
Hari berganti bulan, hampir 2 bulan saat pertama awal Allea masuk kerja. Dan Alhamdullilah nya tidak ada masalah selama sekali saat diri nya bekerja, gadis itu semakin hari bertambah belajar akan banyak hal baru, dan selama itu pula Allea belum pulang ke mansion William sama sekali.
Bagaimana dia tidak pulang, jika diri nya ketika harus minggu atau weekend saja memilih untuk mengambil lembur agar mendapat bonus, begitu pula Bagas yang tiap hari semakin sibuk dengan pekerjaan nya.
Prok… prok…
Sebuah suara tepuk tangan memenuhi ruangan rapat di perusahaan William, terlihat banyak orang di sana. Dari berbagai posisi jabatan di sana, terlihat Bagas yang duduk di kursi utama itu menatap datar ke semua orang.
“Tidak sia sia kami berinvestasi di perusahaan William. Pak Bagas bisa menaikan keuntungan dan harga saham di level tinggi seperti ini,”puji salah satu kolega.
“Ya perusahaan kami sangat berterimaksih juga atas kerjasama yang di berikan oleh perusahaan William group,”
“Bakat anda memang menurun dari pak ketua, tuan ceo,”
Begitulah suara pujian yang mereka sorakan kepada Bagas, tapi sama sekali Bagas tidak mempan atas pujian itu. Bagaimana tidak? Bagi nya pencapai yang orang bilang saat ini sudah besar, sama sekali tidak apa apa di banding pemikiran nya saat ini.
Menurut Bagas semua ini masih kurang, entah kenapa dia ingin lebih dari pada ini. Pria itu berdiri, dan menyuruh Derell untuk mematikan layar infokus dimana menampilkan produk perusahaan mereka yang baru di rancang.
“Pujian ini tidak akan selalu aku dapatkan, jika kalian sudah merasa di atas karena kemenangan yang sementara,”
“Lebih sulit mempertahankan dari pada meraih, posisi perusahaan kita bisa saja di geser oleh perusahaan lain. Jadi jangan hanya menggunakan mulut itu untuk melihat hasil karyawan di bawah kalian,”
“Harusnya sebagai seorang pemimpin kalian memberikan value kepada bawahan yang benar, jangan hanya bisa memarahi jika tidak ikut ambil andil dalam perancangan produk atau apa pun yang berkaitan dengan pekerjaan,”
__ADS_1
“Jangan mau hanya terima jadi saja, jadi jika ada para manajer yang ketahuan tidak melalukan pekerjaan sesuai jabatan! Ingat!”
“Aku Bagas William! Yang akan langsung menendang kalian keluar dari perusahaan ini, bermain main lah, penyesalan tidak akan datang di awal, tapi di akhir,”jelas Bagas memperingatkan para bawahan nya itu.
Mereka yang tadi nya memuji langsung terdiam, semua orang terlihat memasang wajah tegang. Bagaimana tidak, seperti nya para petinggi itu mulai sadar diri, mereka hanya mau menerima gaji tanpa mau terlibat dalam pekerjaan.
“Ingat mata ku ada dimana mana, bermain licik, tidak membuat kalian menang!”tegas Bagas sekali lagi mengatakan itu terakhir kali.
Dengan santai pria itu mengakhiri kalimat nya dengan tatapan datar dan tajam, tanpa pamit Bagas langsung menutup pintu dengan sangat kasar, membuat semua orang di sana terlonjak kaget.
“Dengarkan kata pak CEO, perkataan nya tidak pernah main main, sudah kita akhiri rapat nya sampai di sini, rapat minggu selanjutnya, produk kita akan di luncurkan,”jelas Derell menatap semua orang di sana.
Pria itu mengakhiri kalimat Bagas yang tidak selesai itu, dan ikut keluar di ruangan rapat. Ayolah ruangan ber AC yang dingin itu saja terasa sangat panas walaupun dingin bagi orang normal, introgasi dari Bagas saja sudah mampu membuat mereka keringat dingin akan hal itu.
Tapi jika sudah di tempat kerja apalagi soal hal ini, sekali Bagas mengucapkan hal panjang lebar, seperti itu juga ruangan mereka akan terasa panas dan tegang karena perkataan nya.
Bagas yang kesal itu pun berjalan menuju ruangan nya, dengan santai pria itu masuk ke ruangan nya. Tatapan wajah kesal nya tambah kesal ketika melihat seseorang yang duduk di kursi kerja nya sambil duduk memutari kursi itu sambil bermain main.
Pria yang duduk dengan santai menikmati diri nya yang bermain main sambil memutar kursi itu terlihat tersadar kala melihat siapa yang datang dan membuka pintu ruangan itu, dengan senyum pria itu menyapa Bagas.
“Halo My Bestie!”teriak pria itu heboh mengangkat satu tangan nya di atas.
“Robert what are you doing?”tanya Bagas dengan tatapan kesal nya.
__ADS_1
Robert yang mendapat tatapan sinis dari pria itu terkekeh keras melihat Bagas yang seperti setengah mati akan melahap nya hidup hidup karena diri nya yang datang tanpa memberitahu Bagas, begitu pula Derell yang ikut masuk ke ruangan bos nya tadi mengekor ceo William group itu ikut menatap datar Robert.
“Hei Ayolah kenapa wajah kalian masam seperti? Males sekali aku jika sudah begini? Apa kalian tidak merindukan ku? Ayolah, semenjak masuk dunia kerja yang keras ini, batin ku tersiksa bro, aku seperti anak broker home, tidak ada yang mencintai ku di rumah,”
“Setelah pulang bekerja, bukan nya menanyakan diri ku. Tapi daddy ku malah menanyakan, kenapa omset perusahaan kita menurun? Ck sungguh aku sangat kesal, jadi dia mengatakan untuk apa aku kuliah jika otak ku tidak terpakai dengan baik,”
“Pria tua Bangka itu juga mengecoh jika otak ku tidak sepintar diri nya, bukan membuat diri nya naik jaya, tapi akulah malah menurunkan omset perusahaan nya. Ayolah ini nama nya tekanan bagaimana jika aku depresi dan aku mati Hah? Kalian tidak sedih? Lalu siapa yang akan menganggu kalian lagi?”ujar Robert langsung berdiri dan merangkul kedua orang itu.
Bagas yang menerima rangkulan itu seketika menepis tangan Robert dengan kesal, Ayolah dia tidak selera di peluk oleh seorang pria juga.
“Jangan merangkul ku, kau sungguh bau,”ejek Bagas memilih duduk di sofa dari pada duduk di bekas tempat Robert duduk tadi.
“Derell buang kursi itu, lalu bakar, dan ganti yang baru,”perintah Bagas mengatakan itu di depan Robert.
Sungguh hati pria itu tertusuk. Dengan lebay seperti artis drama melow, Robert memegang dada nya sambil meremas baju kaus nya itu, sambil menatap kedua sahabat nya itu.
“Sungguh kalian sahabat terjahat yang aku temui di seluruh dunia, sakit men sakit nya tu disini,”tunjuk Robert di dada nya.
“Terus apa peduli ku?”sinis Bagas dengan kesal.
“Apa peduli ku, si4l kau Bagas. Hei Ayolah tampung aku yah yah,”rengek Robert kepada pria itu.
“Aku tahu kau bukan mau liburan tapi kabur dari kejaran orang tua mu, aku tidak menampung buronan pergi kembali,”
__ADS_1