
Hari berganti, minggu, bulan, bahkan tahun telah berganti. Qenny di bawa keluarga kembali ke Seoul untuk segera mengobati Tuan Muda yang benar-benar down setelah kehilangan Ara.
Wanita yang bernama Shania Sahara Atmaja, hilang bak di telan bumi. Seluruh orang kepercayaan Tuan Besar Hary ikut mencari gadis yang dulu menjadi secretaris pribadi Altezza, yang biasa di sapa Ara benar-benar tidak dapat mereka temukan.
"Dimana gadis itu? Apa benar dia mengandung cucu, ku?" suara Hary menggema di ruangannya yang luas, setelah mendapatkan kabar dari bodyguard nya melalui panggilan telepon.
Cantika yang berada di ruang kerja suaminya hanya duduk terdiam, menantikan suaminya selesai mengakhiri sambungan teleponnya.
Hary menautkan kedua alisnya, kening yang tak lagi kencang mengerenyit menoleh kearah Cantika istrinya.
Perlahan Hary menutup saluran telepon, menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran yang menjadi penguasa sejak beberapa tahun lalu.
"Apakah kita langsung kan saja pernikahan Qenny dengan Cle ...?" Hary menatap Cantika meminta pendapat dari sang istri tercinta.
Cantika menggeleng, dia tidak ingin melihat putranya semakin terpuruk jika menikah dengan wanita yang tidak di cintainya.
"Ini bukan solusi, sayang ... Qen, menginginkan gadis itu! Gadis yang mengandung anaknya! Aku tidak ingin putra kita menjadi seperti ini, sayang ..." tunduknya menangis tak kuasa menahan air mata, sejak dia memaksa Qen meninggalkan Tokyo.
Hary terhenyak, mendengar ucapan sang istri. Wajahnya menggeram, "Tapi ini sudah tahun ketiga kita mencari keberadaan gadis itu! Kemana lagi kita akan mencarinya. Dia menghilang, Qenny telah kehilangan nya. Kamu harus mengerti dengan bisnis kita!"
Cantika tak mampu untuk berkata-kata, dia sebagai ibu kandung Qen hanya bisa menangis meratapi nasib sang pewaris tahta.
"Jangan lakukan ini pada, Qen! Aku tidak menyetujui pernikahan mereka. Aku yakin, suatu saat nanti Qen akan menemukan gadis itu, sayang ..." Cantika enggan berdebat dengan suaminya, memilih pergi mencari keberadaan Qenny yang selama ini hanya mengurung diri di kamar.
Sesaat Cantika berdiri di belakang putranya tengah membelakanginya, menghadap jendela kamar yang terbuka lebar di mansion megah milik Keluarga Subagio.
Cantika mengusap wajahnya, agar tidak terlihat oleh sang putra bahwa iya habis menangis.
"Qen ..."
Qenny menoleh kebelakang, melihat kehadiran Cantika yang masih tampak cantik dengan balutan gaun indah yang iya kenakan.
"Apa sudah ada kabar dari orang suruhan Daddy, Ma?"
Cantika menggeleng, air mata kembali tak terbendung. Iya hanya bisa berkata, "Lupakan gadis itu, Qen. Mungkin dia telah bahagia dengan pria pilihan hidupnya!"
__ADS_1
Qenny menggeleng, dia hanya mendengus dingin mendengar permintaan sang Mama, "Dia mencintai aku! Aku tidak mungkin melupakan nya. Dia telah memberikan kehormatan nya padaku. Aku yakin, dia membawa anak ku! Karena saat itu aku tidak menggunakan pengaman!" jujurnya.
PLAAAAK ...!
Cantika menggeram, bahkan menepuk pundak putranya yang terlihat sangat bodoh menilai seorang wanita.
"Ma! Sakit ..." rengek Qen.
Cantika meremas lengan putranya, "Dengar! Jika hanya karena alasan kamu telah merampas kehormatannya sehingga membuat mu menjadi pesakitan seperti ini, berarti dia hanya wanita murahan, Qen! Kenapa dia pergi, bahkan menghilang tidak ingin bertemu dengan mu! Masih banyak wanita di luar sana yang masih virgin! Mama bisa mencarikan nya untuk mu!" tegasnya.
Qenny menolak permintaan Cantika dengan lantang, "Ma, dengar! Ara, merupakan gadis yang sangat menyenangkan. Dia tidak seperti yang ada di benak Mama! Please, mengerti aku saat ini ..."
Cantika terdiam, dia benar-benar tidak tahu lagi, apa yang akan dilakukan demi mengembalikan putranya seperti semula.
