
Sudah hampir 4 hari Allea tidak memilih masuk ke sekolah nya, gadis itu selama itu hanya banyak bermenung di kamar sang bunda sambil berbaring mencium bantal yang biasa di pakai bunda nya, begitu lah kehidupan Allea selama beberapa hari ini.
Tapi hari ini mau tidak mau Allea harus datang ke sekolah nya untuk mengikuti ujian akhir semester nya, gadis itu datang ke sekolah dengan tatapan datar dan kosong. Wajah nya yang biasa nya tersenyum ceria dan lebar berubah datar.
Hanya tatapan sendu dari gadis itu, dan hanya tundukkan lesu yang di keluarkan Allea sepanjang jalan menuju kelas nya. Gadis itu berjalan perlahan memasuki ruangan ujian nya yang ternyata tetap di kelas nya saja.
Terlihat teman-teman Allea menyambut kedatangan Allea, karena pas saat itu jadwal ujian juga belum di mulai. Banyak ungkapan kata-kata duka dari teman teman sekelas Allea yang satu ruangan ujian dengan nya.
“Allea aku mendengar kabar duka itu.”
“Iyah Allea.”
“Allea yang sabar yah,”
“Ale semangat yah,”
“Allea aku turut berduka cita.”
“Allea kamu yang kuat ya,”
Begitulah ucapan yang terlontar dari beberapa orang di kelas itu, Allea yang menerima ucapan dari teman teman nya. Hanya bisa tersenyum kecil dan memberikan senyum riang nya sambil mengucapkan Terimakasih.
“Terimakasih teman-teman, aku baik baik saja kok,”senyum Allea dengan manis nya.
Gadis itu memang mengatakan hal seperti itu tapi lain dengan ungkapan hati nya yang malah berkata ’Sekalipun yang menyemangati ku orang satu dunia ini pun, kalau aku lelah ya lelah, tidak ada semangat,’ batin Allea.
Allea satu ruangan ujian dengan gabungan kelas IPS 4 jadi dia bertemu dengan teman teman kelas sebelah yang mengucapkan kabar turut berduka kepada nya juga, lalu Gita, Tasya menghampiri Allea yang ternyata mereka beda kelas.
__ADS_1
“Aleeeeee,”teriak Tasya dari depan kelas mereka.
Gadis berkepang dua itu langsung memeluk Allea dengan erat, dia seolah menyalurkan semangat nya kepada Allea sambil mengusap punggung gadis itu. Allea memang selalu menyukai Tasya tipe orang yang pemalu tapi dia tahu bagaiman membuat teman nya senang.
“Ale aku tahu sebagaimana pun aku dan Gita mengatakan yang terbaik untukmu, sekali nya kau masih sedih itu tidak akan merubah apa pun. Tapi ingat satu hal, kadang kami mengatakan kata penyemangat bukan tanpa sebab, kami juga mengingatkan jika kamu bukan sendirian, masih banyak orang yang sayang sama kamu Allea, ada aku dan Tasya jadi jangan sungkan ya?”ucap Tasya melepaskan pelukan nya menatap Allea dengan senyum manis nya.
Ayolah walaupun penampilan Tasya seperti itu, Allea yakin Tasya adalah sosok gadis cantik, hanya saja dia kurang memperhatikan penampilan nya. Allea yang melihat senyum gingsul manis dari Tasya membuat tersenyum juga tidak tahan.
“Iyah ada kami Ale jadi jangan merasa sendiri oke,”ungkap Gita menatap sahabat nya.
“Hei hei ada aku juga,”teriak Dion yang tiba-tiba baru datang melenggang itu dari luar kelas.
Dion dan Allea memang satu kelas saat ujian lalu Tasya dan Gita di kelas sebelah. Allea yang mendengar teriakan Dion itu membuat wajah nya teralihkan, begitu pula kedua gadis lain nya.
“Iyah Iyah kau juga, haha lalu Tasya itu,”tawa Allea kembali ceria.
“Kenapa yah Allea guys?”tanya Tasya berbicara menatap Dion dan Gita.
“Haha anj1r,”tawa Dion dengan keras.
Sekarang Tasya yang kebingungan karena melihat Dion dan Allea masih tertawa sedangkan Gita hanya mengeleng menatap kedua sahabat nya itu.
“Ck kalian ini bukan memberitahu malah ketawa saja, Tasya itu ada sisa sambal di gigi mu, dekat gingsul mu lagi,”jelas Gita memberikan kaca bedak nya kepada sahabat nya itu.
Tasya mengambil kaca itu dan memilih mengaca, dan benar saja ternyata ada bekas cabe di gigi gingsul nya itu Pantes saja temen temen nya tertawa apalagi pas banget di sana nya kan.
“Haha Iyah, ih ini gara gara nenek suruh makan nasi pakai sambal petai dulu tadi katanya biar semangat ujian nya,”kekeh Tasya mengingat nenek nya yang dia sayang itu.
__ADS_1
“Haha Pantesan anj4y, kok bisa pasti gitu kan jadi ngik ngik haha,”tawa Dion dengan lebay nya itu.
“Udah udah lama lama lebay juga ketawa lu,”ucap Allea dengan kesal kepada Dion.
Akhirnya mereka selesai mengobrol dan memilih memisahkan diri karena ujian akan di mulai, hari ini hanya ada dua jadwal ujian saja. Lalu beberapa jam berlalu ujian pun selesai, mereka memutuskan untuk pulang dan berpamitan masing-masing.
“Maaf yah ga bisa main dulu, aku nanti mau ke kebun, ga ada yang ngurus semenjak bunda ga ada, kalian mending belajar besok ujian fisiki loh,”ingat Allea kepada teman teman nya itu.
“Yaudah deh kalau ga bisa, kita ngerti kok Ale.”senyum Gita.
“Yaudah Ale, sori gua anterin Gita dulu kali ini yah,”ujar Dion.
“Gapapa santai weh, gua duluan yah dadah semua nya,”ucap mereka berpisah.
Allea menikmati jalanan sore hari menyisiri jalanan persawahan itu menuju ke rumah nya, gadis itu yang sampai ke rumah bertekad tidak boleh merasa sedih sedih lagi, dia memutuskan untuk mengambil cabe di kebun bunda nya yang akan di panen. Tanpa basa basi Allea menuju kebun ketika sore hari itu.
“Bunda bilang waktu itu ini mau di panen ya, aku harus petik sesuai yang di ajarin bunda kan ya,”ucap Allea mengambil keranjang untuk mengisi hasil petikan nya.
Kebun yang ditinggalkan milik ayah Allea cukup luas, berbagai macam ada di sana seperti tomat, cabe. Tapi karena modal yang terlalu besar bunda Allea hanya menanam sedikit untuk keperluan mereka dan di jual.
“Ini di jual biasa nya ke pak Marwan ya, apa besok aku anterin aja yah udah mau gelap soalnya,”gumam Allea menatap sekarang cabe yang ternyata banyak juga dia panen.
Allea sangat senang, dia tersenyum sambil mendorong gerobok menuju keluar kebun. Tapi tiba-tiba tepat di jalan kecil di depan kebun itu. Seseorang menunggu Allea di sana, gadis itu menatap seseorang yang dia kenal di depan nya itu.
“Hmm mau apa yah?”ucap Allea ingin menghampiri dengan tersenyum.
Tapi bukan nya senyuman juga yang di bales tiba-tiba wanita dua orang itu mendorong gerobok yang Allea bawa, membuat Allea ikut tersungkur di pematangan sawah sana.
__ADS_1
Bruk…