
CINTA SANG MAFIA 24
ANAN DAN ZIYA
"Mas Bule, nggak makan siang?" tanya Ning Ziya merasa khawatir. Sedari pagi pemuda itu terus saja mengonsumsi kopi. Sudah terdapat tiga buah cangkir kosong di sana, bahkan asbak pun hampir penuh oleh putung rokok.
William mengangkat kepala, menatap gadis yang telah mengkhawatirkannya itu. Dia tersenyum tipis. "Aku akan makan jika merasa lapar," jawabnya.
Ning Ziya memberengut. Dia tahu pemuda yang dulu pernah sedekat saudara dengannya itu tengah banyak beban pikiran. Dan seperti biasa, dia tidak akan pernah mau berbagi. William benar-benar menutup dirinya selama tiga tahun terakhir ini.
Sebuah pemikiran tiba-tiba saja melintas di benaknya. Dia yakin, untuk kali ini William tidak akan menolak tawaran makan siangnya lagi.
"Tapi, Mas Bule. Mas ...."
"Aku lebih tahu tentang tubuhku sendiri, Ning. Kamu tidak perlu khawatir," potong William dengan ketus.
Ning Ziya cemberut, belum mau menyerah. Dia harus mencapai tujuannya, membuat William makan siang. "Kamu memang benar. Hanya saja, Mas Anan pasti akan sedih kalau tahu Mas Bule ndak bisa menjaga diri sendiri. Mas Anan bilang ...."
"Oke, cukup!" potong William lagi. Pemuda itu menghela napas, pasrah. "Gue mau makan."
Ning Ziya tersenyum senang. "Mas Bule mau dibikinin apa?"
"Gado-gado saja," jawabnya singkat.
Permintaan William membuat senyum Ning Ziya memudar. Itu makanan kesukaan Anan.
Meski begitu, dia tetap mengangguk dan pergi ke pantry untuk membuatkan makanan tersebut. Meski hatinya sedih karena harus mengingat kenangan bersama Anan, tapi Ning Ziya harus tetap profesional. Setidaknya, dia telah berhasil membujuk William untuk makan siang.
Ning Ziya mendongak menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca. "Apa kamu bahagia di atas sana?" ucapnya dengan senyum pilu.
Tiga tahun telah berlalu, tetapi perasaan itu masih tetap bertahta dengan kuat. Sampai saat ini, Anan belum bisa tergantikan.
Ning Ziya kembali dengan sepiring gado-gado dan segelas lemon tea. Dia menurunkan makanan tersebut sembari menghela napas panjang. Cangkir kopi keempat telah kosong, dan sebatang rokok sudah tersulut kembali.
__ADS_1
"Mas Bule, Mas Anan akan sangat sedih jika melihatmu seperti ini."
William hanya meliriknya sekilas. Dia mematikan rokoknya, lalu mengambil sepiring gado-gado itu dan perlahan mulai memakannya.
Ning Ziya mengedikkan bahu, tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa. Dia memilih untuk pergi meninggalkan pemuda yang usianya enam tahun lebih tua darinya itu. Ning Ziya kembali menyibukkan diri di pantry bersama karyawan-karyawannya. Meski begitu, sesekali dia masih memperhatikan orang yang sampai sekarang masih dianggapnya sebagai seorang kakak tersebut.
Jika menengok ke masa lalu, perasaan Ning Ziya pun tak kalah hancur. Dia jatuh cinta di usia yang masih begitu muda, tetapi harus menelan kenyataan pahit karena orang yang dicintainya pergi terlebih dahulu bahkan sebelum benar-benar berhasil dia rengkuh.
"Jangan terlalu berharap pada suatu hal yang tidak pernah pasti, Zizi. Buka hatimu untuk hal yang sudah pasti jelas. Atau jika tidak, kamu akan menyiksa dan menyakiti dirimu sendiri. Berhentilah sebelum hal itu terjadi. Aku tak ingin melihatmu terluka."
Permintaan Anan agar dirinya berhenti memiliki perasaan terhadap pemuda bijak tersebut tidak pernah Ning Ziya lupakan sama sekali. Hanya saja, jika hati sudah memilih untuk menetap pada satu tempat, apa yang bisa dia lakukan? Ning Ziya sadar bahwa itu menyakitkan, tetapi memiliki perasaan terhadap Anan adalah hal yang tidak akan pernah dia sesalkan.
Ketika Anan dengan tegas memintanya untuk tidak pernah memiliki keinginan lebih dan memilih menjadi seorang sahabat, Ning Ziya pikir dia pasti bisa melupakan sosok itu secara perlahan. Namun, ketika untuk pertama kali kecelakaan terjadi pada Anan tepat di depan matanya, dia sadar bahwa pemuda itu sangatlah berarti.
"Mas .... Bangun, Mas Anan. Jangan seperti ini. Ziya takut. Jangan tinggalin Ziya!"
