Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode. 15. Tak Memiliki Perasaan


__ADS_3

Keheningan siang itu di kamar hotel, membuat Ara merasa sungkan untuk segera keluar dari kamar mandi. Wajah cantik itu masih berdiri di depan cermin sesekali meringis menahan perih setelah membersihkan diri.


Tok-tok-tok ...!


Suara ketukan pintu dari arah luar kembali terdengar, membuat Ara terlonjak kaget. Bagaimana mungkin jika pria yang berada diluar melihat tubuh telanjangnya.


Ara meraih handuk putih untuk menutup tubuhnya, sedikit menunduk karena merasa takut akan di hina oleh pria yang berprofesi sebagai driver tersebut.


'Aaaagh ... Kenapa aku lakukan hal ini? Bagaimana jika aku hamil? Dan dia hanya bekerja sebagai sopir Tuan Altezza. Apa yang akan aku lakukan jika semua itu benar-benar terjadi ...?'


"Ara!" teriak Qenny dari balik pintu. "Buka pintunya! Apa yang kamu lakukan? Kepala ku masih sakit, Ara! Please bantu aku!!" mohonnya lagi.


Ara yang masih polos, tentu berpikir bahwa Qenny sakit kepala karena ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Perlahan gadis itu membuka kunci pintu, mengintip sedikit ke arah kiri, berharap Qenny tidak akan mengejutkan nya.


Tapi Ara salah hari ini, pria tampan itu muncul tiba-tiba menyergap tubuhnya, membopong gadis itu untuk kembali menikmati keindahan surga di ranjang hotel yang tidak begitu luas milik Keluarga Subagio.


"Aaagh ... Qen! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!!" teriak Ara tak ingin mengulangi kejadian yang sangat memalukan itu.


Namun, bukanlah Qenny namanya jika dia tak mampu menaklukkan wanita di atas ranjang ternyaman yang indah itu.


Lagi, lagi, lagi ... Dan lagi Ara benar-benar terbuai oleh pesona Qenny.


Dessahan Ara yang baru merasakan keindahan surga berkali-kali hanya bisa berteriak menerima perlakuan pria tampan yang sangat bergairah kala itu.


Entah berapa kali Qenny melakukannya sehingga membuat Ara tak berdaya untuk bergerak meninggalkan ranjang kamar hotel, sehingga keduanya benar-benar terlelap hingga fajar menyingsing.


.


Sinar mentari pagi, masuk melalui tirai putih yang menutup tubuh dua insan saling berpelukan, membuat Qenny terjaga lebih dulu.


Tubuh bersih itu menggeliat, melirik kearah samping, matanya baru menyadari bahwa gadis bernama Shania Sahara masih terlelap di sampingnya.

__ADS_1


"Oooogh shiiit ...!" ucap Qenny dengan kedua bola mata membelalak besar.


'Apa yang telah aku lakukan?' batin Qenny, bergegas mengumpulkan semua pakaiannya menuju kamar mandi.


Betapa terkejutnya Qenny saat melihat bahwa yang dia tempati merupakan hotel dalam pengawasan nya selama ini.


Qenny ternganga, melihat beberapa souvernir yang pernah iya rancang bersama Lulu beberapa waktu lalu, namun selama mengawasi hotel tersebut, dia belum pernah menginjakkan kaki di sana.


"Aaaagh ...! Apa yang aku lakukan! Bodoh sekali kau, Qen!" geramnya menatap lekat wajah tampannya didepan cermin.


Qenny berfikir, bagaimana caranya dia harus keluar dari hotel tersebut, karena General Manager yang menjadi orang kepercayaannya selama ini, tengah berada disana bersama sang Mama Cantika.


"Aaagh!"


"Aaagh!"


"Aaaagh!"


"Aaaagh!"


Berkali-kali Qenny meremas kepalanya, merutuki kebodohannya hingga menyumpahi diri sendiri.


"Bagaimana jika gadis itu jatuh cinta pada mu, Qen! Dia hanya gadis lugu yang tidak tahu siapa dirimu! Apa kata Daddy dan Mama? Apa kata keluarga besar mu, Qenny!!" teriaknya menyesali perbuatan yang telah dia lakukan.


Qenny selama ini selalu mencari wanita hiburan yang berkelas, karena tidak suka dengan dua kalimat 'tanggung jawab'. Dia lebih baik berkencan dengan seorang wanita yang hanya untuk melampiaskan hasratnya, tanpa memiliki perasaan dan tidak pernah membahas tentang pernikahan.


