Cinta Panas Tuan CEO

Cinta Panas Tuan CEO
BAB 12-HILANGNYA SURGA KU


__ADS_3

Di sekolah pukul 08.30 WIB


Terlihat ruangan kelas 12 IPS 5 itu terlihat ricuh karena seperti nya mereka memiliki jamkos, guru yang mengajari mereka hari ini hanya meninggalkan tugas ringkasan catatan saja, tentu mereka hanya malas malasan.


“Tumben ya tas, Ale belum datang juga?”tanya Gita kepada sahabat nya itu melirik kursi yang di samping Tasya tidak ada penghuni nya.


Tasya membenarkan kacamata nya dengan rawut wajah sedikit sedih dan cemberut menatap kursi yang masih kosong itu, entah kenapa dia perasaan nya dari pagi sudah tidak enak kepada Allea.


“Gatau juga Git, tapi kok aku berasa khawatir ya sama Allea,”gumam Tasya khawatir dengan mata sedikit berkaca mengingat sahabat nya itu.


“Udah tenang aja mungkin telat, orang dia hujan badai sekalian banjir pun tetap sekolah kok. Ga ada hari libur di kamus nya,”jawab Gita berusaha menenangkan sahabat berkepang dua nya itu.


Saat mereka sedang mengobrol itu tiba tiba Dion datang masuk dengan wajah datar nya menatap Tasya dan Gita, pria itu langsung memotong percakapan kedua orang itu.


“Ale lagi di rumah sakit, bunda nya di rawat.”jelas Dion tanpa babibu langsung ke inti nya.


Tentu Tasya dan Gita yang berusaha saling menenangkan tadi seketika menatap Dion dengan tatapan kaget nya, mereka memutar wajah nya ke arah sumber suara yang di mana Dion langsung duduk di samping Gita.


“Yang benar lu yon,”cicit Gita kesal kepada sang sahabat.


“Iyah Dion kamu yang benar, jangan aneh aneh deh,”ucap Tasya juga panik kepada Allea.


“Lu lihat muka gua lagi bercanda ga anj1r, ada ada aja lu. Hal gitu di bercandain ga logis yah,”kesal Dion kepada dua gadis itu.

__ADS_1


Kedua orang terlihat panik dan saling penasaran kenapa itu bisa terjadi sedangkan Dion juga tidak tahu sampai sekarang tentang cerita lebih tepat nya dia hanya di minta bantuan oleh Allea secara tiba tiba sambil menangis tadi malam datang ke rumah nya.


“Semalam Ale datang ke rumah, sambil nangis dia kan. Minta anterin ke rumah sakit di pusat kota kata nya ibu nya lagi di rawat, mana itu tengah malah udah hampir jam 12 an, gua kan lagi main game sama si bayu, Yaudah gua yang panik lihat dia nangis langsung gua anterin. Pas mau gua anterin sampai ke dalam, dia bilang Gausah sampai lobi aja dia takut gua di marahin sama bokap gara gara nganterin dia jam segini gitu, Yaudah dia mah ngotot gua jadi ga enak langsung balik aja gitu,”jelas Dion menceritakan itu dengan panjang lebar nya kepada kedua sahabat wanita nya itu.


Plak…


Sebuah pukulan ringan telayang di pipi Dion. Gita yang mendengar itu tampak kesal karena Dion bukan nya mencari informasi lebih lanjut malah mengiyakan saja apa yang di katakan Allea.


“Kau b0doh, bagaimana kau bisa meninggalkan dia Dion!!!! Ale pasti sekarang butuh seseorang untuk dia tempat berbagai cerita, dia sangat hancur sekarang, astaga kau ini!”teriak Gita menguncang tubuh Dion dengan kuat karena sungguh diri nya sangat kesal dengan tindakan apa yang di lakukan Dion itu.


