Cinta Panas Tuan CEO

Cinta Panas Tuan CEO
BAB 26-PILIHAN ALLEA


__ADS_3

“Gimana sayang enak bubur nya?”tanya Ratna kepada Allea.


Gadis itu mengangguk pelan, setelah tadi mereka melepas sedikit rasa sedih. Allea di buatkan bubur langsung oleh tangan nyonya William itu, entah setulus apa cinta yang di berikan Ratna untuk putri Shinta itu tidak ada habis nya.


Yang mana membuat Allea merasa tidak sejauh itu dengan bunda nya berkat ada nya Ratna di sisi nya, Allea makan dengan lahap karena dia ingin cepat sembuh dan di izinkan turun dari kasur ini.


“Mom Ratna, terus ujian terakhir Ale gimana? Nanti Allea ga lulus,”tanya gadis itu sedih.


Tadi saat melihat jam dinding ketika dia bangun menunjuk kan pukul 8 pagi, Allea hampir nekat untuk pergi ke sekolah karena ingin ikut ujian. Mengingat ini lah ujian terakhir Allea saat sekarang.


“Sudah Bagas nanti izinin kamu buat ujian susulan dulu yah gapapa kan ujian sendiri?”tanya Ratna kepada gadis itu.


“Benarkah? Terimakasih mom, pak Bagas sangat baik, dia saja selalu menghukum Allea ketika mengajar dahulu. Dia tidak pernah menyukai Allea,”curah hati Allea kepada Ratna sedikit tertawa kecil.


Ratna yang mendengar itu tersenyum kecil, dia memberikan mangkok kosong itu kepada Pelayang yang sedari tadi setia menemani mereka. Pelayan itu mengambil piring kotor itu dan membawa nya langsung ke dapur, tinggalah saat ini Ratna dan Allea berdua lagi.


Wanita paruh baya itu mengambil tangan kecil gadis yang sudah dia anggap putri nya itu sendiri, dengan senyum kecil Ratna berkata.


“Bagas, adalah pria yang sangat susah mengungkapkan serta mengekspresikan diri nya sayang. Dia akan baik pada siapa saja, tapi cara nya saja yang berbeda. Terkhusus kau Allea, karena sadari kecil, kalian sudah dekat, tapi lebih tepat nya mommy yang dekat in sih, karena mommy pengen sekali punya anak cewek, dan ketika melihat diri mu mommy sangat bahagia,”jelas Ratna mengatakan itu.


“Sedari kecil?”tanya Allea bingung.


Ratna tahu jika Allea tidak mengingat akan hal itu, terlebih pertemuan mereka yang sangat singkat karena hubungan yang masih canggung antara Wira dan Ratna saat itu, tapi itu tidak masalah lagi bagi nya, karena kesitian sudah dia temukan pada Joan.


“Ya, dan asal kau tahu. Bagas rela begadang semalaman menjaga diri mu sayang, dia duduk di samping mu saat kau tertidur lelap,”jelas Ratna terkekeh mengingat tingkah anak nya yang sangat peduli kepada Allea.


Gadis itu yang mendnegar cerita Ratna menaikan satu alis nya, bagaimana itu tidak membuat nya bingung bukan? Jikalau dia merasa Bagas tidak akan memberikan perhatian seperti itu pada nya.

__ADS_1


“Benarkah? Kak Bagas? Mungkin mom hehe,”tawa Allea dengan ragu.


Mereka tertawa menikmati hari yang terus berlalu, beberapa telah berlalu semenjak kejadian tragedi itu. Entah karena apa Allea sama sekali tidak di izinkan oleh Bagas untuk menginjak kan kaki ke sekolah nya lagi, atau pun kampung nya.


Pria itu mengatakan sudah mengurus semua urusan sekolah allea, dan mengatakan saat kelulusan dia tidak usah ikut pula. Karena dia tidak mau allea mengingat kejadian itu lagi.


Berat sebenarnya harus menghilang tiba tiba dari sekolah tanpa berpamitan kepada guru atau pun sahabat nya, tapi Bagas mengatakan jika diri nya kesana maka terima saja resiko nya sendiri.


