
“Ini gelang buat mommy Ratna.”
“Ini jam tangan buat daddy Joan,”
“Ini Sepatu buat Verell,”
“Terus ini dasi buat kak Bagas,”
Ucap Allea yang sedang mengeluarkan satu demi persatu barang yang dia bawa dengan paper bag nya tadi, terlihat Ratna dengan senang mengambil kotak yang berisi kalung pemberian Allea itu.
Dengan tersenyum manis Ratna memakai gelang itu dengan tatapan bahagia nya kepada Allea, wanita paruh baya itu mengangkat tangan nya lalu menunjukkan nya ke depan Allea.
“Ini sangat bagus Allea. Terimakasih Mommy akan memakai nya setiap hari, seharusnya kau tidak usah membelikan kami ini, kau bisa menyimpan nya untuk diri mu sendiri uang nya,”ucap Ratna yang sangat berterimakasih kepada gadis itu.
Allea yang menerima ucapan Terimakasih itu mengeleng dengan cepat membantah ucapan Eatna karena bagi nya membelikan keluarga William yang sudah sangat baik dengan barang kecil belum bisa menggantikan betapa banyak jasa yang telah di berikan mereka kepada Allea.
Verell yang melihat sepatu yang di berikan Allea itu membuat nya menaikan satu alis, dengan gay cuek nya Verell meletakan kembali sepatu di atas meja dengan tatapan mengejek nya kepada Allea.
“Kenapa mommy senang sih? Ini mah sepatu murahan, barang diskon semua ini, kita mampu membeli barang yang lebih bermerek dari pada ini,”ujar Verell mengejek Allea.
Gadis itu yang mendnegar ucapan Verell hanya bisa tersenyum, ya dia merasa tidak tersinggung sama sekali karena wajar wajar saja Verell adalah anak orang kaya, pasti barang murah seperti ini akan membuat nya berpikir dulu.
Ratna yang mendengar ejekan sang anak, dengan kesal langsung. Memukul pelan kecil kepala Verell, pria itu yang menerima pukulan sang mommy langsung meringis karena merasa kepala nya sedikit sakit.
“Aduh mom sakit,”keluh Verell kepada mommy nya itu memegangi kepala nya yang terasa benjol.
“Jangan hanya bisa mengejek El, tidak sopan! Allea lebih baik dari dirimu,”kesal Ratna kepada sang putra yang mencerca anak gadis nya itu.
__ADS_1
“Iyah belain aja terus, entah siapa yang anak kandung,”cicit Verell melihat sang mommy yang memasang wajah kesal itu.
“El! Jangan lihat dari harga nya, tapi lihat dari hasil dan jerih payah nya, setidaknya Allea mandiri dan menyisihkan sedikit uang nya untuk kita, ini dengan perasaan pemberian nya lebih berharga dari jam tangan Rolex mu itu,”tajam Joan kepada sang anak.
Verell yang sudah mendengar titah besar dari seorang Joan William seketika langsung terdiam, Ayolah kalian tahu bukan pria itu sangat sedikit dalam berbicara. Maka nya bicara panjang lebar seperti itu sangat jarang di lakukan oleh Joan, yang mana membuat Verell seketika terdiam mendengar itu.
“Iyah dad, maaf,”cicit Verell kepada pria itu.
“Jangan minta maaf ke daddy tapi Allea,”tajam Joan mengingatkan anak nya itu.
“Allea maaf,”manyun verell yang mana membuat Allea tekekeh melihat ekspresi pria itu.
“Iyah Verell tidak masalah, aku tahu kau pasti menjaga barang pemberian ku lebih dari siapa pun itu.”senyum Allea mengatakan itu.
Mereka semua tersenyum bahagia menerima kado hal yang begitu besar dari Allea, sedangkan di sisi lain terlihat di sana tiga orang pria di sebuah ruangan yang terdengar suara dentuman musik yang sangat keras.
“Ck kalian merepotkan! Jangan memberikan nya kepada ku lagi,”ketus Derell kepada Robert yang terkekeh seperti orang gila.
Sengaja Derell tidak minum banyak dan tetap sadar agar dia bisa mengantar tuan nya itu ke rumah begitu pun Robert, kalian tahu walaupun bodyguard milik keluarga William ada di sekitar sana, Bagas paling tidak suka selain Derell dan keluarga nya yang langsung berinteraksi dengan nya.
“A a aku sangat hebat,”kekeh Bagas mengangkat botol alkohol itu.
“Matamu kuat. Aku lebih kuat hehe, kurang banyak Bagas, ayo ikh,”ujar Robert yang cegukan itu.
Ayolah kedua orang itu sudah seperti orang gila dan berantakan, jas milik Bagas entah kemana hanya menyisakan baju kemeja putih yang kancing nya sudah di buka beberapa karena kepanasan, ruangan mereka banyak terdapat botol kosong yang berserakan alkohol.
“Kepala ku pusing,”gumam Derell memijit pelipis nya.
__ADS_1
Pria itu mengalihkan perhatian nya kepada jam tangan nya yang sekira nya sudah menunjukkan waktu hampir dini hari, Ayolah Bagas besok ada meeting penting. Dan ini semua gara gara Robert yang sudah mengajak pria itu untuk pergi minum.
“Dasar bule si4alan, kau pengaruh buruk untuk kamu,”ketus Derell mengetuk kepala Robert yang sudah mabuk itu.
“Ih Derell kok kepala acu di pukul ci, atit au,”cemberut Robert kepada sahabat nya itu.
“Bacot!”kesal Derell.
Mau tidak mau akhirnya Derell memanggil beberapa bodyguard nya untuk membopong kedua orang itu masuk ke dalam mobil dan langsung membawa nya ke mansion William saja, cukup melelahkan mengangkat pria mabuk seperti mereka yang terus meronta.
“Ketua sepertinya ada yang mengikuti tuan William, saat pertemuan tadi, tapi kamu sudah mengecek seperti nya tidak ada hal berlebihan, hanya tikus kecil belaka,”ujar seorang bodyguard di depan mobil Derell.
“Kau yakin? Selidiki lebih detail, jangan sampai terkecoh, akar William group ada pada kita, selidiki ke markas,”ucap Derell.
“Baik ketua,”tunduk pria itu.
Akhirnya Derell menutup pintu nya dan melajukan mobil nya menuju mansion William yang jarak tempuh nya tidak jauh hanya bekisar 15 menit saja, pria itu akhirnya menurunkan Bagas terlebih dahulu di bantu kepala pelayan di rumah itu.
Terlihat seorang wanita duduk di sana sambil menatap sebuah foto, suara berisik dari depan akhirnya membuat Ratna tersadar. Wanita itu melihat Derell yang kesusahan membawa Bagas yang tertidur.
“Kenapa kalian bau alkohol seperti ini?”tanya Ratna kepada Derell.
“Siapa lagi kalau bukan Robert nyonya yang memberikan pengaruh buruk ini,”jawab Derell dengan lelah nya.
“Arghh aku sampai lupa anak itu kan mampir tadi pagi kesini, kalian bawa Robert ke kamar Bagas. Sungguh bau sekali alkohol ini, Bagas kau menginap saja sudah malam juga,”ucap Ratna kepada pria itu.
Ya walaupun Derell adalah asisten Bagas dia sudah menganggap pria itu anak nya sendiri, Derell mengangguk mengiyakan perkataan Ratna, akhirnya setelah berpenat penat dahulu akhirnya berleha leha kemudian.
__ADS_1
”Aku tidur di sofa saja, ogah di peluk Bagas atau Robert.”