
CINTA SANG MAFIA 22
PESAN
William masih bisa melihat dengan jelas jejak kesedihan dari pelupuk mata lelaki yang baru saja ditemuinya itu, pun dari mata sayu kekasihnya. Tak ingin lebih memperkeruh suasana, dia menekan rasa penasarannya tentang setangkai mawar hitam yang sebelumnya dia temukan di depan pintu rumah Karina.
YOU ARE MINE!
Pesan pendek dengan tinta warna merah yang tertulis dalam kartu ucapan itu membuatnya memiliki praduga bahwa diam-diam Karina telah menyembunyikan sesuatu darinya. Dari kalimatnya, tersirat jelas bahwa kata-kata itu ditujukan pada pemilik rumah. Itu lebih seperti sebuah peringatan. Meski begitu William masih mempertahankan sikap tenangnya, berusaha untuk mengerti bahwa setiap orang pasti memiliki privasinya masing-masing. Begitupula dengan Karina. Wanita itu pasti memiliki kesulitannya sendiri. William yakin, jika Karina benar-benar mempercayainya, suatu saat wanita itu pasti akan menceritakan semuanya kepadanya. Apa pun itu, tanpa terkecuali.
"Mungkin hal itu terlalu sensitif, sehingga saat ini Karina masih belum siap untuk berbagi denganku. Aku bisa menunggu," batinnya.
Sayangnya, ketika hari itu datang semua sudah terlambat!
"Saya, ingin lebih serius sama Karina, Om," ungkap William dengan kaku.
Bramantyo menatap lekat wajah pemuda di hadapannya itu, hanya untuk mendapati bahwa di dalam keseriusannya masih tersimpan setitik keraguan.
"Kamu benar-benar sudah merasa yakin dengan keputusanmu itu?" Bramantyo bertanya dengan tegas. Biar bagaimanapun, dia adalah satu-satunya orang tua yang Karina miliki. Dia harus memastikan bahwa putrinya jatuh ke tangan orang yang tepat.
William merasa sedikit kikuk. Dia menjadi serba salah. Ingin bilang yakin, tetapi kenyataannya dia masih ragu. Namun jika mengatakan belum, tentu dia akan mengecewakan Karina. Orang bilang pondasi paling kuat dalam suatu hubungan adalah sebuah kejujuran dan kepercayaan. Nyatanya, dia dan Karina belum memiliki itu semua.
"Saya ...."
Seolah telah melihat keraguan dari pemuda itu, Bramantyo memotong kalimat yang akan William ucapkan.
"Aku tidak tahu sejauh mana kalian sudah saling mengenal. Hanya saja, menurutku ini terlalu terburu-buru. Aku menyukaimu, Nak. Sungguh. Aku menyukai keterusteranganmu serta sikapmu yang bertanggung jawab. Hanya saja, Karina satu-satunya harta yang sangat berharga bagiku. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja."
William terdiam. Dia belum pernah merasakan rasanya menjadi seorang ayah, tetapi apa yang dikatakan Daddy Karina tentu benar adanya. Orang tua mana yang mau melepaskan begitu saja putrinya yang berharga hanya karena dalih cinta? Tentu William setuju bahwa mereka harus saling mengenal dengan lebih dalam. Hanya saja ... dia tidak tahu caranya mengatakan semua itu pada Karina. Dia adalah orang yang berjanji.
__ADS_1
William melirik wanita yang saat ini tengah menunduk itu, berpikir bahwa mungkin Karina telah menyerahkan semua keputusan pada daddynya.
William tidak tahu jika saat ini Karina tengah merutuki nasibnya. Merutuki dirinya yang terlalu lemah dan terlalu mudah menerima kenyataan, merutuki dosa-dosanya karena telah membohongi dua orang yang sangat peduli dan mencintainya.
"Tidak perlu terburu-buru. Kalian bisa memutuskan untuk bertunangan terlebih dulu," putus Bramantyo mengambil jalan tengah.
William mendongak, menatap lelaki yang di usianya yang sudah memasuki setengah abad masih terlihat tampan dan juga gagah itu. Dalam hati dia sungguh sangat berterima kasih. Bohong jika saat ini William tidak merasa lebih lega.
