
Di kediaman rumah Janice.
Janice duduk santai di ruang tamu dan melihat lihat majalah fashion wanita,Janice membolak balikan tiap halaman.Terdengar suara mesin mobil dari luar,Janice menaikan alisnya rasa penasaran melandanya.
"siapa ya?"bertanya dalam hati,belum terjawab pertanyaan itu,Janice melihat para pelayan berkumpul di depan pintu,berbaris dengan rapi,lalu pintu terbuka..
kreeeek..(pintu terbuka)
"Selamat datang nyonya tua"semua menyapa memberi salam kepada seorang wanita tua yang masih saja terlihat cantik diusia senja.
"omaa"janice berlari memeluk omanya.dan disambut oleh omanya,oma mencium kening,pipi,hidung dan meleluknya lagi.
"cucu oma tersayang,bagaimana keadaanmu sayang?"terlihat raut bahagia oma bertemu kembali dengan cucunya.
"aku baik oma,apakah oma baik baik saja?perjalan jauh dengan kondisi oma yang seperti ini?"jawab janice dengan sedikit kecemasan.
"oma mu ini orang yang kuat sayang.mana bisa oma tumbang begitu saja"gerutu oma diikuti tawa janice.oma mencolek hidungnya.
"oma ayoo masuk"tangan janice menggandeng oma hendak membawa masuk,tapi oma menahan.dan membalikan badannya.
"tunggu sayang,ada yang tertinggal"kata oma melihat keluar pintu,membuat janice kaget.
"apa oma??ada apa??"mengikuti pandangan oma ke arah pintu dengan rasa penasaran.
"masukalah sayang"kata oma sembari tersenyum.
terlihat bayangan pria di kejauhan berjalan mendekati pintu utama,semua mata terbelalak memandang,pria dengan kaca mata hitamnya tersenyum dengan melangkahkan kaki memasuki pintu.
"aku datang oma"suara merdu pria itu mendekati oma.Janice kaget tak asing dengan suara itu.seperti suara seseorang yang dikenal.
"siapa dia oma?"tanya janice dengan mengerutkan dahinya,seakan tak percaya.
"siapa aku?apa kamu lupa?"pria itu membuka kacamatanya,seketika itu mata janice terbelalak dan sedikit membuka mulut.Mata birunya,wajah yang familiar untuknya.
"sudah ingat jane??"sapa pria itu.mendekat.
"tidak mungkin"batin janice keras
"hanya dia yang memanggilku jane,tapi kenapa oma mengenalnya?"batin janice kembali,janice berpaling beranjak pergi kekamarnya meninggalkan omanya dan pria itu."maaf oma,aku lelah"serak suara jane sambil berjalan.
"sayang ada apa??"oma cemas.
"tidak perlu cemas oma,mungkin jane masih kaget bertemu kembali denganku"jawab pria itu dengan tersenyum.
"sayang kamu pengertian sekali"oma tersenyum,menyentuh pipi pria itu.
__ADS_1
"ayoo siapkan kamar untuknya"perintah oma kepada pelayannya.
"baik nyonya,silahkan tuan"kata seorang pelayan.
"oma,alberto masuk dulu ya,oma juga harus istirahat"katanya beranjak mengikuti pelayan menuju kamar.
Oma memandang bibi lin dan pergi ke kamarnya,Bibi lin mengikutinya di belakang.
☆☆☆
Dikamar Janice
Janice menangis tersedu sedu..
"hiks hiks hiks.."suara tangisan janice,terlihat janice memeluk kedua lututnya.
"kenapa kamu kembali,kenapa??kamu yang meminta ku pergi"batin janice kacau.
...
flashback
...
plaaaak..tamparan itu mendarat di pipi kiri pria itu."kamu laki laki jahat alberto,aku membencimu,kamu yang menggodaku,kamu merayuku,sekarang aku mencintaimu,kenapa baru sekarang kamu bilang,apa salahku"janice menangis memukul mukul dada alberto,alberto hanya diam seribu bahasa dan hanya menerima cacian,makian dari janice.
"oke kita berpisah,aku tidak akan mengingatmu lagi,aku membencimu alberto,aku benci kamu"kata janice dengan nada tinggi lalu pergi meninggalkan alberto,alberto memandang punggung janice yang berlari menjauh dengan perasaan bersalah."maaf jane..."ucap alberto sedih.
..
flashback off
..
"aku membencimu alberto,aku memebencimu"guman janice dengan mengepalkan kedua tangan.
☆☆☆
Dikamar alberto merebahkan tubuhnya diranjang dan melihat langit langit kamar.Menutup mata dan menghela nafas panjang.Teringat akan sesuatu sehingga membuatnya mengerutkan dahi.
"Jane,aku akan kembali.."ucap alberto pelan,perlahan membuka mata dan mengeluarakan hp nya melihat layar hp nya dan menempelkan ke telinganya,menghubingi seseorang."hallo tuan....."suara pria itu.
.....
.....
__ADS_1
.....
"oke lanjutkan kerjamu,aku butuh jawaban yang pasti"jawab alberto tegas,langsung menutup sepihak panggilannya.
"jane,kali ini aku tidak akan menghindarinya lagi,aku akan menghadapinya"batin alberto.
☆☆☆
Di ruang makan
janice duduk berhadapan dengan alberto,alberto memandang janice,janice mebuang muka dan melihat ke arah neneknya.
"oma aku ambilkan ya"menuangkan sup untuk omanya dan meletaknnya dimeja.
"terimaksih sayang,ambilkan juga untuk alberto"perintah oma.janice menjadi kesal.
"tidak perlu oma,dia punya tangan,bisa ambil sendiri"jawab janice ketus dan pandangan menusuk.
"tidak apa oma,alberto bisa sendiri"sahut alberto dengan senyuman mautnya.
deg..
deg..
deg..
Jantung berdetak kencang,muka janice merona.Begitu tampan wajah alberto.wajah blasteran yang memepesona.mengalihkan pandangan janice dari makannya.
"sayangku janice,apa kau sakit nak?muka mu merah,apa kau demam"oma cemas
kaget"oooh ahh tidak oma,hanya supnya terlalu panas"alasan janice tak ingin omanya curiga karena dia tidak ingin ketauan.
Disisi lain meja alberto tertawa dalam hati melihat tingkah janice yang lucu dan menggemaskan.Alberto tersenyum kecil.
"aku akan mendapatkan mu kembali sayang"batin alberto,melihat ke arah jane.
Tak ada suara lagi,hanya terdengar suara gesekan sendok dan piring.Janice,oma dan alberto menikmati makan malamnya dengan nikamat.
"baiklah,oma mau istirahat dulu,oma mau minum obat,lin ayo ke kamarku"oma berdiri berjalan menuju kamar diikuti bibi lin.
"oma selamat malam"celoteh janice memandang omanya dari meja makan.terlihat oma melambaikan tangan memberi jawaban.
Janice beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya,tangannya tertahan oleh alberto.pandangan kesal janice memandang mata alberto."lepasin.."bentak janice.alberto menghampiri janice dan tetap memegang tangan janice.alberto membelai tangan janice.
"sorry jane"alberto mencium tangan janice,membuat janice makin kesal.janice manarik tangannya dan langsung pergi meninggalkan alberto seorang diri tanpa bicara apa apa.Alberto melihat janice makin lama makin menjauh menyusuri tangga menuju kamarnya.Alberto menunduk sedih,marah dan kecewa itulah perasaannya saat ini,alberto pun malangkahkan kakinya menuju kamarnya.
__ADS_1