
Brak…
Tubuh Allea di banting ke sebuah kloset duduk gadis itu terkapar tidak berdaya wajah nya lemas dan kaki nya tidak bisa di gerakan, sakit. Semua badan nya sungguh terasa sangat sakit rasa nya.
“Rifka? Aku salah apa? Aku memang menyukai Rian, tapi aku tidak merebut nya,”gumam Allea di sela sela rasa sakit yang dia rasakan.
“B4cot yah Le. Gua banting juga lu sekali lagi, guys siram itu pake air di sana,”teriak Rifka memerintahkan teman perempuan nya itu.
Dua orang itu terlihat langsung mengambil ember yang berisikan bekas pel an dari kamar mandi itu, dengan senyum miring Rifka melihat momen Allea di siram air.
Byur…
Air itu sangat basah membasahi tubuh Allea semua nya, dengan bibir gemetar Allea tidak dapat lagi mengatakan apa pun dia hanya berharap dalam hati, jika dia sekarang mati saja. Ya dia ingin hanya mati saja, menyusul kedua orang tua nya.
“Haha lagi pula siapa yang bakal nyariin lu, Heh Allea lu kan yatim piatu. Ga punya siapa siapa, jadi lu mati sampe busuk pun di sini ga ada yang peduli, bye.”tawa Rifka dengan renyah melihat keadaan mengenaskan wanita itu.
Mereka mengunci pintu itu tertawa bahagia lalu Riri membuang kunci itu keluar dari lantai 3 ke bawah semak semak entah di mana kunci itu berada, mereka tertawa bahagia lalu berjalan meninggalkan sekolah.
“Salah Ale apa bunda? Kenapa harus Ale? Cuman gara gara pria dia keji seperti itu? Ale tidak menggoda siapa pun,”gumam Allea dengan suara bergetar berusaha berdiri.
Gadis itu mengendor gendor pintu, lalu berusaha berdiri. Sampai akhirnya dia bersandar di pintu toilet itu lalu jatuh dengan pelan dan pingsan di sana, beberapa berselang itu Allea dapat mendengar suara ricuh di depan pintu.
Dia hanya berharap jika dia masih selamat, maka izinkan dia untuk melakukan hal yang lebih baik lagi. Allea berusaha agar hal buruk tidak terjadi, tapi dia salah, selalu dia yang salah.
Flasback off…
Brak…
__ADS_1
“4njing,”umpat Bagas dengan geram.
Ya begitulah kala Joan, Ratna, verell, serta Derell yang mendampingi Bagas di sana terlihat terdiam mendengar umpatan itu. Sungguh siapa yang memancing Bagas di versi lama nya ini.
Ayolah Bagas tidak pernah semarah ini sebelumnya dia selalu menahan segala nya entah kenapa tidak kali ini dia sangat emosi, Ratna berusaha menenangkan putra nya.
“Jadi mom? Apa aku tidak membunuh mereka saja?”sinis Bagas menatap sang mommy dengan mata tajam nya.
“Sayang, ingat mereka masih sekolah, lakukan yang semesti nya beri hukuman saja, seperti biasa, dengar kata mommy, Allea juga tidak suka akan hal ini.”jawab Ratna menegaskan.
Mereka selesai dengan pembicaraan singkat itu, Derell terlihat menatap tuan nya yang masih terduduk di kursi ruang tamu. Pria itu seolah memecahkan keheningan.
“Besok ada meeting pagi, sebaiknya tidur lebih cepat tuan,”jelas derell.
“Hmm siapkan saja, dan lakukan itu, lepaskan mereka, tutup mulut mereka tentang kalian,”tajam Bagas menatap asisten nya itu.
Pria itu memijit pelipis nya dengan pelan, entah kenapa karena masalah Allea diri nya sangat emosi. Hah gila? Tidak mungkin gadis itu, tidak mungkin dia menyukai seorang bocah ingusan bukan?
