
CINTA SANG MAFIA 30
KANTOR POLISI
"Maaf, Pak. Apa ada kemungkinan bahwa penculiknya adalah orang yang sama yang terkait dengan kasus saya sebelumnya?"
William bertanya karena khawatir sekaligus penasaran. Apa yang terjadi di sekitarnya belakangan ini benar-benar semakin menakutkan. Dia merasa jika dirinya dan teman-temannya telah sengaja dipermainkan. Teror-teror kejam itu sudah cukup untuk menjelaskan.
Kepala penyidik yang sudah tak asing dengan William karena telah menangani beberapa kasus untuknya itu menatapnya dengan bangga. William memiliki prediksi seperti yang penyidik itu sendiri telah duga. Dia pun tersenyum dan mengangguk ringan pada William Ferdinand.
"Ya, Anda benar. Kemungkinan itu bisa saja terjadi."
Tubuh William semakin menegang. Penyidik melihat itu dan bisa merasakan kekhawatirannya. Dia memahami ketakutannya dan tidak mencela. Itu hal normal yang akan dialami oleh setiap orang yang merasa terancam.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya William lagi.
Polisi itu menghentikan ketikannya. Dia menatap pemuda di hadapannya. "Kami akan menyelidikinya lebih lanjut, apakah hal ini benar-benar terkait dengan laporan anda sebelumnya atau tidak. Sementara itu, kami juga akan mencari data-data lebih detail tentang siapa pelaku dan juga nona Karina. Kami menyimpulkan bahwa kemungkinan mereka memiliki suatu hubungan."
William terkejut. Jika benar, itu hanya berarti bahwa dugaan teman-temannya selama ini adalah benar. Apa yang terjadi pada mereka ada sangkut pautnya dengan Karina. Lagi-lagi, dialah penyebabnya.
"Kami akan secepatnya mengabari anda jika ada perkembangan," janji penyidik melihat William terdiam.
Hal itu tidak memberi William sebuah kepastian, tetapi tidak ada yang dapat dia lakukan. Setidaknya, dia memiliki harapan. Dia hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, apakah sekarang saya sudah bisa pergi?"
William tidak ingin lagi berlama-lama di sana. Masih banyak urusan yang harus dia lakukan, termasuk masalah motor yang semalam dibawanya secara paksa.
Penyidik itu tersenyum dan mengangguk padanya. "Tentu saja. Anda boleh pergi. Kami akan menghubungi jika ada hal lain yang kami perlukan."
William bangkit, dengan kepala tertunduk dia berdiri hendak meninggalkan ruangan, tetapi penyidik tiba-tiba memanggilnya.
"Tuan Ferdinand." William menoleh, bingung.
"Ya, Pak. Apakah masih ada hal lain?"
"Berhati-hatilah," ucap penyidik dengan tulus.
"Tentu." William berbalik, dia sedikit mencondongkan badan padanya. "Terima kasih atas perhatian anda, Pak," kata William dengan sopan. "Saya permisi." Dia pun pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Seperginya William, penyidik menghela napas. "Masalah yang kamu hadapi ini rumit, Nak. Pelaku benar-benar licik, dia bekerja seperti siluman." Pria paruh baya tersebut menggeleng pasrah.
William baru saja ke luar beberapa langkah dari pintu kantor polisi ketika ponselnya berdering. Dia mengeluarkan ponsel tersebut dari saku celananya, dan mendapati bahwa nomor tersebut sudah tidak asing lagi baginya. William menautkan alis, meski heran dia tetap menekan tombol terima dan menempelkan benda pipih tersebut pada daun telinga.
"Apa benar ini dengan Tuan William Ferdinand?" Suara dalam dari ujung telepon membuat William sedikit menciut.
"Benar, saya sendiri," jawabnya gugup. "Ada masalah apa, ya, Pak?" tanyanya kemudian.
"Kami mendapatkan laporan dari seseorang bahwa semalam anda terlibat dalam pencurian kendaraan bermotor."
William menjauhkan ponsel itu dari telinganya, sebelum kemudian mengumpat. ,"****!"
Apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi. William meraup wajah kusutnya dengan kasar. Hari ini dia benar-benar merasa sangat sial.
"Tuan Ferdinand, anda masih di sana?"
"Tunggu. Saya akan kembali ke dalam."
William masuk kembali tetapi menuju ruangan yang berbeda. Pemilik motor yang semalam dikelabuinya sudah menunggu di sana dengan wajah nelangsa. William meminta maaf, menjelaskan bahwa dirinya terpaksa melakukannya.
"Bisakah kita menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan? Saya akan bertanggung jawab atas segala macam kerugian, dan saya juga akan memberi anda kompensasi yang layak," pinta William.
***
"Baru pulang, Le. Lo semalem ke mana aja?" tanya Anan saat melihat William memasuki ruangan.
