
Sudah lebih dari satu bulan Qenny bekerja sebagai sopir, yang menjadi bulan-bulanan bagi Altezza selaku direktur untuk dicaci maki setiap hari.
Selama sebulan juga Qenny memutuskan tinggal di apartemen Ara, hanya karena tidak ingin jauh dari gadis itu tanpa sepengetahuan direktur laknat tersebut, dengan berbagai alasan yang dia utarakan pada Altezza.
Kali ini mereka berada di tempat hiburan, dimana pria tampan itu pernah mendatangi tempat haram tersebut beberapa waktu lalu. Qenny yang mengenakan pakaian dinas sebagai seorang driver, hanya duduk mematung menikmati dentuman musik yang memekakkan gendang telinga.
Seorang gadis mengusap lembut punggung kekarnya, membalikkan badannya agar dapat memeluk Qenny dari depan. Sehingga membuat dia selaku pria yang menyukai akan hal itu menikmati sentuhan gadis yang tak dapat dia kenali wajahnya.
"Selamat malam Tuan Muda Qen CEO!" wanita itu menjillati leher Qenny yang terlonjak mendengar namanya di sebut sebagai CEO.
Qenny mendelik tajam, melihat wajah itu dengan lekat, mengusap matanya kasar agar dapat melihat wanita semampai itu dari jarak dekat.
"Maaf, apa saya mengenal Anda, Nona?" tanya Qenny menangkup wajah wanita itu sangat keras.
Wanita itu terus mengusap lembut wajah tampannya, sehingga membuat Qenny sedikit kurang nyaman.
Qenny meremas kuat lengan wanita itu agar menjawab pertanyaannya, "Jawab aku, apakah aku mengenal mu?"
Wanita itu meringis kesakitan, menoleh kearah Qenny menatap untuk meyakinkan penglihatannya dari pengaruh obat haram yang dia gunakan.
"Of course ... Kita pernah menghabiskan malam bersama hingga pagi, dan aku di bayar dollar oleh pengawal mu. Apa kamu melupakan aku, sayang?" tanya gadis itu terus mengusap lembut wajah Qenny.
"Oooogh shiiit! Shut up! Jangan pernah kamu mengingatkan kejadian itu dihadapan ku, Nona! Karena aku kehilangan segalanya setelah kejadian itu. Sekarang pergi, tinggalkan aku! Sebelum aku memecahkan kepala mu!" geram Qenny dengan suara garang terdengar tegas.
Gadis bernama Sheila itu bergidik ngeri, dia menghela nafas panjang, menoleh kearah gelas yang terletak di meja, mengusap lembut bibir gelas tersebut dengan jari lentiknya.
Perlahan dia melepaskan dekapannya, mengecup bibir Qenny berlalu meninggalkan pria itu dengan gerak cepat.
Qenny mendengus kesal, hanya bisa menggeram karena masih ada orang lain yang mengenalnya saat ini.
'Jangan sampai wanita itu membuka mulutnya, dasar jallang!' gumam Qenny dalam hati.
Tanpa Qenny sadari dia menenggak minuman yang ada di hadapannya, menoleh bodoh mencari dimana keberadaan toilet.
Sudah lebih satu bulan semenjak Qenny melakukan hal aneh itu di toilet kantor, dia tidak memikirkan hal mesum lagi karena permintaan Ara kala itu. Tentu sekuat tenaga dia melakukannya, demi sembuh dari pesakitan nya yang terdengar sangat aneh ditelinga gadis itu.
Handphone Qenny bergetar, dia melihat nama yang tertera, 'Huang'. Perlahan dia menjawab dengan nada berbisik-bisik.
__ADS_1
["Hmm ...!"]
["Tuan Muda Qen dimana? Nyonya Besar Cantika tengah berada di kantor. Aku harap kamu pulang saja. Cari alasan yang lain, sakit atau apalah. Karena kami akan mengadakan rapat besar dengan beberapa investor."]
["Ya ..."]
Qenny mengakhiri panggilan telepon seluler tersebut, memasukkan kembali handphone kedalam saku celananya.
Perlahan Qenny berjalan keluar toilet, belum menyadari apa yang di sampaikan oleh Huang Zhong. Dia hanya merasakan sesak di dadanya, namun masih melihat-lihat pesan whatsApp yang masuk di layar handphone miliknya.
'Aaagh ... Kenapa perasaan ku jadi enggak enak begini. Mana Tuan Altezza masih menikmati dunia indahnya lagi,' sesal Qenny bergumam lirih.
