CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
KETERANGAN WILLIAM


__ADS_3

CINTA SANG MAFIA 29


KETERANGAN WILLIAM


Kebakaran hampir menghanguskan seluruh rumah berlantai dua yang awalnya bercat biru itu. Garis polisi pun telah terpasang mengelilingi tempat kejadian. Beberapa warga masih terlihat berkerumun di sana. Ada yang menatap saling iba, ada juga yang saling berbisik entah membicarakan apa. Namun, tak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk mendekat, termasuk William.


Pemuda itu masih terpaku di antara warga, menatap pemandangan tragis di hadapannya dengan tatapan hampa. Sampai dilihatnya dua orang petugas medis tengah ke luar dari dalam sana, dengan membawa sebuah kantong jenazah. Di samping kanan kiri terlihat dua petugas kepolisian sedang melakukan pengawalan. William yang baru saja tersadar pun bergegas pergi untuk menghampiri mereka.


"Bisakah saya melihat siapa yang ada di dalam?" mohonnya pada salah seorang petugas kepolisian tersebut dengan suara tercekat.


Petugas itu menaikkan sebelah alisnya, menatap William penuh selidik. Setelah melihat wajah syok dan agak pucat dari pemuda itu, polisi berpikir bahwa William mungkin adalah salah satu anggota keluarga korban.


"Apakah anda termasuk salah satu anggota keluarga dari korban?" tanyanya, mencoba meyakinkan asumsinya.


William menggeleng. "Bukan. Saya calon tunangannya," ungkapnya dengan sedih.


Polisi itu mengangguk mengerti. "Apakah anda mengenal salah satu dari anggota keluarga korban?" tanyanya lagi.


William kembali menggeleng. "Sejauh yang saya tahu, tunangan saya hanya hidup berdua dengan ayahnya. Ibunya telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Mereka tinggal di sini berdua saja. Untuk saudara yang lain, saya masih belum tahu," terangnya.


Polisi itu mengangguk memahami. "Untuk saat ini sepertinya anda adalah satu-satunya orang yang bisa kami mintai bantuan, karena tidak ada orang lain yang dapat kami hubungi. Untuk itu, jika anda tidak keberatan, silahkan ikuti kami untuk membantu mengurus keperluan di rumah sakit. Setelah itu, kami juga akan meminta anda untuk memberi keterangan di kantor polisi."


William tidak mungkin menolak. Dia pun menyanggupinya. "Saya bersedia. Saya akan bekerjasama dengan sebaik mungkin," tegasnya. Setidaknya, hal itulah yang saat ini bisa dia lakukan untuk Karina.


Polisi itu merasa senang karena William tidak menolak untuk bekerja sama.


William menatap kembali pada kantong jenazah. Dia lalu menunjuknya, hendak bertanya kembali. "Bisakah ...."

__ADS_1


"Anda bisa melihatnya setelah tiba di rumah sakit," potong salah satu petugas medis. "Kami hanya menemukan satu korban, dan kami dapat meyakinkan anda bahwa korban adalah seorang pria."


William bisa menebak bahwa itu adalah ayah Karina, Bramantyo. Dia merasa sedih atas apa yang terjadi, tetapi di saat yang sama tak dapat dipungkiri mengetahui bahwa itu bukan Karina, dia merasa dapat bernapas sedikit lega.


Setidaknya, Karina saat ini pasti baik-baik saja, pikirnya. Akan tetapi, di mana kini wanita itu berada?


"Baiklah, Tuan William. Karena anda sudah setuju untuk membantu kami, mari kita pergi." Polisi itu mempersilahkan William untuk mengikuti mereka.


William terbuyar dari lamunannya. Dia mengangguk lalu mengikuti petugas itu untuk masuk ke dalam ambulan. Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil putih itu, William menoleh getir pada puing-puing bangunan di belakangnya. Dia tak menyangka di kedua kali kedatangannya, matanya akan disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa mengerikan.


Beberapa saat lalu, ketika dirinya baru saja tiba di tempat kejadian, dia merasakan jantungnya seperti telah berhenti berfungsi. Dia menatap kosong pada puing-puing rumah bercat biru yang warnanya telah berubah kehitaman, dan bagian atapnya telah runtuh sebagian. Untuk sesaat William hanya mampu terdiam, tubuhnya berkeringat. Itu adalah rumah yang beberapa hari lalu telah disambanginya, rumah yang sempat memberinya sedikit kehangatan. Tanpa sadar, tenggorokan William tercekat dan dia meneteskan air mata.


"Karina!" teriaknya dengan perasaan hancur. Dia berpikir bahwa kekasihnya itu pasti tengah terjebak ketakutan di dalam sana. Dia bahkan mencoba menerobos masuk untuk mencarinya, dengan harapan masih bisa menemukannya dan semua belum terlambat.