Sedangkan Dion? Dia hanya diam menerima guncangan itu pasrah diri nya di bacotkan oleh Gita. Telinga emang terasa panas tapi kalau Gita yang mengomeli dia malah terlihat sangat suka dengan hal itu.


“Iyah Dion bagaimana ini? Apa kita harus ke rumah sakit nanti menemui Allea?”tanya Tasya kepada kedua teman nya itu meminta pendapat.


“Itu di pusat kota Tasya, kita tunggu kabar dulu. Atau aku yang akan mencari kabar dulu,”jelas Dion kepada kedua wanita itu.


Mereka terlihat mengangguk mengiyakan pendapat Dion, kali ini mereka setuju. Mana mau ujian kelulusan minggu depan, banyak yang harus mereka persiapkan walaupun mereka belum dari kelas unggulan. Tapi mereka tentu ingin masuk ke universitas favorit yang mereka idam idamkan juga bukan, orang tua mereka pasti tidak setuju harus keluyuran sejauh itu.


“Okey siap,”serempak mereka mengiyakan.


Disisi lain di rumah sakit….


Hiks… hiks…

__ADS_1


“Bunda bangun bunda, bangun! Bagaimana bunda hanya bisa terlelap jangan lama tidur nya bunda,”teriak Allea dengan suara pilu nya.


Tapi Tuhan berkehendak lain, sebelum nya dokter juga sudah menjelaskan kepada Ratna jika penyakit leukemia yang di derita suci adalah tingkat akut, yang di mana sangat susah di sembuhkan apalagi penyakit ini sudah lama dia derita tapi tidak ada tindakan sama sekali untuk pergi terapi atau pun berobat dari suci.


Drap… drap..


Langkah kaki seorang wanita paruh baya yang masih cantik dengan setelan cassualnya itu datang, langsung memeluk Allea yang menangis pilu di atas jasad sang bunda yang sudah tertutup kain putih.


“Ale, kau tidak apa-apa? Sayang sini,”ucap Ratna memeluk gadis muda itu sambil menahan tangisan nya, dia menahan suara pilu nya agar Allea tidak semakin terpuruk.


“Tante Ratna, tante, kenapa bunda pergi? Kenapa bunda pergi? Padahal baru semalam kita bercerita bukan? Kenapa bunda sekarang tidak menutup mata tante? Semalam bunda mengatakan hanya ingin tidur sebentar, tapi kenapa? Kenapa bunda masih belum bangun,”ucap Allea dengan suara serak karena suara nya yang sudah habis akibat menangis.


Suara tangisan pilu Allea seolah menjadi saksi kepergian sang bunda, para perawat yang melihat itu hanya bisa menduduk sedih. Kematian dan kelahiran bagi mereka yang bekerja di rumah sakit, tiap hari di rasakan. Rasa tidak tega dan kebahagian kadang datang sewaktu waktu secara bersamaan di rumah sakit.


Ratna mengeleng, dia menetaskan air mata nya tidak kepada putri sahabat nya itu. Maka Ratna lah yang lebih paham rasa nya di tinggalkan dua orang tercinta nya, tanpa memiliki siapa siapa lagi.


“Ale sudah tidak punya siapa siapa lagi tante, Ale sendiri, Ale sendiri,”teriak gadis itu.


“Sayang jangan menangis, jangan membuat bunda mu pergi dengan bara api yang panas karena tangisan mu. Masih ada tante sayang, tante juga keluarga mu, ada teman-teman mu juga, jangan menangis. Ingat bunda mu sayang, ingat,”ujar Ratna kepada gadis itu.


Ratna tidak pergi sendirian ke rumah sakit ada Joan yang juga menatap mereka saling berpelukan, pria itu tidak tega kepada Allea begitu juga istri nya yang padahal baru bertemu dengan sahabat nya itu harus pergi lagi.


“Maka aku lebih takut kematian bunda sendiri dari kematian diriku sendiri,”

__ADS_1


__ADS_2