Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode 24. Aku mencintaimu Ara ...


__ADS_3

Semua yang hadir di ruang rapat kala itu masih terdiam. Ara tampak kebingungan dengan kedua orang hebat yang pernah menjadi owner di Tokyo, kini harus bertemu lagi dengan Nyonya Besar Cantika dan Tuan Besar Hary.


Wajah cantik itu semakin kebingungan, karena Qen ada di sana. Pria yang telah merebut kehormatannya dan seperti mencampakkan nya tanpa mau melanjutkan hubungan yang sudah terlanjur terjadi hanya karena tidak memiliki perasaan.


Wanita mana yang tidak hancur, karena keputusan Qenny kala itu. Ara benar-benar kehilangan arah, sehingga memutuskan untuk meninggalkan Qenny dan kembali ke Seoul.


Pihak penerbit, menyampaikan semua kegagalan mereka dalam memproduksi novel semua penulis, sehingga melibatkan pihak ketiga untuk menanam saham di perusahaan mereka.


Tuan Besar Hary, menatap pada Benz dan Ara. Terakhir kali dia tersenyum sumringah pada putranya Qen.


"Hari ini, sepertinya kita akan mendapatkan kejutan. Saat ini Tuan Muda Qenny yang akan melanjutkan perusahaan ini, karena sebagian saham sudah di alihkan oleh Benz ke pada perusahaan kami. Jadi saat ini, Nona Ara akan menulis untuk perusahaan yang akan berganti nama menjadi 'Penerbit Podomoro' ..." jelasnya pelan.


Ara tersedak, kedua bola matanya membulat besar. Menoleh ke arah Qen juga Benz yang duduk bersebelahan dengan nya.


"Maaf sayang! Apakah kamu bercanda? Ini enggak lucu, perusahaan kamu tidak mungkin di ambil alih pada perusahaan mereka? Maaf Qen, siapa kamu?" tanyanya tampak kebingungan.


Benz mengangguk membenarkan perkataan Tuan Besar Hary. "Kali ini aku harus melakukan ini demi memperjuangkan kamu sebagai penulis terbaik. Maaf aku, Ara ..." bisiknya.


Ara terdiam, menggelengkan kepalanya, dia membentak Qen yang masih belum menjawab siapa dirinya pada gadis itu.


Qen berdiri, di hadapan Tuan Besar Hary dan Nyonya Besar Cantika.


"Perkenalkan, saya Qen ... Putra satu-satunya dari Keluarga Subagio, dan saya juga yang akan menjadi CEO di perusahaan ini. Bagaimana Tuan Benz?" tanyanya menyeringai kecil ...


Benz selaku pemilik penerbit buku tersebut mengangguk meng'iya'kan ucapan Qen.


Ara yang tidak menyukai drama di ruangan itu, berdiri tegak, menunduk hormat pada Tuan Besar Hary dan Nyonya Besar Cantika, menatap lekat pada Qen memberi tanda bahwa dia tidak ingin mendengar semua ini. Semua mengenai perubahan pada perusahaan yang telah membesarkan namanya.

__ADS_1


Ara menoleh kearah Benz, "Jadi selama ini kamu membohongi aku sebagai tunangan mu? Bagaimana dengan anak ...?" Dia membalikkan tubuhnya, tidak melanjutkan ucapannya karena tidak ingin di dengar oleh Qenny.


Qen yang mendengar penuturan tentang anak, hatinya berdetak, 'Anak? Apakah Ara benar-benar menyembunyikan sesuatu dari ku tentang anak kecil yang aku lihat kemaren ...?'


Ara menghentakkan kakinya, untuk segera meninggalkan ruang meeting, namun Benz menahan lengan tunangannya.


Tuan Besar Hary juga istrinya saling bertatapan, bagaimanapun mereka dapat mendengar tentang anak itu.


Qenny yang tidak sabar ingin mengetahui identitas anak yang ada dalam gendongan Benz kala itu mengejar dua insan yang saling menyalahkan.


Qen menyelinap, di sebuah pilar yang tidak dapat terlihat oleh Ara ataupun Benz.


Ara membelalakkan matanya lebar di hadapan Qen, "Apa maksud kamu perusahaan tidak mampu memproduksi buku ku? Kenapa kamu tidak pernah membicarakan ini? Bagaimana dengan anak ku Yodi! Masa depannya, semua tentang nya! Aku kecewa sama kamu, Benz! Kamu justru telah berani mempermainkan aku!"