“Aku gil4,”gumam Bagas.
Pria itu berjalan menuju lantai atas di mana tempat kamar nya berada. Pria itu melewati kamar nya dan melihat kamar Allea, saking emosi nya dia sampai lupa melihat gadis itu, Bagas melihat Ratna yang setia menemani Allea dengan tidur di samping kasur nya sambil terduduk.
“Mom, bangun lah biar aku yang ganti kompres kan untuk mu,”jawab Bagas pelan.
Wanita paruh baya itu mengerjap pelan, dia menatap pelan putra nya, dengan tidak yakin Ratna kembali bertanya.
“Kau yakin? Dia sedang sakit, jangan memerahi nya ketika bangun yah, panas nya tinggi kau harus kompres setiap setengah jam sekali ya,”ujar Ratna tersenyum berlalu pergi keluar kamar.
__ADS_1
Bagas mengiyakan perkataan itu lalu mengangguk, dengan pelan pria itu duduk perlahan di kasur yang masih ruang nya tersisa dikit untuk duduk, dengan perlahan Bagas menyapu pipi gadis itu dengan tatapan datar nya.
Tidak ada reaksi apa pun selain rasa panas yang membakar tangan Bagas, wajah dan bibir gadis itu terlihat sangat pucat. Bagas sangat kasihan melihat gadis itu, entah kenapa diri nya sangat tidak terima jika Allea di perlakukan buruk oleh orang lain.
“Maafkan aku telat menjemput mu, harus nya tadi aku menunggu mu sampai balik saja. Ini semua salah ku, bagaimana aku bisa lalai menjaga mu, maafkan Bagas bunda,”gumam pria itu dengan sendu.
Bagas melihat pengingat yang di letakan bunda nya di atas meja, dengan tangan kekar nya pria itu menganti komperasan pada kepala Allea. Entah kenapa Bagas kali ini bisa melakukan gadis dengan selembut mungkin.
Menit berlalu dan jam pun berganti, awan hitam dan langit malam yang menutupi indah nya matahari terlihat muncul sedikit demi sedikit memancarkan sinar nya menembus jendela tempat Allea tertidur gadis itu mengerjap kan mata nya pelan merasa badan nya terasa sangat sakit.
Allea meringis pelan, hingga akhirnya seseorang yang membuka jendela pelan itu langsung memeluk Allea dengan bahagia melihat gadis itu sudah terbangun dari tidur nya.
“Sayang bagaimana perasan mu? Kau baik baik saja? Bagaimana? Coba katakan?”tanya Ratna secara beruntun kepada gadis yang baru terbangun itu.
Allea memegang kepala nya pelan, dia terlihat menatap wajah Ratna lalu memeluk gadis itu. Dia menangis sedu menatap Ratna sekali lagi, yang mana membuat Ratna malah ikut panik melihat tangisan Allea.
“Apakah masih pusing? Apa nya yang sakit sayang katakan kepada mommy? Jangan menangis, nanti mommy sedih,”tanya Ratna kembali dengan wajah panik nya.
Hiks… hiks..
“Allea tidak merasa sakit mom, hanya sedikit karena mereka memukul Allea. Allea menangis karena masih di berikan kehidupan, masih bisa menatap mommy,”ujar gadis itu dengan suara bergetar nya.
“Sayang apa maksud mu, tentu kau harus hidup! Karena semua keluarga kamu adalah keluarga mu, jangan katakan hal menyakitkan seperti itu,”tegas Ratna kepada Allea
Dengan tersenyum kecil dan wajah pucat nya Allea mengangguk cepat mengiyakan perkataan Ratna, dia masih bisa untuk terus hidu sesuai janji nya, Tuhan masih menyanyangi nya saat ini, gadis itu memeluk Ratna begitu pula Ratna.
“Tetap tersenyum Allea, senyum mu adalah senyum ku terhadap wira dan Shinta,”
__ADS_1