
Dering ponsel membuyarkan William dari lamunan panjangnya. Dia merogoh saku celana, menggeser tombol biru setelah melihat nama yang tertera.
"Hei, Le. Loe di mana?"
William mengerutkan dahi mendengar suara bersemangat dari ujung telepon.
"Indekost," jawabnya singkat.
"Ke Star Bar, sekarang. Gue sama Ginan nungguin loe!"
Baru saat itulah dia menyadari ada dentuman musik yang terdengar keras dan juga berisik dari sana.
"Oke." William menutup telepon, bangun dari ranjang dan meraih jaket Hoodie-nya dari gantungan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di bar yang sudah sangat dikenalnya itu. Di bagian depan pintu bar terlihat dua orang pria tinggi berotot dengan wajah sangarnya, tengah berjaga di setiap sisi. Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke sana tanpa pemeriksaan dan izin dari mereka.
William melirik mereka, memarkirkan motor besarnya dan menghampiri kedua penjaga itu.
"Malam, Tuan," sapa kedua penjaga dengan hormat dan serempak.
"Heem. Kabar terbaru?" tanya William pada mereka sembari menyalakan rokok yang sudah terapit di antara bibir tipisnya.
"Sejauh ini, aman, Tuan." Penjaga bernama Deck melaporkan.
William mengangguk puas. "Good. Di mana mereka?"
Memahami orang yang bosnya maksud, penjaga Ben menjawab," VIP dua, Tuan."
"Oke. Kerja dengan baik."
William menepuk bahu mereka untuk memberi semangat. "Siap, Tuan," jawab mereka dengan kompak.
Dengan langkah santai William memasuki bar, berjalan menuju lantai dua tanpa memedulikan tatapan memuja dari setiap wanita yang hadir di sana untuk bersenang-senang.
Hanya orang-orang dalam yang telah bekerja cukup lama di bawah naungan Star Bar-lah yang mengetahui dengan pasti tentang identitas William yang sebenarnya di tempat itu. Bahkan teman-temannya pun hampir tidak ada yang tahu, kecuali Ginan. Tentu saja itu semua karena koneksi keluarganya yang tidak dapat William remehkan.
Membuka pintu VIP-2, Robby bergegas bangun dari duduk untuk menyambutnya. Dia merangkul bahu William, membimbingnya untuk duduk di tengah-tengah mereka.
"Gue pikir loe gak bakalan datang, Le."
William tak menanggapi. Duduk dengan santai di sofa, dia menuangkan anggur merah ke dalam gelas, menggoyang-goyangkannya sebentar sebelum kemudian menyesapnya.
"Ada apa?" tanyanya tak acuh.
__ADS_1
Dia tahu jika teman-temannya tak akan memanggilnya tanpa ada alasan.
Ginan menoleh, menatap pemuda itu dengan tatapan rumit sebelum menjawab," bukan masalah besar."
"To the point!" tegas William, tak mau bertele-tele.
Ginan menyesap anggur di gelasnya. Ragu bercampur kesal karena sikap dingin William pada mereka, tetapi dia tetap mengutarakan keinginannya. "Datang ke pesta ulang tahun gue, Le. Gue--"
"Tidak!" tegas William, memotong langsung perkataannya.
Dia bangkit dan hendak pergi ketika suara Robby menginterupsi. "Ayolah, Le! Loe udah berkali-kali nolak untuk menghadiri acara Ginan."
William berbalik, menatap Robby dengan wajah muram. "Dan loe berdua tahu apa alasannya!"
Katakan itu, William langsung keluar tanpa memedulikan tatapan kecewa kedua temannya.
"Le! Dengerin gue dulu!" teriakan Ginan justru dibalas dengan bantingan pintu.
Keduanya saling memandang, lalu menghela napas. Mereka tahu mereka telah menyentuh titik sensitif pemuda itu!
"Udah sekian lama. Dan dia masih belum lupain itu?"
Robby mengedikkan bahu.
Sebenarnya mereka tak ada yang tega untuk memaksa William. Biar bagaimanapun mereka sadar akan alasan temannya tersebut sampai membenci acara-acara pesta seperti itu. Awalnya, mereka pikir kejadian itu sudah terjadi cukup lama dan kemungkinan William telah melupakannya. Kejadian tragis yang terjadi tiga tahun lalu, di mana mereka juga menjadi saksi mata.
"Aku akan membuatnya merasakan seperti apa kepedihan yang sesungguhnya!"
Kata-kata itu sungguh terjadi, tetapi tidak pada orang yang seharusnya, dan William yang justru harus menanggungnya!
Kejadian di pesta ulang tahun Ginan yang ke-25 waktu itu telah menjadi titik awal kehancuran bagi William. Hidupnya benar-benar berubah dramatis semenjak hari itu. Trauma, rasa bersalah serta penyesalan seakan terus menggerogoti jiwanya, menetap dan membebani setiap langkahnya, hingga terkadang dia merasa seperti sekarat. Semua hal yang perlahan membuat William sengaja mengubah jati dirinya itu, tak akan mungkin terlupakan begitu saja.