Perasaan sakit ketika melihat Anan menutup mata saat dalam perjalanan menuju rumah sakit saat itu masih bisa Ning Ziya rasakan sampai sekarang. Hal itu memang tak seberapa jika dibandingkan dengan kepergian Anan. Namun kejadian itu telah membekas dalam dibenaknya, karena untuk pertama kali dia mengalami seberapa takutnya merasa kehilangan.
Beruntung saat itu keadaan Anan baik-baik saja, meski pada akhirnya Tuhan tetap menjemputnya dengan cara yang berbeda.
Suara pintu dibuka membangunkan William pagi itu. Meski gerakan orang itu sangat berhati-hati, nyatanya masih bisa mengusik pemuda tersebut. Semenjak kematian Algo, tidur William memang tidak pernah bisa tenang. Dia menatap seorang gadis manis yang baru saja masuk dan terlihat kikuk tersebut, dengan tangannya yang masih terlipat di dada.
"Mas Bule, maaf. Ning Ziya ganggu, ya?"
William bangkit dari kursi, lalu meregangkan tubuh serta lehernya yang terasa kaku. "Kamu datang pagi sekali?" tanyanya dengan suara sedikit serak.
Ning Ziya tersenyum malu. "Aku khawatir sama Mas Anan," katanya.
William menatap wajah merona gadis itu, lalu meninggalkannya ke kamar mandi. "Sebentar lagi dia juga bangun," katanya, lalu masuk dan mengunci pintu.
Ning Ziya memerhatikan pemuda yang terbaring di ranjang dengan wajah pucat itu. Masker oksigennya sudah dilepas semenjak pemeriksaan subuh tadi. Anan mungkin tidak setampan dan setinggi William. Namun, dia memiliki daya tarik sendiri, terutama wajahnya yang seratus persen wajah asli orang indonesia itu. Dia terlihat rupawan, terutama di mata gadis yang baru saja merasakan manisnya jatuh cinta.
"Zizi. Kenapa kamu di sini?"
__ADS_1
Pertanyaan itu membuyarkan Ning Ziya dari lamunannya. Zizi adalah panggilan sayang Anan untuknya.
"Mas Anan sudah bangun?" Ning Ziya tersenyum manis, merasa senang melihat kondisi Anan yang semakin membaik.
Anan mengangguk lemah padanya. "Nggak kuliah?" tanyanya dengan lembut.
"Kuliah kok, Mas. Masuk agak siang. Lagian ini juga masih jam tujuh," katanya.
"Kenapa pagi-pagi udah ada di sini?" tanya Anan lagi
Ning Ziya tersenyum canggung. "Aku tadi bikinin bubur buat Mas Anan," jelasnya, sembari menunjukkan rantang makanan yang dia bawa. "Aku mengantarnya mumpung masih hangat. Mas Anan sarapan, ya. Aku siapin."
Gadis itu dengan senang hati langsung membuka dan menyiapkan makanan, bahkan tanpa menunggu persetujuan dari Anan. Dia melakukannya dengan sangat cekatan. Aroma sedap dan harum seketika mengepul di udara, masuk ke penciuman Anan dan membuatnya merasa lapar.
"Mas Anan kumur dulu, ya," pinta Ziya sembari memberikan segelas air padanya. Dia menunggui Anan dengan sebuah baskom, meminta Anan untuk memuntahkan bekas kumurnya di sana tanpa rasa jijik. Setelah itu, Ning Ziya menyingkirkan baskom tersebut. Dia mengambil semangkuk bubur yang sedari tadi sudah dia siapkan, dan membawanya pada Anan.
"Aku suapin, ya. Mas Anan masih lemas, kan?" tawar Ziya. Anan baru saja hendak menjawab ketika terdengar suara deheman dari arah kamar mandi.
Mereka menoleh bersamaan. Ternyata William sudah keluar dari kamar mandi. Dia menyandarkan punggungnya pada dinding, memerhatikan interaksi akrab keduanya.
"Berasa jadi obat nyamuk, gue," sindir William.
Ning Ziya tertunduk, wajahnya merona malu. Sedangkan Anan memberengut tak senang menatap William.
"Dia udah gede. Kasih buat makan sendiri aja." William mengambil semangkuk bubur dari tangan Ning Ziya, memberikannya pada Anan. "Mas Anan nggak akan pingsan cuma gara-gara makan sendiri," sindirnya.
Ning Ziya terdiam sembari menunduk, tak berani menjawab perkataan William.
"Biarin dia sarapan dulu. Kita ke luar sebentar. Ada yang harus kita bicarakan," ajak William pada Ning Ziya. Gadis itu mengerti. Dia mengangguk menyetujui.
"Mas Anan habisin buburnya dulu, ya. Zizi mau ke luar sebentar," pamitnya, yang langsung dibalas anggukan serta senyuman oleh Anan.
"Ngobrolnya nanti lagi aja!" seru William.
__ADS_1
Ning Ziya menunduk malu. Dia melangkah mengikut pemuda itu ke luar dari ruangan.