CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
MARK SEBASTIAN


__ADS_3

CINTA SANG MAFIA 27


MARK SEBASTIAN


"Gimana, Le?" tanya Anan ketika melihat William memasuki ruangan.


William yang baru saja tiba dari ruang administrasi untuk mengurus kepulangan Anan, dia bingung harus memulai cerita dari mana. "Udah beres. Tinggal berkemas aja kita," putusnya.


Dia akan membiarkan Anan mengetahuinya sendiri.


Anan mengangguk, tak menyadari ada hal yang aneh dengan sahabatnya. Dia menoleh pada nakas, melihat dompet hitamnya masih tergeletak di tempat yang sama, tak bergeser sama sekali.


"Bukan gue yang lunasin," ungkap William akhirnya, mengetahui raut muka Anan yang nampak kurang senang. Dia bisa menerka apa yang sekarang ada di dalam pikiran sahabatnya.


"Hah? Maksudnya, gimana?" tanya Anan tak mengerti.


William yang baru saja membuka ransel hendak memasukkan beberapa potong baju milik Anan dari dalam nakas, seketika menghentikan aktivitasnya.


"Tadi sih penginnya kayak gitu, Nan. Tapi nyampe sana kata bagian administrasi udah dilunasin semua."


Anan semakin dibuat terkejut, dahinya mengkerut. "Maksudnya, gimana, sih? Siapa yang lunasin biaya rumah sakit gue?"


Seingatnya, selain William dia tidak memiliki teman seroyal itu. Memang benar Robby, Ginan dan Algo semuanya baik, tetapi mereka selalu membantu di dalam batas kewajaran.


"Dilunasin sama atasan lo," jelas William sembari melanjutkan aktivitasnya.


Anan mengerjap. Dia tentu tahu siapa orang yang William maksud. Sudah pasti itu direktur utamanya, Mark Sebastian. Hanya saja, hal itu justru membuatnya semakin bingung. Layaknya ketiga temannya yang lain, Mark juga sering membantunya. Dia beberapa kali memberi dana bantuan untuk tambahan biaya pengobatan Anan. Namun, kali ini sampai melunasi. Untuk ukuran orang asing yang dipertemukan sebagai seorang pimpinan dan bawahan, kemudian mereka bersahabat, di mata Anan itu terlalu berlebihan. Apalagi selama ini Mark terkenal dengan sosoknya yang dingin dan tak acuh.


Akan berbeda ceritanya kalau hal itu dilakukan oleh William, yang sudah jelas memiliki ikatan keluarga.


'Kenapa tiba-tiba dia sebaik ini?' Anan sedikit curiga. Katanya, orang yang sering berada di batas ambang kematian, nalurinya jauh lebih peka dari orang lain. Dia merasakan ada yang salah dari sikap Mark akhir-akhir ini. Namun, mengingat kebaikan Mark padanya selama ini, Anan mencoba menepis setiap pemikiran buruknya.


'Mungkin kali ini aku berlebihan.'


Melihat sahabatnya murung, William menggeleng tak berdaya.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saat ini dia sedang banyak rejeki. Menang tender, misalnya? Terus pengin sedekah."


"Tapi, ini terlalu berlebihan, loh, Le. Gue ngerasa ...."


Aneh. Anan merasa itu aneh. Dia baru mau mengucapkan kata-kata itu ketika tiba-tiba suara seseorang menyahut mendahuluinya.


"Apanya yang berlebihan, Nan?" potong suara magnetis itu.

__ADS_1


Lelaki yang baru saja membuka pintu dan tak sengaja mendengar kalimat terakhir dari Anan tersebut, menatap keduanya sembari mengerutkan kening.


"Mark. Kamu di sini?" sapa Anan, kikuk.


Mark tersenyum tipis, mendekati Anan dan menepuk pelan bahu pemuda itu.


"Sorry. Baru bisa jenguk pas kamu udah mau ke luar," sesalnya.


Anan tertawa canggung. "Aku baik-baik saja, Mark. Mereka saja yang terlalu berlebihan," ucapnya, sembari melirik William yang terus berkemas, pura-pura tak mendengar ucapannya.


"Bule bilang, kamu lunasin semua biaya rumah sakit saya. Kenapa?"


Mark terkekeh. "Terima aja. Mumpung aku lagi baik hati," katanya, dengan sedikit penekanan.


"Lagipula, sebagian biaya juga ditanggung dari perusahaan. Jadi, kalian tak perlu merasa sungkan," katanya dengan bijaksana.


"Serius, Mark?" Anan membulatkan bola matanya. Selama ini perusahaan hanya mau menanggung beberapa persen biaya pengobatan saja, sesuai kontrak yang sudah tertulis. Ini aneh sekaligus mengejutkan.


Mark menanggapi pertanyaan Anan dengan senyum tipis.


"Kamu terlalu banyak berpikir, Nan. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."


Anan mengangguk. "Anda benar. Kalau begitu, terima kasih."


"Mark," panggil William, yang sudah mulai terbiasa dengan sebutan itu. " Untuk saat ini kita hanya bisa berterima kasih. Tapi, jika suatu saat kamu membutuhkan kami, jangan merasa sungkan."


