CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
MAWAR


__ADS_3

Tragedi ulang tahun belum sepenuhnya hilang dari ingatan William. Keadaan itu membuatnya ragu untuk membiarkan Anan tinggal sendirian. Pikiran-pikiran buruk seringkali melintas, takut jika hal yang sama terjadi pada teman rasa saudaranya itu.


Dia tak sanggup jika harus melihat hal seperti itu terjadi lagi!


Semenjak kejadian yang menimpa Algo, William menjadi seperti seorang paranoid. Bagaimanapun, hal itu bukan yang pertama kalinya dia saksikan. Traumanya lebih dalam, hingga membuatnya lebih protektif. Belum lagi jika mengingat kondisi tubuh Anan yang lemah. Penyakit asma akut yang diderita sahabatnya itu bisa saja kambuh sewaktu-waktu.


"Rapi amat, Le. Udah nyaingin hostnya dahsyat aja. Mau ke mana, sih? Kencan, apa kondangan?" candaan Anan membuyarkan dilema William.


William mendengus melihat Anan tengah memindai tubuhnya dengan tatapan heran.


Dia memilih mengabaikan tingkah temannya itu, dan berpikir apakah harus menjelaskan niatnya untuk Karina. Biar bagaimanapun, Anan adalah satu-satunya orang yang bisa dia anggap keluarga. Dia juga berharap agar Anan mau bergabung bersamanya. Setidaknya, dengan Anan bersamanya, William akan merasa lebih tenang dan nyaman.


"Nan. Lo ikut gue, ya."


Anan menggaruk kepala, bingung mendengar permintaan William.


"Emang lo mau ke mana, sih, Le? Kalau kencan nggak mungkin ngajak-ngajak gue, kan? Kecuali Lo mau jadiin gue kambing congek."


"Cerewet amat, sih." Anan nyengir.


Sebenarnya William ragu untuk mengungkapkan niatnya pada temannya itu. Entah kenapa, dia sendiri merasa bahwa keputusan yang telah diambilnya itu memang terkesan terburu-buru dan terlalu gegabah. Meski begitu, dia tidak mungkin diam dan menyembunyikan semuanya. Karena dia sudah menganggapnya sebagai saudara, maka Anan berhak untuk mengetahuinya.


"Nan. Gue ... mau lamar Karina," ucapnya ragu.


"Apa?!" seru Anan, matanya melotot tak percaya.


Dia merasa bahwa William benar-benar sudah gila. Hubungan mereka baru terhitung hari, tetapi William sudah berani mengambil keputusan yang begitu besar. Haruskah dia bertepuk tangan dan mengucapkan selamat? Tidak mungkin!


"Lo bilang apa tadi? Ngelamar? Gue nggak salah denger, kan, Le?" Anan masih ingin memastikan.


William tidak begitu terkejut melihat reaksi Anan. Dia tahu keputusannya memang sulit dipercaya, mengingat hubungan yang baru saja terjalin bersama Karina. Namun dia tidak mungkin menarik kembali keputusannya. Dia sudah terlanjur berjanji. William bukan tipe orang yang akan menarik kembali kata-katanya.


"Gue serius, Nan," katanya tak bersemangat.


William kira dia akan merasa nyaman setelah memutuskan untuk melamar Karina, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Dia gelisah.


"Lo gila, Le. Sumpah! Lo itu impulsif banget, tau nggak!?" bentaknya.


William tahu Anan pasti akan marah padanya. Namun, janji sudah terlanjur terucap, dan tidak mungkin dia membatalkannya. Apalagi Karina dan ayahnya sudah menunggu kedatangannya. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dikatakannya.


William tidak menyadari jika keputusannya hari itu hanya akan membawa petaka berkelanjutan. Jika tahu, William bersumpah bahwa lebih baik dia membatalkannya dan memilih dianggap sebagai seorang pecundang.


"Gue pikir ini jalan terbaik biar dia merasa nyaman dan nggak ketakutan sendirian, Nan."

__ADS_1


Alasan itu membuat Anan tertawa geli. Dia mengejeknya. "Ha ha ha! Benar-benar udah buntu banget, ya, Le. Jalan yang lain udah nggak mungkin buat bisa dilewatin, bukan?" cibirnya.


William terdiam, tahu dia salah. Meskipun begitu, dia masih berharap Anan mau ikut dengannya. "Lo, beneran nggak mau ikut sama gue, Nan?"


"Semoga sukses!" jawabnya sinis. Anan menyambar jaket Hoodienya, meninggalkan William yang pikirannya tengah kacau.


"Jangan pergi sendirian, Nan! Ajak Robby!" teriaknya, khawatir.


Akan tetapi, Anan sama sekali tak menanggapi. Dia berjalan tanpa menoleh lagi, wajahnya dipenuhi dengan emosi. Dia tak mengerti, kenapa sahabatnya bisa sampai sedungu itu.


"Kalau cinta cuma bikin goblok kayak gitu, mending jangan pernah mengenalnya sama sekali, Le," omelnya sembari menyetop taksi.


Di mata Anan, jika mencintai hanya berujung menyakitkan, lebih baik dilupakan.


***


"Pak, berhenti di depan sebentar, ya," pinta William pada sopir taksi yang ditumpanginya.


"Baik, Mas." Sopir itu mengangguk sopan.


Taksi berhenti di depan sebuah toko bunga bernama TroubleFlower. William memasuki toko yang memiliki nama unik dengan tiga pemilik tersebut, dan langsung disambut dengan ramah oleh salah satu pemiliknya.


"Selamat datang di toko kami," sapa perempuan berwajah khas Sunda itu dengan senyum ramah.


"Ada yang bisa dibantu, Mas?"


