CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
CSM13 KEKACAUAN


__ADS_3

Sepasang kekasih itu menepi di sebuah sudut gelap untuk menuntaskan hasrat kerinduan mereka. Keduanya saling mengecap, memagut dengan liar tanpa peduli keadaan sekitar. William menekan tubuh Karina di dinding, *3***** bibir merahnya dengan sedikit ganas. Tangan kanannya dia gunakan untuk menahan beban tubuhnya pada dinding, sedang tangan yang satunya lagi dengan nakal bergerilya di tubuh bagian atas Karina. Dia mer@ba-r@ba setiap sisi sensitif wanita itu, membuat Karina mendesah tak karuan.


"Oh, Will ...," rengeknya.


Karina menikmati setiap permainan dari William yang kini terasa sudah tak sekaku saat pertama kali mereka bercumbu. Dia melenguh pelan, lalu mendesah dengan lirih, rasanya tak dapat lagi menahan godaan yang semakin menggila dan liar di tubuhnya.


"Aaaahh ... Will ...," racaunya kemudian, sembari meremas punggung William yang masih tertutup kemeja.


Seandainya dia tidak dalam keadaan tengah mendapat tamu bulanan, dia sudah pasti akan memilih menyeret William pergi dari sana, dan membawanya langsung untuk memesan kamar hotel. Karina benar-benar ingin menuntaskan hasrat rindunya yang menggebu bersama William.


******* serta racauan Karina yang terdengar indah dan semakin menggoda membuat kelak1an William mulai terasa berdenyut-denyut di bawah sana. Dia menggenggam tangan kiri Karina, membimbingnya untuk menuju ke arah sana.


"Bantu aku, Baby," bisiknya.


Mendapatkan lampu hijau, Karina yang sudah sangat lihai pun tak lagi tinggal diam. Dia melakukan apa yang diinginkan kekasihnya, mengelus serta meraba k3lakian William hingga membuat pemuda itu berulang kali mengumpat, mendesah dan melenguh pelan karena kenikmatan. William yang sudah dikuasai birahi seolah tak lagi peduli di mana mereka berada, juga tak peduli jika sewaktu-waktu cairan bening itu keluar di sana dan mengotori celananya. Dia sudah tak bisa lagi menahan diri dari permainan memabukkan yang Karina lakukan padanya!


"Aaaa!!!"


Sampai akhirnya sebuah jeritan histeris dari seorang perempuan yang tiba-tiba terdengar membuat hasrat keduanya seketika padam. Mereka melepaskan pagutannya, menjauhkan tubuh masing-masing dari permainan panas yang baru setengah jalan, dan berusaha secepatnya untuk merapikan diri.


"Sial!" umpat William.


"Apa yang terjadi?" tanya Karina dengan suara sedikit parau.


"Aku akan mencari tahu," ketusnya. Dia merasa kesal karena telah terganggu ketika sedang berada di puncaknya.


William memandang sekeliling dan merasakan aura di sekitarnya sudah sangat menegang. Tak jauh dari sana orang-orang berbaju hitam yang dia ketahui sebagai anak buah Tuan Wibisana, serta beberapa penjaga hotel tengah bekerjasama membimbing para tamu undangan untuk meninggalkan aula perjamuan.


William bingung. Jika tidak ada keadaan darurat, tidak mungkin pesta dibubarkan dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Gerutuan tak sedap terlontar dari mulut beberapa tamu yang tak terima karena dipulangkan tanpa adanya sebuah penjelasan. Mereka merasa seperti telah dipermainkan, tetapi tidak ada yang berani mengatakan secara terang-terangan mengingat siapa keluarga Wibisana. Meski tak terima, semua tamu tetap pergi meninggalkan pesta.


William mengerutkan dahi, sampai suara arogan seseorang terdengar dan menarik perhatiannya.


"Cari tahu siapa pelakunya dan jangan biarkan dia lolos! Berani menyabotase pesta keluarga Wibisana, berarti berani mencari kematian secara terang-terangan!" ucapnya dengan penuh amarah dan juga kesombongan. Wajah lelaki paruh baya itu sudah merah padam


Mengenali orang itu sebagai Tuan Wibisana, William berjalan tergesa untuk menghampiri dan mencari tahu apa yang telah terjadi.


"Tuan Wibisana, maaf. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?" tanyanya dengan sopan.