***
ROYAL HOTEL, TIGA TAHUN SEBELUMNYA.
Aula besar Royal Hotel hari itu telah disulap dengan sedemikian rupa hingga menjadi sebuah ruangan yang sangat mewah serta memukau di setiap mata para tamu undangan. Perpaduan Europe Classic menambah kesan elegan nan santai di malam yang cerah itu, membuat orang merasa betah untuk berlama-lama.
Tamu undangan yang hadir hampir semuanya pebisnis dan pejabat petinggi. William, Anan, Algo serta Robby adalah pengecualian, mereka dapat hadir karena telah menjadi teman-teman terdekat Ginan.
Beberapa tamu terlibat dalam obrolan bisnis, beberapa yang lain saling bercanda sembari menikmati minuman di tangan mereka. Ada yang dengan tulus datang untuk memberi berkat, adapula yang sengaja ingin memperluas koneksi meski mereka tak melakukannya secara terbuka. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pesta-pesta seperti ini adalah ajang serta tempat terbaik untuk mencari keuntungan.
Waktu hampir menunjuk pada pukul sepuluh malam ketika satu persatu acara telah selesai dipertunjukkan, dan kini telah memasuki sesi pemotongan kue ulang tahun.
__ADS_1
Ginanjar Wibisana, pemuda tinggi berwajah manis tersebut malam itu terlihat lebih tampan. Berbalut jas hitam berpadu dengan kemeja merah maroon, dia tampak lebih gagah dan dewasa. Para wanita muda di sana tak henti meliriknya, berfantasi penuh makna, meski Ginan dengan terang-terangan mengabaikan mereka.
Didampingi orang tuanya, Ginan berdiri sambil memegang mikrofon, senyum lebar menghiasi wajah tampannya.
"Terima kasih kepada tuan dan nyonya yang telah meluangkan waktu sibuknya untuk menghadiri acara saya yang terlihat kekanakan ini," ucapan jenakanya menggema di aula, membuat hampir semua orang tertawa.
"Mukanya terlihat jelek saat berbasa-basi seperti itu." Algo berkomentar.
Mendengar komentar itu, Robby mengangguk menyetujui." Tidak ada bakat sama sekali. Bukan kelasnya."
Anan menggeleng mendengar komentar keduanya. Tatapannya lalu jatuh pada William yang sedari tadi terdiam dengan wajah yang nampak begitu suram. Dia tahu pasti alasannya, tetapi memilih untuk diam karena tak ingin membuatnya merasa lebih canggung.
"Sungguh suatu kehormatan bagi saya. Semoga di masa depan keluarga kita bisa memiliki hubungan yang lebih baik lagi."
"Cih. Ujung-ujungnya ke bisnis juga," cibir Algo.
Anan terkekeh menyetujuinya.
"Orang seperti kita tak akan bisa mengerti seberapa pentingnya koneksi bagi mereka."
William turut berkomentar hingga membuat Anan terkejut.
Kini William merasakan bagaimana harus tersandung pada kata-katanya sendiri. Dulu, dia tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya dirinya akan menjadi bagian dari mereka juga.
Robby dan Algo mengangguk membenarkan ucapan William. kembali pada Ginan yang telah menyelesaikan beberapa patah kata dan berakhir menuju kue besar di sebelahnya.
Tepuk tangan bergemuruh dari setiap tamu sebelum datang satu persatu setelah Ginan menyelesaikan pidatonya. Ginan berjalan menuju kue besar di sebelahnya, memotongnya untuk diberikan kepada Tuan Wibisana, lalu mempersilahkan tamu undangan untuk turut menikmatinya.
Selesai menikmati kue, mereka datang satu persatu untuk memberi berkat serta ucapan selamat pada pemilik acara.
"Selamat ulang tahun, Junior Wibisana."
"Sukses untuk penerus masa depan."
Ginan tersenyum tipis, sanjungan serta pujian itu tak membuatnya merasa bangga. Dia tahu tak semuanya berkata tulus, beberapa di antaranya hanya basa-basi semata.
William tak tertarik sama sekali untuk turut menikmati kue ulang tahun. Dia murung, berulang kali mengecek arloji di pergelangan tangan kanannya. Sesekali menatap pintu, air mukanya terlihat sangat kecewa.
Tidak jadi datang? William menghela napas dengan dalam.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" gumamnya khawatir.
Ingatan tentang luka di wajah Karina sebelumnya membuatnya semakin cemas. Dia merogoh ponselnya dari saku celana, mencari nama Karina untuk menghubunginya.
__ADS_1
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif," jawaban operator membuatnya semakin gusar.
'Apa bos gila itu mempersulitnya lagi?'