
Pihak kepolisian meminta pernyataan satu persatu dari orang-orang yang terkait, seperti teman korban, saksi mata, pemilik acara dan juga orang-orang yang masih tersisa di perjamuan. Kamera pengawasan juga telah diambil alih oleh pihak berwajib. Tuan Wibisana beserta Ginanjar Wibisana, selaku penanggung jawab penuh atas acara tersebut, mereka telah bekerjasama dengan baik dan memberikan keterangan secara lugas.
Araya duduk dengan pandangan kosong, masih terlihat sangat terpukul. Perempuan itu bahkan harus berkali-kali meneteskan air mata di saat tengah memberitahukan tentang kesaksiannya pada polisi. Robby yang melihat itu semua pun merasa tak tega. Dia menghampirinya dan berdiri tepat di samping Araya. Kaki pemuda itu sudah terasa pegal tetapi perempuan yang tengah asik berduka itu tak kunjung menyadari keberadaannya.
"Minumlah." Merasa tak berdaya, Robby akhirnya memilih untuk membuka suara.
Araya mendongak, menatap sepasang netra hitam lelaki jangkung dengan rambut sedikit gondrong yang kini tengah menyodorkan sebotol air mineral kepadanya itu. Araya tentu mengingatnya. Dia salah satu teman baik Algo, seseorang yang dulu terlihat sering jalan berdua dengan orang yang belum lama ini berstatus sebagai kekasih sekaligus mantan untuknya tersebut.
Araya mengusap air mata, merasa miris dengan kisah cinta yang dia miliki.
"Terima kasih," ucap perempuan bermata sipit itu dengan serak. Robby mengangguk dan duduk di sebelahnya.
Algo Fahreza. Akhir-akhir ini nama itulah yang selalu bersemayam dan sering berkecamuk dalam benak Araya. Mulai dari sikapnya yang terkadang pecicilan, bibirnya yang begitu lihai dalam merayu perempuan, sikapnya yang tiba-tiba manis dan penuh perhatian, hingga kematiannya yang tak pernah terduga. Semuanya berjalan layaknya roller coaster, begitu cepat seakan-akan hanya terjadi dalam sekejap mata.
Araya ingat ketika semalam tiba-tiba saja Algo menelponnya. Algo menyatakan perasaannya, mengatakan bahwa dia telah jatuh cinta pada Araya dan berharap bisa bertemu saat itu juga. Perempuan itu tentu saja terkejut dengan pernyataan dan permintaan Algo yang terkesan tiba-tiba.
"Aku kirim lokasi dan nomor kamarnya, ya. Kumohon, datanglah sebentar saja. Kita memang baru bertemu tadi siang, dan entah kenapa aku sudah sangat merindukanmu," pintanya saat itu dengan suara memelas.
Araya tentu marah. "Hei, kamu gila, ya! Kamu baru saja menyatakan perasaan padaku, lalu dengan seenak jidat langsung memintaku menemuimu di sebuah hotel? Yang benar saja, Al!"
Saat itu Araya memang meragukan niat Algo. Jadi dia merasa kesal karena berpikir pemuda itu sedang berencana untuk bermain-main dengannya.
"Kamu terlalu banyak berpikir, Ara," jawab Algo dengan nada lembut. "Aku punya sesuatu untukmu, dan aku takut tidak memiliki kesempatan lagi untuk memberikannya langsung padamu." Entah kenapa, kalimat itu membuat Araya merasa takut. "Lagipula, ini perjamuan, Ara. Bukan pesta pribadi," lanjutnya, dengan nada membujuk.
Jika saja Araya tahu akan seperti ini akhirnya, dia tidak mungkin hanya mengiyakan dan menutup telepon begitu saja.
Karena masih ragu akan niat Algo, Araya sengaja mengulur waktu dan tak langsung pergi. Sepertinya saat itu Algo menyadari keraguannya, hingga tiba-tiba mengirimkan sebuah foto pada Araya. Itu adalah foto sebuah kotak beludru kecil berwarna merah, yang saat ini tengah digenggamnya.
Andai saat itu Araya datang lebih awal .... Araya menyesali sikapnya.
"Aku tahu ini berat untukmu, Ara. Apalagi untuk orang yang baru saja saling menaruh hati. Tapi, aku harap kamu bisa berlapang dada. Jangan bersedih terlalu lama. Algo tak akan suka," nasehat Robby.
Pemuda jangkung itu menatap langit-langit, menahan matanya yang kini terasa perih. Hari ini merupakan hari terberat untuknya juga. Untuk teman-temannya, terutama keluarga Algo yang masih berada di luar kota. Robby mengusap pelan rambut perempuan yang baru saja merasakan manisnya jatuh cinta itu, lalu dengan enggan pergi meninggalkannya.
Ketika semua orang diperbolehkan meninggalkan tempat kejadian, itu sudah lewat tengah malam. Anan adalah orang terakhir yang dimintai keterangan, setelah Robby dan William. Keempat pemuda itu baru saja bersiap-siap hendak pergi ketika tiba-tiba Anan melihat keadaan William yang tidak seperti biasanya. Dari wajahnya yang pucat pasi, dia tahu temannya sedang tidak baik-baik saja.
"Le, elo enggak kenapa-napa, kan?" tanyanya, khawatir.
Ginan dan Robby yang sudah mulai beranjak pun menghentikan langkahnya, menoleh pada dua orang yang masih duduk sembari berbincang itu.
"Tidak apa-apa. Gue hanya sedikit lelah," bohongnya.
__ADS_1
Sedari tadi sebenarnya William telah memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Pikiran tentang kematian saudaranya tiga tahun lalu, serta apa yang terjadi pada Algo beberapa waktu lalu tak akan pernah bisa membuatnya tetap tenang. Namun, dia tak ingin membuat teman-temannya merasa lebih khawatir lagi. Karena itu, sebisa mungkin dia berusaha keras untuk menutupi keadaannya.