Cantika menggeram, dia berlalu meninggalkan kamar putranya, melirik kearah pengawal yang menjaga Qen, "Awasi terus Tua Muda Qen untuk mencari keberadaan gadis itu!" perintahnya.
Pengawal menunduk hormat, "Baik Nyonya Besar."
Qenny yang melihat sang Mama telah pergi meninggalkan kamarnya, bergegas mengambil jaket hangatnya, dan meminta pengawal untuk membawanya ke panti asuhan tempat Ara di asuh.
"Cepat bawa aku ke panti asuhan!"
Mereka meninggalkan mansion Keluarga Subagio, tentu dalam pengawasan Tuan Besar Hary agar putranya tidak melakukan hal buruk seperti beberapa waktu silam. Yang menemukan Qen mabuk berat di salah satu club' malam, hanya untuk menemukan Ara.
Mobil terparkir di salah satu panti asuhan, yang terdapat di sudut kota Seoul. Pengawal membuka pintu mobil untuk Tuan Muda Qen.
Qen turun dengan wajah tak setampan dulu. Wajahnya terlihat kurus, bahkan tampak kurang sehat. Dia memandang kearah pintu utama gedung panti, yang tampak sunyi dan tidak di temukan anak-anak yang bermain selayaknya sebuah panti asuhan.
Kakinya melangkah mendekati pintu utama, melihat dari arah luar, menyesiasati sekelilingnya. Mencari keberadaan petugas yang berjaga di panti tersebut.
"Selamat pagi, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang wanita paruh baya menepuk bahu Qenny yang hanya mengintip dari balik pintu kaca.
Qenny terlonjak seketika, dia mengusap dadanya, sambil melihat dengan seksama wanita paruh baya tersebut.
"Saya ingin menanyakan keberadaan gadis yang besar di sini, Nyonya. Apakah Anda mengenali Shania Sahara Atmaja? Atau yang biasa di panggil Ara?" tanyanya penuh semangat.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu hanya menghela nafas panjang, dia hanya tersenyum, "Sudah berapa kali saya katakan pada orang yang mencarinya di sini, Tuan. Ara tidak pernah kembali semenjak keluar dari panti. Dia menghilang dari peredaran semenjak di terima kerja di perusahaan besar. Kami benar-benar tidak tahu keberadaan nya."
Qenny menunduk sedih, wajahnya kembali lesu, bahkan mengalihkan pandangannya untuk membendung air mata yang akan mengalir.
"Katakan pada ku, Nyonya! Dimana Ara? Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Jika Anda menemukan nya, katakan padanya aku mencari keberadaannya. Sudah lebih dari tiga tahun aku kehilangan Ara, Nyonya," tangisnya tak terbendung.
Wanita paruh baya tersebut, hanya bisa mengusap-usap lengan Qen, "Aku turut prihatin dengan kondisi mu, Tuan! Jika aku menemukan Ara, aku akan memberi kabar padamu. Pulanglah, semoga Tuhan melindungi mu."
Qenny mengangguk, dengan langkah gontai dia meninggalkan panti asuhan tersebut, meminta pengawal untuk membawanya di salah satu toko buku.
'Kemana aku harus mencari mu, Ara. Tokyo, Seoul, bahkan Jakarta, semua tidak ada yang menemukan mu. Apa yang terjadi padamu? Apakah ada orang lain yang menculik mu? Biasanya Daddy selalu mendapatkan informasi lebih cepat! Tidak mesti bertahun-tahun mencari keberadaan seseorang! Ara, aku berjanji, aku bersumpah, akan belajar mencintai mu! Kembali lah pada ku ...'
Qen, hanya menatap kearah gedung-gedung pencakar langit, sebelum mereka tiba di sebuah toko buku.
Saat mobil terparkir, Qen melangkah keluar setelah pengawal membuka pintu mobil, menuju area mall.
Qenny hanya ingin mencari sebuah buku yang pernah di beli oleh Ara. Dia mencari nama pengarang buku tersebut.
"Moonmarvel, yah! Penulis Moonmarvel ..."
Qenny melihat-lihat sebuah rak yang menuliskan nama pengarang tersebut. Namun, ketika dia akan berbalik seketika.
BHUUUUG ..."
Tubuh Qen terpental ke lantai, begitu juga seseorang yang dia tabrak.
"Maaf Tuan! Maaf kan, saya!"
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
Pesona Perawan
Dilema Diantara Dua Pilihan
__ADS_1
Pelakor Pilihan