CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
CSM7 PRIORITAS


__ADS_3

"Hei, Baby," sapa William dengan suara sedikit serak setelah Karina mengangkat panggilan darinya.


Sejak malam panas yang terjadi di antara mereka beberapa waktu lalu, dia hampir tak memiliki kesempatan untuk menelpon Karina. Mereka hanya beberapa kali bertukar kabar melalui pesan chat.


"Hei, Will .... I miss you," balas Karina dengan suaranya yang manja.


William tersenyum lebar mendengar nada menggemaskan itu, meski Karina tak dapat melihatnya. Sedikit terkekeh, dia menjawab dengan suara yang lebih menggoda.


"Miss you too, Baby."


Wajah Karina merona. Dia merasa seolah dirinya telah kembali pada masa-masa remaja, di mana dia sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Andai saat ini William berada di dekatnya, Karina pasti akan memeluk dan memberi ciuman bertubi-tubi untuknya. Dia merindukan pemuda itu, ingin mendekap dan menghabiskan setiap waktu bersamanya.


Karina berharap suatu saat dapat menghancurkan dinding ketakutannya, melawan ketidakberdayaan yang selama ini dia rasakan untuk orang-orang yang dicintainya. Tanpa memikirkan resikonya, dia bertekad untuk mencoba.


Jika saja dia tahu bahwa apa yang akan dilakukannya tidak hanya akan berdampak besar padanya, tetapi juga pada orang-orang yang sangat dia pedulikan dan dia cintai, mungkin Karina tak akan sedikitpun memiliki keberanian bahkan hanya untuk memikirkannya.


"Bagaimana dengan makan malamnya, Will? Bisakah kamu datang?" ucapnya penuh harap.


Beberapa waktu lalu dia sudah memberitahukan tentang keinginannya untuk makan malam bersama William melalui pesan chat. Dia menunggu jawaban darinya, meski tahu kemungkinan untuk William mengiyakan hampir tak mungkin ada.


William terdiam, dan diamnya membenarkan tebakan Karina. *******-***** jemarinya, Karina merasa kecewa.


William yang tidak mengetahui kekecewaan kekasihnya melirik Anan yang masih terlihat pucat, lalu menatap langit-langit dan menghela napas panjang. Dia memikirkan kalimat tepat apa yang harus dikatakannya tanpa harus melukai perasaan Karina. Sayangnya, semakin dia memikirkan, dia justru menemui jalan buntu.


Suasana yang tiba-tiba hening membuat hati Karina semakin tenggelam. Dia melemaskan bahu pada sandaran ranjang, berusaha menahan rasa kecewanya. Dia tahu apa jawabannya tanpa harus menunggu William mengatakannya.


Menggigit bibir, Karina berpikir keras dan berusaha untuk bersikap bijaksana meski sebenarnya tak bisa. Saat ini dia sangat membutuhkan William, seseorang yang belum lama ini mengaku mencintai dan menginginkan dirinya. Namun, dia tak bisa memaksanya. Tak ingin membuatnya merasa terkekang hingga berpikiran untuk melarikan diri seperti yang sudah dia lakukan.


Dia tahu dirinya tidak sempurna. Karena itu Karina ingin mengerti William, ingin memahami dan membuatnya selalu merasa nyaman. Dia tak akan membebaninya dengan masalah yang saat ini tengah membelitnya. Masalah yang akhir-akhir ini tak dapat membuatnya tidur dengan nyenyak hingga membuatnya seakan sulit untuk bernapas.


"Will ...."


William menggosok pelipisnya. "Maaf, Baby," lirihnya.


"Dia ... masih belum membaik?" Karina mengganti topik untuk meredakan kecanggungan.


"Ya." William mengangguk, tetapi segera menggeleng meski Karina tak dapat melihatnya. "Tidak ... tidak seperti itu juga." Dia bingung.

__ADS_1


"Sebenarnya, sudah cukup baik. Hanya saja, hari kita ada janji. Kita selalu berkumpul di akhir pekan dan teman-teman sudah dalam perjalanan. Aku tidak enak hati untuk membatalkannya," ungkapnya. "Maaf, Baby. Harusnya aku memberitahu lebih awal." William menyesal.


"Ha ha. Seperti itu, ya?"


Karina berusaha untuk dapat tertawa meski saat itu rahangnya terasa kaku. Dia tahu William tak akan melihat tawa jeleknya. Setitik air menetes dari sudut mata Karina tanpa mampu dicegah. Dia mengusapnya, mencoba menahan agar suaranya tidak terdengar parau.