Qenny memilih menyirami tubuhnya dengan air dingin, agar kepala dan perasaannya benar-benar dingin, sehingga keluar dengan keadaan menggigil dibalut lilitan handuk. Bergegas mengenakan pakaiannya, untuk segera meninggalkan kamar hotel, sebelum ada yang melihatnya.


Akan tetapi, saat Qenny membuka pintu kamar mandi Ara justru tengah berdiri di hadapannya.


"A-r-a ... Hmm ... A-a-a-aku baru selesai mandi! Kamu masuk saja, a-a-a-aku sudah selesai," senyum Qenny melebar, memiringkan tubuhnya agar tidak bersentuhan dengan gadis yang menatap aneh padanya.


Namun Ara menahan lengan Qenny yang terlihat berubah padanya.

__ADS_1


"Ada apa dengan mu? Kenapa kamu seolah-olah tidak peduli pada ku?" tanya Ara menatap lekat mata Qenny yang semakin salah tingkah.


Qenny tersenyum tipis, menelan ludahnya, "Maafkan aku, bersihkan diri mu, kita bicara," jelasnya pelan, sedikit mengusap bahu Ara.


Ara tersenyum sumringah, memasuki kamar mandi, memberikan selimut yang melilit di tubuhnya pada pria yang masih tampak kebingungan tersebut.


Qenny terdiam, tangannya menerima selimut dari Ara. Sedikit mengerenyitkan keningnya berfikir sejenak, 'Kenapa aku lakukan hal itu pada gadis itu?'


Hanya pertanyaan itu yang ada dalam benak Qenny, bertanya-tanya dalam hati kenapa-kenapa-kenapa.


Qenny meminta pelayan hotel untuk membawa kan sarapan pagi ke kamarnya, tentu masih menutupi identitasnya sebagai orang nomor satu di hotel tersebut.


Beberapa pelayan mengantarkan sarapan sesuai menu restoran pagi itu. Sontak semua yang di hidangkan membuat selera makan Qenny semakin tak berselera. Dia sangat menyukai makanan khas Korea yang sangat lekat dengan rasa pedas dan gurih.


"Ck ... Makanan apa ini? Bisakah kalian menyediakan masakan yang sangat lezat, atau apa gitu!" sesal Qenny menatap tajam kearah pelayan yang membawa makanan.


Pelayan yang mendengar ucapan Qenny, sangat sombong membentak pria tampan itu saat Ara keluar dari kamar mandi.


"Jika Anda ingin masakan yang lezat, silahkan Anda menjadi orang nomor satu di hotel ini, Tuan! Karena kami bisa melihat di lantai berapa Anda berada. Selamat pagi!" pelayan itu berlalu, tanpa menutup dan menghiraukan wajah Qenny yang memerah.


Qenny menahan amarahnya, menatap Ara yang baru keluar dari kamar mandi, tersenyum tipis pada wanita cantik itu.


"Bagaimana bisa kamu menginap di sebuah hotel yang kamu sendiri tidak tahu berada di lantai mana?" tanya Qenny menatap Ara.


Ara menjawab pertanyaan Qenny dengan tegas, "Maksudnya? Bukankah kantor menyediakan satu kamar untuk karyawan biasa yang berkunjung ke Tokyo? Apa kamu pikir kita akan menginap di kamar hotel yang lebih luas, mewah, dilayani beberapa pelayan, seperti milik Presdir, atau CEO? Begitu!"


Qenny menunduk, dia menelan ludahnya, karena tidak menyadari bahwa saat ini dia tengah menyamar menjadi seorang driver.


"Duduklah ..." ucap Qenny pelan.


Ara mendudukkan tubuhnya di hadapan Qenny, masih mengatupkan kedua kakinya, dengan rambut yang basah.


Qenny menarik nafas panjang, tersenyum tipis kearah Ara, berkata pelan, "Maafkan aku jika aku menyakiti mu, malam tadi. Merusak kehormatan mu sebagai seorang wanita."

__ADS_1


Beberapa kali Qenny mengusap wajahnya kasar, "Aku minta lupakan kejadian kita tadi malam, karena aku tidak memiliki perasaan apapun pada mu!" ucapnya tanpa berpikir ulang.


"Apa!?"


__ADS_2