Cinta CEO Pesakitan

Cinta CEO Pesakitan
Episode 30. Cucu mahkota


__ADS_3

Kedua bola mata ketiganya saling berpandangan, Qenny mengalihkan pandangannya mencari berkas Cleo yang tidak ada di atas meja depan sofa, dan meja kerjanya.


"Bukankah berkas yang tadi kita bahas sudah kamu bawa? Kenapa kembali lagi ke sini?" tanya Qen masih memeluk tubuh Ara.


Cleo merasa sakit hati, melihat tunangannya berpelukan mesra dengan seorang wanita yang tidak asing baginya.


"Siapa wanita ini sayang? Bukankah tadi kamu mengatakan akan rapat bersama para penulis? Apakah penulis ini yang kamu maksud, agar menggagalkan rencana pernikahan kita hmm?" tanyanya berpangku tangan memandang lirih pada wajah Ara yang sangat biasa di matanya.


Qenny berdiri tepat di hadapan Cleo, dia mendorong tubuh wanita angkuh tersebut agar meninggalkan ruangannya segera, "Silahkan pergi dan tinggal kan ruangan ku, Cle! Urusan kita hanya sebuah bisnis, tidak lebih!" tegasnya.


Cleo menghardik tunangannya, merasa sakit hati karena di perlakukan seperti itu oleh Qen, "Aku menunggu mu sejak tadi di lantai bawah! Aku kira, kita akan bertemu lagi setelah kamu selesai melakukan rapat dengan para penulis kamu yang tidak jelas itu, Qen!" teriaknya.


Qenny mendorong tubuh Cleo, "Jangan ganggu kebahagiaan ku! Urusan kita dalam pekerjaan belum selesai! Tapi pertunangan kita hanya bisnis! Jangan menuntut apapun dari ku!" tegasnya menarik tangan gadis itu, agar meninggalkan ruangannya.


BRAAAK ...!


Pintu ruangan Qenny di tertutup rapat, setelah di tendang pakai kaki oleh Tuan Muda.


"Qen! Qenny! Aku tidak terima kamu perlakuan aku seperti ini! Qen!!" teriak Cleo dengan nada lantang.


Beberapa pasang mata menyaksikan kejadian itu, membuat mereka sedikit aneh, karena baru beberapa waktu Qenny menjabat di sana, sudah membuat onar di dalam kantor tersebut.


Qenny menoleh kearah Ara, yang tampak ketakutan akan mendapatkan perlakuan kasar dari tunangan Ayah dari putra kesayangannya Yodi.


Ara menghela nafas panjang, "Maaf Tuan Muda Qen, saya permisi. Jemput saja pukul 17.00, agar Yodi tidak tertidur," tunduknya menunduk hormat.


Saat Ara akan berdiri dan berlalu meninggalkan ruangan Qenny, pria itu menarik lengan Ara. Kembali memeluk dari belakang tubuh yang semakin ramping, dan mematung tanpa mau membalas.


"Lepaskan aku, Tuan! Aku tidak ingin ada orang lain yang berprasangka buruk pada kita. Bagaimanapun, aku hanyalah penulis di sini," ucapnya gugup.

__ADS_1


Qenny membelikan tubuh Ara pelan, menangkup wajah cantik wanita itu dengan penuh kelembutan, seketika menautkan bibir yang telah lama tak saling menaut.


Ara menutup matanya perlahan, menyambut kecupan manis dari Qenny. Dia meremas kuat jas hitam yang dikenakan Qen.


Cukup lama kedua-nya saling mendecaap, berucap melalui saliva yang saling menyapa, membuat Qen tak kuasa menahan hasrat kerinduannya.


Mereka melepas ciuman yang tak mampu menahan rasa panas yang membuncah. Ara memilih meninggalkan ruangan Qen.


Ada rasa takut dalam hatinya, untuk melepas Benz. Namun dia juga tak mampu menahan perasaannya selama beberapa bulan ini harus menghindari Qen.


Ara memasuki toilet, menutup pintu rapat, menangis sejadi-jadinya di sana.


"Apa yang harus aku katakan pada Benz! Bahwa aku sesungguhnya masih mencintai, Qen ...!" tangisnya pecah.


Ciuman yang sama pertama kali mereka melakukannya, ciuman hangat yang tak pernah hilang dari ingatannya. Bagi Ara, Qen merupakan pria baik dan hangat.


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan! Aku sangat menyayangi Benz, tapi aku juga mencintai Qen ...! Tunjukkan siapa jodohku ...!!" isaknya dengan bahu bergetar.


