
Qen meninggalkan gedung penerbit, menuju mansion megah Keluarga Subagio. Selama kejadian nya bersama Ara, Qen sama sekali tidak bergairah. Dia lebih memilih menghindar dari semua wanita dan para pelayan nya. Iya semakin dingin dan bertindak kasar pada semua orang selain Cantika dan Hary.
Entah apa yang ada di benaknya saat ini. Yang pasti dia hanya ingin menggagalkan rencana pernikahan Ara dan Benz, sehingga gadis itu kembali padanya.
Qen mengganti pakaiannya, meminta para pengawal untuk membawanya ke kediaman Ara. Tentu permintaan Tuan Muda tidak pernah mendapatkan penolakan dari para pengawal yang mengabdikan diri pada keluarganya.
Cantika yang melihat Qen akan meninggalkan kediaman mereka, mendekati sang putra yang tengah berdiri di depan pintu untuk menuruni anak tangga.
"Sayang, kamu mau kemana? Bukankah kita ada pertemuan dengan Keluarga Akuang untuk membicarakan tentang pernikahan mu dan Cle! Kita tidak bisa menundanya, Qen! Jangan pernah melakukan hal bodoh lagi! Gadis mu sudah memiliki kehidupan sendiri, dan dia sudah bahagia!" teriaknya tegas saat Qenny akan memasuki kendaraan hitam dan mewah itu.
Qenny tidak memperdulikan tentang Cle, dia sama sekali tidak pernah ingin menikahi gadis itu. Baginya Cle hanya wanita yang tidak menarik.
Wajahnya terlalu banyak kepalsuan, begitu juga dengan dada yang menjadi kebanggaan nya selama ini. Operasi plastik yang selalu dia lakukan, membuat Qenny berpikir ulang menjadi pendamping hidup seorang Cle.
Qenny mendatangi sebuah kediaman yang biasa, dan jauh dari kata mewah. Apartemen yang tampak seperti di Tokyo, tidak mewah, tidak juga murahan. Cukup untuk sebuah keluarga sederhana yang tinggal berdua di dalam sana.
Pintu utama untuk masuk apartemen terbuka, saat wanita paruh baya keluar dari gedung apartemen.
Qenny yang berpapasan, langsung bertanya dimana wanita bernama Ara itu tinggal.
Wanita itu berpikir sejenak, "Ara? Apakah yang Anda maksud itu merupakan wanita single parents yang menjadi penulis itu?" tanyanya.
Qen mengangguk membenarkan, "Apakah Anda mengenal nya, Nyonya?"
Wanita itu menunjuk jarinya ke arah atas dan memperagakan sebuah gerakan tangan, agar Qenny mengerti.
__ADS_1
Dengan penuh semangat, Qenny berlari kencang menaiki anak tangga, untuk mencari keberadaan Ara dan anak laki-laki yang bernama Yodi.
"Itu anak ku, Ara! Dan aku yakin, itu adalah anakku!" tegasnya sepanjang menaiki anak tangga.
Benar saja, kini Qenny tengah berdiri di depan pintu apartemen Ara, dengan nafas yang masih terasa sesak, dan sangat berbeda dari biasanya. Kali ini dia akan bertemu dengan Yodi, anak laki-laki yang diakui Ara pada Benz.
Qen, mengetuk pintu dua kali.
Ara membuka dan sedikit terkejut melihat pria yang dia hindari dulu, kini mengetahui tempat tinggalnya, "Qen ... What are you doing? Bukankah kamu-- ..."
Qenny tidak memperdulikan apapun, dia membuka pintu itu lebar, dan melihat Ara tengah menyusui Yodi yang masih berada dalam gendongannya.
Ara yang tidak menyadari, sebagian tubuhnya terbuka, karena melihat Yodi tengah terlelap dengan nyenyak di hangatnya pelukan sang Mama.
Qenny mendekati Ara, melihat lekat anak laki-laki yang ternyata berusia 2 tahun lebih itu masih bergantung pada Ara.
Ara menghela nafas berat, dia seketika merasa tangannya tak mampu untuk terlalu lama menggendong tubuh mungil yang terlihat sangat tampan.
"Ooogh, Maafkan aku Tuan Muda Qen, masuklah. Jangan lupa tutup pintunya. Yodi hanya merindukan aku, karena belum bisa terlepas dari ku!" ungkapnya menuju kamar yang terletak tidak jauh dari ruang tamu.
