
William kembali terkekeh melihat tingkah konyol Karina. Dia menebak, Karina pasti sedang berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, hah? Dasar mesum!" candanya yang langsung mendapat pelototan dari Karina.
"Ha ha ha!" Pemuda itu terbahak. "Melihat matamu yang sudah bengkak dan hitam seperti mata panda itu, aku yakin semalaman kamu pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak. Apa aku benar, heem?" tanyanya sembari menelengkan kepala.
Karina tersipu malu, wajahnya merona setelah mendengar penjelasan dari William. Dia pun mengangguk mengiyakan tebakan kekasihnya tersebut, dalam hati mengumpat pada dirinya sendiri.
'Dasar bodoh! Sempat-sempatnya kamu berpikiran kotor seperti itu, Karina,' rutuknya. Dia memang sempat mengira bahwa William ingin memaksa untuk bercinta dengannya.
"Come on," ajak William, menarik kembali tangan Karina.
Karina yang wajahnya masih memerah pun mengangguk dan mengikuti langkah William memasuki kamar tidurnya. William membimbing Karina ke tempat tidur, mendudukkan wanita itu di tepi ranjang dan meninggalkannya untuk mengambil segelas air putih.
"Minum dulu, lalu cuci muka," perintahnya.
Karina menurut. Seperti seorang anak kecil, dia melakukan perintah William dengan patuh. Setelah minum setengah gelas, dia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Dia juga membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih longgar.
William yang sedari tadi menunggunya sembari bersandar di ranjang pun tersenyum melihat Karina keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar. Dia menepuk-nepuk bantal di sebelahnya, meminta pemiliknya untuk berbaring di sana.
"Kemarilah. Aku akan menemanimu sampai kamu tertidur," katanya dengan sabar.
Karina mendekat dan langsung membaringkan tubuh mungilnya di samping William.
William membuka lebar lengannya, mengisyaratkan agar Karina tidur di sana.
Karina pun bergeser. Dia merebahkan tubuhnya di atas lengan kekar William. Dia merasa lebih nyaman berada di sana, meski lengan William tak lebih kekar dari milik lelakinya itu.
Karina menatap langit-langit, mencoba untuk memejamkan mata tetapi tak bisa. Merasa kurang nyaman, dia memutuskan mengubah posisinya menjadi miring, lalu tanpa canggung memeluk erat tubuh William.
William mengecup lama rambut Karina. Sedari tadi dia terus memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa terus bersama Karina dan tidak membiarkannya ketakutan sendirian. Dia memejamkan mata sejenak, merasa bimbang dengan keputusan yang akan diambilnya.
"Karina."
"Heem." Karina mendongak. Dia menatap sepasang mata teduh yang juga tengah menatapnya itu, menanti kalimat apa yang akan William katakan selanjutnya.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengan Daddy kamu," kata William.
Karina terkejut. "Kenapa?" tanyanya.
William menaikkan sudut bibirnya, berusaha untuk menutupi kebimbangan dalam hatinya. "Aku ingin meminta izin untuk mengambil alih keberuntungan yang selama ini beliau miliki. Bolehkah?" pintanya dengan memperlihatkan keseriusannya.
Karina berusaha mencerna dengan baik setiap perkataan dari kekasihnya itu. Dia menatap lekat sepasang mata biru itu, mencoba mencari kebohongan di sana tetapi tidak dapat melihatnya.
"Kamu ...."
William mengangguk meyakinkan. "Ya. Aku ingin memintamu dari daddy-mu," ucapnya sembari tersenyum.
Mendengar kepastian itu, Karina pun turut tersenyum bahagia. Dia mengangguk dengan semangat, lalu mengecup singkat bibir William.
Saat Karina hendak menjauhkan wajahnya, William langsung menekan leher belakang wanita itu, membawanya untuk mendekat kembali. William menempelkan kembali bibir mereka, lalu memperdalam ciuman itu hingga Karina terengah-engah dan hampir kehabisan napas.
"Sekarang tidurlah," bisiknya setelah merasa puas dan melepaskan ciuman panasnya itu.
Wajah Karina kembali merona. Dia kembali meringkuk dengan nyaman di bahu William sembari memejamkan mata.
"Aku harus segera kembali," gumamnya. Dia ingat sebelum pergi dia telah bersikap terlalu kasar pada Anan. William sebenarnya tahu jika saat itu Anan tengah mengkhawatirkan keadaannya. Dia tak ingin membuatnya lebih cemas lagi. Mengingat sikap kasarnya sebelum menemui Karina, sebersit rasa bersalah tiba-tiba menggelayuti hatinya.
'Gue harus minta maaf.'
Saat hendak meninggalkan lobi, William merasa seakan-akan tengah diawasi. Dia menoleh ke sana ke mari, tetapi tak melihat apa-apa kecuali resepsionis yang sedang berjaga dan beberapa orang yang tak dikenalnya.
"Mungkin perasaanku saja."
***
"Sendirian aja, Mas Bule?" sapa seorang gadis manis sembari meletakkan secangkir kopi hitam pesanan William.
William membalas pertanyaan Ning Ziya, nama panggilan dari anak pemilik kafe langganannya tersebut, dengan sebuah senyum tipis. Tangan dengan jari-jari panjang dan ramping itu perlahan mulai mengangkat secangkir kopi yang masih mengepulkan asapnya tersebut. Dengan gerakan santai dan elegan, dia menuangkan latte pada tatakan, menunggunya sampai menghangat.