"Kamu yakin, Le?" tanya Anan lagi.
William tersenyum tipis lalu mengangguk dengan ringan. Dia baru saja berdiri, tangannya hendak meraih Anan untuk mengajaknya pergi ketika tiba-tiba merasakan kepalanya sakit luar biasa. Tangannya menggantung di udara, pandangannya menjadi semakin gelap. Tubuh William tidak bisa lagi berbohong, dia limbung dan jatuh dengan keras ke lantai.
"Le!" Ketiganya berteriak terkejut.
Ginan dan Robby bergegas menghampirinya.
Dengan bantuan Robby, Anan mencoba mendudukkan William dan menepuk-nepuk kedua pipinya. Sayangnya, pemuda itu tak bereaksi sama sekali.
"Bawa ke mobil gue aja," perintah Ginan yang langsung dibalas anggukan oleh keduanya.
Robby bergegas membantu Anan mengangkat tubuh tinggi tegap William, membawanya masuk ke dalam mobil dengan hati-hati.
"Biar gue aja yang bawa motornya. Lo temenin Bule," saran Robby kemudian.
Anan mengangguk menyetujui, lalu melemparkan kunci motor padanya.
***
William baru akan bangun untuk pergi ke kamar mandi ketika pintu kamar dibuka secara perlahan.
Wajah Anan muncul, tangannya tengah sibuk menenteng dua kotak nasi. Melihat William yang sudah terbangun dan menatapnya, dia pun dengan senang menghampiri.
"Masih sakit, Le?" tanyanya. Dia mengambil segelas air putih dan memberikannya pada William.
William menerimanya, lalu meneguk setengah gelas air itu dan mengembalikannya pada nakas.
"Sedikit pusing. Yang terjadi semalam?" William ingin memastikan.
Anan merenung sejenak, menatapnya dengan iba.
"Gue tahu ini berat untuk kita semua, Le. Tapi kita harus bisa terima kenyataan. Hasil otopsi akan keluar sore nanti. Keluarga Ginan udah datang, dan mereka berencana membawa pulang jenazahnya."
Ternyata memang bukan mimpi. Sesal William dalam hati.
"Semalem, kamu bawa aku pulang sendirian?" Dia mengalihkan topik.
"Dianter sama Ginan," jawabnya. "Sarapan dulu, terus minum obat. Dokter resepin obat buat Lo. Syok, tekanan darah rendah. Gue udah tebus obatnya," terangnya kemudian sembari membuka kotak makan dan menyiapkan minuman hangat untuk William.
__ADS_1
Aroma sedap bercampur harum dari bubur ayam langsung masuk ke rongga hidung William, membuat perutnya berbunyi.
Dia lapar. Dia ingat dari sore kemarin dia hanya minum sedikit anggur, belum menyentuh makanan sama sekali.
Dia turun dari ranjang, berdiri untuk pergi ke kamar mandi saat dilihatnya matahari sudah tersenyum dengan cerah melalui kaca jendela. Ternyata dia tidur cukup lama.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, William bergabung dengan Anan untuk memulai sarapan. Mereka duduk berhadapan.
"Sorry, udah ngerepotin elo," ucapnya tiba-tiba.
Mendengar kata-kata William, Anan melotot tak suka. "Lo ngomong apaan, sih? Lo lupa apa yang udah Lo lakuin buat gue selama ini?"
William tak menjawab. Dia memilih menyibukkan diri dengan makanannya. Penasaran dengan hal yang lain, dia menggunakannya untuk mengalihkan pembicaraan. "Gimana kabar soal penyelidikan?"
Anan berhenti untuk menelan makanannya.
"Kabarnya pelaku terlalu pintar. Tidak ada sedikitpun barang bukti, bahkan kamera keamanan semua telah dirusak." Dia menjeda sejenak. "Nggak ada yang nggak terkejut dengan kejadian ini. Algo nggak pernah punya musuh dan nggak habis nyinggung orang juga."
William tahu itu. Di antara mereka, Algo adalah sosok yang paling pandai bergaul.
"Ini seperti sebuah peringatan," lirihnya tiba-tiba.
"Maksud Lo?" Anan bingung.
William tidak tahu kenapa tiba-tiba dia memiliki pemikiran seperti itu, dan tak ingin menyembunyikannya dari Anan.
"Pelaku tidak punya motif yang jelas. Kemungkinan tujuannya melakukan hal itu adalah untuk memperingatkan seseorang."
Di seberang, Anan terpaku sembari mencerna kata-kata William. Apa yang dikatakan oleh temannya itu masuk akal.
Masalahnya, untuk siapa peringatan itu ditujukan?
"Jangan hanya karena kasus ini mirip sama yang terjadi sama Calvin, terus lo jadiin beban pikiran buat lo, Le. Kejadian itu sudah cukup lama. Saudara lo nggak akan senang lihat lo kayak gini. Lagipula, selama ini kita nggak pernah nyinggung orang, kalo lo pikir hal ini ditujukan sama kita," nasihatnya, seakan-akan telah membaca isi pikiran William.
William menatapnya sejenak, lalu mengangguk ringan. "Hmmm."
Benarkah dia tidak menyinggung seseorang? William ragu.
"Lagipula, lo masih punya gue, Le. Ada Ginan, Robby, dan juga ...." Sebenarnya Anan enggan menyebutkan nama itu. Entah kenapa, Anan selalu merasa bahwa wanita itu tak sesederhana kelihatannya. Dia yakin ada yang disembunyikannya, entah apa.
"Lo punya Karina."
__ADS_1