
Tik.. tik…
Suara ketikan dari komputer di sebuah ruangan mewah dengan berlatar kan jalanan ibu kota dan warna lampu dari mobil yang banyak itu sangat terlihat indah dari ruangan dari lantai 30 ini, lantai teratas dari perusahaan milik William group.
Jarum jam yang berdetik untuk kesekian kali nya ternyata sudah menunjukkan jarum pendek di angka 9 malam, terlihat Bagas masih fokus dengan pekerjaan nya itu, hingga akhirnya fokus pria itu pecah ketika suara pintu terbuka dari luar.
Brak…
“Tuan, sebaiknya anda pulang. Saya takut nyonya besar akan menceramahi saya karena tidak mengingatkan anda batas jam kerja lagi,”jawab pria tampan yang hampir sama tinggi nya dengan Bagas.
Ya Derell Richard, pria asli kelahiran Eropa tanpa ada darah campuran seperti Bagas. Pria itu status nya asli bule dan bukan berkewarganegaraan lokal, mendampingi Bagas sejak Bagas berumur 20 tahun sebelum menjadi CEO William group, Derell sudah terlebih dahulu di perintah kan menjadi asisten dari seorang Bagas.
Umur Derell beda dua tahun dengan Bagas yang mana pria itu berumur 30 tahun lebih tua dua tahun dari Bagas, tapi yang nama nya profesional tetap dia lakukan. Sudah lama mengikuti Bagas membuat pria itu sangat paham dengan sifat dari Bagas itu sendiri.
“Jam berapa?”tanya Bagas menatap pria itu.
“Pukul 8 malam tuan, sudah lewat jam makan malam. Anda tidak di rumah saya khawatir jika nona akan memanggil saya,”jelas pria itu.
“Hmm sebentar lagi saja,”ucap Bagas mengabaikan itu dan ingin melanjutkan pekerjaan nya.
Belum mulai Bagas melanjutkan pekerjaan nya benar saja sebuah telpon masuk dari ponsel milik asisten Bagas yaitu Derell, pria itu langsung mengangkat telpon dari nyonya besar William itu dengan cepat.
“El. Apakah putra ku masih di kantor? Ada yang ingin aku tanyakan ini sangat penting,”ucap Ratna dengan suara sedikit panik itu.
“Masih nyonya, saya akan memberikan telpon nya kepada tuan.”balas Derell langsung mengiyakan perkataan nyonya besar itu.
__ADS_1
Pria itu memberikan ponsel milik nya kepada Bagas, pria itu sebenarnya memang sengaja mematikan ponsel nya. Kalian tahu karena alasan apa? Ya gara gara ini, sang mommy pasti selalu menyuruh nya pulang tepat waktu padahal dia sekarang mengatur semua pekerjaan dan menghandle cabang perusahaan nya.
Dia yang mengendalikan William group tentu sebagai seorang CEO Bagas juga harus memikirkan bagaimana masa depan perusahaan nya bukan seperti karyawan kantor yang memiliki jadwal pergi dan pulang jam kerja.
“Mom,”panggil Bagas dengan singkat.
“Bagas, mommy belum mendapati Allea pulang ke rumah, apa dia lupa jalan ke mansion sayang? Mommy sangat takut, ini sudah jam 8 malam, daddy mu masih ada pertemuan dengan teman bisnis nya, dia baru akan ke rumah setelah mommy telpon barusan juga. Sayang bisakah mommy minta tolong untuk mencari Allea di rumah nya, dia bahkan belum balik untuk mengganti seragam ke rumah,”jelas Ratna mengertikan segala kegundahan.
Bagas yang mendengar cerita itu seketika menaikan satu alis nya, dia masih santai dengan nada yang cuek Bagas mengatakan sesuatu agar sang mommy tenang dengan keadaan ini.
“Mungkin dia ke rumah nya mom, tidak mungkin dia lupa jalan ke mansion. Dia bukan anak sd lagi, tidak usah panik seperti itu,”ujar Bagas mengatakan itu menghela nafas nya.