***
William meraba-raba sakunya hanya untuk menyadari bahwa ponselnya tidak ada. Tadinya dia ingin mengetuk pintu tapi merasa tak enak kalau sampai tetangga kosnya terganggu. Ketika hendak menelepon Anan, ponselnya tak dia temukan. William mencoba mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali dia menggunakan benda pipih tersebut. Ingatan itu berhenti pada saat terakhir kali dirinya menerima telepon dari Karina, sebelum dia berangkat ke rumahnya.
"Sial! Aku melemparnya ke sofa setelah menerima panggilan dari Karina sore tadi," rutuknya.
William memutuskan untuk menggunakan kunci cadangan setelah berpikir bahwa Anan mungkin sudah tertidur, mengingat waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Setelah memutar kunci dan membuka pintu, pemuda itu dikejutkan dengan ruangan yang keadaannya masih gelap seperti tak berpenghuni.
"Tumben Anan nggak nyalain lampu," herannya. Biasanya William selalu menjadi orang yang terakhir mematikan lampu. Lebih aneh lagi, lampu kamar tidur juga tidak menyala. Menyadari ada yang tidak beres, William bergegas membuka pintu kamar.
"Di mana Anan?"
William menjadi panik. Dia bergegas ke luar untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas sofa. Sayangnya, layar ponselnya tak bisa menyala karena telah kehabisan daya.
"Sial!" William frustasi. Dia mengobrak-abrik laci untuk mencari pecatu daya dan langsung menggunakannya setelah menemukan benda tersebut.
Pemuda itu terus saja mondar-mandir sembari berkacak pinggang. Sepuluh menit, lima belas menit, dia gelisah menunggu ponsel yang kali ini rasanya terisi lebih lambat dari biasanya. Tak sabar lagi, dia memutuskan untuk menyalakan ponsel yang baru sedikit terisi itu.
Layar ponsel menyala dan langsung menunjukkan beberapa panggilan tak terjawab. Dia menggeser membukanya, dan langsung tercengang melihat log panggilan tersebut. Sepuluh panggil tak terjawab dari Robby, lima panggilan tak terjawab dari Ginan, dan tujuh lainnya dari Ziya.
"Ini ada apa?" gumamnya.
__ADS_1
William mengernyit, merasa lebih heran lagi melihat log panggilan terakhir.
"Tumben sekali. Nggak biasanya gadis itu hubungin gue."
William tentu terkejut. Meski sedikit akrab, dia sangat jarang melakukan kontak dengan anak pemilik kafe langganan nongkrongnya tersebut. Jika gadis itu sampai menghubunginya, pasti ada sesuatu yang penting.
Namun William tida menghubungkan hal itu dengan keberadaan Anan. Dia mengabaikannya, beranggapan yang terpenting saat ini adalah menghubungi Anan. Dia melihat-lihat pesan terakhir atau panggilan yang mungkin ditinggalkan pemuda itu, tetapi tak satupun didapatinya.
"Tidak biasanya Anan tidak meninggalkan pesan." Di saat dia tengah kebingungan, sebuah notifikasi chat dari Ginan menarik perhatiannya.
'Pergi ke rumah sakit setelah loe kembali!'
Pesan tersebut disertai emo kesal.
"Apa salah gue?" gerutunya.
Meski tidak memahami maksud isi pesan dari Ginan, William tetap menekan log panggilan karena perasaannya tak enak.
"Loe di mana, sih!" Suara orang yang sedang marah langsung menyambut gendang telinganya. William sedikit menjauhkan ponsel itu dari sana.
"Di kosan. Gue baru pulang," jawabnya. "Lo lihat Anan, nggak?" tanyanya penuh harap.
"Ke rumah sakit, sekarang!" bentak Ginan, langsung mengakhiri panggilan tersebut.
"Ini anak, kenapa, sih? Lagian siapa yang sakit?" gumamnya.
Perasaan William langsung tak enak. Apalagi setelah dia mendapat pesan chat lokasi dari Ginan. Dia terkejut. Pikirannya mendadak jadi kosong. Itu rumah sakit tempat biasanya Anan dirawat!
"Anan ...." Bibir William bergetar, ketakutan.
__ADS_1
Dia langsung menyahut kunci motornya yang tergeletak di atas meja dan bergegas untuk pergi ke lokasi tersebut.
"Lo baik-baik aja kan, Nan!"