
Ara tersentak, mendengar suara pria dingin yang ada di belakangnya. Dia benar-benar ketakutan saat benda keras dan panjang itu berada tepat di punggungnya terasa hangat, seketika bergerak pelan. Dia menelan salivanya, menahan nafas, agar tidak bergerak. Karena untuk berteriak pun, tidak akan ada yang bisa menolongnya.
Qenny yang mengetahui Ara tak kuasa untuk melawan karena memiliki tenaga luar biasa kuat, dengan sebelah tangan dia menggendong tubuh gadis yang sekuat tenaga berusaha memberontak.
"Aaaagh! Lepaskan aku! Dasar pria mesum!" teriak Ara berusaha melepaskan diri dari dekapan pria muda tersebut.
Qenny tak kuasa menahan hasratnya, dia berjalan secepat kilat, melempar tubuh Ara keatas ranjang miliknya yang berada didalam apartemen gadis yang dia tumpangi.
Dengan senyuman sumringah Qenny benar-benar penasaran dengan gadis yang ada di hadapannya. Tubuh indah yang dibalut kemeja putih ketat, memperlihatkan keindahan didalam sana yang menggugah hasrat pria tampan itu untuk segera melakukan hal yang biasa dia lakukan dengan para pelayan.
Pandangannya berkabut, benar-benar tidak memiliki perasaan takut, "Kali ini kamu milikku sayang ...!" bisik Qenny mendekati tubuh Ara yang menangis memohon.
"Jangan lakukan ini pada ku, Tuan!" isak Ara mengatupkan kedua tangannya sambil melihat-lihat seisi ruangan untuk melumpuhkan pria mesum dihadapan nya.
Qenny menggigit bibir bawahnya, dia memperlihatkan tanpa malu bagian kerasnya yang sudah siap bertempur untuk melakukan hal itu, "Jangan takut sayang ... Ini tidak akan menyakiti mu. Dia sangat memahami bagaimana membahagiakan wanita cantik seperti mu," ucapnya menyeringai kecil.
Seketika tangan kekar Qenny menyentuh kaki Ara, sontak wanita yang tengah ketakutan itu melempar bantal yang ada di dekatnya.
Membuat Qenny semakin bersemangat dan bergairah saat berhasil meraih tubuh ramping itu dalam dekapannya.
"Tuan ... Lepaskan ...!" teriak Ara berusaha melepaskan genggaman tangan Qenny yang sudah menggenggam erat pergelangan tangannya.
Kali ini Qenny benar-benar kilap mata hanya untuk sebuah hasrat, dia berpikir bahwa dalam kuasanya wanita di dunia ini tak akan mampu menolak ataupun melawannya.
Qenny mellumat paksa bibir Ara yang mengatup dengan sekuat tenaga seorang wanita. Namun kelihaian pria yang sudah setengah sadar itu, berhasil meloloskan bibir itu agar terbuka menyambutnya dengan sebuah dessahan.
__ADS_1
Tubuh Ara terus meronta-ronta, bahkan melawan perlakuan pria itu sekuat tenaga yang masih tersisa. Dia menangis sejadi-jadinya saat Qenny berhasil merobek benang yang menutupi tubuhnya. Semakin keras dia melawan semakin keras pria mesum itu bekerja bringas diatas tubuhnya.
"Tuan ... Tolong jangan lakukan ini pada ku!" isak Ara terus menerus mencoba melepaskan genggaman Qenny yang semakin menggila diatas tubuh rampingnya.
Qenny tak kuasa, saat matanya menatap penuh harap pada puncak kenyal yang sangat menantang dan siap untuk mellumatnya.
Tangan Qenny yang berhasil menggenggam kedua tangan Ara, dengan cepat meraup benda kenyal itu tanpa perasaan bersalah. Dia terus saja melakukan aksinya demi melepaskan semua hasrat yang sudah membuncah di kepala.
Saat Qenny akan turun kebawah untuk menikmati lembah basah dibawah sana, seketika ...
BHUUUUG ...!
Kaki Ara berhasil menendang wajah Qenny dengan sekuat tenaga, membuat laki-laki itu terjerembab kelantai kamar.
"Aaaagh ...!" Qenny meringis kesakitan, karena kepalanya terhempas disudut meja dan mengeluarkan banyak darah segar, membuat gadis yang masih shock tersebut semakin ketakutan.
