CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
PENOLAKAN


__ADS_3

CINTA SANG MAFIA 26


PENOLAKAN


"Kenapa kamu ke sini?" William mengerutkan kening melihat kedatangan Karina.


Mata sayu Karina meredup, pertanyaan itu tentu saja melukai hatinya. Mengetahui bahwa kekasihnya sendiri menolak kehadirannya, dia pun cemberut. Padahal, dia sudah sangat merindukan William dan berharap akan disambut dengan hangat. Sebuah pelukan, misal? Atau, setidaknya seulas senyum. Sayangnya tidak keduanya. Karina sendiri merasa heran dengan sikap cuek kekasihnya. Namun dia berusaha untuk tetap tenang, beranggapan bahwa William seperti itu mungkin karena keadaan Anan.


"Temanmu sedang sakit. Bukankah sudah sewajarnya aku pergi untuk menjenguknya?" ketusnya.


William terdiam. Ada beberapa hal yang sebenarnya menganggu pikiran pemuda itu belakangan ini, hingga membuatnya tak ingin bertemu Karina untuk sementara waktu. Setidaknya, sampai dia bisa memastikan keraguannya. Namun, dia juga tidak mungkin menolak niat baik wanita yang selama ini dicintainya itu. Karina berhak melakukannya.


"Sorry. Duduklah." William melembutkan nadanya. Dia berdiri dan memberikan tempat duduknya itu pada Karina. Karina tersenyum senang. Dia duduk lalu menyapa Anan. "Hai, Anan. Gimana keadaan kamu sekarang?"


"Sudah semakin membaik. Lusa sepertinya sudah bisa pulang," jawab Anan dengan datar.


"Itu bagus. Aku membawakan buah-buahan untukmu. Apa kamu ingin mencobanya?" tanya Karina dengan antusias, sembari menunjuk keranjang berisi buah-buahan yang sudah dia letakkan di atas nakas. Dia merasa sangat senang mengetahui jika Anan baik-baik saja. Dengan begitu, setelah ini dia tentu akan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama William. Dia egois, memang. Namun Karina tak merasa jika hal itu berlebihan.


"Aku akan mencobanya nanti," tolak Anan. Karina mengangguk, tak keberatan.


"Terima kasih sudah mau repot-repot datang ke sini untuk menjengukku, Karina," imbuh pemuda itu.


Karina tersenyum. "Tidak masalah. Kebetulan aku hari ini sedang ada waktu luang. Jadi, aku sempatkan untuk datang," balas Karina.


Lagipula, dengan menjenguk Anan dia juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan kekasihnya. Sekali menyelam sambil minum air, begitulah pikirnya. Dia tidak merasa dirugikan sama sekali, kecuali tanggapan William yang tak sesuai ekspektasi.


Ruangan yang semula hidup itu perlahan menjadi sunyi. Hanya percakapan ringan dari Karina, Anan dan juga William yang kadang-kadang terdengar memecah keheningan. Dalam sekejap, suasana terasa sangat canggung.


Berbeda dengan Robby yang selama ini selalu bersikap cuek dan biasa-biasa saja dengan kehadiran Karina, Ginan sejak awal memang tidak pernah menyukai wanita itu. Sedari pertama kali Karina memasuki ruangan, dia telah menatapnya sinis sembari menahan rasa muak terhadapnya. Ginan memang memiliki beberapa asumsi negatif terhadap Karina, tetapi dia tak mau mengungkapkannya, tak ingin membuat William merasa kecewa. Dia lebih memilih temannya itu mengetahui semuanya dengan cara yang berbeda.

__ADS_1


Karina sebenarnya sudah mengetahui tentang kebencian Ginan terhadapnya, tetapi dia berusaha untuk menutup mata. Selama orang itu tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya terhadap William, dia cukup merasa lega.


Ginan memijit pelipisnya, dia akhirnya menyerah. Dia tak sudi berlama-lama di dalam satu ruangan dengan wanita seperti Karina. "Gue pergi dulu, ya, guys. Kasih tahu gue kalau ada yang perlu dibantu," pamitnya, langsung beranjak dari tempat duduk.


William mengangguk tanpa menoleh padanya. Sementara itu, Anan mengacungkan jempol dan berterima kasih padanya. "Siap, bos. Thanks buat semuanya, ya," ucapnya tulus.


Ginan tersenyum tipis, lalu mulai berjalan meninggalkan ruangan.


"Gi, gue ikut," seru Robby tiba-tiba di saat Ginan mulai membuka pintu. "Gue pergi juga. Bye," pamitnya pada mereka dengan tergesa. William dan Anan hanya bisa menggeleng dengan sikap Robby.


