CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
PANGGILAN


__ADS_3

CINTA SANG MAFIA 28


PANGGILAN


"Nan, gue tidur duluan. Capek."


"Oke. Gue entar nyusul. Nanggung ini," jawab Anan, tanpa menoleh. Pemuda berkaca mata itu sedang fokus menatap layar laptopnya. Dia sedang meneliti file keuangan perusahaan, karena beberapa hari terakhir dirinya tidak masuk kantor. Manajer keuangan hanya memberi waktu hingga lusa, setelah itu dia harus memberi laporan lengkap pada manajer tersebut.


Sedangkan William yang merasakan tubuhnya sudah sangat pegal, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, selesai tadi membersihkan diri. Seharian ini dia benar-benar kelelahan. Menjemput Anan dari rumah sakit setelah pulang kerja, lalu masih harus membersihkan kamar kos dan juga memasak untuk Anan. Dokter sudah mewanti-wanti agar pemuda berpipi chubby itu hanya mengonsumsi makanan sehat untuk sementara waktu. Mau tak mau, William harus rela menyisihkan waktu memasak untuknya.


"Jangan terlalu maksain diri dulu, Nan. Lo baru aja bisa bernapas."


Anan mendelikkan matanya karena kata-kata menyebalkan William. "Sialan!" umpatnya. Dia menoleh jengkel pada pemuda yang tengah tersenyum menggoda itu, tetapi akhirnya tetap mengangguk patuh.


"Iya .... Berasa jadi ikan yang baru terlempar dari aquarium aja, gue," gerutunya, membuat William tertawa.


William memiringkan tubuhnya hendak memejamkan mata ketika teringat dari kemarin dia belum menghubungi Karina Sam sekali. Setelah konflik kecil yang terjadi di rumah sakit waktu itu, dia tidak tahu bagaimana keadaan kekasihnya. Pemuda itu mengambil ponselnya dari atas meja, dan memeriksa beberapa notifikasi yang telah masuk. Ibu jarinya berhenti pada nama Karina, lalu dia mengetik pesan untuk wanita itu.


'Hai, Beby. Udah tidur?' tanyanya.


Dia menatap layar chat yang menunjukkan status Karina sedang offline, tetapi pesannya tercentang dua. William menunggu sebentar dan tak lama kemudian pesannya berubah menjadi biru. Status chat wanita itu berubah online.


Karina membuka pesan dari William, dia tersenyum sembari mengetik pesan balasan untuknya.


'Night, Will.'


'Baru selesai cuci muka, ini. Dan sekarang mau tidur. Apa kabar kamu, sayang?'


William tersenyum melihat pesan sayang dari Karina. Meski kemarin sempat ada problem di antara keduanya, tetapi Karina dengan mudah melupakannya. Itulah hal yang selalu disukai William darinya. Kekasihnya itu sangat dewasa.


'Fine, Beby. Gimana dengan kamu?'


Karina langsung membalasnya, 'i'm oke, Will.'


William memutuskan mengakhiri pesan chat dan menekan tombol panggil. Dia rasa akan lebih memuaskan saat bisa berbicara langsung dengan Karina dan mendengar suaranya.


"Tadi kayaknya ada yang pamit mau tidur," cibir Anan, saat tak sengaja menoleh dan melihat temannya itu justru asik berkutat dengan ponsel. William meliriknya sekilas tapi langsung mengabaikannya, membuat Anan geleng kepala.


"Hai, Will. Kenapa kamu belum tidur?" tanya Karina setelah menggeser tombol terima. Dari nada bicaranya dia terdengar sedikit mengkhawatirkan William.


Suara manis, lembut dan juga nada khawatir itu sedikit meredakan rasa rindu William. "Aku baru mau tidur. Tapi keinget sama kamu, Beby."

__ADS_1


Wajah Karina langsung merona. "Begitukah?" godanya


"Hemm." William mengangguk meski Karina tak dapat melihatnya. "Karin, maaf dari kemarin aku nggak hubungin kamu."


"Nggak perlu dibahas, Will. Aku baik-baik aja. Kamu nelepon larut gini, ada apa?" tanyanya langsung. Firasat Karina mengatakan, William menelepon karena ingin membicarakan tentang sesuatu. Dia sudah bisa menebak tentang apa itu, tetapi masih ingin memastikan.


"Karina, bisa besok kita ketemu?' tanya William dengan ragu.


"Ooh ...." Seperti yang sudah Karina duga. Dia tentu tahu untuk apa William ingin bertemu. Meski hal itu membuat moodnya berubah menjadi agak jelek, tapi dia sadar langkah ini jauh lebih benar. Entah nanti atau sekarang, hasilnya tak akan jauh berbeda.


"Beby, sorry. Aku nggak ada maksud bikin kamu ngerasa nggak nyaman," imbuh William, merasa khawatir karena Karina tak melanjutkan untuk menjawab perkataannya.