Ara meletakkan Yodi di atas ranjang yang rendah, membatasinya dengan tumpukan bantal. Memperbaiki pakaiannya, mengenakan kancing baju kemeja longgar yang terbuka. Dia mengusap lembut wajah Yodi, belum menyadari bahwa Qen menyaksikan kemesraan Ibu dan anak tersebut.
Ara menoleh ke belakang, baru menyadari bahwa Qen berdiri di depan pintu kamarnya, agar dapat melihat putra wanita itu yang di beri nama Yodi.
"Kenapa kamu membohongi aku, Ara? Kenapa kamu menghilang? Aku tidak pernah ingin menyakiti mu! Tapi kamu menyakiti aku? Kenapa, Ara? Jawab aku! Jangan diam! Kemana kamu selama ini? Aku menunggu mu di Tokyo, di apartemen kita, berbulan-bulan. Ternyata kamu mengandung anak ku! Kenapa kamu menutupi semua ini Ara! Kenapa?" tangis Qenny pecah di depan pintu kamar Ara.
__ADS_1
Saat ini dia tidak peduli pada anak itu akan terjaga atau tidak. Qenny harus mendengar penjelasan dari Ara. Karena dia merasa telah di permainkan oleh gadis ini selama tiga tahun.
Ara hanya menarik nafas dalam-dalam, dia berdiri menghampiri pria yang tengah menangis di pintu kamarnya.
"Keluar lah, biarkan Yodi istirahat. Aku tidak ingin dia mendengar hal ini!" Ara mendorong tubuh Qenny perlahan, menutup pintu kamar rapat.
Qenny yang tipe pria tidak sabar, dia mendekap erat tubuh Ara.
"Jawab aku, kenapa kamu meninggalkan aku selama ini? Kenapa kamu tidak memberi kabar pada ku? Apa yang telah terjadi Ara ...?" bisik Qen masih menangis.
Ara membendung air matanya, berkali-kali tubuhnya hanya bisa pasrah saat di peluk oleh Qen.
"Maaf Qen, aku lapar. Sejak siang aku belum makan. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku!" ucapnya melepas tangan kekar Qenny yang melilit di perut rampingnya.
Qenny menghela nafas panjang, "Kita makan diluar? Atau aku minta pelayan untuk mengantarkan makan kesukaan mu, sayang? Please, bicara pada ku tentang Yodi! Jangan diam! Aku mohon, bicaralah pada ku! Aku akan menebus semua kesalahanku! Apapun yang kamu minta akan aku berikan! Asal kamu bicara, siapa anak itu," geramnya dengan deraian air mata.
Ara menoleh kearah Qenny, "Aku sudah menutup pintu maaf untuk mu, Qen! Jika memang kamu mau menebus semua kesalahan mu, kembalikan kehormatan ku! Kehidupan masa muda ku! Apa yang telah kamu lakukan dan katakan pagi itu membuat aku tidak ingin hidup bersama mu! Jika kamu tidak memiliki perasaan pada ku, kenapa kamu mengatakan kamu mencintai ku malam itu! Tapi apa yang aku terima! Kamu mencampakkan aku! Kamu pikir aku akan terpesona dengan jabatan mu sebagai CEO, haaah!? Justru aku semakin ilfil melihat mu datang pada ku saat ini. Aku tidak pernah bangga di kejar-kejar oleh pria bodoh seperti mu! Kamu laki-laki pengecut, Qen! Pengecut dalam mempertanggung jawabkan perbuatan mu! Sudah berapa banyak wanita yang tidur dengan mu? Kamu jadikan aku menjadi gadis pesakitan dalam menghadapi kehamilan ku, proses persalinan ku! Tanpa uang, Qen! Tanpa uang! Tanpa uang! Kamu tahu siapa yang menebus ku di rumah sakit? Benz ... Benz, Qen!"
Ara menundukkan kepalanya, dia tidak ingin melanjutkan kisah sedihnya karena kehancuran nya kala itu.
"Pergilah, aku tidak ada nafsu makan! Selamat malam!"
Ara beranjak dari ruang tamu, memasuki kamarnya, dan menangis sekencang-kencangnya saat pintu tertutup rapat.
Sementara Qenny hanya bisa pasrah, setelah mendengar penjelasan Ara yang sangat menusuk jantungnya.
__ADS_1
"Ara, kali ini aku datang untuk mu! Untuk kita, untuk anak kita! Katakan apa yang harus aku lakukan? Please Ara!"
"Pergilah Qen! Pergi ...!!"