CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua

CINTA SANG MAFIA: Wanita Yang Kedua
DILEMA KARINA


__ADS_3

"Lo punya Karina." William terpaku mendengarnya.


Dia sudah dalam suapan terakhir ketika nama itu tiba-tiba Anan sebut. Dia langsung berdiri, meneguk dengan tergesa air yang masih tersisa sedikit di gelasnya, lalu bergegas mengambil ponselnya. Dia mencari-cari nama Karina di sana, melakukan panggilan berkali-kali tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


William cemas. "Kuharap kamu baik-baik saja," gumamnya.


Anan memperhatikan tingkah laku temannya itu, terlihat jelas kekhawatiran dari raut wajah William. "Lo kenapa, Le?" tanyanya bingung.


William mengabaikannya. Dia melewati Anan, mengambil kunci motor di atas meja dan melangkah pergi begitu saja.


Anan terkejut melihat sikap William yang tak seperti biasanya. Dia bergegas berdiri, mengabaikan makanannya yang belum tandas dan pergi untuk mengejar pemuda itu.


"Tunggu dulu, Le. Lo mau ke mana!" teriaknya.


"Gue harus cari Karina. Gue harus minta maaf sama dia. Semalem gue lupa, gue ninggalin dia gitu aja," jelasnya masih dengan langkah tergesa.


Anan berusaha mengimbangi langkah William yang sedikit lebih panjang darinya itu. Dia bisa melihat rasa cemas yang mendalam dari raut wajah William. Temannya itu bahkan rela mengabaikan kondisinya, padahal William masih terlihat sedikit pucat.


Apakah Karina sepenting itu untukmu, Le? batin Anan.


Mungkin saja, saat itu William hanya bertindak secara impulsif, karena Karina adalah cinta pertama baginya.


"Dengerin gue dulu, Le. Kondisi lo sekarang sedang enggak baik-baik aja."


Anan berusaha mengingatkan. Dia bertekad untuk memblokir tubuh William. Dia merentangkan kedua tangannya di depan tubuh pemuda yang lebih tinggi darinya itu, mencegahnya untuk melanjutkan langkah.

__ADS_1


"Le, seenggaknya elo harus ...."


"Jangan halangi gue, bego!" bentaknya marah, memotong perkataan Anan.


Umpatan itu berhasil membuat Anan mendadak terdiam karena terkejut. Namun hal itu tidak bertahan lama, karena saat ini dia tidak bisa membiarkan William pergi mengingat kondisi tubuhnya.


"Gue nggak bisa biarin lo pergi, Le." Dia memejamkan mata sembari menggertakkan gigi. "Dengan kondisi lo sekarang, gue nggak mau sampai terjadi apa-apa sama lo," tegasnya.


Anan harap William bisa peduli terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Akan tetapi, William justru melotot, semakin marah padanya. Dia merasa bahwa sikap Anan semakin menjengkelkan, hingga membuatnya benar-benar kesal.


"Gue bilang, minggir!" geramnya. Dia mendorong tubuh Anan dengan kasar dan meninggalkannya begitu saja.


Anan terpaku cukup lama saat mendapat perlakuan kasar dari William. Sejauh yang dia ingat, temannya itu tidak pernah bersikap demikian. Mengumpat, apalagi berkata kasar. Meskipun terkadang William suka semaunya sendiri, tetapi pemuda itu selalu bersikap sabar dan juga lembut terhadap orang lain. Ini adalah untuk pertama kalinya dia mendapat perlakuan yang begitu berlebihan dari William.


Anan bingung. Sejak kapan temannya itu mulai berubah? Apakah dia harus sampai seperti itu hanya karena seorang wanita yang belum benar-benar dia kenal? Anan tidak mengerti.


"Le, tunggu! Kita bisa bicaraiin ini baik-baik. Kita bisa cari cara ...."


Lain. Cara lain untuk mengetahui kondisi karina! Anan belum sempat mengucapkan kata terakhirnya karena William justru melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Pemuda itu pergi begitu saja bahkan tanpa menghiraukan Anan sama sekali.


Anan menatap nanar kepergian sahabatnya itu, hingga deru motor tak lagi terdengar. Dia kecewa, William tak mau lagi mendengarkannya.


