Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode. 22. Penulis Novel


__ADS_3

Mata Qenny tertuju pada leher milik gadis tersebut. Kalung liontin hati bertahtakan berlian yang dia ingat milik Ara. Wajah gadis yang menggunakan masker dan topi menutup kepalanya, seketika iya tersadar.


"Ara! Ara! Ara ..."


Qenny berdiri tepat dihadapan gadis itu, memeluk tubuh ramping yang sedikit risih karena di perlakukan seakan-akan mereka saling mengenal.


"Maaf Tuan ..." tunduk gadis itu dengan suara pelan, berusaha melepaskan dekapan Qenny.


Qenny terdiam, dia melepaskan dekapannya, wajah ceria berubah seketika.


"Maaf! Boleh kah saya melihat wajahmu? Aku kehilangan seseorang, selama bertahun-tahun ..." Qenny melakukan hal yang sama untuk meyakinkan diri sendiri.


Gadis itu melepaskan topi dan maskernya. Benar saja, dia bukan Ara yang di cari Qen selama ini.


Hati Qenny seketika kembali bersedih, wajahnya murung, karena tidak kunjung mendapatkan gadis yang dia cari.


"Hmm maaf Nona. Saya salah orang!" tunduknya melihat ke sisi kiri.


Betapa terkejutnya Qenny saat matanya tertuju pada sosok gadis yang selama ini dia cari ...


Tengah duduk di sebuah kursi dan meja, untuk menandatangani buku novel yang baru launching.


Mata Qenny tertuju pada sebuah banner yang ada di samping meja Ara. Bertuliskan sebuah judul buku novel 'Cinta Gadis Pesakitan'.


Qenny menelan ludah sendiri memberi kode para pengawalnya untuk mendekati nya. Membuka jaket hangat, dan meminta parfum mulut yang beraroma mint, untuk mendekati gadis yang tengah sibuk dengan para fansnya.


Dadanya bergemuruh, bahkan untuk melangkah dia tak mampu. Kembali teringat saat pertama kali Qenny menembus kehormatan gadis itu yang sangat indah, karena dapat merasakan sentuhan tangan Ara kala itu, yang menjerit kecil dan sedikit menahan.


"Ara ... Aku akan menjemputmu ..."


Qenny melangkah perlahan, mengambil buku Ara di salah satu rak buku, ikut antri di belakang lima orang untuk tiba di hadapan Ara.


Entah mengapa keduanya merasakan hal yang sama, Ara terlihat gelisah belum menyadari bahwa Qenny ada di hadapannya. Sementara pria pesakitan itu berkali-kali menelan ludah untuk segera mendekati gadis yang hanya berjarak lima meter darinya.


Qenny menunduk, dia ingin berbalik karena tidak kuasa melihat gadis yang meninggalkan nya bertahun-tahun lamanya, membuat dia sedikit kecewa namun penasaran. 'Mengapa dia meninggalkan aku? Apa karena aku hanya seorang supir pribadi kala itu ...?'


Qenny menghela nafas panjang, saat hanya tinggal dia yang akan memberikan buku untuk di tanda tangani oleh wanita cantik yang lebih pendiam saat ini.


Perlahan Qenny meletakkan buku itu di atas meja, membiarkan Ara menariknya kemudian membuka halaman pertama.


Ara bertanya, selayaknya penulis novel propesional, "Nama?"


Qenny hanya terdiam, melihat tangan halus yang sangat lentik dan halus, di hiasi cincin halus di jari manisnya sebagai tanda dia sudah men-- ...


Qenny tak kuasa membendung rasa kecewanya, sekian lama dia mencari Ara, hingga di bawa ke psikiater ternama di Seoul, dan kini harus menerima kenyataan bahwa Ara telah menikah.

__ADS_1


Ara kembali bersuara, namun saat ini di barengi dengan mendongakkan kepalanya, "Nam-a ..."


Ara menatap lekat wajah Qenny, pria yang pernah menghabiskan waktu bersama. Pria yang berkata kasar padanya, sehingga mengaskan bahwa yang di lakukan nya tanpa cinta.


Ara menggeser kursi kebelakang, dengan mata masih menatap Qen yang berdiri tegak di hadapannya.


"Qen ..." ucapnya pelan.


Qenny mengangguk tersenyum, dengan wajah minta di kasihani saat ini. Mata indah keduanya seakan-akan basah, karena tidak mampu berkata-kata.


