
Hiks… hiks..
Allea terus menangis, gadis itu di bawa duduk menuju kursi di rumah sakit berusaha menenangkan nya. Sedangkan seseorang pria menatap datar ke arah kedua orang wanita itu, dia berjalan perlahan, langkah kaki itu terlihat dari bawah, membuat Ratna dan Allea mendongkak.
“Sayang,”
“Pak Bagas?”
Ucap Ratna dan Allea secara serempak, Ratna menatap Allea tersenyum manis, Allea Sudja berhenti menangis tapi rasa nya kalut nya masih ada sesekali dia kembali meneteskan air mata.
“Ale ternyata kau masih mengingat Bagas ya,”tanya Ratna kepada putri sahabat nya itu.
Allea terlihat heran, dia tidak menjawab. Ketika brangkar milik suci di dorong menuju kamar mandi jenazah untuk di segerakan prosesi pemakaman hari itu juga, Allea tampak ingin berlari mengejar itu, tapi di tahan oleh Ratna.
“Biar mommy lihat sayang, jika kau yang kesana mommy tidak tahu harus melihat mu menangis seperti apa lagi. Bagas jaga Ale,”ucap Ratna menghapus air mata nya itu.
Ratna berdiri dan menghampiri suami nya joan, pria paruh baya itu dengan tulus memeluk sang istri lalu mengeluarkan sebuah tisu untuk menghapus air mata istri nya itu, lalu lanjut pergi.
Hiks… hiks…
Allea terus menunduk, sambil menahan tangisan nya yang pilu, kepala nya terasa berat dan pusing apakah ini mimpi? Dia hanya bertanya tanya? Lalu kenapa pak Bagas gurunnya bisa ada di sini? Entahlah itu tidak dia pikirkan dulu karena yang terpenting bunda nya saat ini.
“Menangis lah,”ucap seseorang yang masih berdiri menghadap Allea, suara bariton itu membuat tatapan Allea teralihkan.
__ADS_1
Dia mendongkak kan kepala nya menatap tatapan datar yang selalu dia terima setiap hari ketika bertemu dengan Bagas di sekolah, kadang dia bertanya tanya. Apakah Bagas tidak pernah sedih dengan sekedar melihat kematian di depan nya saja?
Kenapa tidak ada sedikit pun empati dari tatapan pria aneh di depan nya ini. Allea tidak tahu, tapi apa kata Bagas barusan? Dia menyuruh nya untuk menangis? Haha itu aneh kenapa dia harus menangis lagi?
“Jika mommy menyuruh mu untuk berhenti menangis tapi itu membuat dada mu semakin sakit, maka menangis lah.”jelas Bagas kembali.
Sekali bicara tapi point nya dapat di pahami itu lah Bagas, wajah gadis itu yang mendongkak seperti anak kecil menatap Bagas kembali menangis, sekarang dia malah menangis sejadi jadi nya di depan guru yang selalu dia benci itu.
Hiks… hiks..
“Apakah aku harus ikut mati saja? Aku tidak ingin sendiri tanpa mereka,”ucap Allea dengan suara sesenggukan nya.
Tiba-tiba dirinya yang menutup mata itu dengan telapak tangan nya yang sudah banjir karena air mata merasa tangan nya di tarik seseorang yang tak lain adalah Bagas, pria itu memaksa Allea berdiri lalu memeluk nya pelan dengan lembut.
“Aku menyuruh mu untuk menangis agar kau jauh lebih tenang, bukan untuk mengutuk diri mu sendiri sambil mengatakan pergi dari dunia ini, jangan meninggalkan urusan yang belum selesai. Kau ada hutang pada ku,”ucap Bagas.
Kata kata penenang itu membuat Allea sedikit tenang juga penasaran, apa yang di maksud hutang? Entahlah Allea juga tidak tahu apa maksud dari perkataan guru nya itu.
Hari itu juga pemakaman di langsungkan, proses pemakaman di urus cepat oleh keluarga William. Apalagi suci adalah sahabat dari istri dekat Joan William itu sendiri, para pelayat berdatangan banyak memenuhi rumah gubuk milik Allea dan bunda nya.
Begitu pula teman teman Allea yang sudah mendapatkan kabar yang tiba-tiba mengejutkan itu, Allea hanya bisa terus terus menangis, sampai wajah nya pucat. Akhirnya suci di makam kan di samping liang milik suami nya Wira.
Suasana di pemakaman tanpa hikmat, begitu pula yang di sana ada suci, joan dan Bagas yang hadir. Mereka terlihat mengantar kepergian suci hingga di tempat peristirahatan terakhir nya.
__ADS_1
Proses pemakaman pun telah usai hanya tinggal orang terdekat saja di sana seperti keluarga william dan sahabat dekat dari Allea, teman Allea sebenarnya heran kenapa pak Bagas malah ada di sana juga, tapi pertanyaan itu tidak terlalu di pikirkan mereka karena lebih mementingkan Allea.
“Dulu aku sudah bilang kepada kalian, doakan aku tetap tersenyum hingga dunia menjemput ku, tapi pria yang membuat ku tersenyum sudah ada, lalu sekarang kalian yang malah berpamitan lebih dulu?”tanya Ratna menatap kuburan kedua sahabat nya itu.
“Bunda, Terimakasih sudah menjaga Ale sebesar ini. Allea janji akan tetap terus hidup, maka dari itu kalian juga harus tetap hidup di hati Ale,”senyum gadis itu mengecup nisan kedua orang tua nya.
Bagas yang melihat itu hanya bisa terdiam, tidak ada sama sekali ekspresi yang di berikan oleh Bagas. Kacamata hitam yang bertengger di hidung nya itu di bisa membuat seseorang melihat apa yang di lirik Bagas.
“Kalian teman teman nya Ale yah? Tetap jadi teman Ale yah, jaga Ale buat tante kalau lagi di sekolah,”ucap Ratna kepada ketiga orang itu.
Mereka mengangguk mengiyakan perkataan Ratna, semua orang bertolak menuju rumah Allea. Di sana Ratna dan suami nya terlihat membujuk Allea untuk menerima tawaran mereka untuk tinggal bersama, lalu Bagas kemana? Entahlah setelah menerima telepon dari seseorang dia pergi dahulu entah kemana.
“Allea banyak yang mommy ingin ceritakan kepada mu, lagi pula bunda mencari mommy bukan tanpa sebab dan tujuan yang tidak jelas. Dia sudah memiliki firasat akan meninggalkan mu, dia menitipkan mu kepada kita, jadi mohon tinggalah bersama kami,”ujar Ratna kepada anak sahabat nya itu.
“Makasih tante, tapi Ale mau disini dulu. Masih kangen sama bunda, wangi bunda kalau disini masih bisa Ale cium kalau Ale rindu, nanti kalau Ale ingin ke rumah tante, Ale mampir kok,”senyum manis gadis itu.
“Apa kau yakin nak? Kau hanya sendiri? Ikut lah bersama kami,”tawar Joan kepada gadis itu.
Allea kembali mengeleng mau tidak mau mereka akhirnya meninggalkan Allea di rumah gubuk itu, sedangkan Ratna sangat cemas meninggalkan anak sahabat nya itu. Di atas mobil Joan berusah menenangkan sang istri agar tidak risau.
“Sayang jangan panik, aku akan memerintahkan bodyguard untuk menjaga Allea di sekitar rumah sana Okey, jangan membuat ekspresi seperti itu,”jelas sang suami.
“Benarkah? Makasih mas, karena kau tahu? Allea, suci dan Wira sangat berarti di kisah hidup ku,”jelas Ratna tersenyum.
__ADS_1
“Aku tahu,”