"Gue cuma khawatirin elo, Le. Lo bahkan belum sempat minum obat," lirihnya dengan wajah sedih.


***

__ADS_1


Karina menatap ponselnya yang sudah bergetar berkali-kali. Air hangat membasahi pipi kala melihat nama William terus tertera di layar. Dia ingin mengangkatnya, tetapi tak memiliki keberanian. Lebih tepatnya dia tak tahu harus bicara apa padanya. Jika sampai William mengetahui tentang kebenaran yang sesungguhnya, akankah pemuda itu masih sudi untuk bersamanya?


Karina tersenyum kecut. Meskipun memiliki harapan itu, tetapi keraguannya jauh lebih besar. "Kualifikasi apa yang aku miliki hingga membuatku berharap dia sudi untuk memaafkanku? Kesalahanku bahkan sudah cukup besar," sesalnya.


Dan aku tak mau menambahkan beban lagi untuknya, batin Karina. Dia tertawa miris, lalu meneteskan air mata.


Peringatan serta ancaman yang diterimanya semalam masih cukup untuk mengguncang jiwanya. Dia akhirnya sadar, lelaki itu tidak akan pernah bermain-main dengan ucapannya. Setelah sekian lama mengenalnya dan setelah melewati banyak hal memuakkan dalam hidupnya, dia mengetahui dengan pasti tentang temperamen lelaki itu. Saat ini dia tak memiliki keberanian untuk menyinggungnya lagi. Jika tidak, hal yang lebih buruk bisa saja terjadi sewaktu-waktu.


Dia berpikir, jalan terbaik untuk sementara waktu adalah dengan menjauh dari William terlebih dulu. Setidaknya sampai dia yakin semuanya telah kembali tenang, sampai dia bisa menemukan jalan keluar untuk menyelesaikan semuanya.


Karina tidak boleh terlalu egois. Dia harus memikirkan keselamatan dua orang yang dicintainya. Ayahnya, dan juga William Ferdinand, orang yang baru saja menjadi kekasihnya itu. Jika tidak, dia akan kehilangan mereka satu persatu. Dia tidak bisa bertindak gegabah, mengambil keputusan yang mungkin akan disesali untuk seumur hidupnya. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Karina, sebelum William datang dan meruntuhkan semua pendiriannya.


"Sorry, Will," ucapnya dengan suara parau, karena terlalu lama menangis.


Suara bel pintu menyadarkan Karina dari pikiran panjangnya. Dia meringkuk ketakutan di sudut kamar dengan kedua lengan merangkul kedua lututnya. Wanita itu gemetaran, mencoba mengabaikan bel yang terus saja menggema.


"Terus melawanku, dan aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini. Kamu bisa mencobanya, Sayang."


Suara rendah, dalam dan penuh ancaman itu kembali berdengung di telinga. Karina menggigit bibir dalamnya dengan keras hingga merasakan rasa amis dan asin di sana. Dia terisak cukup lama sebelum akhirnya memutuskan memberanikan diri untuk berdiri dan membuka pintu. Seiring langkahnya, bel pintu pun berbunyi lebih sering. Dari suaranya, dapat ditebak bahwa orang yang membunyikan bel itu sudah mulai kehilangan kesabaran.


Sesampainya di depan pintu tangan Karina gemetar. Diusapnya kedua pipinya yang masih terdapat bekas air mata itu, mencoba terlihat baik-baik saja. Karina menegakkan tubuhnya, bersiap dengan apa pun yang menanti di luar sana. Entah itu wajah tampan lelakinya yang sudah dipenuhi amarah, atau sosok tangguhnya dengan kedua wanita seksi di sisi kanan dan kiri.


Karina sudah terbiasa dengan sikap gila lelaki itu!


Dia menghembuskan napas dengan panjang, tangannya yang gemetar bersiap untuk menekan tombol pintu.

__ADS_1


Wanita bermata sayu itu seketika terbelalak lebar. Jantungnya berdetak kencang melihat sosok yang tengah berdiri di depannya dengan wajah cemas itu. Untuk sesaat dia mematung, lupa harus bereaksi seperti apa.


__ADS_2