
Mendengar suara jeritan kecil anaknya saat di bersihkan oleh Qen, walau dengan berbagai drama saat membersihkan pampers yang penuh dengan kotoran pagi sang anak, membuat pria tampan itu semakin bersemangat.
Sesekali menatap mata bersih seorang anak kecil yang sangat menggemaskan. Pipi tembem, dengan otot-otot tangan menyembul lucu dan terasa sangat halus, Qen memasukkan Yodi kedalam ember kecil sang baby boy.
"Hmm, jika kamu sudah bersih kita akan jalan-jalan ke rumah Daddy. Tenanglah pangeran, kamu merupakan pewaris selanjutnya dari kekayaan Keluarga Subagio ..." tawa Qen membuat Yodi hanya bisa memercikkan air dengan tangan mungilnya.
Air hangat yang menjadi kesukaan Yodi membuat mereka menghabiskan waktu lebih dari satu jam di dalam kamar mandi.
Baju-baju berserakan, bahkan baju Qen juga ikut basah setelah bermain-main dengan anak kesayangannya, membuat dia hanya fokus pada Yodi dan Ara.
Beberapa kali Lulu sang secretaris pribadinya menghubungi, Qen namun tidak ada jawaban dari sang CEO.
Qen memasangkan baju terbaik yang di miliki sang putra mahkota saat ini, untuk membawanya ke Keluarga Subagio, membuat Ara terjaga dari tidurnya.
Kedua bola matanya membulat, saat menyaksikan Yodi berapa dalam dekapan Qen. Baju kaos Ara yang panjang menjadi pilihan pria tampan itu untuk mengganti pakaiannya yang basah.
Ara berdiri menghampiri Qenny untuk mengambil Yodi dari dekapannya. Sama sekali hatinya tidak tergugah bahkan merasa semakin membenci pria itu.
"What are you doing here! Jangan ganggu kebahagiaan aku, Qen! Aku tidak ingin dia bingung! Kembalikan putra ku!" tegasnya.
Qenny mengelak, "Jangan buat anak ku takut Ara! Dia putra kita! Anak ku! Tolong ikutlah dengan ku! Jangan tinggal di apartemen yang sempit ini. Aku merasa sesak untuk memandikan anak ku!" perintahnya.
Ara mendengus dingin, dia berlalu melihat apartemen nya seperti kapal pecah sangat berantakan.
"Qen, apa yang kamu lakukan di kediaman ku! Ini tidak lucu! Silahkan kamu pergi sebelum aku yang menendang mu untuk keluar dari sini!" teriak Ara tegas.
Qenny menutup telinganya, dia meminta para pengawalnya untuk segera membersihkan apartemen gadis itu, membawa semua barang-barang mereka untuk pindah ke apartemen miliknya.
Ara yang tidak menyukai pemaksaan, dia lebih memilih tidak peduli, bahkan meninggalkan pria yang sangat dia benci itu untuk membersihkan diri.
"Kalian tunggu dia selesai membersihkan diri, aku akan pergi ke mansion Daddy. Jangan membantah! Jika dia tidak mau seret!" tegasnya Qenny pada kedua pengawal yang sibuk merapikan kediaman Ara.
"Baik Tuan!" tunduk pengawal.
Wanita paruh baya yang Qen temuin saat akan memasuki apartemen, ternganga saat melihat Yodi berada dalam dekapan Qen.
__ADS_1
"Maaf Tuan, apakah saya salah masuk apartemen? Saya akan merawat Yodi, karena Nona Ara akan pergi untuk menyelesaikan novelnya," jelasnya tampak kebingungan.
Qenny hanya memberi kode pada pengawalnya agar membiarkan Ibu tua itu membantu Ara dan ikut bersama mereka.
Sementara, Qen berlalu meninggalkan kediaman Ara, membawa serta Yodi dalam dekapannya.
Sontak pemandangan itu menjadi kejutan luar biasa bagi penghuni apartemen, karena selama ini mereka hanya melihat Benz yang membantu Ara, tidak pernah ada pria lain selain tunangan gadis itu yang ada di sana.
"Maaf Tuan, apakah Anda membawa Yodi atas izin Nona Ara?" sapa seorang ibu-ibu yang berselisih dengan Qen.
Qenny mengangguk meng'iya'kan, "Saya, Papa dari anak laki-laki ini, Nyonya. Jika kalian merasa saya menculiknya, silahkan hubungi Keluarga Subagio! Mereka merupakan keluarga saya!" tegasnya tanpa basa-basi.
Wanita itu hanya ternganga mengangguk patuh, memberi ruang pada Qen untuk membawa Yodi bersamanya.
Qenny membawa Yodi tanpa sepengetahuan Ara, sementara gadis itu tampak tak berdaya saat di paksa meninggalkan kediamannya oleh dua pengawal.
