Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode. 8. Menjadi Driver


__ADS_3

Suasana sangat menyejukkan di kota Tokyo, begitu menegangkan bagi kedua insan yang masih berselimut kabut kelam, di ruang makan apartemen milik gadis cantik dan ramping tersebut.


Setelah perdebatan antara Qenny dan Ara membahas sarapan paginya, wanita itu melanjutkan pekerjaannya tanpa mengacuhkan laki-laki yang duduk di hadapannya.


Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Qenny enggan menegur Ara yang masih sibuk merevisi pekerjaannya seputar membuat laporan untuk pembangunan hotel disalah satu kota wisata daerah tepi laut.


"Ara, bisakah kamu membawa aku bicara? Kenapa kamu diam saja? Apa aku tampak buruk dimata mu? Sehingga kamu tidak ingin bicara dengan ku?" ucap Qenny mendekati Ara yang masih fokus pada layar laptopnya.


Ara tersentak, "Apa maksudmu? Aku sedang merevisi pekerjaan ku ... Apakah aku harus menjawab 'iya' permintaan mu? Sementara aku harus menyelesaikan pekerjaan ini, karena deadline, Qen! Apa aku harus menemani mu bernyanyi atau apa?" tanyanya sedikit kesal.


Qenny semakin kesal, "Jika aku memiliki uang aku tidak akan mengganggu mu, karena aku akan menghabiskan waktu dengan beberapa temanku," kesalnya menatap lekat wajah Ara.


Ara geleng-geleng kepala, "Dengar Qen, seharusnya dengan hidup seperti ini kamu lebih tenang, berusaha bersahabat dengan keadaan! Bukan malah mengeluh, meratap, menangis bahkan kamu hanya menghayal yang tidak-tidak! Jika kamu membutuhkan pekerjaan, aku akan memberi kabar untukmu, besok!" tegasnya menatap kesal kearah Qenny.


"Apa kamu sedang mengejek ku?" tanya Qenny.


Ara ternganga, "Kenapa kamu jadi sensitiv? Bukankah kamu harus berusaha mencari pekerjaan lain? Ada apa dengan mu? Kenapa kamu jadi bersikap aneh padaku? Jika kamu miskin dalam keuangan, seharusnya kamu memiliki otak yang kaya!"


Qenny semakin emosi mendengar perkataan Ara yang benar-benar telah menghinanya, "Kamu! Apakah dengan aku menumpang seperti sekarang, kamu malah menginjak injak harga diriku?" tatapan mata pria berwajah tampan itu memerah, bahkan tidak mampu untuk menatap manik mata Ara.


Ara mendekati Qenny yang berdiri tegap menatapnya, "Tenanglah Qen, jika kamu terlarut dalam masalah, kamu akan terpuruk dan tidak akan mampu bertahan untuk berjuang. Istirahatlah, kamu terlalu lelah dengan pikiranmu sendiri. Bertahan dan sabar, Qen," tegasnya.


Qenny mendekati Ara, "Apa kamu tidak bisa menemani ku untuk beristirahat? Setidaknya aku membutuhkan bahu mu agar aku kuat, Ra!"


Ara menarik nafas panjang, dia menelan ludahnya susah payah. Takut jika kejadian tadi terulang kembali.


"Baiklah, aku akan menemanimu, karena aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku saat ini," Ara beranjak mengambil laptop dan membawa ke kamar Qenny.


Setibanya didalam kamar, Qenny merebahkan tubuhnya diatas ranjang, melilitkan tangannya mendekap Ara yang diam mematung.


Wajah wanita cantik itu memanas, degub jantungnya berdegup sangat kencang, "Tidurlah Qen, aku akan membantu mu untuk mendapatkan pekerjaan secepatnya."


Ara duduk bersandar pada dinding ranjang, memangku laptop dipaha mya, sementara tangan Qenny melilit di perut rampingnya.

__ADS_1


Qenny menangis terisak, dia menutup wajahnya dengan selimut, yang dia butuhkan saat ini berupa perhatian dari Cantika Panduwinata, Mama-nya. Wanita cantik nan pintar bahkan mampu berfikir waras, saat keadaan tidak waras dalam keadaan tertekan oleh sang Daddy Tuan Besar Hary Tanoe Subagio.


Terdengar dari balik celana pendek Ara deringan telpon, 'Altezza' batinnya.


["Ya Tuan."]


["Kamu dimana? Saya di restoran biasa, apakah laporan untuk Tuan Hary sudah selesai?"]


["Hmm, lagi saya kerjakan Tuan, sebentar lagi akan saya kirim, 30 menit."]


["Ya, karena beliau akan mengirim dana ke account perusahaan untuk projects ini, jangan lupa carikan driver baru untuk ku!"]


["Baik Tuan."]


Ara menutup telfonnya, meletakkan handphone diatas nakas sebelah kanan ranjang tempat dia menemani Qenny.