"Tunggu aku, oke," gerutunya sembari melangkahkan kaki.


“Lepasin gue! Gue harus cari calon tunangan gue!” teriaknya memberontak.


Hati William semakin sakit membayangkan seperti apa keadaan Karina di dalam sana. Wanita itu pasti menunggunya, berharap dia datang untuk menyelamatkannya.


"Karina!" William terus mencoba untuk meringsek maju.


"Nak, sadar!" bentak salah satu warga. "Kamu bisa semakin mempersulit pekerjaan petugas pemadam. Sebentar lagi aparat kepolisian akan sampai. Bersabarlah sedikit dan berdoa agar semua baik-baik saja," nasihatnya.


William menatap kobaran api yang masih membabi buta, belum padam sepenuhnya. Reruntuhan sesekali terdengar, menggema di telinga. Akan tetapi William tak berniat untuk memedulikannya. Dia hanya ingin pergi dan menyelamatkan kekasihnya. Dia tak mau terlambat dan menyesalinya. Pemuda itu terus saja melawan, mencoba melepaskan diri dari orang-orang yang tengah menahannya. Sayangnya, tubuhnya yang mulai lelah tak sebanding dengan kekuatan mereka.


"Apa kalian tidak punya hati? Apa kalian tidak punya perasaan sama sekali, hah! Bagaimana jika yang ada di dalam sana adalah salah satu keluarga kalian, salah satu orang yang kalian sayangi!" William menuding warga dengan matanya yang memerah marah.

__ADS_1


Mereka semua terdiam. Mereka memahami perasaan pemuda itu, mereka sadar jika berada di posisi yang sama mungkin mereka juga akan melakukannya. Akan tetapi, mereka juga tak mungkin membiarkan William masuk begitu saja seperti pahlawan kesiangan, dan berakhir menjadi korban. Keselamatan satu orang lagi akan dipertaruhkan.


"Kenapa kalian diam?!" William memandang tajam mereka satu-persatu, sorot matanya dipenuhi dengan tekad dan kebencian. Tak ada satupun yang menjawab perkataan William, sampai suara sirine polisi akhirnya terdengar. Mereka bernapas lega, petugas telah tiba. Meski begitu, warga tidak berani langsung melepaskan pemuda yang tengah dilanda kepanikan tersebut.


***


Sebagaimana janjinya, William menyetujui untuk mewakili Karina sebagai penanggung jawab atas data-data Bramantyo. Hal itu dibutuhkan untuk keperluan otopsi, tes DNA serta keperluan penyelidikan. Rencananya, jenazah lelaki paruh baya yang hampir delapan puluh lima persen mengalami luka bakar itu akan dimasukkan ke dalam lemari pendingin, menunggu sampai keluarga korban datang menjemputnya. Setelah semua proses selesai, William langsung dibawa ke Kapolres untuk dimintai keterangan dan menjadi saksi.


Pagi itu sang surya sudah mengintip malu-malu ketika William sampai di kantor kepolisian. Dia masuk ke sebuah ruangan dan dipersilahkan duduk menghadap sang penyidik.


"Silahkan, saudara William Ferdinand," pinta penyidik dengan nada formal.


Rasa lelah serta kantuk yang semalam menggelayuti otak William benar-benar telah sirna tanpa dia sadari. Pemuda itu duduk dengan sangat tenang, meski beban kesedihan masih terlihat jelas dari pelupuk matanya. Ini bukan yang pertama kalinya pemuda itu berada di dalam ruangan itu dengan keadaan serupa. Beberapa minggu belakangan ini pemuda itu seolah telah akrab dengan yang namanya kantor polisi.


"Jadi, nona Karina sempat menghubungi anda ketika kejadian tengah berlangsung?" Penyidik itu bertanya langsung.


William mengangguk membenarkan. "Benar, Pak. Dia menghubungi saya. Atau lebih tepatnya, mungkin tidak sengaja menghubungi saya."


"Maksud anda?"


"Dia tidak sempat berbicara langsung dengan saya."


William lalu menceritakan secara detail seperti apa isi percakapan yang sempat dia dengar ketika dia menerima panggilan dari Karina pagi tadi. Setelah mendengar keterangan dari pemuda itu, polisi berasumsi bahwa kebakaran itu sepertinya disengaja.


"Ada kemungkinan saat ini nona Karina telah menjadi korban penculikan," ucap penyelidik.


William tentu saja terkejut. Dia lalu mulai mengaitkannya dengan kasus-kasus yang telah dilaporkannya belakangan ini.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Apa ada kemungkinan bahwa penculiknya adalah orang yang sama yang terkait dengan kasus saya sebelumnya?"


__ADS_2