Hari berlalu kelulusan allea sudah di umum kan, diri nya bingung harus melanjutkan kuliah atau kerja. Kalau kuliah apakah otak nya memadai? Lalu bagaimana jika diri nya kerja? Apa yang bisa dia lakukan dengan segala kecerobohan nya.


“Allea sudah kamu pikirkan mau daftar ke kampus mana?”tanya Joan kepada gadis yang duduk di samping Ratna sambil membantu wanita paruh baya itu mengupas bawang untuk mereka masak.


“Rencana nya Allea mau kerja saja dad, allea akan tinggal sendiri juga. Karena allea tidak ingin menyusahkan kalian lagi, allea kan sudah besar,”senyum gadis itu mengatakan kepada Joan.


Ratna yang mendengar itu langsung menghentikan kegiatan nya memotong bawang, dia menatap allea seksama.


Belum sempat Ratna melanjutkan perkataan nya tiba tiba Bagas datang, pria itu terlihat turun dengan baju kaus dan celana pendek hitam nya menambah kesan tampan pada pria itu.


“Sudahlah mom, Allea sudah besar. Dia berhak dengan keputusan nya sendiri, biar kan dia mandiri, jangan jadi beban kita saja bisa nya,”jelas Bagas mengatakan itu.


“Tapi Bagas! Mommy gamau allea kenapa kenapa, dunia luar tidak sebaik yang kau bayangkan sayang, tetap disini,”tegas Ratna mengatakan itu.


“Tidak mom, keputusan allea sudah bulat. Nanti allea sering main kesini kok, benar yang dikatakan kak Bagas Allea nanti jadi beban kalian terus,”senyum allea mengatakan itu.


“Ini gara gara Bagas!!”ujar Ratna meletakan pisau nya dengan kasar di atas meja tanpa mencuci tangan wanita itu langsung pergi menuju kamar nya.


Sedangkan Bagas yang mendnegar itu hanya menaikan satu alis nya heran, bagaimana tidak? Apa maksud mommy nya mengatakan ini adalah salah nya, tentu ini bukan salah nya bukan?

__ADS_1


“Lah kok aku?”gumam Bagas.


“Sudahlah allea jangan pikirkan apa pun, daddy dukung keputusan mu, nanti soal mommy biar daddy bujuk yah,”jelas Joan tersenyum pergi mengikuti Ratna.


Lalu sekarang tinggalah allea dan Bagas berdua, pria itu menatap Allea yang siap memasak udang saus padang itu. Bagas duduk di kursi meja dapur berhadapan dengan tempat masak allea.


Jadi posisi nya allea membelakangi Bagas dan Bagas menatap punggung allea yang sedang memasak itu, Bagas menatap datar sambil menumpu tangan nya di dagu.


“Kau yakin?”tanya Bagas.


Pertanyaan tiba tiba itu sontak membuat Allea memutar badan nya dan menatap Bagas dengan bingung, pertanyaan singkat dan sangat tidak jelas unsur nya itu.


“Maksudnya apa yah om?”tanya allea setengah mengejek di akhir kalimat nya.


Ya karena Bagas selalu mengatakan dia benci di panggil om maka nya allea bilang di ujung kalimat nya seperti itu, Bagas menatap datar.


“Kau yakin tidak merindukan tempat ini? Termasuk aku?”tanya Bagas lebih jelas nya.


Allea menaikan satu alis nya dan berecih mengejek kepada Bagas apa maksudnya pernyataan itu.


“Om udah jarang pulang kok selama ini entah apa kerjaan nya bandar kali yah, lihat di rumah aja jarang kok kita ketemuan mau kangen apa,”ejek Allea mengatakan itu.


Bagas terlihat berjalan mendekati Allea lalu mendekat perlahan kepada gadis itu, semakin dekat hingga tubuh allea mengenai keramik dapur itu, Bagas mendekati wajah nya dan membelai pelan wajah putih allea lalu mengecup pelan pipi gadis itu.


Deg…


Kecupan itu seketika membuat badan allea menegang, seketika pipi nya merona merah membuat Bagas tersenyum kecil lalu mengatakan.

__ADS_1


“Benarkah? Selamat merindu, jika itu mau mu. Atau kau tidak bisa tidur malam ini,”


__ADS_2