CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
TARGET


__ADS_3

CINTA SANG MAFIA 23


TARGET


"Gimana Anan?" tanya William sesampainya di rumah sakit, dengan napas ngos-ngosan.


Robby yang sedang duduk di depan ruangan tempat Anan tengah dirawat, menatap William yang baru saja tiba. Dia mencebik saat melihat pemuda itu telah basah berkeringat seperti habis lari maraton. Dua kancing kemeja bagian atas yang dibiarkan terbuka karena kegerahan, membuat William tampak lebih menawan. Jika saja Robby adalah seorang gadis, dia yakin akan terpesona hingga tak berkedip menatapnya. Meski tubuh William belum terbentuk sempurna, nyatanya pemuda blesteran itu masih nampak mempesona.


"Nggak ditegur orang, lo, Le. Lari-lari di rumah sakit kayak gitu?" sindirnya.


William yang kini kelelahan mendelik kesal padanya. "Anan, gimana?" ulangnya.


Bukannya menjawab pertanyaan William, pemuda berambut cepak itu justru berpaling bermain ponsel, mengacuhkannya. Dia masih kesal karena William tidak dapat dihubungi saat dalam keadaan darurat.


"Punya ponsel buat apa sih, Le? Kalo nggak guna mending buang aja!" timpal Ginan yang baru saja tiba dari ruang pendaftaran, selesai mengurus surat rawat inap untuk Anan.


William tidak protes dengan sikap mereka. Meski itu tak dia sengaja, dia sadar dirinya bersalah. Tak seharusnya dia bersikap ceroboh dengan meninggalkan ponselnya begitu saja. Dia merasa tak punya hak untuk tersinggung dengan sindiran teman-temannya itu. Lagipula, dia lagi-lagi telah mengingkari janjinya pada Anan.


"Sorry. Hp gue ketinggalan tadi, dan gue baru sadar setelah sampe kosan," keluhnya.


Ginan memandang menyelidik padanya. "Nggak biasanya, Le. Seingat gue, lo itu paling anti jauh sama hp," cibirnya.


William mendengus, tak berniat untuk menjelaskan pada mereka. Toh, percuma saja. Ujung-ujungnya dia bakalan dapat ceramah juga, meski memang pantas untuk mendapatkannya.


"Gue lihat Anan dulu, ya," putusnya kemudian.


William memasuki ruangan itu dengan wajah lesu. Anan di rawat dalam ruangan kelas dua, yang biasanya hanya muat untuk dua sampai tiga pasien saja. Namun, mengingat kondisi Anan membutuhkan ruangan yang lebih leluasa, baik dulu maupun sekarang William selalu memutuskan menyewa satu ruangan untuk Anan seorang. Setidaknya tidak akan lebih mahal dari ruangan kelas pertama.


Melihat temannya terbaring menutup mata dengan masker oksigen menutupi mulut serta hidungnya, William merasa sedih. Ada sebuah plester yang menempel di dahi Anan, dan satu lagi di sikunya.


"Masih dalam pengaruh obat tidur. Belum waktunya untuk bangun," jelas Ginan, yang tanpa William sadari telah mengikutinya ke dalam ruangan.


Wajah William murung. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Anan?"


Ginan menatap iba pada pemuda lemah yang kini tengah tertidur dengan tenang itu, lalu menepuk pelan punggung William. "Kita bicara di luar saja," usulnya.


Dari nada bicaranya, William dapat menebak bahwa masalahnya tidaklah sesederhana yang dia pikirkan.


"Gue tinggal dulu, Nan. Nanti gue balik lagi," pamitnya, meski saudara angkatnya itu tak menanggapi.


William berbalik dan menyusul Ginan yang sudah ke luar terlebih dahulu. Dia menutup pintu dengan pelan, lalu menghampiri kedua temannya yang terlihat sudah sangat serius itu.


"Duduk," perintah Ginan.


William menurut. Mereka bertiga duduk di kursi yang sama, dengan Ginan yang berada di tengah-tengah. William melirik kedua temannya, menunggu dengan was-was apa yang hendak mereka sampaikan.


"Bisa dibilang ini bukan sebuah kecelakaan," ucap Ginan.

__ADS_1


Mata William melebar. "Maksudnya, gimana?"


"Lebih tepatnya kecelakaan yang disengaja, Le." Robby menimpali.


William menatap tajam temannya itu satu-persatu, berharap mereka sedang bercanda.


"Kalian enggak lagi bercanda, kan?"


Robby mendelik tajam padanya. "Lo pikir, nyawa orang pantas dibuat bercanda?"


Dia merasa emosi. Biar bagaimanapun, dia dan Anan bekerja di tempat yang sama. Meski fisiknya lemah, Anan adalah pemuda yang rajin dan juga pekerja keras. Itu sebabnya perusahaan mempercayakan Anan di posisi staf administrasi, meski mengetahui kondisinya yang rapuh. Robby menyukai temannya itu.


"Kejadiannya di mana?" William tahu dia telah berkali-kali membuat temannya emosi.


"Depan Ziya's Cafe."


Ginan menyodorkan ponsel yang berisi sebuah video rekaman padanya. Ragu bercampur gemetar, tangan William mulai membuka rekaman video tersebut.


Terlihat seorang pemuda berhoodie baru saja ke luar dari Ziya's Cafe. Karena kejadian itu terjadi pada malam hari, tentu saja tidak terlihat jelas apakah pemuda itu Anan atau bukan. Hanya saja, dalam sekejap William dapat mengenalinya dari pakaian yang pemuda itu kenakan. Hoodie itu sengaja mereka beli sepasang lewat aplikasi online.