Semua tindakan anggun dan natural itu jatuh pada netra hitam Ning Ziya, membuatnya tertegun dan merasa kagum. Aura pemuda di hadapannya itu terlihat seperti seorang bangsawan.
__ADS_1
"Emang, anak-anak yang lain pada ke mana, Mas?" tanya Ning Ziya lagi, berusaha menutupi pemikiran konyolnya itu.
Sudah beberapa hari ini Ning Ziya dihantui rasa penasaran, karena sosok di hadapannya itu akhir-akhir ini sering datang seorang diri. Begitupula dengan Ginan dan Robby. Mereka jarang datang bersama William, seakan hubungan ketiganya tengah renggang.
"Sibuk sama kerjaan mungkin, Ning," jawab William dengan tak acuh.
Mendengar jawaban William yang terkesan hanya basa-basi saja, Ning Ziya mengangguk sadar diri. Dia tahu pemuda yang pernah menganggapnya sebagai seorang adik itu sedari tadi sengaja untuk menyibukkan diri. Dia paham, William sedang tak ingin bicara.
"Ya udah, Mas Bule. Kalo gitu Ziya tinggal dulu," putusnya sedikit kecewa. Dia juga tak ingin membuat William merasa lebih terganggu lagi.
"Selamat menikmati, Mas." Ning Ziya tersenyum sembari pergi meninggalkan William seorang diri.
William menarik napas, lalu menggeleng tak berdaya. Sikap gadis manis itu masih tetap sama seperti tiga tahun lalu. William sebenarnya tak berniat untuk mengacuhkannya. Dia melakukan itu justru karena terlalu menyayanginya. Selain itu, saat ini dia benar-benar sedang tidak ingin membahas tentang apa pun. Dia ingin sebuah ketenangan, tanpa ada seorang pun yang mengganggu.
William menyeruput kopi yang sudah mulai menghangat itu. Matanya menatap ke sekeliling, mengenang kembali momen yang pernah dia lalui di tempat itu. Ziya's Cafe dulu selalu menjadi tempat favorit bagi mereka berlima; dia, Anan, Ginan, Algo dan juga Robby, untuk sekedar nongkrong dan menghabiskan akhir pekan bersama. Sudah semenjak kafe itu masih berupa warung kopi sederhana, hingga akhirnya berkembang, memiliki banyak peminat dan berubah menjadi sebuah kafe.
Tempat itu sudah banyak berubah. Mulai dari areanya yang sekarang tertutup oleh dinding-dinding kaca transparan, hingga gayanya yang disulap menjadi lebih kekinian. Hanya rasa kopi serta pemiliknya lah yang tidak pernah berubah.
Di luar kafe itu ada sebuah kolam kecil berisi ikan-ikan terapi. Dulu, Anan dan Algo paling suka mencelupkan kedua kaki mereka di sana. Keduanya sering berdebat, hingga kemudian berakhir saling mengumpat. Sementara itu William, Ginan dan Robby hanya bisa tertawa menyaksikan tingkah konyol dan kekanakan dari kedua orang yang saling meledek tersebut. Gambaran tentang canda tawa bahagia itu terlintas sangat jelas di mata William, seakan-akan mereka masih ada di sana. Saat itu, mereka benar-benar bahagia.
Jika saja dia tidak melakukan kesalahan fatal hingga menghancurkan segalanya, mungkin saat ini mereka masih bisa merayakan akhir pekan bersama. William meraup napas dengan serakah, menyesali keadaan yang kini tak pernah lagi sama.
'Seandainya aku tidak terlalu dibutakan oleh perasaan, saat ini kita pasti masih bisa duduk dan berkumpul bersama, bukan?'
William menunduk menatap kopinya yang hampir tandas, lalu tertawa getir. Kabut penyesalan terlihat jelas dari kedua pelupuk matanya. Apalagi setelah dia melihat orang-orang di sekelilingnya tengah bercanda satu sama lain dengan teman atau pasangan masing-masing. Sialnya, hanya dia yang saat ini tengah duduk sendirian.
William terkekeh sembari menitikkan air mata. "Ini seperti hukum karma, bukan? Rasa sakit dan tak berdaya ini adalah balasan karena aku telah menghancurkan semuanya," sesalnya.
Kenaifannya tiga tahun lalu benar-benar menghantam hidupnya. Penyesalan itu tak pernah bisa hilang, dan juga tak pernah membiarkannya hidup dengan tenang. William diam, dia menderita, tetapi hanya bisa menyembunyikan rasa sakitnya dengan melakukan hal-hal yang sama sekali tak pernah diminati.
Berkecimpung di dalam dunia gelap para mafia tak pernah sekalipun menjadi impiannya. Dia sengaja bergabung hanya untuk memacu adrenalinnya, karena dengan hal-hal semacam itu dia sejenak bisa melupakan tentang kehidupan ironisnya. William tak akan pernah sekalipun berpikir untuk terjun ke sana dan mengesampingkan kariernya, jika bukan karena fakta bahwa dia membutuhkan sesuatu yang dapat digunakan untuk melampiaskan setiap emosinya.
William pikir, dia telah melakukan hal yang tepat untuk dirinya. Meski sepenuhnya sadar, dia sebenarnya tengah sibuk menghibur dirinya sendiri.
Anan benar. Apa yang dilakukannya tanpa berpikir panjang, perlahan-lahan mulai membunuh jati dirinya sendiri!
__ADS_1