Wibisana menatap William dan memelototinya dengan tajam. "Apa kamu bodoh! Seseorang menyakiti temanmu dan kamu tidak tahu?"


Tuan Wibisana memandang heran. Apa saja yang selama ini William lakukan sampai membuat pemuda itu tidak mengetahui apa-apa? Namun dia memilih tak peduli, karena merasa itu bukan urusannya.


William tak menyangka hal buruk bisa terjadi di pesta orang paling berpengaruh di kota K. Apalagi, dia tahu Tuan Wibisana selalu mengutamakan keamanan dan menanamkannya dengan sangat ketat.


"Anan!" ucapnya.


Tuan Wibisana benar. Dia memang sagat bodoh. Dia terlalu asyik dengan apa yang dilakukannya bersama Karina hingga membuatnya tak menyadari jika sedari tadi Anan belum juga kembali dari kamar mandi. Tangannya yang sedari tadi sudah berkeringat dingin tiba-tiba saja terasa gemetar. Pikiran-pikiran buruk terus terlintas dalam benaknya.


"Tidak! Tidak akan terjadi hal buruk padanya. Dia pasti baik-baik saja." William menjadi panik.


Dia mengabaikan Tuan Wibisana yang sudah tak lagi memperhatikannya, lalu kembali untuk menghampiri Karina dan berbicara padanya.


"Tunggu gue di sini. Jangan ke mana-mana. Gue harus nyari Anan," katanya dengan tergesa.


Tanpa berpikir lagi William bergegas pergi dan meninggalkannya. Dia bahkan tak bertanya tentang kondisi Karina, atau memperhatikan raut wajahnya yang sudah terlihat pucat pasi. Melihatnya, Karina menjadi lebih bingung lagi.


"Ada apa ini?"

__ADS_1


Karina masih belum beranjak meski William sudah tak terlihat lagi. Dibandingkan dengan sedih karena kembali ditinggalkan begitu saja, dia justru merasa sangat ketakutan. Kata-kata arogan dari Tuan Wibisana menjadi salah satu penyebabnya.


'Berani menyabotase pesta keluarga Wibisana, berarti berani mencari kematian secara terang-terangan!'


Suara kemarahan itu terus menari di benak Karina membuat jantungnya berdetak tak karuan. 'Mungkinkah dia benar-benar melakukannya?'


Dia menoleh dan mendapati tatapan tajam dari Tuan Wibisana, hingga membuat seluruh tubuhnya gemetar semakin ketakutan. Meskipun tatapan itu tidak ditujukan padanya secara langsung, tetapi rasa bersalah telah membuat nyalinya semakin menciut. Dia bisa menebak hal buruk apa yang sedang terjadi, karena jika itu benar maka dialah yang secara tak langsung telah menjadi penyebabnya.


Aura yang menakutkan dari Tuan Wibisana ketika mata mereka tiba-tiba bersirobok membuat langkah kaki Karina tanpa sadar mundur dengan perlahan.


Tuan Wibisana mengerutkan kening, memikirkan sesuatu sebelum akhirnya meraih ponsel dan melakukan sebuah panggilan. Dia berbicara, lalu terlihat mengangguk sebelum menyimpan ponselnya kembali berjalan ke arah Karina.


"Jangan. Jangan ke sini! Jangan ke sini!" Karina bergumam lirih sembari menggigit bibirnya.


Langkah Tuan Wibisana yang kini semakin mendekat membuat Karina semakin ketakutan. Tubuhnya membeku sementara bibirnya semakin memucat di saat langkah itu berhenti tepat di depannya.


"Kamu tidak mengangkat panggilan darinya?" tanya Tuan Wibisana dengan ketus.


Karina terkejut. Apa Tuan Wibisana baru saja melakukan panggilan pada orang itu?


"Ak-Aku ...." Karina terbata.


"Dia menunggumu di depan pintu hotel. Cepatlah pergi," bentak Tuan Wibisana lalu berjalan melewatinya.


Karina mengepalkan jemarinya yang mulai terasa dingin dan gemetar. Dia menyandarkan tubuhnya yang hampir saja goyah. Dia tidak tahu harus merasa lega karena ternyata Tuan Wibisana tidak mencurigainya, atau justru sebaliknya.


"Dia tidak hanya menggertakku. Dia benar-benar melakukannya," gumamnya dengan bibir bergetar.


Dia tahu, setelah ini dia harus bersiap dengan segala konsekuensi darinya!

__ADS_1


__ADS_2