"Lo tuh seneng banget ngintilin orang, ya, Rob. Kayaknya hidup lo tuh gak bakalan pernah sempurna kalau sampai terbiasa jalan sendirian," sindir Ginan yang langsung dibalas kekehan oleh Robby.


"Gue kalau jalan sendirian takut kesambet terus nggak ada yang nyadarin, Gi! Kan sayang," candanya, membuat Ginan menggeleng tak berdaya.


***


"Thanks, Will. Udah mau anterin aku sampe parkiran," ucap Karina sembari tersenyum manis padanya. "Aku pulang dulu, ya. Kamu jangan lupa istirahat dan jangan sampai telat makan," imbuhnya dengan penuh perhatian.


"Will!" Tepukan lembut dari Karina menyadarkan lamunannya.


"Ya," jawabnya tergagap.


"Kamu kenapa, Will?" Karina merasa khawatir.


William tersenyum canggung padanya. "Aku ... mungkin kelelahan," kilahnya.


Karina menatapnya prihatin. Hatinya merasa sakit melihat kekasihnya yang nampak lebih kuyu. Diusapnya lembut wajah William, ada rasa bersalah yang langsung menggelayut di dalam hatinya.


"Aku akan pergi. Istirahatlah dengan baik setelah ini. Oke." Wanita itu mengecup singkat bibir tipis William lalu berbalik. Saat hendak masuk mobil, tiba-tiba William menarik yangnya.

__ADS_1


Karina mengerutkan kening, menatapnya dengan heran. "Kenapa, Will?"


"Apa enggak ada yang mau kamu bicaraiin sama aku, Karin?" tanya William dengan nada terpaksa.


Karina tidak terkejut sama sekali. Dia tahu, cepat atau lambat hal seperti ini pasti akan terjadi. Mau tak mau mereka memang harus bicara, dan Karina harus mengatakan yang sejujurnya meski dia tak akan pernah rela dengan konsekuensinya. Sikap William yang sedari tadi terlihat menghindar sudah menyakiti hatinya.


Karina tersenyum kecut. Dia menepuk lembut punggung tangan William dan menatapnya dengan penuh cinta.


"Tunggu sampai keadaan Anan membaik, ya. Baru kita bicarakan semuanya," pintanya.


William hanya menatapnya tanpa bicara. Karina tahu pemuda itu meragukannya.


"Aku ngerti, Will. Banyak hal yang ingin kamu tanyakan tentang aku. Aku mencintaimu, dan aku tak akan pernah melarikan diri." Dia meraup wajah tampan itu, mengusapnya kembali dengan lebih lembut. "Kamu berhak mengetahuinya, dan kamu berhak memutuskan pilihan. Tapi tidak sekarang, Will. Kamu butuh pikiran yang jernih untuk menerima semua jawaban dari aku nanti," ucapnya dengan bijak.


William terkesiap, tak menyangka Karina akan menanggapinya dengan sangat bijaksana. Hal-hal seperti inilah yang selalu membuat William jatuh hati padanya.


William meraih kedua tangan mungil itu dari wajahnya, menggenggamnya dengan lembut. "Sorry, Beby. Aku nggak ada maksud kayak gini," ucap William, lalu memeluk Karina.


Karina menepuk pundak pemuda itu, berusaha memahami kondisinya saat ini. "Kamu tidak salah. Kamu berhak mengetahui apa pun yang kamu ingin ketahui tentang aku. Hanya saja, kondisi kamu saat ini tidak tepat."


William melepaskan pelukannya, menatap dengan rumit wanita di hadapannya. Pada akhirnya dia memilih untuk mengecup pelan kening Karina, tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin kedepannya dia harus berpikir berulang kali dulu sebelum memutuskan sesuatu, agar tidak merugikan atau menyakiti satu sama lain.


"Pulanglah. Istirahatlah dengan baik." William mengusap lembut puncak kepala kekasihnya.


"Kamu juga," balas Karina sembari tersenyum. Dia masuk ke dalam mobil dan William membantunya menutup pintu. Setelah mobil menyala, Karina yang merasa tidak tenang membuka kaca jendela.


"Will, jaga dirimu baik-baik," katanya, lalu melambaikan tangan.


Mobil berwarna putih itu meninggalkan William yang tengah mematung sendirian. Dia tak menyadari bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang terus menyaksikan kemesraan keduanya, dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


Bibir lelaki itu menyeringai, " ternyata benar, kamu ke sini."


__ADS_2