CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
CSM14 KEHILANGAN


__ADS_3

Salah satu kamar hotel yang telah disewa sebagai tempat peristirahatan untuk para tamu undangan itu terlihat ramai oleh beberapa petugas keamanan. Beberapa dari mereka mencoba menenangkan seorang perempuan muda yang tengah berjongkok ketakutan di luar kamar dengan tangannya yang gemetar. Bibir perempuan bermata sipit itu terus saja bergumam dengan kata-kata yang tidak begitu jelas.


Dengan napas yang masih tersengal-sengal karena berlari menuju ke sana, William berhenti sejenak untuk menenangkan diri sebelum akhirnya mendekati perempuan itu untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Hei. Ada apa denganmu?" sapanya. Perempuan itu menunduk, menggerutu sembari memeluk kedua lututnya.


"Apa kamu tahu di mana Anan?" tanyanya lagi. Perempuan itu masih tak mau bicara.


"Apa yang terjadi di sini? Kenapa kalian semua diam saja?"


William mulai emosi. Akan tetapi, orang-orang yang menemani perempuan yang tengah syok itu tidak ada yang menanggapinya sama sekali. Mereka sendiri kurang tahu siapa pemuda yang tengah menjadi korban tikam di dalam. Mereka takut salah bicara, maka memilih untuk diam. William menatap mereka dengan jengkel, dia mulai geram dan hilang kesabaran.


"Apa kalian semua bisu?!" bentaknya dengan wajah suram.


"Tuan ...."


Akhirnya ada seseorang yang mencoba membuka mulut, hendak menjawab pertanyaan dari William. Namun, belum sempat melanjutkan suara Robby tiba-tiba saja menginterupsi.


"Bukankah dia perempuan yang saat ini sedang dekat dengan Algo?"


William menoleh tak memahami. "Apa maksud lo, Rob?"


Dia menatap temannya tersebut, pikirannya mulai tidak enak.


"Kamu Araya, bukan? Kamu gebetannya Algo?" tanya Robby pada wanita berdarah cina itu.


Mendengar nama Algo disebut, perempuan itu seketika mendongak pada Robby dengan air mata yang masih berlinang. Mata jernih yang tertutup kabut itu menatap penuh harap padanya.


"Apa dia masih hidup? Katakan padaku. Apa dia masih hidup?"


Sembari terisak perempuan bernama Araya itu terus saja mengulang kalimat yang sama. Mendengarnya, tubuh ketiga pemuda itu menegang seketika. Mereka saling pandang sebelum akhirnya berlari serempak dan masuk ke dalam kamar hotel, meninggalkan perempuan yang masih menatap kosong pada kepergian mereka.


"Dia sudah pergi, bukan?" Araya kembali sesenggukan.


"Algo! Di mana Algo?" Sesampainya di tempat kejadian, Robby langsung berteriak sembari menyingkap keamanan. Tiga pasang mata itu terbelalak tak percaya saat mendapati kondisi dari temannya.

__ADS_1


"Algo!!" Ketiganya histeris.


Mereka mendekati tubuh Algo yang tengah terbujur kaku di sebuah sofa panjang dengan mata masih melotot. Tubuh Algo bersimbah darah. Dari kancing kemejanya yang terlepas, terlihat ada bekas luka tusukan tepat di dada sebelah kirinya.


"Kami baru berpisah sebentar. Dia bilang dia lelah dan ingin pergi untuk beristirahat. Aku mengiyakannya." Suara Robby serak karena menahan tangis.


Harusnya dia menemaninya, harusnya dia tidak meninggalkan Algo sendirian. Robby merasakan gemuruh di dalam dadanya, sementara tubuhnya terasa melemas. Namun, dia masih berusaha untuk tetap berdiri tegak dan bersikap tenang. Dia tidak mau membuat keadaan bertambah rumit, meski hatinya terus bertanya-tanya tentang apa yang tengah menimpa temannya.


Ginan yang menyadari keterpurukan pemuda itu menepuk bahu Robby mencoba untuk menenangkan.


"Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini kesalahan dari pihak kami juga yang kurang ketat dalam menjaga keamanan. Maafkan aku." Ginan merangkul bahunya.


Sementara kedua orang itu mencoba untuk saling menguatkan diri, William justru dalam keadaan linglung.


'Tusukan di dada sebelah kiri. Tusukan di dada sebelah kiri.' batinnya terus menerus menggumam.


Bayangan serupa dengan terputus-putus melintas di pikirannya, membuat William merasa panik dan akhirnya mual.


