Cinta Panas Tuan CEO

Cinta Panas Tuan CEO
BAB 11-KEADAAN BUNDA


__ADS_3

Brak… brak…


Suara derap langkah kaki seorang gadis, menyisiri lorong rumah sakit yang sudah sepi karena sudah hampir memasuki tengah malam itu, saat ini jam menunjukkan pukul 23.25 yang menandakan hari akan berganti.


Gadis itu dengan wajah panik nya berlari sambil terus mencari nomor kamar yang di beritahu oleh perawat nya saat tadi, Allea yang sedari sore menunggu kepulangan sang bunda yang tidak kunjung datang hingga malam hari membuat nya panik.


Hingga akhirnya seseorang dari rumah sakit menelpon tetangga nya, memberitahu kan sang bunda sedang terbaring lemas di rumah sakit karena sedang di rawat.


Allea seketika panik, dia tidak tahu harus pergi dengan apa ke rumah sakit di pusat kota itu. Lalu tiba tiba Allea meminta tolong kepada Dion yang rumah nya dekat, Dion langsung mengiyakan saat itu juga.


Kret…


Pintu rumah sakit terbuka pelan, Allea melihat tubuh seorang wanita yang dia cintai itu terbaring lemah tidak berdaya. Banyak nya peralatan medis yang terpasang di tubuh sang bunda.


“Hiks hiks bundaaaa,”teriak Allea langsung berlari memeluk sang bunda.


Gadis itu terus sesenggukan menangisi sang bunda yang terbaring lemah, wanita itu membuka mata nya pelan. Lalu mengusap rambut sang putri dengan penuh kesayangan, sedangkan Ratna yang melihat itu tersenyum kecil.


“Allea kau sudah besar, lama tidak berjumpa sayang,”ucap Ratna kepada anak sahabat nya itu.


Gadis itu yang tadi menangis memeluk bunda nya sekarang memutar tatapan nya ke arah Ratna yang duduk di sebuah kursi persis di samping kasur bunda nya terbaring, Allea tidak mengenali sosok wanita di depan nya itu.

__ADS_1


“Dia tidak akan mengingat mu Ratna itu saja saat dia pergi dengan mas Wira berobat keluar negri dan bertemu dengan kalian di sana hanya untuk sementara hubungan terjalin,”jawab Suci.


“Tapi hubungan yang terjalin sementara itu membuat kita saling terikat batin satu sama lain kan,”kekeh Ratna kepada Suci.


Allea sama sekali tidak mempedulikan obrolan itu, dia hanya peduli penjelasan dari sang bunda. Kenapa bunda nya bisa sampai seperti ini, kenapa bunda nya terbaring lemah, apa bunda nya kecelakaan? Tapi kenapa tidak ada bekas luka sedikit pun?


“Bunda, tolong katakan kepada Ale. Kenapa dengan bunda?”tanya Allea dengan suara gemetar menahan tangisan nya.


Sungguh bunda Allea sangat tidak tega dengan anak nya itu, dia menahan tangisan nya yang sebenarnya jauh lebih dari kata pilu. Dengan tangan gemetar dan genggaman tangan yang mulai melemah, suci mengengam tangan sang anak.


“Sayang, maafkan bunda. Selama ini bunda memiliki penyakit yang selalu bunda sembunyikan dari mu,”jelas Suci kepada putri nya itu.


Lalu Ratna yang mendengarkan hanya bisa tersenyum sambil mengangguk kepada Suci, dia sudah tidak bisa menyembunyikan banyak hal kepada putri nya saat ini. Putri nya pun pasti sudah mengerti bukan.


“Sayang bunda memiliki penyakit leukemia, penyakit ini sangat susah di sembuhkan, ada pun obat nya tidak ada kemungkinan besar. Lalu penyakit bunda sudah lama, bunda sering mimisan, tapi bunda selalu tidak memperlihatkan nya kepada Allea, karena takut harus memikirkan biaya rumah sakit,”jelas sang bunda.


