CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
CSM6 SAUDARA


__ADS_3

"Makasih." Satu kata itu membuat William mengernyitkan dahi.


"Semalem udah mau repot-repot pulang buat gue," sambung Anan merasa terharu.


Dia tahu ini bukan yang pertama kalinya, tetapi tetap saja dia merasa harus mengatakannya. Selama dua tahun terakhir hanya Williamlah satu-satunya orang yang bisa dia andalkan. Orang yang benar-benar menganggapnya sebagai saudara hingga rela mengorbankan hampir setiap waktu luang dan kebebasannya hanya untuk menjaganya. William adalah sandaran baginya di saat dia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi.


William mengedikkan bahu padanya tanpa menoleh. "Tidak masalah. Sudah kukatakan itu tanggung jawabku."


Anan merasa bersyukur sekaligus beruntung telah mendapatkan teman sekaligus saudara yang tanpa enggan selalu memprioritaskannya, menomor satukan kesehatannya. William dengan murah hati selalu memberikan dirinya sebagai tempat bersandar, tak peduli keadaan seperti apa yang tengah Anan hadapi. Namun, dia sadar bahwa hal-hal seperti itu tak akan pernah bertahan untuk selamanya. William berhak atas kehidupan serta masa depannya.


Ingatan Anan berlari kembali pada kejadian semalam, sadar bahwa William tidak pulang bukan karena job kerjanya. Dia tahu pasti jadwalnya, dan William akan mengabarinya jika jadwal itu berubah. Ada satu hal yang bertengger di kepalanya, seseorang yang belakangan ini selalu dibicarakan olehnya. Diam-diam dia melirik temannya itu curiga.


"Le!" panggilnya.


William menoleh. "Ya."


"Loe ... semalem pergi kencan, ya?" Anan bertanya dengan ragu.


William menghentikan sejenak tangannya yang tengah mengaduk kopi, nampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk.


"Gue lakukan itu."


Rasa bersalah kembali terbesit dari dalam hati Anan. Jika seperti itu, bukankah dia telah mengacaukannya?


"Loe nggak ngasih tau gue. Gue pasti mengacaukannya, bukan?"


William berbalik sembari membawa dua cangkir kopi. Dia berjalan menghampiri Anan yang saat ini tengah berbaring di atas sofa, lalu duduk di kursi sebelahnya. Dia meniup kopinya dengan santai, lalu menyeruputnya, terlihat sangat menikmati.


"Kalau gue kasih tau loe, loe nggak akan nelpon gue buat bilang tentang keadaan loe, bukan?" ucapnya sembari meletakkan kembali secangkir kopi itu di atas meja.


William menatapnya, matanya seperti tengah menginterogasi ke dalam pikiran Anan. Dia tahu Anan akan bergantung padanya, tetapi dia juga tahu bahwa Anan akan selalu menghormati setiap privasinya. Dia tidak merasa telah melakukan kesalahan dengan menyembunyikan hal itu dari Anan, karena jika tidak, William tidak akan pernah bisa membayangkan seperti apa keadaan temannya saat itu.


"Loe bakalan nahan sakit loe sendirian tidak peduli seberapa sakitnya itu." William menunjuk dada Anan. "Loe bakalan tetap diam sampai gue akhirnya kembali sendiri bahkan jika loe tidak lagi mampu lagi bertahan dan berakhir dengan sekarat. Gue benar, bukan?" cercanya.


Tinggal bertahun-tahun dengannya membuatnya sangat memahami seperti apa karakter Anan. Terlepas dari ketergantungan Anan terhadapnya, dia menyadari bahwa akhir-akhir ini diam-diam Anan selalu mencoba memberi ruang untuk kehidupan pribadinya.


"Apa gue benar, Ananta Permana Ridho?"


Anan terdiam. Dia tahu saat ini William merasa kesal. Namun dia tidak bisa menyangkalnya, karena memang itulah yang akan dia lakukan. Dia ingin memberi William kebebasan dan meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Dia ingin William bahagia untuk hidupnya, karena dia sudah cukup membebaninya selama ini. Dia tak ingin menjadi lebih serakah lagi.

__ADS_1


"Anan. Loe tahu gue nggak akan pernah ninggalin loe kecuali jika salah satu dari kita mati!" William menarik napas. Dia tahu tak seharusnya mengatakan itu, tetapi dia sudah jengkel karena sikap Anan belakangan ini.


"Kita saudara, Nan. Jika loe lupa. Terlepas dari ikatan darah yang tak pernah terhubung, kita terhubung secara naluriah. Apa loe ngerti?"


Anan mengangguk. "Sorry, Le." Dia salah.


Terkadang dia juga membenci dirinya sendiri, membenci kenapa harus memiliki fisik yang begitu lemah. Terkadang dia berharap agar dirinya bisa menjadi lebih kuat, jika tidak bisa untuk melindungi William, setidaknya untuk menjaga dirinya sendiri.