"Ara! Aku tidak menyangka semua ini akan terjadi. Aku akan tetap bertanggung jawab pada putra mu! Walau itu bukan darah daging ku!" tegasnya.


Ara memeluk tubuh Benz, baginya menjalin hubungan yang baik merupakan impiannya sejak dulu. Dia mendekap erat pria itu. Kini hanya Benz yang selalu ada untuknya, bukan Qenny ...


Qenny yang mendengar pembicaraan kedua insan itu, semakin menggeram. Saat mendengar penuturan Ara tentang Yodi.


"Ternyata dia sengaja menghindari aku! Kenapa Ara mengatakan bahwa anak laki-laki itu anak Benz? Apakah dia terlalu membenciku walau dia sudah mengetahui bahwa aku seorang putra pewaris tahta Keluarga Subagio ...?"


Qenny menggeram, buku-buku tangannya memutih, "Aku harus merebut Ara dan anak itu. Bagaimanapun anak itu merupakan anak ku! Darah daging ku ...!"


Dia berbalik menuju ruang rapat. Tentu dengan wajah sangat garang dan dingin. Qenny memandang Tuan Besar Hary dan Nyonya Besar Cantika bergantian.


"Aku akan mengelola perusahaan ini. Kirim Lulu untuk membantu ku disini. Karena hanya dia yang mengetahui bagaimana aku!" tegasnya.

__ADS_1


Tentu saja Tuan Besar Hary dan Nyonya Besar Cantika merasa senang dengan semangat putranya.


Hary bertanya, "Kapan kamu akan memulai nya Qen? Bagaimana dengan anak perusahaan yang sedang kamu kerjakan? Apa Daddy meminta Huang Zhong untuk membantu mu disini?"


Qenny menggelengkan kepalanya, "Aku hanya meminta Altezza untuk membantu ku disini!" tegasnya.


Cantika membulatkan kedua bola matanya, "Tidak! Mama tidak setuju dengan anak itu! Perbuatannya 11 12 sama kamu! Dia suka banget membawa wanita ke dalam ruangannya. Saat ini biarkan Altezza di Tokyo untuk menjadi tangan kanan Huang! Bagaimanapun juga Huang sudah sangat membantu kita selama ini!"


"Terserah! Aku hanya membutuhkan Lulu!" ucap Qen meninggalkan ruang rapat dan berpapasan dengan Benz dan Ara.


Akan tetapi, Qenny yang mendengar pembicaraan mereka berdua, kembali menarik tangan wanita itu untuk keluar dari ruangan.


Qenny membawa Ara yang memberontak, karena merasa sangat kesakitan mendapat perlakuan kasar dari pria yang memiliki sifat kasar itu.


"Lepaskan aku, Qen!" bentak Ara saat mereka tiba di dalam lift.


Qenny menatap nanar wajah Ara, menyandarkan gadis itu ke dinding lift ...


"Apa maksud mu menyembunyikan sesuatu dari ku! Apakah benar anak laki-laki yang aku lihat kemaren itu anak ku!? Jawab aku, Ara! Jawab!!" bentaknya lantang.


Ara terdiam, seketika tubuhnya bergetar hebat, dia telah mengatakan pada Qen bahwa anak laki-laki itu merupakan keponakan calon suaminya.


"Apa yang aku bohongi padamu, Qen? Aku sudah bicara jujur padamu! Anak itu adalah keponakan Benz! Jangan ganggu aku! Dan jangan pernah mendekati aku, karena aku tidak peduli dengan mu! Jika aku memang memiliki anak, apa urusan mu? Bukankah kamu tidak menginginkan aku? Apa kamu lupa, hah!?" tegas Ara.


Qen mengatur nafasnya, matanya seketika memerah. Jika dia tidak melakukan kesalahan kala itu, pasti wanita yang ada di hadapannya sudah menjadi miliknya saat ini. Tapi semua hanya penyesalan yang selalu datang terlambat.


"Ara, aku mencari mu tiga tahun! Tiga tahun aku mencari mu! Kini kamu hadir justru akan menikah dengan Benz yang sama sekali tidak mengenal mu! Tidak mengetahui masa lalu mu! Aku mencintaimu Ara! A-a-a-aku men--- ..." seketika mulut Qen terkunci, saat Ara mendorong tubuhnya, dan menekan pintu lift agar terbuka lebar.

__ADS_1


Qenny yang tersandar ke dinding lift, hanya terdiam, dan kembali berucap, "Aku mencintai mu ... A-r-a ..."


__ADS_2