CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
BIMBANG


__ADS_3

"Will! Kamu ngapain ke sini?" Mata sayu Karina membulat karena terkejut. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu dengan cepat menyeret William masuk ke dalam apartemen. Peluhnya menetes, ketakutan serta kekhawatiran terlihat jelas dari raut wajahnya.


William memandang iba pada wanita yang keadaan sudah terlihat sangat kacau itu. Matanya seketika melembut, karena merasakan sebuah penyesalan. Semalam William pasti telah membuat kekasihnya itu sangat ketakutan karena meninggalkannya sendirian.


"Beby, kamu baik-baik saja?" tanyanya sembari merapikan rambut hitam sebahu Karina yang berantakan. Dia lalu menyisipkan rambut wanita itu ke belakang telinga dan mengusap lembut dahinya yang berkeringat. Diperlakukan seperti itu, hati Karina pun menghangat. Ketakutan yang sedari tadi dirasakannya kini sedikit memudar.


"Aku telepon kamu. Tapi nggak kamu jawab. Aku khawatir, jadi ke sini," terang William, sembari menatap kekasihnya yang terdiam. "Kamu marah sama aku?"


Karina yang tengah sibuk memandangi wajah tampan kekasihnya itu pun tersenyum haru. Marah? Kata itu tidak akan mungkin ada dalam kamusnya. Jika pun ada orang yang saat ini pantas untuk marah, itu seharusnya adalah William sendiri.


Karina hanya tidak sempat berpikir sejauh itu, sehingga tidak mengira William akan datang mencarinya. Jika tahu akan seperti ini, dia pasti sudah memilih untuk mengangkat panggilannya saja. Karina terus menatap sepasang mata biru yang terlihat sangat tulus itu, dan keinginannya untuk bisa bersama William meluap menjadi semakin besar.


"Aku baik-baik aja, Will." Karina tersenyum lembut. "Kenapa aku harus marah sama kamu? Hp aku semalam aku atur mode silent, dan lupa tidak mengaturnya ulang. Jadi, aku nggak lihat kalo ada panggilan masuk dari kamu. Maaf," bohongnya.


William mendesah lega. Dia pun mengecup singkat bibir sedikit tebal yang terus saja bicara itu, dan menarik pemiliknya ke dalam pelukan.


"Beby, aku yang seharusnya minta maaf sama kamu. Maaf semalam udah ninggalin kamu sendirian. Kamu pasti ketakutan, kan?"


Ya, Will. Aku ketakutan. Tapi bukan Karina itu, batin Karina.


Karina memeluk tubuh tinggi itu dengan erat. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang William, merasakan kehangatan serta detak jantung yang terdengar begitu menenangkan.

__ADS_1


Permintaan maaf yang tidak seharusnya diucapkan William padanya membuat Karina merasa semakin bersalah. Dihidunya aroma menyenangkan dari kekasihnya itu, sesekali dia menggosokkan kepalanya di sana. Karina sedang sibuk dengan pemikirannya, dia menimbang-nimbang ragu. Antara harus memberitahukan semua kebenaran terhadap William dan menerima segala konsekuensinya, atau menyembunyikannya sejauh yang dia mampu supaya tetap bisa bersama dengan kekasihnya itu seperti yang dia inginkan.


Karina berada dalam dilema. Jika dia memilih opsi kedua, bukankah itu sangat tidak adil untuk William. Namun, memilih opsi pertama artinya dia harus bersiap dengan kemungkinan ditinggalkan.


"Will. Algo ...."


"Shut!" Karina baru saja hendak mengambil keputusan besar ketika William tiba-tiba menutup bibirnya dengan kedua jari. William tak memberi dia kesempatan untuk menjelaskan, padahal Karina sudah menguatkan hati untuk menceritakan semuanya. Terlepas dari apakah akhirnya William akan memaafkan dan melindunginya, atau justru mengabaikan dan melepaskannya begitu saja, Karina akan menerima dengan lapang dada. Dia sudah bersiap dengan segala resikonya!


