
Begadang sampai lupa waktu, pagi itu William beberapa kali menguap dan terlihat nampak lesu. Namun dia tetap memutuskan untuk pergi bekerja lebih awal demi janjinya pada Karina. Dia tak ingin membuat kekasihnya kecewa untuk yang kedua kalinya.
Matanya tersenyum cerah ketika melihat wanita itu telah menunggu di depan resto. Semangat yang tadi sempat meredup kini bangkit kembali. Bibir tipisnya melengkung. Dengan langkah lebar dia menghampiri Karina dan langsung membawanya dalam pelukan.
Mereka baru berpisah beberapa hari dan William sudah benar-benar merindukannya.
"Morning, Baby."
Karina terkekeh senang melihat sikap manja William padanya. Dia merasa senang karena dibutuhkan.
"Morning, Will," balasnya sembari mengeratkan pelukan.
"I miss you," bisik William, membuat telinga Karina memerah.
"Miss you so much, my Will," balasnya tak kalah manja.
William merenggangkan tubuh mereka lalu mengecup mesra kening Karina. Saat itulah netranya menangkap ada memar di pipi kiri kekasihnya. Terkejut, diusapnya pipi itu dengan lembut, kedua alis William saling bertaut.
"Ini, kenapa?" tanyanya.
Karina tersenyum meski sedikit kaku karena harus menahan rasa nyeri.
"Ah, tidak apa-apa. Ini baik-baik saja, Will. Ada nyamuk dan aku tanpa sengaja menamparnya terlalu keras," kilahnya tak ingin William khawatir.
William tentu tak percaya. Dia menatapnya curiga. "Kamu bohong!"
Karina mendadak gugup, tetapi dia dengan cepat mengubah ekspresinya seperti semula.
"Will! Aku mengatakan yang sebenarnya," sanggahnya lagi.
William yang hampir percaya kembali curiga setelah menyadari Karina memakai kacamata hitam. Awalnya karena terburu-buru dia tak terlalu memperhatikan. Sekarang dia semakin yakin bahwa kekasihnya itu telah menyembunyikan sesuatu.
Dia mengambil paksa kacamata yang bertengger di atas hidung Karina, membuat wanita itu terkejut. Ditatapnya sendu kedua mata sayu yang tengah membengkak itu dan hatinya turut merasakan sakit. Dia usap kedua netra Karina dengan hati-hati lalu dikecupnya secara bergantian.
"Siapa yang melakukannya, Karina?" William bertanya dengan tegas. Matanya menatap menyelidik, membuat Karina menjadi gugup.
"It-itu ...." Karina tergagap.
"Siapa, Karina?" geramnya. Cengkeramannya di bahu Karina bahkan semakin mengencang, membuat wanita itu sedikit mengernyit.
Masih menyembunyikan rasa bersalahnya, Karina memberi alasan. "Aku melakukan kesalahan di tempat kerja. Lalu bos kesal dan memukulku."
Karina menunduk, berharap pemuda itu mau mempercayai kebohongannya.
William mengangkat dagu Karina, menatap netra sayu itu untuk mencari kebohongan di sana. Sayangnya, Karina berhasil menutupinya dengan baik. Alasan itu sengaja dia persiapkan sejak awal untuk berjaga-jaga dan ternyata berguna. Dia pikir dia tak sepenuhnya berbohong pada William. Kenyataannya sikap dominan lelaki itu memang lebih seperti seorang atasan, meski hubungan mereka lebih dari itu.
Karina merasa tidak bersalah, tetapi tidak demikian di mata orang itu! Karina sering mempertanyakan di mana letak kesalahannya, tetapi dia tidak pernah mendapatkan jawaban.
"Keluar dari sana, Baby. Cari pekerjaan yang lebih aman," pinta William dengan lembut. Dia membelai pipi memar itu dengan penuh kasih sayang lalu mengecupnya dengan hati-hati.
Sudut mata Karina berair karena rasa haru. Rasa hangat meluap dalam hatinya. Dia bahagia karena William peduli padanya dan rasa nyeri itu seakan menghilang begitu saja.
"Heem. Aku akan mencoba."
__ADS_1
William menyatukan bibirnya dengan bibir Karina.
"Jangan hanya mencoba, tetapi harus dilakukan. Mengerti?"
Karina mengangguk. "Aku berjanji."
William mengusap lembut puncak kepalanya. "Ini masuk tindak kekerasan. Apa kamu tidak ingin melaporkannya?" Jika iya, maka William pasti akan menjadi yang pertama mendukungnya.
Pertanyaan itu membuat Karina tertegun. Ingatan akan kejadian semalam muncul begitu saja di pelupuk matanya. Bagaimana lelaki itu menyiksanya dan mengancamnya dengan berbagai cara. Karina menelan rasa takutnya.
"Dasar wanita murahan! Teruslah melawanku dan lihat bagaimana aku akan menyiksanya tepat di depan matamu!" ancamnya.
Tubuh Karina menegang saat mengingatnya. Wajahnya tiba-tiba memucat, seakan warna darah telah terkuras habis dari sana.
"Baby!" William yang menyadari ekspresi salah itu segera memanggilnya. Namun, Karina tak menyahut.
"Karina, hei!" seru William. Dia mengguncang pelan tubuh kekasihnya, tetapi jiwa Karina masih terkunci di sana.
"Karina, Baby! Hei, ada apa?" William yang panik memutuskan untuk menepuk-nepuk wajahnya.
