
Mengabaikan William yang masih berdiri di ambang pintu, Algo mengikuti Robby menerobos masuk ke dalam ruangan. Namun, dalam beberapa langkah tiba-tiba dia berhenti. Netranya menatap bergantian pada William dan juga Anan yang tengah berbaring santai di sofa. Bibir itu menyeringai saat pikiran jahil muncul dalam benaknya.
"Masih jam segini, ngapain kunci pintu, sih, Le?" serunya dengan sengaja.
"Jangan-jangan, kalian?" Dia menunjuk pada William dan Anan, lalu mengedipkan mata untuk mengutarakan maksud nakalnya.
Mata William melotot tajam mengetahui pikiran kotor dari Algo. Merasa kesal, dia melemparkan alas kaki pada teman sekerjanya itu.
"Kita masih normal, wooii!"
Algo tertawa geli sembari melindungi wajahnya dengan kedua tangan. Pemuda itu memang terkenal paling usil di antara mereka berlima. Sementara itu, Robby dan Anan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku keduanya.
Mereka berempat berkumpul dengan berbagai macam camilan dan juga minuman sehat. Mereka memutuskan untuk tidak menyertakan rokok serta minuman beralkohol setelah mempertimbangkan kesehatan Anan.
"Kenapa kalian hanya datang berdua?" tanya William, menyadari ketidakhadiran salah satu temannya, Ginan.
Biasanya mereka bertiga selalu datang bersama-sama. Hari ini William memang sengaja meminta mereka untuk tidak datang ke tempat tongkrongan yang biasanya selalu mereka datangi di setiap akhir pekan. Setelah menimbang keadaan Anan, mereka pun akhirnya setuju. Sebenarnya Anan senang-senang saja berkumpul di Ziya's Cafe, jika bukan karena kekhawatiran sahabatnya itu.
"Oh .... Ginan sibuk dengan urusan ulang tahunnya. Biasalah. Orang kaya. Kayak enggak ngerti dunia mereka aja, loe, Le." Di antara lima sahabat itu, Ginan adalah satu-satunya yang datang dari keluarga terpandang.
"Kalau Mark, dia bilang akan datang sedikit terlambat." Robby menjeda sesaat untuk meneguk minuman kaleng di tangannya.
"Dia bilang ada sedikit urusan dengan bininya."
Mark adalah direktur utama di perusahaan tempat Anan dan Robby bekerja. Lelaki yang usianya terpaut empat hingga lima tahun lebih tua dari mereka itu sangat baik pada Anan, meski banyak karyawan yang sering mengeluh akan sikap dinginnya. Namun, dia tidak terlalu akrab dengan William.
Mendengar nama bini disebut, William mengerutkan kening. "Istri? Tuan Mark sudah menikah?" tanyanya, sedikit terkejut.
Algo dan Robby saling pandang. Mereka menatap Anan, seakan meminta penjelasan darinya.
__ADS_1
Anan yang menyadari tatapan teman-temannya mengedikkan bahu, bersikap acuh tak acuh. "Kami tidak pernah membahas tentang Mark."
Kedua orang itu dibuat bungkam.
Meski tidak tahu mengapa, mereka bisa melihat ketidak akraban antara William dan juga Mark. Meski sering terlibat dalam kebersamaan, keduanya seolah-olah telah sepakat untuk menjaga jarak, layaknya orang asing. Mereka seperti sudah memiliki perselisihan sejak pertama kali bertemu, meski tak menunjukkannya secara langsung.
William yang selalu bersikap formal terhadapnya, serta tidak adanya penolakan dari Mark terhadap William, seakan dapat menjelaskan adanya perang dingin di antara keduanya. Mereka seperti memiliki simpul yang selalu bertolak belakang hingga tidak pernah terlihat memiliki kecocokan.
William sendiri tidak tahu mengapa. Hanya saja, dia seperti selalu melihat kilat permusuhan dari kedua mata tajam Mark terhadapnya. Padahal, selama ini dia tidak pernah menyinggungnya. Namun William memilih untuk menyembunyikan itu semua karena tak ingin membuat Anan merasa tidak enak hati. Mark sangat peduli pada Anan dan itu sudah cukup bagi William.
"Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?" William merasa ada yang aneh.