Dengan pelan Karina langsung terkekeh. "Aku baik-baik saja, Will. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Di mana kamu ingin kita ketemu?"


William langsung lega. Dia berpikir sejenak. "Kamu aja yang tentukan lokasinya. Aku akan ikut," usulnya kemudian.


"Kamu yakin?" ragu Karina.


"Tentu saja. Kenapa tidak?" William menjawab dengan tegas.


"Oke. Besok aku share located, ya. Sekarang waktunya kamu istirahat. Kamu pasti lelah, bukan?" kata Karina dengan penuh perhatian.


"Baiklah, Beby. Kamu harus istirahat juga. Nice dream."


"Nice dream. Bye, Will. Jaga diri kamu baik-baik. Muaah."


Karina langsung mematikan panggilannya tanpa menunggu kembali tanggapan dari seberang.


William menatap ponsel yang mulai meredup itu sembari mengernyit heran. Ini bukan untuk yang pertama kalinya Karina terus menekankan agar dirinya menjaga diri, dan juga berhati-hati.


'Kenapa?'


***


Drrrtt drrrtt drrrtt!


"Siapa, sih?" gerutu William dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur.


Dia tengah tertidur pulas, tetapi terganggu oleh suara ponsel yang terus saja berdering. Dengan malas dia mulai membuka mata, melirik jam dinding yang ternyata masih menunjuk pada pukul satu dini hari. Pemuda itu duduk perlahan, dia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, lalu menoleh pada ranjang sebelah hanya untuk mendapati ranjang itu, kosong.


"Ke mana tuh bocah?" William merasa ada yang aneh. Tidak biasanya Anan ke luar di jam sedini itu, apalagi sendiri.

__ADS_1


William bangkit untuk mengambil ponsel yang kembali berdering. Dia mengeryit kaget saat melihat nomor yang sudah sangat dikenalnya tertera di sana.


"Ngapain Karina nelpon dini hari begini?" Perasaannya seketika jadi tak enak.


"Ya, Beby," sapanya dengan suara khawatir ketika panggilan terhubung.


William menguap, menunggu jawaban dari seberang tetapi merasakan ada sesuatu yang salah. Dia tak mendengar jawaban dari Karina, melainkan suara-suara janggal. Suara itu semakin terdengar jelas, seperti sebuah permohonan.


"Lepasin aku! Kumohon, lepasin aku!" Ternyata benar. Itu adalah suara Karina yang sedang memohon.


"Karina, hallo! Apa yang terjadi?" William berteriak panik.


"Dad!! No!! Jangan tinggalin Daddy. Biarin aku bawa Daddy!"


Jantung William mulai berdetak kencang mendengar teriakan dari seberang. "Karina! Ada apa!" seru William.


"No! No .... Dad ...!" Suara itu semakin lama semakin mengecil, lalu tenggelam, dan perlahan menghilang. Detik berikutnya yang William dengar adalah suara gemuruh disertai benda berjatuhan. Tangan William yang tengah mencengkeram ponsel mulai gemetar ketakutan.


"Karina, Beby! Hallo! What happ ...."


Tut ... tut ... tut ....


Panggilan telepon tiba-tiba terputus.


William menelan ludah. Dia meraih jaket Hoodienya dan mencari-cari kunci motor. Sialnya, benda itu tak ditemukan.


"****! Pasti dibawa Anan," umpatnya.


Dia berlari ke luar begitu saja bahkan sampai lupa untuk menutup pintu. William mondar-mandir di depan gang, dia harus secepatnya sampai di rumah Karina apa pun caranya. Tapi dengan apa? Pesan taksi atau ojek online, hanya buang-buang waktu. Dia harus menunggu terlebih dulu.


"Anan! Lo di mana, sih?" geramnya sembari terus menghubungi pemuda itu. William mengusap kasar rambutnya, merasa frustasi karena Anan tidak dapat dihubungi. Dia baru saja hendak melempar ponselnya karena marah, ketika tiba-tiba tak jauh dari sana dia melihat ada seorang tukang ojek pengkolan yang hendak mangkal.


Pemuda itu gegas menghampirinya. "Bang, pinjem motornya. Nanti gue bayar!" seru William setelah memasang kunci motor.


Dia diam-diam mengambil kunci motor yang baru saja diletakkan pemiliknya itu, ketika tukang ojek tersebut tengah sibuk melepas helmnya.


"Hei, mau dibawa ke mana motor saya!" teriak tukang ojek itu sembari berusaha mengejar William yang sudah melajukan motornya dengan kencang.


"Duh Gusti ... kenapa bisa apes begini?"


William terpaksa melakukannya. Bernegosiasi terlebih dahulu hanya akan buang-buang waktu.

__ADS_1


__ADS_2