"Jangan terlalu banyak berterima kasih. Suatu saat aku pasti akan menagihnya, tentu saja," katanya dengan tegas.


Keduanya bernapas lega. Mereka rasa, langkah ini jauh lebih baik. Suatu saat mereka bisa membalas Mark dengan cara yang lain. Lagipula, terus menerus menolak akan membuat hubungan mereka menjadi lebih canggung ke depannya.


"Sudah selesai berkemas?" Dia menoleh, bertanya pada William.


William mengangkat tas ransel Anan, menunjukkan benda yang sudah penuh itu pada Mark.


Mark mengangguk ringan. "Sekalian aku antar kalian pulang."


Ketiga orang itu meninggalkan rumah sakit bersama-sama. Meski tak saling mengungkapkan, baik Anan maupun William merasa beruntung karena dipertemukan dengan sosok murah hati serta bijaksana seperti Mark.


Tinggal di kota besar dengan tubuh sakit-sakitan, Anan tak pernah bisa bertahan dengan satu pekerjaan. Sudah berkali-kali dia berpindah tempat kerja, karena orang-orang besar di luar sama berpikir mempertahankan orang sepertinya hanya akan menghambat dan merugikan perusahaan. Namun, Mark datang seperti malaikat. Setahun yang lalu dengan tangan terbuka dia menerima Anan dan bahkan menempatkannya di bidang yang dia kuasai. Staf administrasi.


Namun, akankah keberuntungan itu bertahan lama?


***

__ADS_1


Mark melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangan kanannya memegang kendali, sedang tangan kirinya sesekali mengetuk-ngetuk tepian setir, dia terlihat ragu. Orang itu lalu memilih memutar gelombang radio, membiarkan lagu Cinta Segitiga milik Arjuna memecah keheningan.


Mark meremas setir, rasa penasaran itu menggoyahkan pendiriannya. Dia memutuskan untuk memulai percakapan dengan William.


"Gimana hubungan kamu saat ini, Le? Aku dengar-dengar kamu sedang dekat dengan seseorang," tanyanya dengan hati-hati.


Mark sebenarnya bukan tipe orang yang gampang kepo dan suka ikut campur dengan urusan orang lain. Hanya saja, kali ini dia memang merasa harus tahu.


Anan yang baru saja memejamkan mata akhirnya terusik. Dia juga penasaran dengan keputusan akhir yang diambil oleh sahabatnya itu.


"Benar, Le. Gimana hasil makan malam lo kemarin? Lo belum sempat cerita ke gue," tanyanya dengan antusias.


William mencubit sela-sela alisnya, merasa tak berdaya menghadapi pertanyaan dari mereka berdua. Dia tersenyum, tetapi kali ini senyumnya bahkan tak sampai ke mata.


"Baik," jawabnya singkat. Dia tak tahu bagaimana harus menggambarkan perasaannya.


"Terus, apa keputusan kalian?" tanya Anan lagi.


William menoleh ke belakang sejenak.


"Ayahnya meminta kami untuk bertunangan dan saling mengenal terlebih dulu."


Jawaban itu membuat Anan bernapas lega. "Baguslah."


Mark mengerutkan kening, ekspresinya masih terlihat tenang.


"Sepertinya, ayahnya menyambutmu dengan baik, ya."


Tanpa sadar William menangkap nada kecemburuan dari kata-kata Mark. Dia berpikir, mungkin itu karena Mark memiliki sedikit konflik dengan mertuanya. Itu sebabnya, pernikahannya pun akhirnya disembunyikan.


"Ya. Dia sosok yang cukup hangat dan bijaksana," pujinya.


William memang sangat menyukai ayah Karina. Sikap lelaki paruh baya itu benar-benar membuatnya merasa nyaman. Bahkan, tanpa sadar dia telah membanding-bandingkannya dengan sosok sang ayah, meski itu hanya dalam hati. Mengingat samar sosok yang telah membuatnya terlahir ke dunia lalu menelantarkannya itu, hanya membuat William merasa sangat kecewa.


William memejamkan mata, mengejek diri sendiri. 'Mungkin saat ini dia telah hidup dengan bahagia.'


"Sepertinya kamu sudah sangat yakin dengan wanita ini, Le."


William membuka mata, menoleh pada lelaki di sebelahnya. "Mungkin, karena dia satu-satunya wanita yang berhasil membuatku merasa nyaman setelah sekian lama."


Mark mengangguk ringan, lalu menasehati. "Hanya saja, harusnya kamu bisa lebih berhati-hati. Jangan salah menilai orang dari tampilan luarnya saja. Kamu tidak akan pernah tahu seperti apa sosok di dalamnya, jika terlalu menaruh rasa percaya. Dan saat kamu mengetahuinya, itu akan semakin menghancurkanmu."


William mengerutkan kening, peringatan ini bukan pertama kalinya dia dengar.

__ADS_1


"Aku juga sudah pernah mengingatkannya," ungkap Anan.


William mendengus, tak mengerti kenapa orang-orang di sekitarnya seperti menentang keras hubungannya dengan Karina. Padahal, di mata William tidak ada yang salah dengan pujaan hatinya itu. Apa benar, dia yang terlalu buta?


__ADS_2