Bagaimana mungkin, jika pria itu mati di apartemennya. Sementara Ara sama sekali tidak mengetahui nama pria muda tersebut, dan tidak pernah berbicara intens selama Qenny berada disana. Mereka benar-benar seperti orang asing walau tinggal dalam satu atap.
Ara semakin panik, saat darah segar itu terus mengucur dari kepala Qenny yang bocor, bergegas dia berlari mencari kotak P3K untuk menghentikan darah yang masih mengalir.
Dengan sekuat tenaga, Ara menutupi tubuh Qenny, agar tidak melihat benda yang akan menghujami beberapa menit lalu.
Ara mengusap lembut luka di kepala Qenny, menatap wajah tampan itu dengan penuh kelembutan, "Sadarlah ... Jangan buat aku takut. Aku janji akan mencarikan mu pekerjaan, agar pikiran mu tidak menjadi seperti ini," ucapnya panik.
Ara masih menangis, berusaha menutupi tubuh Qenny dengan pakaian yang berserakan dilantai kamar. Tak pelak dia berusaha menutup matanya, saat berusaha mencari penutup benda pusaka yang sudah tertidur pulas dan kembali menciut.
__ADS_1
Ara menghela nafas panjang, dia berusaha sekuat tenaga untuk memindahkan Qenny keatas ranjang yang tidak begitu tinggi. Saat tubuh gagah yang memiliki berat tubuh lebih kurang 75 kilogram tersebut terbaring di ranjang, dia mengusap wajahnya lembut. Menatap wajah tampan Qenny yang terlihat sangat tertekan.
Gadis itu menoleh, kesebuah tas kecil untuk mencari identitas Qenny yang sama sekali belum dia ketahui.
Ara duduk dikursi kamar, melihat nama yang tercantum 'Qenny TS'. Tanpa ada kepanjangan dan identitas lainnya.
'Siapa dia? Kenapa dalam kondisi tertekan seperti ini dia meninggalkan rumahnya? Apakah dia seorang pendatang yang benar-benar tidak memiliki keluarga? Aku rasa, dia hanya memikirkan seputaran bagian jorok wanita saja ... Sehingga berniat untuk menyakiti aku,' pikir Ara seorang diri menunggu Qenny siuman.
Usia yang tidak berbeda jauh dengannya, membuat Ara berusaha mengerti apa yang diderita oleh pria yang masih belum sadarkan diri tersebut.
Ara menarik nafas panjang, memilih membersihkan diri ke kamarnya, berusaha melupakan kejadian tragis yang akan menerpanya.
Shania Sahara Atmaja, gadis berusia 23 tahun, yang pernah menetap di Jakarta, namun harus menerima kenyataan atas kebangkrutan perusahaan sang Papa saat berada di Seoul. Kejadian itu membuat dia harus kehilangan keluarga termasuk kedua orang tuannya saat berusia lima tahun.
Ara diasuh sebuah panti asuhan, yang berada di kota Seoul sehingga dia dewasa, membuat dia berpikir dan mendapatkan sebuah peluang besar untuk berjuang sendiri di sebuah perusahaan milik orang terpandang dan terkaya di Seoul, walau hanya sebagai secretaris di Tokyo setelah lulus kuliah.
Gadis bertubuh tinggi dan ramping itu tidak pernah memiliki keberanian untuk menjalin relationship dengan seorang pria manapun hingga saat ini, karena sangat memahami bagaimana kondisinya sebagai seorang yatim piatu, dan tidak akan pernah ada pria bertanggung jawab yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak.
Akibat kejadian ini, Ara semakin tertekan dengan sikap pria bernama Qenny yang menumpang hidup di apartemennya.
Wajah cantik itu kini sudah terlihat lebih segar, Ara bergegas keluar dari kamar pribadinya setelah memberi kabar pada para kedua sahabat untuk tidak berkunjung malam itu. Dia memilih merawat pria yang baru saja akan merebut kehormatannya atas dasar belas kasih sesama pendatang di kota tersebut.
Ara melihat satu pack samyang yang terletak diatas meja dapur, memeriksa beberapa belanjaannya untuk dia berikan pada Qenny.
Namun saat dia akan berbalik ke kamar pria itu dengan semangkuk sup asparagus hangat, dan semangkuk nasi, dia kembali dikejutkan dengan kehadiran Qenny yang meringkuk memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Deg ...!
"Maafkan aku Ara ...!"