"Maaf Nona Muda, kami harus melakukan semua perintah Tuan Muda Qen! Jadi tanpa paksaan kita harus meninggalkan apartemen ini! Sebelum Tuan Muda Qen, lebih dulu tiba di apartemen Anda, Nona Muda!" tunduk pengawal hormat.
Ara benar-benar kesal. Pagi ini merupakan pagi yang tidak menyenangkan baginya. Karena di paksa pindah oleh Qenny.
Tanpa melawan dan menunggu lama, Ara hanya membawa tas laptop dan tas kecil yang dia miliki. Dia enggan berdebat, karena tengah berpikir untuk segera menikah dengan Benz agar Qen tidak lagi mengganggu nya.
Ara memberi kabar pada Benz, agar menemui nya jam makan siang di kantor mereka yang telah di ambil alih oleh Qen.
Ara mengalihkan pandangannya, melihat Qen tengah asik membawa Yodi membeli banyak makanan dari salah satu supermarket di kota itu. Keduanya tampak akrab dan saling tertawa sumringah. Dia seperti tak di hiraukan oleh pria tampan yang telah mengurus putra kesayangannya sendiri.
"Berhenti!" perintahnya pada sopir pribadi Keluarga Subagio.
Ara bergegas keluar mengejar Qen dan Yodi. Tentu dengan perasaan yang tak karuan, bahkan semakin emosi.
PLAAAAK ...!
Ara menampar punggung Qenny dari belakang, agar tidak terlihat oleh Yodi. Dia beralih berdiri di hadapan Qenny untuk bergegas mengambil anaknya dari gendongan pria yang sangat dia benci.
"Aaaagh," ringis Qen.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu membawa anak ku! Dia anak ku, Qen! Tidak ada sangkut pautnya dengan mu, karena aku akan mengurus anak ini menjadi putra Benz! Aku harap kau mengerti dan tinggalkan kami, sebelum aku yang pergi dari kehidupan mu!" tegasnya menantang mata Qen.
Qen hanya bisa menahan rasa sakit karena pukulan, dan sakit karena Ara sangat tidak ingin melanjutkan hubungan mereka berdua.
Wajah tampan Qenny tersenyum tipis, mengelus lembut pipi Ara, "Tinggallah di tempat yang aku sediakan. Aku tidak akan menggangu kenyamanan kalian, dan aku harap kamu bahagia dengan Benz! Dia bisa menjadi suami yang baik untuk mu, bahkan Ayah yang sempurna untuk Yodi. Selamat tinggal!"
Qenny mengecup lembut kepala putranya, mengusap wajah Ara, "Aku hanya ingin menebus semua kesalahan ku pada mu. Tapi jika kehadiran ku justru menyiksa mu, aku mundur. Hanya satu yang ingin aku katakan, aku mencintaimu Ara ..."
Ada rasa sakit di hati ke-duanya, mata mereka tak mau saling menatap lagi, kali ini Ara yang menangis dalam hatinya sambil mendekap Yodi yang ada dalam pelukannya. Bahu mereka saling beradu, Qen benar-benar pergi untuk menata hidupnya kembali.
Qen meneruskan perusahaan keluarga, untuk menyelesaikan beberapa perusahaan, tanpa mau memperdulikan Ara.
Kewajibannya sebagai Papa dari Yodi dia penuhi untuk kebahagiaan dan kesejahteraan putranya. Tentu semua ini dia lakukan agar Ara tidak tersiksa dengan kehadirannya.
Kali ini Qen mengalah. Dia hanya melihat perkembangan putranya dari kejauhan, dan menyetujui perjodohannya dengan Cleo.
Qenny tersenyum menatap foto-foto yang di kirim pengasuh yang ada di apartemen yang dia berikan kepada Ara, setelah beberapa bulan mereka tidak bertemu.
Lulu yang melihat perubahan Qen, tidak pernah menyentuhnya lagi sedikit nakal untuk kembali menggoda pria itu di ruangannya.
"Halo baby ... Apa kamu tidak merindukan aku?" bisik Lulu di telinga Qen.
Qen hanya tersenyum, mengusap lembut punggung tangan secretarisnya yang terasa sangat halus. Namun, belum sempat ke-duanya untuk saling berciuman, Cle masuk keruangan tanpa mengetuk.
"Qen ..."
Qen hanya melihat sosok wanita yang ada di belakang Cle walau hanya sekedar lewat dan mengalihkan pandangannya ke ruangan pria tampan itu.
Tanpa menyapa wanita yang ada di belakang Cle, Qenny berdiri menghampiri tunangannya.
"Apa kabar sayang?" kecupnya, merangkul tubuh Cle, sambil melirik kearah Ara yang masih berdiri di depan pintu ruangannya.
Hati Ara seketika bergemuruh, bahkan sedikit sakit karena melihat kemesraan dua insan yang di jodohkan itu.
'Brengsek dia! Ternyata masih belum berubah ...' sesalnya sedikit menyesakkan dada.
__ADS_1