukan karena pada dasarnya Tuan Muda itu termasuk CEO yang sombong dan angkuh pada semua karyawan kecuali Lulu.


"Hai!" Sapa Altezza dengan menyilang kan kakinya.


Qenny tersenyum tipis, "Ya Tuan ..."


Altezza menatap lekat wajah tampan Qenny penuh selidik, melihat penampilan pria yang akan menjadi sopir pribadinya dengan wajah tampan, dan sangat berkelas dengan kemeja bermerek yang dikenakan nya.


Altezza mulai bertanya dengan dagu terangkat angkuh, karena merasa ketampanan Qenny mengalahkan dirinya sebagai seorang direktur di perusahaan tersebut, "Apakah kau pendatang baru di kota ini?"


Qenny mengangguk meng'iya'kan.


Altezza sedikit berbisik mendekatkan wajahnya yang tak begitu tampan untuk dapat berbicara tegas, "Bisakah kau bicara menggunakan mulut mu anak muda? Berapa usiamu? Dan dari mana asal keluarga mu?"


Qenny menunduk hormat, tersenyum tipis melirik kearah Ara yang menatapnya, "Hmm ... Panggil saja saya, Qen! Usia saya 25 tahun. Saya pendatang baru di kota Tokyo. Keluarga saya hanya seorang buruh di Seoul. Untuk sementara waktu saya menginap di kediaman teman saya."


Altezza mengangguk mengerti, "Baik, saya akan memberikan kamu tempat tinggal dikediaman saya sebagai driver pribadi! Saya harap kamu dapat bekerja dengan baik. Sudah, silahkan tinggalkan ruangan saya. Temui bagian HRD untuk mendapatkan baju dinas dan name tag. 20 menit lagi, kamu akan mengantarkan saya untuk bertemu rekan bisnis perusahaan ini. Tunggu saya di parkiran VIP. Security akan memberitahu kendaraan mana yang akan saya gunakan!" tegasnya.


Qenny menaikkan kedua alisnya, menarik nafas panjang, menggeram bahkan ingin sekali dia menampar wajah pria sombong yang ada dihadapannya. 'Jika aku tidak bisa menahan diri, mungkin sudah ku habisi anak ayam itu ...'


Sesalnya menggeram, berlalu meninggalkan ruangan Altezza dengan perasaan kecewa dan marah. 'Bagaimana mungkin Ara membiarkan pria mesum itu menyentuh pahanya? Kenapa dia marah saat aku melakukan hal itu padanya, sial ... Ternyata wanita sama saja ... Murahan ...'

__ADS_1


__ADS_2