
"Gue pulang, Nan."
Terdengar adanya getaran serta tekanan dalam setiap nada yang William ucapkan saat memasuki ruangan itu. Dia tahu Anan tak akan pernah lagi menyambutnya, dia sadar tak akan ada lagi yang menjawab setiap ucapannya. Anan tak akan pernah kembali lagi meski dia sering mengunjungi indekos tempat dulu mereka berusaha bertahan hidup dalam suka maupun duka itu. Namun dia tetap melakukannya, seakan-akan dengan begitu dia akan merasa lebih nyaman.
William berharap setiap tindakannya dapat mengikis setiap perasaan bersalahnya, meski mungkin itu hanya bisa sebesar debu.
William memindai ruangan itu, emosi meluap dari kedua matanya. Semuanya masih terlihat sama meski sudah jarang ditempati. Selain debu-debu halus serta aroma apek yang sedikit tercium, tentunya.
William telah menyewa pembersih yang akan bekerja setiap seminggu sekali, dan saat ini bukanlah jadwalnya.
Dia memasuki kamar, merebahkan tubuhnya pada ranjang dengan kedua tangan sebagai bantalan. Ditatapnya langit-langit, teringat saat dia harus memohon dan sampai berlutut kepada pemilik indekost agar tidak menyewakan ruangan itu pada orang lain.
"Saya mohon, Tante. Saya tidak akan keberatan sama sekali jika tante ingin melipatgandakan uang sewanya. Tapi, izinkan saya menjadi satu-satunya penyewa tetap di sini."
Pemilik indekost itu menghela napas lelah. Dia sudah menjelaskan berulang kali seperti apa keadaannya, tetapi William sama sekali tak pernah menyerah.
"Kamu tahu bukan itu maksudku, Le! Ini bukan tentang seberapa banyak uang yang mereka bayarkan. Masalahnya, aku sudah terlanjur berjanji pada mereka," terangnya frustasi.
William mendongak, menatap pemilik sepasang manik teduh yang usianya hanya terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya itu.
Tatapannya dipenuhi dengan harapan, ratapan serta keputusasaan.
"Tapi, hanya tempat ini satu-satunya kenangan yang kumiliki bersama Anan, Tan, lirihnya mengiba.
Mata William memerah. "Tidak ada lagi yang tersisa dari Anan kecuali tempat ini," katanya parau.
Pemilik indekost itu terkesiap dengan sikap William. Sikap tulus itu akhirnya berhasil meluluhkan pendirian dari pemilik kos-kosan tersebut. Wanita yang masih terlihat muda, cantik sekaligus dewasa itu kini memijit pelipisnya, tak berdaya.
"Baiklah. Kamu menang. Aku akan berusaha berbicara dengan mereka," ucapnya, pasrah.
Dalam seketika mata William terbuka lebar. Dia merasakan perasaan lega yang luar biasa. Setelah sebelumnya pikirannya begitu gelisah karena merasa tak akan ada satupun yang tersisa dari persahabatan mereka, kini semilir angin itu seakan datang untuk mendinginkan semuanya.
William tak henti-hentinya berterima kasih. Setelah kepergian Anan, dia sadar sudah terlalu banyak melakukan kesalahan. Terutama setelah dia mengenal Karina dan memulai kisah baru bersamanya.
"Apa kamu memaafkanku, Nan?" gumamnya.
Atas kelalaiannya yang berawal dari malam itu, di mana tanpa sadar dia meninggalkan Anan yang tengah kesakitan sendirian, hanya untuk pergi berkencan. Dia tahu seharusnya dirinya tak layak disebut sebagai seorang teman.
***
Karina terbangun di sepertiga malam karena terusik oleh dering ponsel yang terus berbunyi. Dia menoleh pada nakas dan menyadari bahwa itu bukan ponsel miliknya. Ditatapnya sang empunya benda pipih yang tengah terpejam tersebut, tak terganggu sama sekali.
Jiwa penasarannya meronta, bertanya-tanya siapakah kira-kira orang yang tanpa segan menelpon kekasihnya di larut malam begini.
__ADS_1
Dia hendak mengangkat tubuhnya ketika tiba-tiba tangan kekar William memeluknya dengan posesif. Senyum Karina merekah seketika. Dibelainya setiap jengkal wajah pemuda itu dengan penuh kekaguman. Hidung mancung, alis tebal, bulu mata panjang, bibir tipis serta wajah putih mulus.
"Sepertinya Tuhan telah memahatnya dengan sempurna. Dia seolah tiada cela," gumamnya.
Drrrtt! Drrrtt! Drrrtt!
Karina mencebik karena suara dering itu kembali mengusiknya. Ingin sekali dia beranjak turun dan melihat identitas si pemanggil, tetapi urung ketika pikiran akan dianggap lancang menggelayut dalam benaknya.
Menghela napas, mau tak mau Karina memilih membangunkannya.
"Will ...." Panggilnya dengan lembut.
