Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode. 26. Status Anak


__ADS_3

Qenny terdiam di balik pintu, tubuhnya tak dapat bergerak, rasa kesal pada diri sendiri membuat dia kembali menangis sejadi-jadinya, begitu juga dengan Ara.


"Kenapa begitu sakit sekali di perlakukan seperti ini oleh seorang gadis? Apa salah ku dan bagaimana caranya untuk mendapatkan perhatiannya dan membuat dia kembali ke pelukan ku ...?" batinnya benar-benar terpuruk di perlakukan seperti ini oleh seorang gadis.


Ara, hanya Ara yang mampu merubah kehidupan Qen sepenuhnya. Qenny seperti kehilangan belahan jiwa dan dunianya setelah gadis itu menghilang meningkatkan nya. Kini gadis itu lebih memuji Benz dari Qen.


Apakah Benz tetap akan menikahi Ara jika mengetahui bahwa Yodi adalah putra biologis Qen ...?


Qenny meninggalkan apartemen Ara, membiarkan anak dan pujaan hatinya tetap di sana. Sambil berpikir bagaimana caranya membawa Ara untuk keluar dari apartemen kecil itu, dan memberi pelayanan terbaik pada putranya yang di beri nama Yodi oleh gadisnya.


.


Qenny gelisah sepanjang malam, matanya yang enggan terlelap, justru meraih satu kunci apartemen miliknya yang akan dia berikan pada Ara.


"Aku akan memaksa gadis itu untuk tinggal di apartemen ku! Aku tidak peduli dia mau atau tidak, yang pasti putra ku harus tinggal di apartemen milik ku. Aku akan merebutnya, jika dia tetap menikah dengan Benz ...!"


Qenny menuruni anak tangga mansion megah Keluarga Subagio, berpapasan dengan sang Mama yang baru kembali dari perusahaan.


"Qen, Mama pikir kamu sudah tidur! Ada apa denganmu? Kenapa kamu menggenggam kunci apartemen mu?" Cantika melihat gantungan kunci logo perusahaannya berada dalam genggaman putra kesayangan.


"Hmm, aku akan memberikan kunci ini pada gadis ku! Dia telah membohongi aku! Ternyata anak laki-laki yang aku lihat beberapa waktu lalu itu ada-- ..."


Ucapan Qenny terpotong, karena melihat Hary tengah mengecup lembut leher istrinya, "Kamu baru kembali sayang? Bisakah buat kan aku makan malam, yang agak pedas? Karena aku sangat merindukan masakan mu, sayang!"


Cantika mengangguk, dia berlalu meninggalkan Qenny di anak tangga menyediakan makan malam sesuai permintaan suaminya.


Kesibukan mereka berdua, tidak menghilangkan kewajiban Cantika untuk tetap melayani Hary sebagai seorang istri.


Akan tetapi, Qen yang merasa sang Mama tidak memperhatikan nya lagi, dia bergegas mendekati Cantika, untuk mengambil beberapa perlengkapan makanan yang ada di dapur Keluarga Subagio.

__ADS_1


Tentu pemandangan itu membuat Cantika sedikit penasaran dan merasa aneh pada putranya yang membawa satu paper bag besar semua makanan dari dapur yang luas itu.


"Qen, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu akan pindah ke apartemen dan meninggalkan Mama?" tanya Cantika menatap lekat wajah putranya.


Qenny tak bergeming, dia mengambil beberapa kotak susu dan kebutuhan lainnya, "Ini untuk anak laki-laki ku yang sudah berusia dua tahun! Mama bilang Mama akan membantu ku, tapi Mama hanya fokus pada perjodohan, dan Daddy. Mama sama sekali tidak peduli pada masa depan putra ku!"


Cantika menggeram, bahkan dia sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka, "Apa maksud mu? Anak? Anak siapa? Mana anak itu? Jika kamu memang sudah memiliki anak, mana anaknya? Dan kenapa kamu baru bertanggung jawab sekarang? Oooogh, apakah gadis penulis itu memiliki buah hati dari mu, Qen?" pekiknya terdengar tak percaya.


Qenny mengangguk meng'iya'kan. Dia lagi-lagi menundukkan kepalanya, meratapi nasib yang sangat buruk bahkan tidak berguna untuk siapapun.