Anan terlihat hendak menghampiri taksi di seberang jalan ketika tiba-tiba sebuah motor melaju dengan kencang dari arah kiri. Karena terkejut, Anan tak sempat menghindar hingga membuatnya terserempet, lalu terjatuh. Baru saja hendak bangun, orang itu menstarter motornya dengan keras hingga knalpot motornya mengeluarkan begitu banyak asap. Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anan karena asap kendaraan itu, sampai motor tersebut akhirnya berhenti.


"Ini benar-benar di sengaja!" Hati William seakan tenggelam.


Setelah berhenti, orang yang wajahnya tertutup helm itu sempat menengok ke arah kafe. Lalu dengan tiba-tiba dia bergegas melajukan kendaraannya, meninggalkan Anan yang sedang terbatuk-batuk hebat sembari meringkuk di jalan.


"Beruntung semalem Ning Ziya langsung membawa Anan ke rumah sakit," ucap Robby.


"Tapi anak itu pingsan sebelum sampai di tempat tujuan," lanjutnya.


William menyaksikan semua adegan itu dengan wajah muram. Tangannya mencengkeram ponsel itu dengan kuat. Dia tahu kecelakaan itu memang disengaja. Orang yang melakukannya ingin menjadikan itu semua sebagai sebuah peringatan untuk seseorang, agar tidak lagi menyinggungnya.


William menghela napas panjang lalh menghembuskannya secara perlahan untuk menekan emosinya.


"Dia Ning Ziya?" tanya William sembari menunjuk pada sosok yang tengah membantu Anan.


Ginan mengangguk. "Dia yang menelepon kami."


"Di mana dia sekarang?"


"Aku menyuruhnya pulang. Kasihan. Gadis itu kelelahan."


William mengangguk menyetujui. "Aku ingin bicara dengannya besok. Juga sopir taksi itu."


Pikiran William berkecamuk. Dia merasa ada yang aneh dengan kejadian akhir-akhir ini. Jejak sepatu, kematian Algo, mawar hitam, dan sekarang penyerangan terhadap Anan. Kejadian itu seperti ditujukan pada orang yang sama. Dan orang itu adalah ....


"Apa lo nggak ngerasa ada yang aneh dari kejadian ini?"

__ADS_1


Ginan mengangguk. "Bukankah kejadian ini serupa dengan kematian Algo?" tanyanya.


William setuju dengan pemikiran itu, karena dia memiliki pemikiran serupa. "Kamu benar."


Di sini, Robby yang kebingungan. "Maksudnya, gimana?"


"Kita yakin pelakunya bukan orang yang berbeda. Dia sama-sama teliti dan juga sangat berani. Meski dilakukan di malam hari, tapi dia secara terang-terangan melakukannya di tempat umum. Sama seperti yang dia lakukan pada Algo."


Robby tertegun mendengar penjelasan dari Ginan. "Kamu benar. Orang ini benar-benar gila!"


"Hanya saja, apa motifnya dan siapa orang yang sengaja ingin dia beri peringatan?"


William menyahut dengan berat hati. "Orang yang paling dekat dengan korban."


Baik Ginan maupun Robby tanpa sadar menoleh padanya. William tersenyum pahit. "Aku tidak menyinggung siapa pun, jika itu yang ingin kalian ketahui."


Ginan berpikir sejenak. "Apa ada sesuatu yang belum lo kasih tahu ke kita, Le?"


William mengeryit. "Maksudnya?"


"Mungkin ada sesuatu yang janggal terjadi sama lo akhir-akhir ini, tetapi lo abaikan karena berpikir itu sepele. Seperti sebuah ancaman, misalnya. Jika ini sebuah teka-teki, hal sekecil apa pun kita butuhkan untuk melengkapi potongan-potongan puzzle tersebut," jelasnya.


William paham, dan tak berniat menyembunyikan apapun dari teman-temannya. "Waktu tadi gue ke rumah Karina, gue enggak sengaja nemuin setangkai bunga mawar di depan pintunya."


Robby mengernyit," kita nggak lagi bahas tentang lo yang merasa cemburu pada seseorang, ya, Le."


William memelototinya." Dengerin dulu sampai kelar kalau ada orang ngomong!"


Robby menggaruk tengkuk, cengengesan.


"Itu setangkai mawar hitam."


Kedua orang itu terkejut menatap William.


"Dengan sebuah kartu ucapan. Isinya ...."


"Jangan dipotong-potong kalau ngomong. Ini bukan drama yang loe kudu ikuti instruksi sutradara baru lanjut!" ucap Ginan kesal.


William terkekeh, lalu melanjutkan "You-are-mine," tekannya.


Keduanya langsung bergidik.


"Tulisannya ditulis dengan tinta warna merah," ucapnya, membuat mereka bertambah ngeri. Mereka tahu persis makna di balik mawar hitam.


"Mawar hitam simbol kesialan. Belum lagi kata-katanya yang ditulis dengan menggunakan warna merah. Sepertinya orang ini sangat membenci orang yang dia targetkan." Robby menyimpulkan.


"Itu sebuah dendam," timpal Ginan. "Dan target utamanya kemungkinan adalah kamu," katanya, sembari menatap William. William diam, tak menampiknya.

__ADS_1


"Coba kamu pikir-pikir kembali, sejak kapan kejadian-kejadian aneh ini telah dimulai."


__ADS_2