Ara kembali menoleh kearah pria tampan itu, ternyata Qenny masih pura-pura menutup matanya. Dia kembali fokus pada layar laptop menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.


"Ara," panggil Qenny.


"Hmmm," Ara masih fokus pada pekerjaannya.


"Jika kamu memiliki suami apakah kamu akan bahagia dan masih terus bekerja?" tanya Qenny tampak bodoh.


Ara tersenyum, "Apa harus ... Aku berhenti bekerja jika sudah menikah? Lagian yah, aku ingin memiliki suami yang mapan, memiliki anak setelah keuangan ku benar-benar mapan. Saat ini aku hanya ingin menikmati kesendirian ku," jelasnya.


"Apa kamu akan menikah dengan Bos mu?" tanya Qenny terdengar seperti penasaran.


Ara tertawa kecil, "Jika aku mencintai Tuan ku. Aku rasa itu hal yang wajar, karena aku secretarisnya dan dia atasan ku, kenapa?" tanyanya menoleh kearah Qenny.


Qenny hanya bisa tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya dari tatapan indah seorang gadis bernama Shania Sahara.


"Wait, aku masih fokus akan mengirim laporan ku ke email hary_tanoe@podomoro.com," celoteh Ara masih fokus pada pesan yang tengah terbang menuju alamat email Tuan Besar Hary dihadapan Qenny.

__ADS_1


Pesan berhasil terkirim.


"Yes, berhasil," senyum Ara melirik kearah Qenny yang turut menatap layar laptop.


"Beres ..." Ara meletakkan laptop dinakas, kembali memiringkan tubuhnya agar menatap Qenny lebih dekat.


Pria tampan itu benar-benar menatap mata indah Ara. Dia tidak ingin melakukan hal yang tidak senonoh lagi, karena trauma gadis yang berada disampingnya akan menghajarnya habis-habisan.


"Pekerjaan ku sangat penting Qen, bahkan pekerjaan inilah yang membuat aku lengah dengan semua drama kehidupan sehari-hari yang sangat berat bagiku. Apakah sahabatmu ada yang tinggal di Tokyo?" tanya Ara ingin tahu.


Qenny menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu bisa menjadi driver? Altezza Sun membutuhkannya," jelas Ara melihat reaksi Qenny.


Qenny mengangguk, "Tapi aku tidak tahu jalan dikota ini. Hmm ... Bisa aku coba, karena aku memiliki handphone pintar yang tahu segalanya," tawanya.


Ara mengangguk setuju, "Besok pagi kita akan ke kantor ku. kamu harus mengenakan pakaian yang bagus juga rapi. Semoga kamu diterima kerja disana, dan kamu bisa melamar kekasih mu," tawanya.


"Hmmm, ya! Tapi aku tidak memiliki kekasih. Dan aku juga belum pernah merasakan jatuh cinta. Aku hanya memiliki hasrat yang tinggi. Dan itu sangat menyakitkan," jujur Qenny tanpa perasaan sungkan dan bersalah.


Ara mendelik ngeri, "Baik, jika kamu diterima di perusahaan tempat aku bekerja, aku akan mentraktir mu makan malam selama sebulan, sampai gajian. Jika sudah menerima gaji, kamu harus membayar listrik dan semua kebutuhan di apartemen. Bagaimana?" tanyanya mengalihkan pikiran Qenny dari pikiran mesum tersebut.


Qenny meletakkan telunjuknya di dagu, dia menerima tantangan gadis itu. Hanya untuk menjadi mata-mata di perusahaan keluarganya sendiri.


Walau Tuan Besar Hary sudah mengatakan tidak menganggapnya anak kala itu, tapi jika Qenny membuka kasus besar yang akan menyeret direktur yang bernama Altezza tersebut. Tentu semua akan berbalik padanya.


"Baik ... Besok pagi kamu harus membangunkan aku, dan siapkan sarapan pagi untuk ku. Aku mau roti bakar dan telor setengah matang, untuk mengganjal perut ku hingga malam. Karena menunggu mu pulang kerja membuat aku gila ..." celoteh Qenny melebihi anak usia 12 tahun


Ara menghela nafas panjang, "Ya ... Kebetulan aku sudah membeli beberapa roti untuk sarapan besok pagi. Sekarang tidurlah. Aku ngantuk."


Ara beranjak dari ranjang kamar Qenny berlalu menuju kamarnya yang berada disisi kanan apartemen. Dia berfikir sejenak, 'Ternyata pria itu tidak semesum yang aku pikirkan. Jika dia bekerja dengan giat, mungkinkah kami akan menikah dan tinggal di apartemen sederhana ini?'


Sementara Qenny tersenyum lega, 'Setidaknnya dengan aku menjadi driver disana, akan membuka mata hati Daddy untuk mengetahui siapa Altezza sebenarnya.'

__ADS_1


__ADS_2