Gadis itu sangat syok mendengar pernyataan sang bunda, bagaimana penyakit mematikan itu harus ada pada bunda nya? Kenapa bukan hanya kepada diri nya saja, kenapa harus bunda nya yang sakit kembali akan semua ini.


“Kenapa Tuhan tidak adil dengan Allea bunda, apa setelah Tuhan mengambil ayah, Tuhan tega mengajak bunda pergi. Allea tidak mau bunda, Allea ingin terus hidup bersama bunda,”teriak gadis itu dengan sura berteriak dan bergemetar.


Ucapan Allea sangat pilu di dengar oleh Ratna, bagaimana pun. Ratna pernah merasakan posisi seperti Allea malah hampir sangat mirip diri nya yang SMA tidak memiliki ibu dan ketika ingin lulus harus di tinggalkan sang ayah.

__ADS_1


“Bunda, kenapa Tuhan sangat egois bunda, kenapa!”teriak Allea kembali.


“Sayang jangan berteriak seperti itu, bunda mu saat ini sangat lemah. Jangan membuat nya sedih karena air mata mu yang banyak, berikan semangat kepada nya,”ucap Ratna berusaha menenengkan Allea.


Bagaimana pun perkataan Ratna ada benarnya, gadis itu tidak boleh panik. Dia harus bisa menjaga bunda nya, tangisan mulai dia kontrol, Allea menahan nafas nya lalu menghembuskan nya, begitu lah beberapa kali hingga tenang.


“Bunda, maafkan Allea. Kenapa kita dari awal tidak menjual kebun ayah untuk berobat bunda, padahal kesempatan kita ada selagi tidak hanya diam,”jelas Allea.


“Sayang sekali bunda mati pun, kakak tiri dan adik tiri ayah mu, tidak akan mengikhlaskan hak itu untuk kita. Hak waris masih belum jelas, tidak ada data yang tertulis, bunda tidak ingin meninggalkan kesan terpidana untuk kau dunia ini nak,”jelas bunda Allea kembali.


Entahlah Allea kali ini tidak dapat berkata kata, hidup nya lebih dari kata cukup tanpa orang tua yang lengkap. Tapi kenapa sekarang kebahagian nya mulai terusik satu persatu, apakah Tuhan baru saja merencanakan skenario untuk diri nya, bisakah Allea menghadapi kehidupan nya setelah ini?


Saat mereka tengah melamun, ponsel milik Ratna berbunyi suami nya menelpon, dengan sopan Ratna memutuskan balik dahulu agar bisa balik keesokan pagi nya bersama sang suami untuk menjenguk sahabat nya ini, mereka sekarang hanya tinggal berdua, Allea membiarkan sang bunda tertidur lelap.


“Tuhan, kenapa hidup ku harus seperti ini? Sakit apa lagi yang harus aku rasakan? Dimana letak rasa kurang bersyukur ku yang kurang kepada mu? Hingga engkau harus uji kembali kehidupan keluarga kami, ayah jika ayah mendengar kan tangisan Ale. Tolong jangan ajak bunda secepat ini untuk menemani ayah, Allea tidak ingin hidup tanpa kalian, lalu siapa yang akan memberikan Ale cinta yang sebesar kalian lagi?”tanya Allea dengan suara bergemetar nya.


Tangisan Allea di sela tidur sang bunda itu terdengar jelas, sungguh pilu rintihan sang anak. Tapi mau di kata apa, badan yang mendatangkan penyakit ini bukan lah kehendak manusia tapi kehendak sang pencipta, makin berat ujian nya makin Tuhan tahu jika kamu lebih baik dari siapa pun.


Malam berganti pagi, Allea yang kala itu tertidur sambil mengengam tangan sang bunda tiba-tiba tubuh sang bunda yang kala itu terlelap langsung menimbulkan efek kejang-kejang, dengan mata tertutup dan alat pernafasan yang masih terpasang itu tubuh suci seolah memberikan efek kejang yang mana membuat Allea panik.


“Bunda? Bundaaaa, dokter!!! Tolong bunda ku kenapa, dokterrrrr!!”

__ADS_1


__ADS_2