Dia heran sekaligus khawatir pada temannya itu. Heran karena William baru saja kembali setelah kepergiannya semalam yang entah ke mana. Sepuluh menit setelah kepergian William, Anan kembali hanya untuk mendapati pintu terbuka dan temannya tidak ada. Dia sudah menghubungi pemuda itu berkali-kali, juga mengirimi pesan untuk menanyakan keberadaanya, tetapi baik panggilan maupun pesan tersebut tak satupun William hiraukan. Dan saat ini, dia khawatir sekaligus terkejut melihat tampang temannya yang sudah sangat berantakan. Wajah William kusut dan terlihat begitu kelelahan.
"Le ...," tegur Anan karena tak juga mendapat tanggapan.
William membuka kulkas dan mengambil sekaleng minuman dingin. Pemuda itu lalu menatap sinis pada Anan yang sudah terlihat berpakaian dengan rapi. Anan bahkan sudah menenteng tasnya, terlihat hendak berangkat kerja. Padahal sebenarnya, Anan sudah berniat mampir ke kantor polisi untuk membuat laporan kehilangan jika pagi itu William tak juga kembali. Untungnya, orang yang ditunggu menampakkan batang hidungnya.
"Seharusnya, gue yang nanya. Lo semalem ke mana aja, hah!" sinisnya sembari menatap kesal pada Anan.
Anan tersentak melihat kemarahan serta tatapan tak bersahabat darinya. Dia bertanya-tanya apakah mungkin sedari semalam William tengah pergi mencarinya? Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Jika itu benar, William tak akan mengabaikan semua panggilan darinya.
"Le, ini sebenarnya ada apa? Lo ada masalah?" tanya Anan dengan penuh perhatian. Dia meletakkan kembali tasnya, lalu menghampiri William.
"Cerita sama gue, Le. Sebenarnya ada apa?" tanyanya lagi sembari memegang bahu kiri pemuda itu.
__ADS_1
William menatapnya semakin kesal lalu menepis tangan Anan dengan kasar. "Bukan urusan lo!" bentaknya.
Anan terbelalak kaget dengan sikap kasar serta tanggapan William yang tidak seperti biasanya.
"Will! Apa yang salah?"
Anan berteriak, mencoba mengajaknya kembali berbicara ketika dilihatnya William tengah berganti pakaian, hendak pergi lagi. Dia tak ingin membiarkan hal seperti ini menjadi berlarut-larut. Meski selama ini William dan Anan jarang terlibat perseteruan, tetapi jika ada masalah keduanya telah sepakat untuk langsung menyelesaikannya, tidak pergi begitu saja.
Sayangnya, kali ini keadaannya berbeda. William sama sekali tak memedulikannya, dia meninggalkan Anan tanpa sepatah kata. Anan memejamkan matanya tak berdaya. Akhir-akhir ini sahabatnya itu telah menjadi sosok yang sangat berbeda.
"Rumah Karina kebakaran." Itulah hal yang pertama kali Anan dengar dari mulut Robby, ketika keduanya tengah sibuk makan siang di kantin perusahaan. Pemuda itu bahkan sampai menghentikan makanannya yang sudah sampai di depan mulut.
"Yang benar, lo, Rob?" Robby mengangguk mengiyakan.
"Lo tahu dari mana?" tanya Anan memastikan. Pasalnya, William sampai saat ini belum menghubungi atau mengatakan apa-apa padanya.
"Gue barusan ditelepon sama Ginan. Dia ngasih tahu gue soal kebakaran itu. Katanya cuma ditemukan satu korban, sementara Karina entah di mana. Dia belum ditemukan sampai sekarang. Bule sedang sibuk nyari dia. Emang, Bule nggak ngasih tahu elo?"
Robby merasa ada sesuatu yang aneh di antara mereka. Tidak biasanya kedua sahabat itu menyimpan rahasia.
Anan menghela napas lelah, lalu menggeleng pasrah. Sekarang dia akhirnya menyadari apa penyebab sikap aneh sahabatnya itu.
"Pantas saja, sikapnya sama gue tiba-tiba aneh," gumamnya, yang masih terdengar sampai di telinga Robby.
"Maksudnya, aneh gimana?" Robby menatap penasaran.
Anan meletakkan sendoknya ke dalam piring, lalu menceritakan bagaimana sikap William terhadapnya ketika pemuda itu kembali pagi tadi.
Setelah mendengar cerita dari Anan, Robby menaikkan sebelah alisnya, merasa lebih bingung.
"Kenapa dia harus marah-marah sama elo? Emang, apa hubungannya kebakaran itu sama elo?"
Anan mengedikkan bahu. "Mungkin karena semalam gue nggak ada, padahal dia lagi butuh banget seseorang buat ngedukung serta nguatin dia," tebaknya dengan nada menyesal.
Jika dia tidak memutuskan untuk pergi dan berakhir dengan menemani William, mungkin saat ini kondisi sahabatnya itu akan baik-baik saja.
"Lo tahu sendiri, kan. Dia akhir-akhir ini punya banyak sekali tekanan," imbuhnya lagi, merasa bersimpati.
Sembari menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Robby mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Tapi kalau gue nggak pergi, gimana nasib gadis itu?"