"Hai ..."


Ara mengangguk pelan menjawab dengan suara pelan, "Hai ..."


Qenny semakin salah tingkah, dia mengusap dadanya berkali-kali, mengangkat kepalanya untuk membendung air mata yang akan membasahi pipinya seketika.


"Selamat Ara ... Selamat kamu berhasil untuk menjadi seorang penulis hebat!" ungkap Qenny menepuk bahu Ara pelan dengan tangan menggigil.


Ara mengangguk pelan. Dia tersenyum, sedikit memiringkan tubuhnya, untuk menyambut dua orang yang datang mendekatinya.


Qenny menoleh kearah pandangan Ara, melihat sosok pria tegap yang menggendong seorang anak kecil berusia lebih kurang dua tahun.


Nafas Qenny terasa sesak, tubuhnya goyang seketika. Seakan-akan akan jatuh ketanah, namun di sambut oleh dua pelayan toko buku yang berdiri di dekat mereka.


Matanya seperti berkunang-kunang, menyaksikan dua insan itu saling berpelukan hangat dan berciuman bibir, sambil menyapa anak kecil yang ada di gendongan pria tersebut.


Ara mengemasi barang-barang yang ada di meja, menandatangani buku novel yang terletak di meja, menggeser perlahan kearah Qenny yang masih shock akan apa yang ada di depan matanya saat ini.


Qenny berusaha menahan tangan Ara, saat pria yang menggendong anak kecil itu bermain mendekati sebuah kaca.


"Apakah kamu sudah menikah?" tanyanya pelan dengan menggeram menatap lekat kedua bola mata Ara.


Ara terdiam, dia melirik kearah pria yang tengah fokus bermain-main, hanya tersenyum menunjukkan cincin kawinnya.


Ara mengangkat jari manis sebelah kanannya, dihadapan Qenny membuat pria itu semakin menggeram dan kesal.


Rahang Qenny mengeras, wajahnya tampak merah padam, bahkan hancur berantakan. Tiga tahun dia mencari keberadaan Ara, namun harus kenyataan pahit ini yang harus dia terima.


"Tuhan ... Kenapa keberuntungan tidak pernah berpihak pada ku? Kenapa aku harus terluka? Kenapa semua ini harus aku hadapi sendiri? Kenapa dia menikah dengan laki-laki lain ...!!!" jerit hati Qenny melihat kepergian dua insan itu dari pandangannya.


Ara sedikit menoleh, karena merasa bersalah dan khawatir pada pria itu.


Qenny menghancurkan semua buku yang ada di meja itu, membuang bukunya yang ke sembarang arah dengan amarah yang membuncah.


"Ara!!!!" teriaknya semakin frustasi.

__ADS_1


Dua pengawal Qenny yang melihat kejadian itu, segera membantu Tuan Muda untuk berdiri tegak, sambil menunduk hormat pada pelayan supermarket tersebut.


"Maaf kan kami, Tuan! Kami akan mengganti seluruh kerugian toko buku ini!" tegasnya.


Pengawal menggendong tubuh Qenny yang melemah, dan menangis sekencang-kencangnya, bahkan berteriak keras, membuat pengunjung toko sedikit berbisik.


"Sepertinya dia di tinggal mati istrinya ..."


Hanya kalimat itu yang dapat di dengar oleh pengawalnya.


Secepat kilat para pengawal menghubungi Nyonya Besar Cantika, untuk memberitahu keadaan Tuan Muda Qen.


["Gadis yang di cari Tuan Muda Qen merupakan seorang penulis saat ini, Nyonya. Dan dia sudah menikah!"]


["Apa? Wanita itu telah menikah? Borong semua buku yang ada di sana, masukkan kedalam gudang! Jangan ada yang beredar. Enak sekali dia meninggalkan putra ku seperti ini!"]


["Tapi Nyonya, kita tidak bisa melakukannya atas dasar kemanusiaan. Gadis itu memiliki anak berusia dua tahun ..."]


["Apa?? Aaagh, yang benar saja! Atur waktu ku untuk menemui gadis itu! Aku akan membayar pria brengsek itu, agar putra ku mendapatkan apa yang dia inginkan!"]


["Baik Nyonya ..."]


Keduanya saling menutup saluran telepon.


"Apakah itu anak Qen?"


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta Kedua CEO


Menggenggam Asa


Pelakor Pilihan


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan

__ADS_1



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all..


__ADS_2