
CINTA SANG MAFIA 25
KECEWA
"Jadi, kamu nggak bisa lihat wajah orang itu sama sekali?"
William menatap gadis di hadapannya dengan penuh harap. Hanya dia satu-satunya saksi mata yang bisa pemuda itu percaya, selain sopir taksi tentunya. Dia juga ingin tahu mengapa semalam sopir taksi tersebut memilih diam di dalam mobil saat kejadian tengah berlangsung. Sementara, orang itu baru ke luar setelah pelaku meninggalkan tempat kejadian.
"Enggak."
Ning Ziya menggeleng sedih. Jika saja bisa, dia pun ingin sekali bisa melakukan lebih banyak untuk membantu memberi keadilan pada Anan. Sayangnya, pelaku sepertinya sudah mempersiapkan diri dengan sangat baik.
"Dia memakai jaket hitam, helm dan juga masker, Mas Bule. Semuanya tertutup. Jadi, ndak kelihatan. Apalagi tempatnya juga tidak terlalu terang," katanya menyesal. "Tapi, dari tinggi badannya sih, sepertinya ndak jauh berbeda dengan tinggi badan Mas Bule," terka Ning Ziya sembari menatapnya.
William mengangguk paham. "Bagaimana dengan sopir taksi itu? Apa dia mengatakan sesuatu padamu? Kenapa dia justru baru ke luar setelah penjahat itu pergi?" cecarnya lagi.
"Sopir itu sepertinya ketakutan. Bahkan tangannya masih gemetar ketika membantuku membopong Mas Anan untuk masuk taksi. Maklum, beliau sudah lansia, Mas Bule," jelas Ning Ziya, prihatin.
William tahu dia tidak dapat berharap banyak, apalagi jika mengingat pada kejadian-kejadian sebelumnya. Pelaku melakukannya dengan sangat rapi, seakan-akan dia sudah sangat lihai. Namun, tetap saja William merasa sedih dan kecewa. Dia telah gagal menjaga Anan, untuk yang pertama kalinya. Tidak hanya itu, dia juga tidak mendapat petunjuk sama sekali tentang siapa pelakunya. Dia merasa telah dipermainkan seperti orang bodoh.
"Artinya kita hanya bisa menunggu penyelidikan dari kepolisian," lirih William dengan pasrah.
Ning Ziya bisa melihat ketidakberdayaan itu dari raut wajah William. Dia pun merasakan hal yang serupa. "Semoga saja ada kabar baik dari pihak kepolisian, ya, Mas," harapnya.
William mengangguk sembari tersenyum tipis padanya. "Thanks informasinya, ya, Ning. Terima kasih juga sudah menolong Mas Anan."
William berdiri, berniat untuk pergi.
"Sama-sama, Mas Bule. Ziya seneng bisa bantu." Gadis itu tersenyum sopan.
William mengacak rambut panjang Ning Ziya dengan gemas. Saat itu mereka masih cukup dekat, karena William sudah menganggap remaja tersebut sebagai seorang adik. Tentu saja sebelum kepergian Anan mengubah segalanya, hingga dia terpaksa menjaga jarak dari gadis polos nan lugu itu.
"Tolong jaga Mas Anan-mu dulu, ya," goda William.
Ning Ziya tersipu malu. "Mas Bule mau ke mana?" tanyanya.
__ADS_1
William melebarkan bahunya. "Pulang. Mandi sekalian ambil baju ganti buat Mas Anan. Aku belum mandi juga belum ganti baju dari semalam," terangnya.
Ning Ziya mencibir," pantesan dari tadi bau asem."
Bukannya marah, William justru terkekeh. "Kamu hari ini ngampus siang?"
Ning Ziya mengangguk. "Masuk jam sembilan, Mas," jawabnya.
"Bagus. Artinya kamu harus senang untuk aku repotkan," canda William.
Ning Ziya cemberut meski dalam hati dia memang merasa senang. "Nggak dibayar?" pancingnya.
William mendelik padanya, yang justru dibalas dengan kekehan olehnya.
"Masuk sana. Jagain Mas Anan dengan baik. Jangan sampai kabur," goda William lagi, membuat wajah remaja itu semakin merona.
Ning Ziya mengangguk lalu masuk kembali ke dalam ruangan Anan. William melihatnya sampai pintu menutup, dan tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatirannya.
"Coba kamu pikir-pikir kembali, sejak kapan kejadian-kejadian aneh ini telah dimulai."