"Eeemm," sahut William tanpa membuka mata.
Karina terkikik melihat sikap William yang menggemaskan. Ditepuknya pelan kedua pipi pemuda itu sembari memanggilnya ulang.
"William ...." Dia masih belum bangun. "Hei, wake up, please!" rengek Karina.
William mengerjapkan matanya dengan perlahan. Suara lembut itu menuntunnya pada kesadaran. Ketika kedua mata birunya benar-benar terbuka, tatapannya langsung bertemu dengan senyum cantik wanita yang kini tengah memandanginya seolah terpesona. William membalas senyum itu, tak lupa mengecup singkat bibir kekasihnya.
"Maaf."
Karina mengernyit mendengar satu kata dari lelaki yang baru saja membuka mata itu.
"Untuk?" tanyanya, heran.
"Maaf aku terbawa suasana. Seharusnya aku bisa menahan diri dan tidak melakukan itu padamu," terangnya, menyesal.
Dia tak ingin jika setelah ini Karina menganggapnya kurang ajar dan memutuskan untuk menjauh darinya, meski William yakin ini bukan yang pertama kali bagi Karina.
Karina terkekeh geli mendengar penjelasan dari kekasihnya. Dia semakin merasa gemas, hingga kembali memangkas jarak untuk memeluk William dari belakang.
Dia menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh William, lalu berbisik "Will, kita melakukannya sama-sama."
William menoleh.
Karina membelai lembut rambut William, lalu menghidu aromanya. "Dan kita sudah sama-sama dewasa," imbuhnya, membuat William takjub sekaligus lega.
William berbalik. Diusapnya lembut rambut sebahu wanita bermata sayu itu dengan penuh kasih sayang. Dia tersenyum bahagia, membawa Karina dalam pelukannya.
"Thanks, Baby."
Karina tersenyum sembari mengangguk ringan.
__ADS_1
Drrrtt drrrtt drrrtt!
Suara dering ponsel yang kembali berbunyi membuyarkan kemesraan mereka. Karina tertawa, dia melupakan tujuannya membangunkan William.
"Sorry, Will. Aku lupa. Aku membangunkanmu karena ponselmu yang tak henti berdering." Karina berusaha bersikap santai. Dia tak ingin mencurigai kekasihnya, apalagi mereka baru saja bersama.
William berdecak, bangkit dan mengambil celananya yang sudah teronggok sembarangan. Dengan wajah kesal dia memakai celananya, lalu bergegas mengambil ponselnya dari atas nakas.
Pemuda itu sempat ingin memaki, bahkan hampir mengumpat sebelum melihat identitas pemanggil.
Ananta P.R
William terkejut. Dia bergegas menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih tersebut pada telinga kirinya.
"Kenapa?" sapanya dengan nada bersalah.
Jawaban dari seberang membuatnya cemas. Dia mengacak rambutnya frustasi. Sesekali pemuda itu mengangguk, kekhawatiran tertanam jelas dari raut wajahnya.
"Gue balik sekarang. Tunggu sebentar, oke."
William mengakhiri panggilan dan kembali menghampiri Karina yang sedari tadi memperhatikannya penuh tanya.
"Aku harus pulang," pamitnya, lebih seperti permohonan.
Karina menautkan alis, menatapnya curiga.
"Why, Will?"
"Seseorang membutuhkanku, Karina," jelas William, merasa bersalah.
Dia merapikan diri dengan tergesa, tak memedulikan Karina yang masih menatapnya dengan tatapan kosong. Sebelum mengambil kunci motor dan pergi, dia menghampiri Karina yang sudah terlihat begitu kecewa.
"Sorry, ini mendesak." William mengecup lembut kening Karina.
"Dia sudah seperti hidupku sendiri, Karina. Aku janji suatu saat akan memperkenalkannya padamu."
William mengusap puncak kepalanya, lalu meninggalkannya. Dia terburu-buru, tak ada waktu untuk memberi penjelasan pada wanita yang kini masih duduk termangu itu.
"Kamu bahkan tak menoleh lagi, Will."
Ada perasaan hampa juga tak rela dalam hati Karina ketika melihat kepergian William yang tergesa-gesa. Berbagai spekulasi muncul dalam benaknya, tetapi dia berusaha menekan itu semua.
Mungkinkah selama ini William hanya penasaran padanya dan berniat meninggalkannya setelah mendapatkan yang diinginkan? Mungkinkah kata-kata manisnya selama ini hanya untuk menjeratnya sementara?
__ADS_1
"Sepertinya yang menelponnya tadi seseorang yang begitu berarti bagi William," risaunya.
Karina menggeleng, berusaha menepis setiap prasangka buruknya. Dia ingin egois, ingin William selalu di sisinya dan menjadi miliknya satu-satunya. Namun dia tak berani terlalu mengekang, tak ingin membuat pemuda tersebut merasa tak nyaman hingga memutuskan untuk berlari seperti yang sudah dia dilakukan.