"Dia sudah menikah. Gue pernah tidak sengaja melihat foto pernikahan mereka. Mark sangat tertutup. Hanya kita yang tahu soal itu."
Anan baru saja selesai bicara ketika tiba-tiba pintu terbuka. Lelaki berperawakan tinggi, gagah dan tampan itu datang dengan berbagai macam makanan serta buah-buahan di tangannya. Meski banyak yang mengatakan Mark orang yang sulit didekati, nyatanya dia selalu bersikap royal serta hangat terhadap mereka.
Robby sudah berpesan pada atasannya itu bahwa hari ini mereka meniadakan alkohol dan juga junk food. Meski sangat menyukai alkohol, Mark tetap menyetujuinya.
"Hai, Tuan Mark," sapa William. "Belum terlambat, kok. Kita baru minum sedikit." Ketiga temannya mengangguk membenarkan.
"Silahkan duduk." William berdiri dengan sopan, dan mempersilahkan Mark untuk duduk. Teman-temannya yang sudah terbiasa dengan sikap William memilih untuk tak menghiraukan.
Malam ini sepertinya semua akan nampak berbeda. Sikap Mark terhadap William tiba-tiba saja berubah. Mark tertawa sembari menepuk-nepuk punggung William.
"Ha ha ha! Kita hanya berjarak lima tahun kalau kamu lupa, Le. Caramu memanggil dan bersikap padaku seakan-akan menunjukkan bahwa aku sudah sangat tua," katanya, dengan sedikit sarkasme.
William bingung dengan sikap atasan Anan yang mendadak akrab padanya itu. "Maaf, Tuan ...."
"Apa menurutmu aku sudah setua itu, Le?" potongnya dengan nada datar.
__ADS_1
William menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari tersenyum kikuk." Anda terlihat jauh lebih muda dari usia anda." Dia mengatakan yang sebenarnya.
Mark mencebik," aku setuju. Jadi, bagaimana harusnya kamu memanggilku?"
William merasa tak enak hati. Dia ragu apakah harus menghilangkan embel-embel 'Tuan' yang selama ini selalu disematkannya. Setelah berpikir sejenak, dia memilih untuk berkompromi. Toh, tidak akan ada ruginya, bukan? batinnya.
"Baiklah ... Mark, kalau begitu," putus William.
Mark tertawa senang. "Ha ha! Itu bagus. Begini terdengar lebih baik."
Mereka semua menatap kosong pada Mark dan juga William. Sejauh yang mereka ingat, selama ini Mark terlihat sangat terbiasa dengan cara William memanggil atau pun bersikap formal padanya. Mereka mendadak bingung. Suasana tiba-tiba saja menjadi sunyi dan juga canggung.
"Sepertinya, bertambah satu anggota kita menjadi semakin kompak," ucap Algo memecah keheningan.
Kelima pemuda itu tertawa bersama-sama. Mereka lalu duduk melingkari meja yang tak seberapa besar itu. Mereka makan dan minum, sesekali bercanda dan tertawa sambil bermain tebak-tebakan.
Bosan dengan kegiatan makan dan minum, Algo menunjukkan kepiawaiannya dalam bermain gitar. Dia memainkan kunci-kunci nada dengan sangat tepat. Ketika nada yang sudah sangat familier terdengar, keempat orang itu menoleh pada William memberi isyarat agar dia bernyanyi.
"Apa?" William mengangkat bahu berpura-pura tidak tahu.
"Suara milikmu satu-satunya yang tak akan menyakiti gendang telinga kita." Perkataan Robby langsung disetujui yang lainnya dengan anggukan.
William menatap mereka satu persatu, lalu mendengus. "Kalian harus membayar untuk ini."
"Akan kita lakukan setelah kamu menjadi terkenal," sahut Anan.
Mereka pun tertawa.
Bibir tipis William melantunkan lagu See You Again milik Wiz Khalifa dengan sangat merdu. Cuaca cerah serta langit berbintang malam itu menambahkan keharmonisan persahabatan mereka. William menyanyikan lagu favoritnya dengan penuh perasaan, hingga tak menyadari ada sepasang mata yang selalu memperhatikannya. Mata tajam itu sesekali menatapnya penuh kebencian.
__ADS_1
'Tunggu saja. Sebentar lagi, akan kupastikan kamu benar-benar menjadi terkenal!'