Melihat raut bingung William, pemilik berhijab datang dan dengan sopan menawarkan bantuan padanya. William menoleh, menggaruk kepalanya sembari tersenyum kikuk. Ini pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun hidupnya, dia harus memilih bunga selain bunga untuk pemakaman.


"Bingung ya, Mas Bule? Butuh referensi?" tanya perempuan berhijab itu dengan sabar.


William mengangguk malu. "Boleh, Mbak."


Perempuan berhijab itu tersenyum melihat tingkah kikuk William.


"Boleh tahu ingin memilih bunga untuk siapa? Atau, untuk acara tertentu, mungkin?" tanyanya lagi dengan sopan.


William mengatakan tujuannya dan mendeskripsikan tentang wanita seperti apa kekasihnya. Perempuan itupun mengangguk paham. Dia membawa William ke tempat berbagai macam bunga mawar ditaruh.


"Milih bunga itu sebenarnya ndak begitu susah kok, Mas Bule. Tinggal dilihat-lihat, ada yang menarik, langsung pilih. Kalaupun salah, enggak terlalu merugikan juga. Beda lagi kalo kita milih pasangan. Terkadang kita terlalu dibutakan hingga lupa mengenalnya dengan baik, dan ujungnya justru bertindak sembrono. Bisa-bisa kayak milih kucing dalam karung. Ngawur, dan yang rugi diri sendiri. Milih pasangan itu, kan, untuk sekali seumur hidup, ya, Mas Bule."


Perempuan itu terus saja mengoceh tanpa jeda, tak menyadari raut jelek dari pembelinya. William mengangguk, merasa tersinggung tetapi tetap berusaha menampilkan wajah tenangnya.


"Kalau pacar Mas Bule, pasti cantik luar dalam kan, ya?" tanyanya setengah bercanda.

__ADS_1


William tersenyum canggung, dan sekali lagi hanya bisa mengangguk. Sedari tadi hatinya sudah merasa tertampar. Kata-kata itu seakan-akan sengaja diucapkan untuknya. Jika saja mereka sudah saling mengenal sebelumnya, William sudah yakin kalau perempuan itu sengaja untuk menyindirnya. Atau sebenarnya, justru mengingatkannya?


Perempuan berkulit kuning langsat itu menunjuk bunga mawar satu persatu, dan menjelaskan tentang makna yang terkandung dari masing-masing. William memilih tiga tangkai mawar putih. Dia tertarik setelah perempuan itu menjelaskan bahwa mawar putih melambangkan sebuah ketulusan dari seseorang.


"Tata yang cantik, ya, Dud."


Perempuan itu memberikan bunga tersebut pada seorang pemuda berwajah chubby, yang terlihat seusia dengan William. Dia lelaki satu-satunya dan yang termuda pula di toko bunga itu.


Pemuda bertubuh tinggi itu pun mengangguk." Siap. Terima beres, Mbak," ucapnya, langsung menata mawar tersebut.


"Duh, seneng deh punya kamu, Dud," goda perempuan itu, yang dibalasnya dengan kekehan.


Setelah menerima bunga yang sudah dirangkai dengan rapi, William pun langsung membayarnya.


"Terima kasih atas kunjungannya. Selamat datang kembali di lain hari," ucap ketiganya serempak.


"Memang unik," gumam William, tersenyum geli meninggalkan toko tersebut.


Selama di perjalanan, William terlihat sangat lelah. Dia menyandarkan kepalanya di jok mobil, matanya terpejam. Wajah pemuda itu nampak kusut karena pikirannya sedang gelisah. Kata-kata perempuan berhijab itu mampu mengusik ketenangannya.


"Apa aku juga termasuk dalam kategori orang yang memilih pasangan seperti membeli kucing dalam karung, ya?" gumamnya.


Jawabannya, iya. Namun William menyangkalnya. Dia menggeleng, merasa sudah mengenal Karina cukup lama. Setidaknya, satu tahun bukan waktu sebentar, batinnya. Meski pada kenyataannya, dia tidak mengetahui sedikitpun tentang seluk beluk Karina. Karina seperti wanita yang ... bebas.


William mendesah. Untuk melamar Karina, dia bahkan tak meminta pertimbangan dari teman-temannya.


"Lagipula, ini hanya sebuah lamaran, bukan? Kita tidak harus langsung menikah," putusnya.


Dengan pemikiran seperti itu, hati William menjadi lebih tenang.


"Mas, udah nyampe," seru sopir taksi, karena sedari tadi tak mendapat tanggapan dari penumpangnya.


William terkesiap dan langsung membuka mata. "Oh, iya, Pak."


Terlalu asyik dengan lamunannya, dia sampai tak menyadari jika taksi sudah berhenti sejak tadi. Seusai membayar, William turun dan mengucapkan terima kasih pada sopir taksi. Sopir itu mengangguk dan meluncur pergi.


Rumah tanpa pagar berlantai dua itu tidak terlalu mewah, tetapi dari luar terlihat sangat nyaman. Halamannya yang tidak terlalu luas ditata rapi menjadi sebuah taman. Di taman kecil tersebut terdapat sebuah kolam ikan hias.


Berdiri di tempat sebelumnya, William menatap sekeliling dan menarik napas panjang. Dia kembali memejamkan mata, berusaha meyakinkan dirinya yang tiba-tiba menjadi grogi dan tak yakin. William melangkah, menuju pintu dengan keraguan.


Pemuda itu baru saja hendak mengetuk pintu ketika tiba-tiba merasakan telah menginjak sesuatu. William menunduk dan terkejut melihat benda tersebut.


"Ini, apa?"

__ADS_1


__ADS_2