"Huuk ...." William menutup mulutnya lalu mengambil napas panjang dan menghembuskannya beberapa kali. Dia pikir dengan begitu dia bisa menenangkan diri. Namun, William justru melihat jika wajah pemuda yang terbaring di hadapannya itu bukanlah Algo. Dia menelan ludahnya dengan susah payah, dan tanpa sadar melangkah untuk mendekati tubuh kaku pemuda tersebut.


Orang-orang yang melihatnya dibuat terkejut dengan sikap William.


"Tuan, mohon jangan menyentuhnya!" seru salah satu petugas, setelah menyadari apa yang hendak William lakukan. Pemuda itu bisa merusak barang bukti!


Robby dan Ginan bergegas maju untuk menarik tubuh William setelah menyadari kelakuannya yang tak biasa itu. Mereka menahannya dengan mencekal lengan William di sisi kanan kiri.


"Lepasin gue, brengsek! Gue harus nolongin Calvin! Dia butuh gue!" teriaknya sembari memaksa melepaskan diri.


Ginan dan Robby mengabaikan rengekan putus asa dari William, dan memutuskan menyeret orang yang terus saja meronta itu untuk menjauh dari tempat kejadian.


"Jangan hentiin gue, bodoh! Calvin bisa mati kalau dibiarin terlalu lama! Kita harus cepat nolongin dia!" teriaknya lagi.


Ginan dan Robby menghela napas panjang. Mereka merasa iba melihat keadaan sahabatnya yang ternyata belum sepenuhnya pulih dan melupakan masa lalu. Apa yang dilihat William hari ini pasti menorehkan kembali luka lama sehingga mengganggu psikisnya. Namun, mereka tak mungkin diam saja.


Plak! Ginan terpaksa menampar pipi William, membuat pemuda itu terpaku.

__ADS_1


"Jangan gegabah, bodoh! Lo bisa ngerusak barang bukti, Le!"


William tercengang. Pandangannya jatuh pada kedua orang yang matanya terlihat samar-samar memerah, lalu beralih pada mayat di dalam ruangan. Dia akhirnya tersadar. Itu Algo, bukan Calvin!


"Apa dia sudah tidak bisa ditolong?" Ginan dan Robby terdiam.


William mondar-mandir sembari menggigit jari. Kadang-kadang dia mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Tak lama setelahnya, dia mendadak berhenti, dan berbalik kembali ke dalam ruangan.


"Apa kalian sudah memanggil polisi? Ambulan! Ya! Kalian harus memanggil ambulan juga! Cepat panggil ambulan!"


Ginan dan Robby saling pandang. Mereka tahu William belum berhenti sepenuhnya dari serangan paniknya. Ginan menghembus napas lelah sebelum akhirnya melangkah menghampirinya.


"Le!" bentaknya. Dia meraih kedua bahu orang yang tengah kebingungan itu. "Lo nggak boleh panik! Lo harus nenangin diri, ngerti!"


Tubuh William kembali membeku. Dia memandang orang yang mengguncangnya, dan mengangguk lemah bersamaan dengan buliran air mata yang tiba-tiba saja tertumpah.


"Gue nggak bisa nyelametin dia juga, bukan? Sama seperti gue nggak bisa nyelametin Calvin," lirihnya dengan penuh keputusasaan.


Calvin Ferdinand. Ginan dan Robby tahu William selalu merasa bersalah atas apa yang menimpa saudara kandungnya dua tahun lalu itu.


"Algo sudah pergi, Le! Kita harus bisa nerima kenyataan, supaya dia bisa tenang di sana," nasihat Robby dengan berat hati.


William terdiam. Tubuhnya lemas seakan tak lagi bertenaga. Dia tak mengerti. Setelah sekian lama dan dirinya mulai lupa, mengapa kejadian serupa bisa terjadi kembali.


Melihat William sedang mengalami syok berat hingga tubuhnya limbung, kedua pemuda itu bergegas membawanya keluar dan menjauh dari sana.


Ginan membawanya ke dalam kamar yang lain, dan mendudukkannya di sofa.


"Minum, Le," pinta Robby, menyodorkan segelas air mineral padanya. William menerimanya dan langsung meneguk minuman itu sampai tandas. Dia menatap sekeliling dan merasa sedikit lebih tenang.


Ruangan itu terasa hening dengan kehadiran ketiga pemuda yang kini tengah terdiam sambil merenung dengan pikiran dan spekulasi masing-masing. Apa yang terjadi pada Algo benar-benar mengejutkan mereka, mengguncang ketenangan ketiganya.


Ginan tanpa sadar melirik pada William, tetapi memilih untuk bungkam.


"Anan! Di mana Anan?!" seru William tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2