Karina mengerjap, rasa nyeri membawanya kembali ke dalam kesadaran.
"Sorry, Baby. Aku terpaksa." William tahu dia telah menyakiti wajah bengkaknya. Dia mengusap pelan wajah itu dan menciumnya kembali.
"Are you oke?" Karina mengangguk.
"Jangan khawatir. I'm fine. Hanya ... teringat kemarahannya semalam." Karina menggigit bibirnya.
"Janji sama aku buat keluar dari sana." Karina tentu mengangguk. Dia memang sudah bertekad untuk itu, dan akan berusaha keras untuk lepas darinya apa pun yang terjadi.
Bagaimana jika William mengetahuinya?
'Maaf, Will. Aku terpaksa.'
"Ikut denganku."
William menggenggam jemari Karina dan membawanya masuk ke dalam restoran setelah membuka pintu. Dia membimbing Karina untuk duduk di tempat favorit wanita itu. Katanya, dari sana dia bisa menyaksikan William bekerja.
"Tunggu," pintanya, meninggalkan Karina ke dalam pantry.
Mata Karina mengikuti setiap langkah William. Dia menatap senang pada pemuda yang tengah sibuk membuat minuman untuknya. Rasa takut yang tadi sempat dirasakannya kini terlupakan.
"Aku sungguh beruntung," gumamnya.
Dia memang sangat beruntung karena dicintai oleh orang seperti William. Hanya saja, dia tidak tahu sampai kapan keberuntungan itu akan berpihak padanya.
William kembali dengan segelas jus buah. Karina mengerjap tak percaya. Mango Milk Juice favoritnya telah dihias dengan sangat romantis. Ada cokelat susu berbentuk hati di permukaannya.
Karina tersenyum, air mata bahagia menetes dari sudut matanya.
"Love you so much, My Will." Dikecupnya singkat bibir William.
William terkekeh dan membalas kecupannya.
__ADS_1
"Nikmati minumanmu," katanya kemudian. Dia kembali ke dalam pantry.
Karina menyesap jus yang terasa lebih nikmat dari biasanya itu. Pandangannya tak pernah beralih dari pemuda tampan yang tengah sibuk di pantry dengan bahan-bahan makanan. Appron berwarna putih di tubuhnya membuat William terlihat lebih keren.
Karina melamun, membayangkan seandainya mereka telah menikah dan menyaksikan penampilan keren kekasihnya itu setiap hari. Rona merah muncul di pipinya.
'Teruslah melawanku dan lihat bagaimana aku akan menghancurkannya!'
Ekspresi wajah Karina berubah drastis kala kalimat itu berdengung kembali. Bibirnya bergetar dan tubuhnya mulai menggigil. Dikepalkannya kedua tangan sembari menarik napas panjang. Dia tidak boleh terlihat tertekan di depan William!
"Hello Mrs. Larasati, pesanan anda siap dihidangkan."
Karina mengerjap, tatapannya langsung bertemu dengan senyum manis William. Pemuda itu terlihat sangat bersemangat ketika menurunkan hidangannya satu persatu.
"Selamat menikmati menu spesial dari orang yang spesial."
Karina terkekeh dengan tingkah laku kekasihnya. Dia berdiri, menangkup kedua pipi William dan mencium lembut bibirnya. Menatap semua hidangan favoritnya di atas meja, dia merasa sangat bahagia. William sangat memanjakannya.
"Aku benar-benar beruntung," ucapnya.
Mendengar itu William mengusap pelan rambutnya.
"Kewajibanku sebagai seorang pacar."
Tak lama setelahnya suasana menjadi hening. Hanya suara sendok serta garpu yang sesekali terdengar berdenting. William menatap wanita yang tengah fokus dengan makanannya, merasa senang melihat Karina menikmati makanan yang telah dia buat.
"Ini enak," katanya bersemangat.
"Baby," panggil William.
Karina mendongak. "Ya."
"Apa nanti malam kamu ada waktu?" tanyanya.
"Apa ada sesuatu yang penting?" Karina balik bertanya.
"Undangan ulang tahun putra Wibisana. Bisakah kita pergi bersama?"
Tangan Karina membeku. Ingatan tentang sebuah undangan yang di letakkan di atas meja riasnya tadi pagi membuatnya terdiam. Dia menunduk, mencengkeram erat sendoknya. Mereka memiliki undangan yang sama.
"Apa ... berbenturan dengan jadwal kerjamu?" tanya William menyadari keengganannya.
Karina mengangguk, bohong. Kalimat William seakan menjadi sedotan penyelamat baginya setelah tak tahu harus membuat alasan seperti apa.
William merasa sedikit kecewa, tetapi dia mencoba menekan perasaannya. Dia pikir saat itu akan menjadi momen yang tepat untuk memperkenalkan Karina pada teman-temannya.
"Tidak masalah. Jangan terlalu dipikirkan," katanya kemudian. "Ingatlah untuk secepatnya mengundurkan diri dari sana. Aku tak ingin melihatmu kembali terluka."
Kata-kata tulus dari William membuat Karina merasa lebih bersalah. Jika saja mereka tidak memilih undangan dari orang sama dan di waktu yang bersamaan pula, mungkin dia masih bisa memikirkan cara.
"Tunggu ...." Sesuatu melintas dipikirannya.
"Kamu bisa datang duluan dan aku akan menyusul. Bagaimana dengan itu?"
__ADS_1
Jika William setuju, Karina hanya harus mengatur cara untuk pergi diam-diam dan menemuinya!