Tiba-tiba mata Qenny terasa buram, dengan membayang melihat layar handphone yang menunjukkan sang Mama tengah berada dengan beberapa pekerja yang merupakan rekan kerjanya berada di lantai yang sama.
Qenny mengusap berkali-kali mata dan wajah tampannya, memperhatikan sekali lagi saat melihat foto Cantika tengah merangkul Ara yang masih berada di kantor.
Sontak gambar itu menjadi kejutan luar biasa baginya. Bagaimana mungkin Cantika berada di Tokyo, dan merangkul baik gadis yang dia tumpangi selama ini.
Dengan langkah cepat, dia beranjak dari duduknya, dikejar oleh Altezza yang tergesa-gesa saat mengetahui kedatangan Nyonya Besar Cantika di kantor mereka saat ini.
"Cepat!" teriak Altezza saat berpapasan dengan Qenny yang masih tampak kebingungan dan membuka kancing bajunya satu persatu.
"Brengsek kau! Lama sekali gerak mu, bodoh! Nyonya Besar Cantika tengah menunggu ku! Cepat!" teriak Altezza memberi perintah.
Qenny bergerak cepat, namun lagi-lagi dia merasakan sesuatu dibawah sana yang tiba-tiba mengeras, "Aaaagh!" erangnya.
Altezza yang mendengar suara erangan itu tepat di telinganya, bergegas merampas kunci mobil, untuk menekan remote control yang masih berada digenggaman pria pesakitan tersebut.
"Dasar laki-laki bodoh! Tidak berguna! Sekarang kau selamat, tapi tidak untuk besok, brengsek!" gerutu Altezza memasuki stir kemudi, menekan tombol start dengan menginjak rem, membiarkan Qenny berada duduk di bangku penumpang bagian belakang.
Qenny benar-benar merasakan hal aneh. Seumur hidupnya, dia tidak pernah merasakan hal aneh tersebut, karena dia tidak nyaman dengan barang-barang haram sejenis obat-obatan terlarang.
Qenny menepuk pundak Altezza, mengusap lembut dada pria itu ...
"Hmmfh ..."
"Hei Man! Apa kau seorang gay? Ada apa dengan mu, Qen? Apa yang kau lakukan di dalam sana?" teriak Altezza berusaha menghindar dari sentuhan Qenny yang terasa sangat sensual di tubuhnya.
__ADS_1
Altezza belum menyadari, bahwa posisi mereka kali ini bertukar posisi.
Qenny terus mengerang, "Ooogh, baby! Kamu begitu indah sayang!" celotehnya mulai berhalusinasi.
Altezza yang mendengar suara dan celotehan sopirnya, berkali-kali melirik dengan perasaan jijik kearah Qenny.
"Are you crazy, Man?" ucap Altezza mulai merasa kesal.
Qenny terus mengusap wajahnya, berkali-kali menjillati bibir dan jemarinya sendiri.
Altezza yang menyaksikan pemandangan aneh itu benar-benar dibuat gila oleh kelakuan sopir pribadinya, Qen.
"Oooogh my God! Aku rasa akan membunuh anak ini, jika selesai rapat besar," geram Altezza terus menerus memperhatikan gerak-gerik Qenny.
Altezza menghubungi Ara, agar turun ke bawah untuk membawa Qenny yang terlihat sangat aneh, agar membawa ke tempat tinggalnya.
Kali ini Altezza tidak ingin terlihat cacat dihadapan owner, karena akan merusak reputasinya sebagai seorang direktur yang diberi kepercayaan penuh untuk menjalankan perusahaan sebesar 'Agung Tanoe Podomoro'.
["Cepat saja kau lakukan semua perintah ku! Aku tidak ingin Nyonya Besar Cantika melihat kelakuan karyawan ku semesum sahabat mu! Kau mengerti? Atau kau sudah rindu untuk menjadi makanan binatang di luar sana!?"]
Bentak Altezza pada Ara melalu sambungan telepon.
Altezza terus menerus mengumpat, karena dia benar-benar panik dengan kedatangan Nyonya Besar Cantika secara mendadak.
Altezza menoleh kebelakang, betapa terkejutnya dia saat melihat Qenny benar-benar seperti orang gila, dengan baju kemeja terbuka lebar dan resleting celana terbuka, memperlihatkan bagian yang dia miliki juga.
"Oooogh shiiit ... Apa yang dia minum? Pria mesum brengsek! Pasti dia diracun gadis yang berada di club' sana!"
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
Pesona Perawan
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pelakor Pilihan
__ADS_1