William menggeleng.
***
"Plat motornya palsu," ungkap Ginan, membuat William kembali murung. Harapan satu-satunya pun kini telah musnah.
"Jadi, polisi tidak menemukan bukti apa-apa?"
Ginan menggeleng. "Pelaku ternyata cukup cerdik. Dia mempersiapkan semuanya dengan matang."
William menghembuskan napas, semakin kecewa. "Bukankah ini terlihat persis seperti yang terjadi pada Calvin dulu?" Dia mendongak, matanya menerawang ke masa lalu.
"Mungkin memang ada beberapa kesamaan. Hanya saja, pelaku yang dulu tanpa sengaja telah meninggalkan barang bukti. Polisi tidak berhasil menangkapnya karena tidak dapat melacak keberadaannya. Entah masih hidup atau sudah mati. Pelaku yang sekarang jauh lebih teliti," puji Ginan.
William tertunduk lesu. Dia memikirkan apakah harus mengutarakan pada temannya tentang apa yang sedari tadi malam telah mengganjal dalam pikirannya. Setelah merenung, dia akhirnya memutuskan untuk mengutarakan hal itu. "Menurut kalian, apakah ada kemungkinan dia orang yang sama?"
__ADS_1
Ginan, Anan dan Robby terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun, setelah dipikir-pikir kembali, sepertinya hal itu sangatlah mungkin. "Jika itu benar, untuk melakukan semua ini artinya orang itu harus memiliki alasan yang kuat," kata Robby.
Anan dan Ginan mengangguk membenarkan. "Itu artinya, ada kemungkinan juga bahwa orang itu sangat mengenal kita," sambung Anan yang sedari tadi hanya memerhatikan.
Mereka tercengang. Jika yang dikatakan Anan benar, artinya orang itu sangatlah dekat dengan mereka. Selain itu, jika tebakan William bahwa semua ada hubungannya dengan Karina adalah benar, apa hubungannya dengan masa lalu Calvin? Ini semakin membuatnya bingung. Ketiga pemuda itu saling pandang.
"Kira-kira, siapa?" tanya Robby penasaran.
William memainkan kunci motornya, jelas dia ragu tetapi akhirnya bicara. "Yang pasti semua ini memang sengaja dia tujukan buat gue."
Mereka terdiam. Tak satupun menyangkal kata-kata William. Dari awal, mereka sudah menebak itu semua. Bahkan Ginan, dia pun memiliki keyakinan bahwa kejadian ini ada sangkut pautnya dengan hubungan yang baru William jalin. Hanya saja, dia belum memiliki bukti untuk mengungkap itu semua.
Anan tahu saat ini sahabatnya itu tengah cemas dan juga merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi. Dia menepuk pelan bahu pemuda yang tengah duduk di kursi samping ranjangnya sambil melamun itu.
"Tenanglah, Le. Yang penting kita semua baik-baik saja," ucapnya menenangkan.
Bukannya senang, William justru menatap tajam padanya. Dia merasa kesal karena Anan mengabaikan pesannya, juga kesal pada diri sendiri karena malam itu terlalu terlarut dalam urusan pribadinya.
"Lain kali, kalau lo nolak buat pergi sama gue, bisa nggak, jangan pergi sendiri!"
Anan mengangguk. Nada bicara William memang terdengar sedikit kasar, tetapi Anan memakluminya. Dia tahu William tengah mengkhawatirkannya. Pemuda itu pasti akan menyalahkan diri sendiri seandainya Anan saat ini dalam keadaan yang lebih buruk lagi. Untungnya, itu tidak terjadi.
"Gue janji, Le. Gue enggak bakal bikin lo lebih khawatir lagi." William bernapas lega.
"Sorry, gue nggak bermaksud ngebentak elo. Gue lagi capek, Nan," keluhnya. Anan mengangguk memaklumi.
"Gue ngerti." Dia merangkul bahu William lalu menepuknya.
"Ckk. Persahabatan kalian selalu bikin orang lain merasa iri," celetuk Robby, yang langsung disetujui dengan anggukan oleh Ginan.
Kedua pemuda itu pun terkekeh mendengar pujian dari temannya.
Perbincangan mereka terhenti ketika pintu tiba-tiba terbuka, menampakkan kehadiran seseorang. Senyum cantik wanita itu merekah, tatapannya langsung tertuju pada pemuda blesteran tersebut.
"Kenapa kamu ke sini?"
__ADS_1