Qen bergegas meninggalkan ruangannya, menghubungi beberapa pelayan mansion agar mempersiapkan ruang permainan anak, dan semua fasilitas nomor satu untuk menyambut cucu mahkota Keluarga Subagio.


Qen mengirim pesan pada Cantika, agar bertemu dengannya di kantor sang Daddy, untuk membicarakan pembatalan pertunangan dengan Cleo, dan melanjutkan pernikahan nya dengan Ara tanpa harus menunggu lama.


Semua bergerak sangat cepat, saat Qenny tiba dengan sangat gagah di ruangan Tuan Besar Hary.


"Selamat siang Tuan Muda Qen! Maaf Tuan, di dalam masih ada Tuan Akuang dan beberapa kolega lainnya. Silahkan tunggu di ruangan Tuan Muda Qen saja," jelas secretaris Hary.


Qenny mengangguk, dengan langkah cepat dia masuk ke dalam ruangannya, menyesiasati situasi kantor sang Daddy melalui CCTV, yang sengaja dia pasang sebelum Tuan Besar Hary mengusirnya dari rumah.


Secara samar-samar Qen mendengar percakapan mereka yang ada dalam ruangan Tuan Besar Hary. Mengenai pencairan cek senilai fantastis. Sontak Qenny yang mendengar percakapan itu, membuat dadanya terasa panas.

__ADS_1


"Ternyata mereka hanya ingin melanjutkan cerita fiktif ini. Sejak awal aku tidak menyetujui proyek mereka. Aku harus masuk ke sana. Bagaimanapun aku harus menyelamatkan perusahaan. Jangan sampai perusahaan teralihkan ke tangan Tuan Akuang ..." geramnya.


Qenny tidak peduli dengan secretaris pribadi Hary yang sengaja menghalangi langkahnya. Dia membentak gadis bernama Lioni itu dengan ancaman pemecatan.


"Kenapa kau menghalangi langkah ku? Apakah kau mendapatkan keuntungan dari pembicaraan mereka di dalam sana?" ucapnya sinis menatap lekat mata Lioni yang menunduk seketika.


"Ti-ti-tidak Tu-Tu-Tuan, saya hanya menyampaikan pesan Tuan Besar Hary, agar tidak membiarkan siapapun yang masuk Tuan Muda Qen," jawabnya sedikit kaku dan terbata-bata ...


Qenny mendengus dingin, dia mendorong pintu ruangan sang Daddy tanpa perasaan takut.


"Selamat siang Tuan Muda! Apa kabar calon menantu ku?" sapa Akuang tanpa perasaan bersalah.


Qen hanya tersenyum tipis, menoleh kearah Hary, memilih duduk di sebelah Tuan Besar Hary.


Hary yang melihat putranya telah kembali ke perusahaan, tentu saja merasa senang. Dia menepuk bahu Qen, dan memberi beberapa lembar berkas untuk pembangunan yang akan mereka garap.


Hary bertanya, "Apakah Cleo sudah bertemu dengan mu, Qen?"


Qen hanya menaikkan satu alisnya, mimik wajah yang seketika berubah, karena dalam benaknya hanya ada keculasan Akuang.


"Maaf Dad, tadi aku sudah membaca beberapa berkas yang sama. Aku rasa kita tidak membangun hotel bintang sepuluh bukan? Kenapa nilainya mencapai harga sebuah gedung yang wow! Ada apa ini? Bisa jelaskan pada ku?" tanya Qen, menoleh kearah Akuang yang seketika menunduk.


Qenny menyilangkan kakinya, menoleh kearah Hary agar mendapatkan jawaban dari cerita sang Mama selama ini.


"Satu lagi Dad, apakah kegagalan sahabat teman Daddy yang mati dengan cara tragis beberapa tahun lalu itu karena hal yang sama, bukan? Atau Mama hanya mengarang cerita karena tidak menginginkan aku untuk mengingat kejadian itu?"


Akuang menelan ludahnya sendiri, dia tidak dapat berkata apa-apa, saat ini dia harus mempertahankan dan meyakinkan semua yang sudah dia buat dengan niat menghancurkan Keluarga Subagio.


"Qen, kamu terlalu banyak mendengar suara yang tidak baik di luar sana! Aku rasa Nyonya Besar Cantika, hanya mengenang sahabat yang tidak berguna!" tawanya mengalihkan perhatian Hary.

__ADS_1


Qenny mengangguk-angguk, mengusap lembut rahang yang seketika mengeras.


"Aku akan mencari sendiri tentang kabar itu, dan mencari keberadaan putri kesayangan mereka ...!"


__ADS_2