
RUMAH DOMINIC
-KAMAR JANICE-
Janice merasa haus,air dikamrnya habis.
Tengan malas Janice keluar kamar dan turun peelahan menyusuri anak tangga agar tidak terjatuh.
Janice menuju dapur,mengambil gelas dan menuang air lalu meneguknya habis.
"ahhh"
meletakan gelas di meja.
"bisa mati ke hausan kalau nggak turun"
Mendengar suara mesin mobil,Janice pun berlari mengintip ke jendela ruang tamu.
Janice melihat mobil Dominic terparkir,Janice menatap jam di dinding(02.00 dini hari)
"Jam segini baru pulang?"
batin janice.
Matanya tebelalak melihat Alberto turun dari kursi pengemudi dan berlari membuka pintu belakang mobil,Alberto membantu Dominic keluar dari mobil yang kondisinya mabuk berat.
"hah??"
"Alberto?"
Tiba tiba dada Janice terasa sesak.
Janice mendekap dadanya.
Alberto mempah Dominic menuju pintu.
sampai di pintu alberto menekan bell.
"Ayo Dom sadarlah, jangan tidur dulu Dom!"
"Sudah tau nggak bisa minum masih aja minum"
Alberto menggerutu.
Dibalik pintu Janice mendengar suara bell.
Janice kaget dan panik.
Janice menghela nafas panjang dan membuka pintu perlahan.
Pintu terbuka perlahan.
Janice dan Alberto saling menatap.
"Masuklah"
Janice berkata lirih dam membantu Alberto memapah Dominic.
Alberto masuk.
Alberto menatap Janice,
"Kamu ambilkan air dan handuk kecil,aku akan bawa dia ke kamar tamu saja"
Janice mengangguk.
"Dan ya.. Ambilkan juga pakaian ganti untuk Dominic"
Alberto berlalu,berjalan memapah Dominic ke kamar tamu.
Janice mengambil air di baskom dan handuk kecil,dia meletakkan di meja dapur.
Janice berlari ke kamar dominic.
Memebuka lemari dan mengambil kaos dan celana secara acak.
"sudahlah pakai apa saja,yang penting ganti"
batin Janice.
Janice keluar kamar dan dengan cepat menuruni anak tangga.
Janice kembali ke dapur mengambil handuk dan baskom air.
Janice berjalan cepat ke kamar tamu.
Di kamar tamu,Alberto membaringkan Dominic diranjang.
Alberto melepas sepatu dan kaus kaki Dominic.
"haihh!!!"
"Mengurus diri sendiri saja tidak bisa,bagaimna dengan mengurus Janice"
batin Alberto.
__ADS_1
Janice masuk ke dalam kamar,meletakan baskom air dan handuk dimeja,lalu memberikan baju ganti Dominic pada Alberto.
"Tolong bantu aku mengurusnya"
Kata Janice pelan,memandang arah lain.
"Jika aku tidak mau,bagaimana?"
jawab Alberto.
Janice menatap Alberto.
"Ya sudah,aku saja yang gantikan"
Janice berjalan mendekati Dominic,Alberto menarik Janice menjauhi Dominic.
"Kamu mau apa?"
"Kamu mau bermain api disini?"
Alberto menekankan kata katanya.
menatap tajam mata Janice.
"siapa yang bermain api?"
"aku hanya ingin mengganti pakaiannya saja"
Janice kesal.
"Aku tidak mungkin bangunkan pelayan pagi pagi seperti ini"
"Jika kamu tidak mau aku saja yang gantikan"
Janice kembali berjalan mendekati Dominic.
Tangan Janice ditarik Alberto,
Alberto langsung ******* bibir janice,Alberto menekan tengkuk Janice dengan tangan kirinya dan tangan kanan Alberto berpindah dari tangan Janice ke pinggang Janice.
Janice kaget,
"Bau alkohol,Apakah Alberto juga mabuk??"
Batin Janice.
Janice meneteskan air mata,air mata berlinang di kedua pipinya.
Alberto semakin panas,Janice memeluk tubuh Alberto erat.
"Jika terus beginin,aku akan goyah"
katanya lirih.
Alberto memeluk erat Janice.
"Aku mencintaimu Jane"
bisik Alberto dan mengecup kening Janice.
"Kamu keluarlah aku akan gantikan pakaian Dominic"
Alberto melepas pelukan dan menatap Janice.
"Baiklah,aku akan buatkan kamu air madu"
kata Janice,berjalan keluar kamar.
Di dapur Janice menyeduh air.
Janice memegang dadanya.
"apa aku bisa melupakan Alberto?"
"apa aku bisa mencintai Dominic seperti aku mencintai Alberto?
Batin Janice.
Karena melamun Janice tidak sadar jika tangannya ada di atas teko air yang ada kompor,tiba tiba tangannya ditarik.
Janice kaget dan menoleh.
"Bodoh!jika tangan mu melepuh bagaimana?"
Alberto memegang erat tangan janice yang hampir menyentuh teko air yang panas.
Alberto mencium tangan janice.
Alberto memeluknya erat.
Janice menolak dan Alberto semakin erat memeluk.
"Diamlah aku matikan kompor dan akan menuang air"
"jika kamu bergerak,kamu akan terluka"
__ADS_1
Janice diam dalam pelukan Alberto.
Alberto mematikan kompor,dan menuang air panas ke cangkir,lalu mengaduk air dan madu yang ada di dalam cangkir itu,Alberto membawa cangkir di tangan kanan.
Alberto melepas pelukannya dan menggandeng Janice dengan tangan kirinya.
Mereka berjalan menuju meja makan.
Alberto mendudukan Janice dikursi.
Dan Alberto duduk dikursi sebelah Janice.
Suasana hening.
Alberto dan Janice hanya diam saling menatap.
"Hiduplah bahagia Jane"
Tiba tiba Alberto berbicara dan kata kata itu langsung membuat dada Janice terasa sesak.
"Meski kamu tidak menikah denganku,Dominic juga orang yang baik sebenarnya"
"Tapi karena dendam lah yang mengubah jalan hidup dan pemikirannya"
Alberto menatap Janice dan tersenyum.
"Alberto?"
"Apa kamu baik baik saja"
tanya Janice pelan.
Albeto tertawa kecil.
"Bagaimana bisa baik baik saja"
"Wanita yang aku cintai akan menikah dengan sahabatku sendiri"
"Hatiku pasti hancur"
"Tapi kamu tidak perlu pedulikan aku,Hidup mu lebih penting"
kata Alberto menjelaskan.
Janice hanya diam tanpa bicara.
Cangkir telah kosong.
Alberto berdiri dari duduknya.
"Kamu mau kemana?"
tanya Janice yang ikut berdiri.
"Ya pulang lah"
"Kamu mau aku tidur disini denganmu kah?"
Alberto menggoda.
"Hei.. "
"aku hanya bertanya"
Janice kesal.
"Aku akan pulang,kamu istirahatlah Jane"
Albeto beranjak pergi,tangan Janice menaha lengan Alberto.
Alberto membalikan badanya dan menatap Janice.
"Ada apa Jane?"
"Aku akan mengantarmu pulang"
Kata Janice pelan.
"tidak boleh menolak"
"oke"
Janice menekan kata katanya,seolah tahu bahawa Alberto akan menolak.
Alberto hanya tersenyum dan mengangguk.
Janice dan Alberto keluar rumah menuju Mobil Janice.
Alberto dan Janice masuk kedalam mobil.
Alberto yang menyetir.
Dan Janice duduk disamping Alberto.
Mobil berjalan meninggalkan rumah Dominic.
__ADS_1