"Ara akan tetap menikah dengan Benz, Ma. Gadis itu tidak menginginkan aku! Apa yang harus aku lakukan? Kini aku menyesali semua perbuatan ku! Tolong aku, karena dia tidak ingin hidup dengan ku! Dia membenci ku! Aku telah mengecewakan nya, Ma! Aku mengecewakan Ara," tangisnya.


Cantika terdiam sejenak, matanya berembun melihat sosok pria yang selama ini sangat tegar tidak pernah memperdulikan masalah percintaannya, kini harus di hadapkan dengan permasalahan pelik seperti ini.


Tangan lembut Cantika mengusap punggung putranya, "Mama akan bicara pada gadis itu, untuk menanyakan status putra kalian, juga hubungannya dengan Benz. Jika memang dia akan menikah dengan pria itu, lebih baik kamu tetap menikah dengan Cleo. Wanita itu terus menunggu jawaban dari mu, Qen ..."


Qenny menggeleng, kali ini dia hanya ingin fokus pada Ara, tanpa memikirkan gadis lain.


Bersusah payah Cantika membujuk putranya agar mau kembali ke kamar menunggu pagi, namun tak indahkan oleh pria tampan itu. Kali ini dia ingin bertemu dengan Yodi untuk pertama kalinya ketika iya membuka mata.


Qenny meminta pengawal pribadi untuk membawa semua perlengkapan yang ada di dapur sang Mama, menuju apartemen Ara.


Apartemen yang kecil, hanya seluas kamar dengan harga sewa yang sangat murah, membuatnya tak putus asa. Kali ini Qenny ingin memperjuangkan Ara dan anak laki-laki mereka. Dia tidak peduli mesti berhadapan dengan Benz. Saat ini dia harus melakukan hal yang tidak di sangka-sangka oleh kedua orang tuanya.


Tanpa menunggu lama, Qenny berhasil masuk ke kediaman Ara, setelah mendapatkan kunci duplikat dari pemilik apartemen.


.


Pagi yang sejuk, membuat Yodi sedikit rewel, karena merasa kulit sang Mama tak bersentuhan dengannya.

__ADS_1


"Ma-ma-mama!" rengeknya terdengar pelan.


Ara yang masih terlelap di lantai kamar yang dingin, tak kuasa menahan kantuknya karena baru selesai menyelesaikan tulisannya, dan baru tertidur dua jam lalu, sebelum Qen berhasil masuk ke apartemen miliknya.


"Ma-ma-ma-- ..." rengekan nya dapat di dengar oleh Qen.


Bergegas dia membuka pintu kamar pelan, melihat Ara masih terlelap di lantai tanpa menggunakan selimut.


Yodi duduk di atas kasur melihat pria asing yang masuk ke dalam kamar mereka.


Qenny yang sangat menyukai anak kecil, berusaha menenangkan anak tampan yang menatapnya lekat.


"Hai Boy ..." bisiknya pelan.


Yodi menunjuk kearah Ara yang masih terlelap, sambil meringkuk menahan dingin.


Qen yang mengerti maksud anak kecil itu, mengambil selimut untuk menutupi tubuh gadis yang telah mengandung anaknya, dari hawa dingin yang menusuk tulang. Mencari kaos kaki yang terlepas, di balik kasur.


Benar saja, kaos kaki yang berbeda warna itu, kembali Qen kenakan di kaki gadis itu untuk pertama kalinya. Namun Ara masih terlelap dalam mimpinya.


Qen, meraih tubuh mungil Yodi dengan sangat hati-hati. Dia mendengar tawa kecil dari bibir mungil pria tampan itu untuk pertama kalinya.


Qenny memeluk tubuh hangat baby berusia dua tahun lebih itu dengan penuh perasaan bahagia dan bersalah.


"Hai, siapa namamu? Apakah kamu pangeran ku? Pangeran Yodi yang akan menjadi penerus Keluarga Subagio," ucapnya penuh kebahagiaan.


Yodi tampak kebingungan, namun dia sangat tenang berada di gendongan Qen untuk pertama kalinya.


Namun, Qen mencium sesuatu dari balik pampers anak kecil itu. Wajahnya mengerenyit masam, karena aroma yang tak biasa dia cium selama ini.

__ADS_1


"Oooogh shiiit! Apa kamu sedang buang air besar, boy?" rungutnya dengan wajah kecewa.


"Ma-ma-mama ..."


__ADS_2