Dia sedih, memang, kerena ternyata William lebih mementingkan sahabatnya ketimbang dia, kekasihnya. Padahal mereka baru saja jadian, yang seharusnya masih hangat-hangatnya. Namun Karina berusaha memilih untuk bersikap dewasa, sebisa mungkin dia menekan egonya.


"It's oke, Will." Dia berusaha untuk dapat terdengar senatural mungkin. "Aku mengerti. Jangan khawatir, and ... have fun."


William menghela napas lega. Dalam benaknya Karina adalah wanita yang selalu berpikiran dewasa. Dia ternyata benar. Dia tersenyum, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat dia berbicara.


"Thanks, Baby. Your the best. Aku beruntung punya kamu," pujinya dengan tulus.


Tubuh Karina melemas seketika. Tangannya mencengkeram dada, menahan rasa sesak yang hampir membuat tangisnya meledak.


Selama ini dia sudah terbiasa berpura-pura baik-baik saja, tetapi dengan William rasanya sangat berbeda. Dia ingin lebih, dia ingin menjadi yang utama.


"Kamu berhak untuk itu, Sayang. Aku bukan pacar serakah yang akan dengan kejam menguras semua waktumu," ucapnya, berpura-pura bercanda.


"Lagipula, aku belum memiliki izin cuti kerja juga," bohongnya.


Dia bahkan tidak tahu apakah yang selama ini dijalaninya itu benar-benar sebuah pekerjaan!


"Jadi, nikmati waktu kalian. Jangan terlalu banyak berpikir."


"Bagaimana dengan breakfast?" saran William kemudian, berpikir itu dapat menebus makan malamnya yang tertunda dan juga rasa bersalahnya.


"Pergi ke restoran besok, dan aku akan memasakkan makanan kesukaanmu," putusnya sebelum Karina sempat menjawab.


Karina merasakan hatinya sedikit menghangat. Lapisan es yang sedari tadi menyelimuti hatinya perlahan mulai mencair.


"Oke," jawabnya senang.


William mengendurkan bahunya, syaraf-syarafnya yang sedari tadi terasa tegang kini rileks seketika. "Sudah diputuskan."


Tok tok tok!

__ADS_1


William menoleh ke pintu, ketukan kasar itu membuatnya terganggu.


"Sepertinya mereka datang," ucapnya pada Karina.


"Sambut mereka."


"Ya. Kalau begitu ...."


Tok tok tok!


William menggeram. "Tidak bisakah bersabar sebentar!" teriaknya, membuat Karina terkekeh.


Pandangan William beralih pada Anan yang hendak bangun dari sofa.


"Tetap berbaring!" bentaknya. "Biar aku yang buka pintu," lanjutnya dengan nada lebih lembut.


Karina terkejut. Dari nada suara William, dia bisa mendengar adanya sebuah kecemasan. Perasaan yang baru saja membaik tiba-tiba kembali tenggelam. Dia tidak tahu harus bagaimana kecuali diam.


'Apakah dia sepenting itu, Will?' Karina menggeleng.


"Baby, see you tomorrow. Love you." William menutup panggilannya dan bergegas menuju pintu bahkan sebelum Karina sempat menjawab.


Karina menatap layar ponselnya yang baru saja meredup, hatinya hampa. Dia selalu merasa yakin bahwa William benar-benar peduli padanya, tetapi entah mengapa dia juga merasa jika dirinya bukanlah prioritas utama untuknya.


'Siapa sebenarnya orang yang sedang bersamamu, Will? Apakah dia sepenting itu?'


Karina meremas dadanya karena rasa sesak yang kembali menyeruak. Hatinya berdenyut dengan lebih menyakitkan.


"Tidak bisakah seseorang benar-benar peduli padaku dan mencintaiku dengan tulus?" sedihnya. Membenamkan wajahnya pada bantal, Karina terisak hingga tubuhnya bergetar.


Tap tap tap!


Suara derap sepatu yang sudah sangat familier membuatnya tersentak. Tubuhnya menggigil, menyadari bahwa sebentar lagi sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya.


Karina mengangkat tubuhnya dengan perlahan, dia duduk dan meringkuk dengan kedua tangan memeluk lutut.


Dia kembali!

__ADS_1


__ADS_2