Ayolah pria itu seketika memijit pelipis nya dengan pelan, merasakan sakit yang tidak terlalu membuat nya tertekan itu. Sudah pekerjaan banyak, sekarang gadis yang menumpang di rumah nya itu membuat rusuh juga, dan sekarang Bagas yang harus terlibat.
“Apakah itu lebih penting dari pekerjaan ku mom?”tanya Bagas dengan datar.
“Anak nakal, cari Allea atau lihat mommy mu ini sengsara!”teriak Ratna ke ponsel itu.
Bagas yang mendengar suara teriakan itu seketika menjauhkan ponsel nya sedikit jauh dari telinga nya pria itu mengaruk telinga yang terasa sedikit sakit karena teriakan sang mommy, dengan pelan Bagas menjawab.
“Baiklah mom, jangan berteriak. Aku akan memerintahkan bodyguard ku juga untuk melacak nya, apa dia tidak punya ponsel?”tanya Bagas kepada sang mommy.
“Tidak sayang, eh sebenarnya ada itu nanti mommy kirim yah nomor nya ke kamu, Terimakasih Bagas. Pokok nya Allea harus ketemu sekarang juga, mommy takut dia kesasar, ini kan su-,”
Belum sempat Ratna menyelesaikan ocehan nya Bagas langsung memotong perkataan mommy nya itu dengan cepat.
__ADS_1
“Sudahlah mengeluh nya nanti saja, aku pergi dulu.”jawab Bagas singkat langsung mematikan ponsel nya tanpa berpamitan kepada sang mommy.
Ponsel telah di matikan, terlihat dengan cepat wajah yang terlihat tadi seketika berubah menjadi sedikit serius. Tatapan nya seolah olah terlihat kesal, Bagas langsung berdiri dan mengambil jas hitam nya.
“Derell perintahkan ke anak buah mu untuk melacak nomor ini, lalu sebar bawahan mu untuk mencari Allea di sekitaran rumah dan sekolah nya. Lalu kau ikut aku, apapun cara nya cepat lakukan itu,”ucap Bagas berjalan keluar kantor nya.
“Baik tuan,”ujar Derell.
Terlihat Derell langsung menghubungi seseorang di sini, dengan gercap Derell langsung bertindak. Sedangkan Bagas yang malah membawa mobil dengan ketinggian cepat membelah jalanan ibu kota yang ramai di malam hari, menuju jalanan pedesaan yang gelap dan sepi itu.
Terlihat Derell yang memiliki bawahan nya itu mengirim lokasi terkini tempat dimana terakhir kali sinyal ponsel milik allea berada, Derell langsung memberitahu Bagas.
“Tuan sepertinya ponsel nona allea terakhir kali berada di lokasi belakang sekolah nya,”jelas Derell yang melihat itu.
Tanpa sepatah kata apapun Bagas yang mendengar itu makin menambah kecepatan nya menuju ke sekolah, sekitar waktu jarak tempuh 15 menit itu, yang harus nya di tempuh hampir 1 jam jika dengan kecepatan rata rata itu, dan jika jalanan sepi sekitar setengah jam saja.
Brak…
Bagas sampai di lingkungan sekolah yang sudah gelap itu, terlihat para pria berbaju hitam sudah berada di belakang sekolah yang lebih banyak seperti semak semak itu, mereka Sudja terlihat terlebih dahulu mencari Allea di sana, salah satu bawahan Bagas itu mendekat.
“Tuan, ini ponsel milik nona Allea ada di tas ini, di buang dekat pohon itu, tapi kami tidak sedikit pun menemukan ada ada tanda seseorang di sekitar sini,”jelas pria itu.
Bagas mengambil ponsel butut yang jadul yang fungsi nya hanya bisa digunakan untuk menelpon itu saja, pria itu langsung mencengkeram ponsel itu kuat.
“Suruh yang lain menuju kesini, sisir satu sekolahan ini, kalau bisa kalian cari sampai ke ruangan sekolah ini juga!”
__ADS_1