'Mungkin semesta sengaja berbaik hati padaku sehingga memberiku jalan seperti ini,' batinnya lega.


Karena dia tidak diberi kesempatan, maka Karina memutuskan untuk menikmati saja jalan yang sudah semesta berikan.


"Jangan memikirkannya lagi, oke. Aku ada di sini buat kamu. Kamu jangan takut," kata William dengan penuh kasih sayang.


"Will ...." Jemari Karina mengusap lembut dada William. Ada kesenangan di sana yang membuatnya tak ingin berhenti, tak bisa berpaling darinya meskipun kenyataan selalu berujung menyakitkan. Dia membenamkan kembali wajahnya, menumpahkan segala keluh kesahnya melalui air mata. Dengan cara itu, Karina merasa bisa bernapas dengan lega.


"Terima kasih buat semuanya," lanjutnya.


Pemuda itu mengangguk, turut merasakan kesedihan Karina saat hangatnya tetesan air mata wanita itu menembus membasahi permukaan dadanya. William melepaskan pelukannya. Kedua telapak tangannya yang sedikit kasap itu membelai lembut wajah Karina, mengusap pelan air matanya hingga bersih. Dia menatap sepasang mata sayu yang sudah membengkak itu dengan penuh kasih sayang, dan menciumi matanya secara bergantian.


"Jangan menangis lagi, oke," pintanya. "Aku tak ingin air mata yang berharga ini terjatuh begitu saja dari mata indahmu," sanjungnya kemudian.

__ADS_1


Karina tersentuh dengan kata-katanya. Dia tersenyum haru, lalu mengangguk dengan kedua tangan William yang masih berada di kedua pipinya. Tanpa ragu lagi dia melingkarkan kedua tangannya di leher William, memangkas jarak di antara mereka. Karina menempelkan bibirnya pada bibir William, lalu mengecupnya dengan hati-hati.


Kecupan yang awalnya ringan itu semakin lama semakin terasa dalam, liar dan memabukkan, hingga keduanya tenggelam dan hampir lupa diri. Karina ******* bibir William dengan serakah, bibirnya menelusup di antara sela-sela gigi pemuda tampan itu dan bermain-main di sana.


William tak ingin kalah darinya. Dia membalas setiap perlakuan Karina, mencoba mengimbangi permainannya dengan lebih baik lagi. Keduanya pun saling membalas, saling ******* dan berusaha untuk memuaskan satu sama lain.


Kedua tangan William yang awalnya mencengkeram lembut pinggang Karina itu pun perlahan mulai terlepas, lalu menelusup ke dalam baju kimono tipis Karina. Dia meraba-raba di sana, lalu berhenti saat sampai pada kedua benda bulat yang berada di dada Karina. Dia mengusapnya lembut, lalu meremasnya dengan penuh gairah. Merasa gemas, remasan yang awalnya lembut itu semakin lama menjadi semakin keras.


"Aaww! Will!" Karina yang awalnya melenguh menikmati permainan William akhirnya memekik kesakitan. William pun menghentikan aksinya.


Karina merintih dan memelototi kekasihnya itu. "Sakit, Will." Dia mengerucutkan bibir.


William yang awalnya tertegun karena merasa bersalah, pada akhirnya justru terkekeh. Dia lupa jika Karina masih datang bulan.


"Sorry, Beby. Aku lupa dan terlalu bersemangat," cengir William.


Pemuda itu mengusap lembut bahu kekasihnya yang masih cemberut. Dia lalu menggenggam jemari tangan kiri Karina, dan menariknya menuju kamar. Karina terkejut.


"Will, mau ngapain?" serunya kebingungan. Tidak mungkin mau melakukan itu, kan? Karina panik.


"Tidur." William menjawabnya dengan tak acuh.

__ADS_1


"Will!" bentak Karina, sebelum menghentikan langkahnya. Dia memandang tak percaya pada kekasihnya yang terlihat pendiam itu.


__ADS_2