"Apa loe udah nembak dia?"


Anan bertanya, mencoba mencairkan suasana yang terasa menegang.


"Gue lakuin itu. Dan dia menerimanya."


Ada kilatan lembut dari sorot mata William ketika mengatakannya. Dia tersenyum, terlihat sangat bahagia.


Anan ikut tersenyum. Dia selalu berharap yang terbaik untuk William.


"Itu bagus. Selamat. Gue harap dia pilihan yang tepat buat loe," ucapnya, tulus.


"Thanks." William mengangkat kopinya kembali, menyeruputnya dengan tenang.


"Apa kalian sudah melakukan lebih dari yang gue bayangin?"


"Gue benar, ya," lirihnya, setelah tak mendapat respon dari William.


"Gue terbawa suasana, Nan. Gue tahu seharusnya gue nggak ngelakuin itu, tetapi sudah terlambat," sesalnya.


"Apa dia tidak melakukan penolakan?"


"Dia ...." William ragu tapi tetap memilih mengatakannya. "Sepertinya ini bukan yang pertama kali baginya."


"Apa?" Anan melompat sofa, mulutnya tergagap karena terlalu terkejut. Dia sampai lupa akan keadaannya. "Artinya dia sudah bukan perawan?" William mengangguk.


"Loe gila, Le! Sumpah!" umpatnya. "Loe tahu, loe terlalu terburu-buru untuk melangkah sejauh ini!" Anan kesal. Dia merutuk berulang kali pada keluguan sahabatnya.


Bodoh apa dungu, sih? batinnya.


"Apa loe tahu tentang seluk beluknya? Siapa keluarganya? Orang tuanya? Pekerjaannya? Statusnya?" cecarnya.

__ADS_1


William berdiri sembari mencengkeram erat cangkirnya. Dia tak terima dengan segala tuduhan Anan, meski tak dikatakannya dengan langsung.


"Dia wanita baik-baik," kekehnya.


Anan mencengkeram dadanya yang kembali sesak, lalu menghidu napas dalam-dalam.


"Dari mana loe tahu? Jangan sampai loe terlalu dibutakan oleh cinta, Le."


William menggertakkan giginya sembari membelakangi Anan. Dia ingin mencaci, mengumpat, tetapi tidak tahu untuk siapa. Dia tidak ingin melakukan itu pada Anan meski dia kesal padanya, karena tahu kemungkinan kata-kata sahabatnya itu ada benarnya. Selain itu, dia tahu pemuda itu hanya sedang mengkhawatirkannya.


"Gue tahu. Gue udah setahun kenal sama dia. Gue rasa itu cukup." Tanpa menatap Anan, dia bersikeras.


Anan menyemprotkan inhalernya, menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk.


"Baik. Gue tahu gue tidak seharusnya terlalu ikut campur. Gue hanya khawatir." Dia mengalah.


"Apa loe udah ngenalin gue sama dia? Ceritain soal persahabatan kita?" Anan tak ingin Karina salah paham tentang mereka.


William terpaku. Dia ingat selama ini tak pernah menyinggung apapun tentang Anan pada Karina.


"Gue ... belum. Gue lupa. Tapi, ya. Gue pasti bakalan kenalin dia sama loe."


"Ha ha ha!"


William menoleh saat mendengar pemuda di belakangnya mulai tergelak. Dia melihat Anan yang tengah berusaha keras menahan tawa sembari memegangi dada, dan dia melebarkan bahu, bertanya-tanya.


"Why? Apa yang salah?"


Anan menatapnya, lalu kembali tertawa. Dia menatapnya lagi, sebelum akhirnya berusaha menguasai diri agar tidak lagi tertawa.


"Loe tahu nggak? Loe itu terlalu brengsek, Le. Loe udah perlakuin dia kayak ****** umum. Ditinggal gitu aja sehabis dipake. ****** umum sih masih mending, dibayar," oloknya.


William membuka mulutnya lebar-lebar, menatapnya kosong, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari sana.


"Gue yakin, elo ninggalin dia begitu saja setelah bersenang-senang dan menerima telpon dari gue. Elo pasti gak kasih tahu kalo orang yang nelpon elo itu gue, kan?"


William mengerutkan dahi, mencoba mencerna kata-katanya sahabatnya.


"Elo sadar nggak sih, Le. Apa yang bakal dia pikirin saat itu?"

__ADS_1


William mengusap tengkuknya setelah memahami maksud Anan. Dia memikirkan reaksi Karina saat itu. Seperti apa wanitanya tu ketika sedang kesal. Membayangkannya, dia tidak bisa menahan tawa.


Karina pasti salah paham padanya!


__ADS_2